Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 176


__ADS_3

Di waktu yang sama, Setelah meninggalkan anaknya di sekolahnya, Ibell lanjut mau kepasar lagi sehabis mengantar Nata ke area apartemen suami nya. Jam segini waktu nya nagih uang sayuran.


" Lho, Ibell, apa kita akan ke unit sayang ?" Nata berbinar, ternyata istrinya itu mau pulang ke apartemen.


" Bukan kita, tapi Abang seorang, turun lah."


Huh, Kirain.


Rasa senang Nata terhempas ke samudera Atlantik. ia tak bergeming, stay duduk santai macam di pantai


" Tunggu apa lagi ? Turun !"


" Tapi__"


" Turun Bang, Waktu ku tidak banyak layak nya gedongan, aku harus kembali kepasar." Pinta Ibell baik baik dengan suara di buat sehalus mungkin padahal di dalam hati mah.. dongkol luar biasa. Astagfirullah.. Ibell berdosa. Batin nya sadar dengan sifat nya yang kurang welcome ke suami sendiri, tapi bagaimana lagi...Ia hanya wanita biasa yang punya sifat manusiawi. Jangan kan diri ini yang jauh dari kata sempurna, Istri baginda Rasulullah Saw-Aisha saja pernah membuat ulah. Apalagi diri ini yang banyak dosa.


Apa boleh buat, Nata akhirnya turun, Tapi...Hap, Ia meloncat naik kebagian belakang, tak apa bekas sayuran yang penting ia tidak mau jauh jauh dari istri nya.


Astaga, kebal amat sih sudah di jutekin juga.


Ibell menepikan mobilnya dan turun untuk menegur Nata yang batu amat di beri tahu kan.


" Kenapa naik lagi ?" Kesal Ibell berdecak pinggang, Nata yang berhasil membuat Ibell turun dari kemudi segera berlonjat turun dan naik cepat ke bagian kemudi, kali ini ia akan menyetir untuk Ibell, istrinya pasti ngantuk nan capek.


" Naik atau Abang tinggal." Nata mengancam, tersenyum jumawa akan Ibell yang merah menahan kesal akan sikap menyebalkan nya.


" Tujuh tahun tidak bertemu, ternyata bertambah menyebalkan." Ibell sedikit membanting pintu bagian samping kemudi.


" Dan kamu sayang, tujuh tahun berpisah ternyata masih cantik mempesona !" Rayu Nata, tancap gas menuju pasar.


" Gombal mu Bang, nggak ngefek, Ini kamu bilang cantik ?" Tunjuk Ibell ke gigi tonggos nya.


Nata menggeleng, Tentu itu jelek.


" Aslinya lah yang cantik !"


Ibell serasa masuk ke masa lalu nya, di mana pertama kalinya bekerja ke Nata mesum ini yang saat ini mengedipkan mata genitnya. Dasar mesum.


Cih, Hati Ibell masih sakit, bahkan di beri api unggun pun tidak akan meleleh hati yang terlanjur beku ini.


Sampai di pasar, Nata terus mengekor langkah Ibell ke kios demi kios tertentu yang berlangganan sayuran Ibell, ia bagaikan pengawal ibu presiden yang lagi menagih uang pajak.


" Issa, Lo punya pengawal ? Astaga Is, Lo beruntung amat ya, wajah pas pasan tapi punya pengawal Bidadara manly macam doi, Si Ibu jadi meronta ronta nih jiwa mupeng nya, boleh pegang nggak sih rahang nya ? Aduh...Mata bule nya itu jernih amat, ini bule asli ? nyasar dari mane, Is ?"


Salah satu langganan Ibell benar benar menyentuh rahang Nata dengan gemas tetiba, Nata bergidik dalam hati, si Ibu bertubuh tambun genit amat Batin nya. Ia jadi bersembunyi di belakang Ibell yang tersenyum geli. Dasar bini Laknat, suami lagi di goda malah tersenyum diam diam.

__ADS_1


" Uda Bu Sita, Issa buru buru nih, mau lanjut nagih di kios sebelah."


Sang Ibu pun memberikan uang ke Ibell, setelah nya..si Ibu masih sempat sempat nya mencubit pipi rupawan Nata.


" Ibell !" Rajuk Nata manja seraya mengelus pipinya yang berdenyut di cubit oleh wong gendut tadi.


" Kapok ?" Ledek Ibell tersenyum miring. Biarkan Nata di gangguin Mak Mak penghuni pasar agar besok besok tidak merecoki nya lagi.


Kapok ? Ah..masa segitu saja kapok sih..Bigg No.


" Tentu tidak !" Sahut Nata tegas, tidak di respon oleh Ibell karena mulai menagih uang di kios lainnya.


Hoek..


Kali ini bukan ibu ibu lah yang menggangu Nata, melainkan bau amis ikan serta ayam sayur yang sudah di telanjan*i bulu bulu nya bin keok yang mengganggu hidung nya sampai menelisik masuk ke perut layak nya di obok obok di dalam sana.


Hoek.. Nata tidak kuat, membekap mulutnya karena mual nya sudah di ujung tenggorokannya, siap muncrat.


" Kenapa ?"


Tak dapat menjawab pertanyaan Ibell karena mulut masih di bekap sendiri, Nata hanya menunjuk ke arah deretan penjual nutrisi hewani dengan gerakan kepala nya.


" Menyusahkan." Ibell segera menarik tangan Nata yang bebas dari dekapan mulut tanpa sadar. Menuju ke arah toilet berbayar.


" Lagian anak manja masuk pasar tradisional, ya begini lah jadinya."


Ibell terus mengoceh di sepanjang jalan nya yang sial nya toilet ada di ujung sana. Nata ini sudah memperlambat waktu jadwalnya yang biasanya tiap hari berjalan normal tanpa kendala, Tapi kehadiran Nata yang tidak pernah masuk ke pasar tradisional Membuat nya jadi lamban Seperti keong racun eh siput ding.


Sementara Nata, mual nya jadi menguap karena tangan Ibell yang menuntun tangan nya perhatian ? Cemas kah ? atau entah ? Yang penting tangan nya bersentuhan dengan tangan Ibell yang tidak mau di sentuh oleh nya dari kemarin, itu sudah cukup baginya saat ini.


Di sekolah Vay, Kelas satu sudah waktunya pulang beberapa menit yang lalu, Anak jelita ini menunggu Petir di taman dekat gedung sekolah sesuai perjanjian awal rencana. Untung Bunda atau Ayah nya belum datang jadi ia bisa ke taman tanpa ngendap ngendap.


" Vay !"


Vay yang mendengar Petir menyebut nama nya dari jauh, menoleh. aih... tidak sesuai rencana, Kenapa si kembar five di ajak juga plus ada Lautan, tak kalah kagetnya, ada Purnama sang sahabat yang cerewet nya minta di tabok coklat tuh mulut. ah...rasa rasanya rencana akan gatot kalau ada si ratu cerewet, Purnama.


" Kok banyak amat sih kak ? Satu, dua, tujuh orang yang di ajak ke sini." Vay menghitung berseragam sekolah di hadapan nya dengan wajah polos nya.


" Tunggu dulu, kita di ajak bolos pelajaran hanya bertemu Vay ? Mana anak Om Nata yang butuh bantuan itu ?" Badai garuk kepala, kesal ke Petir yang katanya mereka semua akan di perkenalkan oleh anak Om Nata nya.


Lah..Vay doang ma, sudah kenal !


" Petir !" Topan si Dingin sudah siap siap akan berfirman kesal. Yang lain hanya diam, kalau Kakak tertua nya sudah mengeluarkan suara, maka tidak usah ada yang ikut campur, masalah mereka akan kelar oleh si jenius Topan.


" Ya Vay ini anak Om Nata." Cepat cepat Petir membela diri agar tidak dapat serbuan.

__ADS_1


Dan Mata kini tertuju ke Vay semua yang tersenyum seraya mengangguk membenarkan Petir.


" Jadi kita kerabat ya Vay ?!" Antusias Pelangi merangkul pundak kecil Vay. " Asyik dong, kerabat perempuan ku bertambah satu, jangan Ama doang yang kagak nyambung kadang kadang dan isi otak nya coklat melulu."


Ama si gemoy masih asyik dengan cokelat nya, suara ledekan Pelangi hanya angin kentut doang.


" Habis Lo, Tir. Lo akan di kuliti sama Om Nata karena selalu usil ke anaknya." Goda Badai. Petir pura pura tidak mendengar nya.


" Ada apa sih ? Kalian pada suka Vay ya, adakah yang punya coklat, Terus bisa tidak jangan di taman, panas ! Kata nya mau main kabur kaburan dari orang tua, bagaimana kalau kita ke Mall aja, mandi bola atau game lainnya gitu, ayo.. Tapi kak Topan nanti traktir coklat buat Ama ya, Ama Hmpppt.." Bhumi dan Angkasa yang di dekat berdiri nya Ama tidak kuat mendengar kecerewetan si bocah gendut kebanyakan makan coklat. Beda sekali dengan Tante Jum yang langsing semampai tanpa lemak. ini keturunan nya... Nauzubillah.


" Siapa sih yang ajak Ama untuk ikut, Nanti Om Gema marah lho kalau anak gendut nya pulang telat. Ama cantik ! Pulang ya... sopir mu paling masih di gedung nungguin kamu."


Ama cemberut, tadi di bilang gendut, Terus di bilang cantik tapi ujung ujungnya di usir oleh Lautan. Huh.


" Ama mau ikut main kabur kaburan nya kok, blek, kalau di tinggal, awas ! Ama laporin ke Mami ku, lagian kan Ama teman baik Vay, iya kan Vay ? "


Vay mengangguk pasrah, dari pada Ama ngambek dan menggagalkan rencana.


" Jadi kalian semua mau ikut kabur kaburan nya nih ? Nanti mama papa kalian bagaimana ? Jangan deh ya, Vay sendiri ajalah, kan ini urusan Vay, kasihan nanti Mama papa kalian."


Vay jadi tidak enak hati.


" Uda, anggap aja ini hari perkenalan kita sebagai kerabat keluarga, Ayo.. let's go." Final Bhumi.


Topan pun memanggil taksi, yang kebetulan lewat, Ama minta ke mall kabur kaburan nya, ya Ayuk..dari pada si Cerewet itu tak kian berhenti berceloteh cempreng di sepanjang detik maka mau tak mau di turuti saja.


Tapi se...ada yang lucu di sini. Satu taksi sembilan bocah berbeda umur..Pak taksi kepeningan melihat bocah bocah ini rebutan tempat duduk. Bukan hanya kepala nya yang berdentum migrent tetiba, telinga nya juga budek mendengar bocah gendut yang tidak dapat kursi panta* nya barang sedikit pun.


" Ama di mana duduk nya, hah ?" Teriak Ama masih di pintu yang terbuka lebar.


" Di depan saja." Ide Badai yang memangku Lautan. Topan sendiri duduk tenang memangku adik Twins nya Angkasa Bumi dengan satu di bagian kanan paha nya dan satunya di bagian kirinya, asal nempel aja yang penting sampai ke mall tujuan.


": Enak saja, Kami sudah berdua." Tolak Pelangi, Vay bersama nya yang duduk paling manis tak bersuara. Vay hanya sibuk memikirkan hasil akhirnya akan ulah nya ini.


" Ya sudah deh, Ama Nyusul nanti aja sama Papi Mami aku." Ngambek Ama.


" Ya jangan dong nanti gagal gemoy, sini deh...Kak Petir yang berkorban."


Hahaha.. Dan di sepanjang perjalanan bocah bocah ini menertawakan Petir yang ke-berat-an beban Ama di atas pangkuan nya.


Astaganaga dragon ball... Bocah bocah nakal ini anak siapa sih ? Sang sopir taksi hanya mampu membatin dengan kelakuan bocah berisik di dalam taksi nya. Awas saja nanti Argo nya tidak bisa di bayar oleh mereka.


" Ama, adik sepupu ku yang manis seperti coklat, nanti diet ya adik ku sayang, jangan berat berat dong, nanti kalau uda dewasa nanti, Tidak ada yang mau lho jadi pacar Ama." Petir meringis karena sesemutan.


" Bodo !" Santai Ama, apa itu pacar ? I do not understand ?

__ADS_1


__ADS_2