Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 232


__ADS_3

Hari ini Nata sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, Ibell saat ini sedang membereskan baju ganti Nata, di masukan nya ke koper kecil itu dengan asal asalan.


Nata memperhatikan itu, Sedari tadi Ibell cemberut kepada nya pasal ehem ehem di dalam kamar mandi.


" Ibell !"


Tak ada respon dari Ibell, bahkan berbalik pun Tidak.


"Ibell !" Lagi, Nata memanggil seraya turun dari brankar.


Aduh aduh aduh


Nata pura pura terpekik sakit membuat Ibell segera berbalik dan reflek memegangi Nata untuk berdiri tegak dengan rangkulan nya.


" Tuh kan masih sakit, Jangan pulang dulu deh, Yang mana yang terasa sakit ?" Cemas Ibell sembari menuntun Nata duduk di sofa, Nata tersenyum lebar berhasil membuat Ibell bersuara kepada nya.


" Yang sakit yang ini." Tangan itu memegangi dada nya, Tersenyum manis padahal Ibell sudah menatap nya intens. " Benaran, sayang. Kamu ngembek terus sedari tadi jadi ini nya sakit deh."


" Uda ya, jangan merayu di rumah sakit__"


" Berarti di rumah boleh." Cup. " Ayo pulang, kita lanjut kan yang hanya satu ronde tadi."


Hah.. Ibell nurut saja di tarik tangan nya oleh Nata dengan mulut melongo sehabis di kecup oleh Nata dan sejenak menggigit lembut bibir nya.


" Bang, Abang masih sakit 'kan kaki serta kedua lengan nya. Jadi jangan kebanyakan gerak apalagi yang itu."


" Beno nggak sakit !" Hahahaha. Nata tergelak dengan ucapan unfaeda nya, Pipi istri nya sudah bersemu, selalu saja malu malu kalau di kaitkan dengan hal inti. Nata semakin ingin menggoda kalau Ibell terus masih malu malu kucing, giliran sudah Beno dan Eni tawuran live show saja sudah tidak ada lagi malu malu, Yang ada ah uh ah tuh mulut.


...*****...


" Ayah ! Bunda !"


Vay langsung menyambut kedatangan orang tuanya di teras itu, terpekik senang karena sedari tadi ia hanya duduk bosan tidak ada kegiatan dan tidak ada teman membuat hari nya serasa hampa. Vay kangen menjahili Petir, dan Ama, semuanya juga masih di pingit oleh orang tua masing-masing.


" Anak Ayah !" Cup.. Pipi Vay di absen gemas Nata di balas cium pun Vay yang Ayah nya saat ini berjongkok menyetarai tinggi nya. Ibell melangkah duluan, koper ia tarik masuk.


" Luka Ayah sudah sembuh kan ?"


Nata mengangguk padahal masih berdenyut.


" Oke, kalau gitu Vay mau di gendong !"


Lantas, Ibell yang mendengar itu kembali berbalik dari langkah nya.


" Vay, jangan sayang, Ayah masih sakit !" Lerai Ibell lembut dari kejauhan. Bibir Vay langsung cemberut, tidak ada yang mengasyikkan, Vay kesepian padahal baru beberapa hari di pingit, Emang sih rumah rame oleh dua pasang suami istri Oma Ambu nya, tapi rasanya beda kalau bukan teman sebaya nya.

__ADS_1


" Baik lah !" Vay menurut lemas.


" Tapi Ayah tetap gendong."


Walaupun terpincang, Nata tetap menggendong anak semata wayangnya, Kapan lagi bisa menggendong tubuh mungil anak nya, waktu tidak bisa di ulang bukan ? Bila anak sudah dewasa nanti maka sudah berbeda rasa nya..Anak akan sibuk dan lebih jelasnya, tidak bisa menggendong nya lagi. Hargai kesempatan untuk bersama keluarga bila masih ada di depan mata.


" Ayah yang terbaik !" Puji Vay girang, yang penting di gendong, anak kecil ini tidak peduli penderitaan Ayah nya yang terpincang pincang. Ibell hanya geleng geleng kepala.


" Ayah, Vay bosan !" Adu nya di gendongan itu, Nata tak langsung menjawab, melainkan berjalan terus di mana sofa berada, Anak nya memang tidak berat bagi nya, Tapi tangan yang belum pulih lah yang membuat nya payah.


" Bosan Kenapa, kan ada Oma Opa, sama Abah dan Ambu. Kemana mereka ?" Mata Nata dan Ibell mencari orang rumah, ke-dua pasangan itu tidak ada yang muncul menyambut nya.


" Entah, Vay hanya sendiri, mereka sibuk entah ngapain, Ayah...Vay boleh main ya ! Kerumah Ama atau ke Kak Pe. Boleh ya ?" Vay merengek dengan tangan kecil itu menggoyang goyangkan lengan Nata yang baru duduk di sofa, sontak Nata menahan ringisan sakit lagi. Anak nya ternyata nyebelin tak peka dengan luka nya.


" Tidak ***__"


" Boleh kok, tapi nanti, sekarang jangan dulu, Ayah masih mau istirahat dan Ayah punya tempat khusus untuk Vay, Ayah yakin deh...Vay akan lupa waktu kalau ruangan rahasia Ayah yang di dalamnya sistem monitor semuanya, buat Vay."


Ibell melotot sinis ke Nata yang sudah memotong larangan nya, Ibell kan cemas kalau kurcil berkumpul maka yang di katakan Langit bisa saja terjadi, Ibell tidak mau anak nya ikutan nimbrung dengan projects si Topan cs.


" Tenang aja, ini rencana Abang, Nanti kita akan mengetahui lab mereka." Nata dan Ibell berbisik pelan. Ibell pun tersenyum setuju.


" Apa ruangan itu di rumah ini ?" Vay jadi berbinar, Benar kata Nata...baru mendengar kata monitor saja anak nya langsung girang, bagaimana nanti kalau Vay sudah di dalam nya. Pengetahuan tentang teknologi ada di ruangan kesayangan Nata.


Nata memang sengaja ingin membuat Vay berlama-lama di dalam ruangan khusus monitor nya karena rencana Nata, Beno dan Eni akan di pertemukan di kamar. Nata belum puas lho di kasih satu ronde, mana quick nya cuma posisi berdiri lagi. Smackdown smackdown nya kan kurang menggairahkan. Bolak balik seperti sate juga tidak ada. quick delman ku duduk di muka juga tidak bisa di dalam kamar mandi tadi. Di kamar Eni akan di karantina seperti dulu. Lihat saja !


" Bundaa !" Panggil nya ingin mengadu, Bunda itu sudah pergi ke kamar nya sendiri.


" Jangan panggil Bunda, Ini tempat rahasia kita, Oke ! dan lihat ini."


Vay melotot kan mata nya, ia baru tahu kalau di kamar nya punya pintu rahasia.


" Waah___"


Welcome, State your password !


Mulut Vay semakin melongo speechless, Ternyata di balik pintu rahasia utama masih membutuhkan kode sistem yang berbicara untuk di mintai kode lagi, supaya pintu stainless di hadapannya kembali terbuka.


Kali ini Vay hanya diam memperhatikan Ayah nya membuka password sistem dengan ke-dua iris mata Amber Ayah nya adalah kunci nya, Hebat..Itu tanda nya Vay tidak bisa masuk tanpa mata Ayah. Batin nya.


Code received ! welcome Mr. Dinata !


Suara sistem yang sukses membuat Vay tersadar dari keterkagumannya.


" Nunggu Apa lagi ? Ayo masuk !"

__ADS_1


" Tapi Vay ingin terbaca sistem agar bebas keluar masuk memakai ruangan ini." Vay bernego. Membuat Nata tersenyum.


" iris kita sama, Kamu sudah terbaca oleh sistem Ayah, Oma juga sudah terbaca karena gen mata Oma sama dengan kita. Opa dan Bunda ? Belum. Hehe !" Nata tertawa lucu sendiri, mengingat Kemal pernah menjadi diri sendiri sebagai Papa di papa tirikan.


Setelah Vay masuk dengan senyum lebar nan wajah antusias nya, Nata hanya diam memperhatikan punggung anak nya yang langsung mengaktifkan layar nya. Tanpa di ajari ternyata anak nya sudah menguasai tombol tombol di hadapan nya.


Ayah akan tahu projects kalian dari sini Vay ! Senyum misterius Nata terlukis di bibir nya setelah benar benar meninggalkan kesibukan Vay.


Anak sudah anteng, Waktu nya pergi ke Bunda nya Eni. Mumpung Vay asyik sendiri tidak akan menggangu aktivitas panas nya. Nata bersiul siul nakal dalam langkah nya menuju cepat ke arah kamar pribadi nya.


Ceklek..


" Nata ! Kapan pulang ?"


Hais... Jangan bilang ke dua orang tuanya akan menggangu nya yang saat ini orang tuanya itu baru keluar kamar dengan rambut ke-dua nya terlihat lembab habis keramas.


" Baru, dan kenapa Vay di tinggal sendiri, kata nya bosan dia. Jangan bilang kalian habis....?"


" Hehehe, Masa iya Vay mau di ajak ke kamar melihat kami__." Kemal terdiam, hampir keceplosan habis smackdownan sama Yola gara gara mendengar cerita Yola kejadian di rumah sakit tentang jarum infus. Kemal kan jadi berfantasi liar dan berakhir ehem ehem di kamar, tidak mungkin kan ngajak Vay menonton mereka ? Apa kata dunia ?


" Abah-Ambu kan ada !" Elak Yola santai di plototin Nata.


" Ck, Mana ? Kayak nya mereka sama saja, Lihat lah kamar nya tertutup rapat !" Nata memutar matanya malas melihat cengiran bodoh Yola.


Iya yah..Abah Ambu kan sedari tadi di kamar ? wah...kalah ronde aku ! Yola semakin melebar kan senyum tak enak hati nya ke Nata, hampir saja lalai menjaga cucu satu satunya. Tapi ding...Kalau Nata mau marah ya salah kan saja si Kemal, Pan suami mesu nya itu yang main tarik benang duluan sampai polos. Mata mesu* Yola kan jadi panas melihat dada pelukable Kemal yang masih hot aja terlihat, belum belalainya yang melambai sombong. Ya ayuk.. Mubazir Buang-buang kesempatan enak.


" Ck, Sudah lah... Tapi kali ini nitip Vay selama satu Minggu ya ?" Nata menyeringai.


" Satu Minggu ? Kalian mau pergi lagi ?" Tanya Yola dengan kening berkerut heran, masa baru keluar rumah sakit mau liburan.


" Mau pergi ke mana ?" Kemal ikut penasaran.


" Nggak kemana mana, cuma di dalam kamar." Nata tergelak melihat wajah Yola yang sudah enggeh maksud nya.


" Karantina nya jangan lama lama, kasihan lho Vay ! Nanti kehilangan kalian ! kamu di rumah sakit aja nanyain terus kapan pulang."


Nata hanya mengedipkan bahu nya, tidak janji, toh.. Anak nya sudah punya mainan yang pas untuk intelektual nya tentang teknologi, Lima hari pun Vay nggak akan bosan di dalam ruangan rahasia.


" Tidak akan, Vay akan anteng di kamar, Anggap aja Mama dan Papa bayar hutang ke Nata, Kan dulu Mama dan papa lebih parah, Masa karantina selama dua Minggu, Nata kecil dulu di titipin ke Bi Tina, Makan juga hanya gra* food. Kasihan kan ya ?" Nata meledek.agar tidak mendengar ocehan Mama nya yang sudah siap membuka mulutnya, Kaki terpincang pincang itu buru buru menuju kamar nya.


" Dasar anak gendeng !"


Nata mendengar ocehan itu, tapi hanya tergelak geli tak niat hati untuk berbalik. Kemal bukan nya marah ke anak nya yang di suruh bayar hutang katanya, malah ikut tertawa menertawakan Yola yang terlihat kesal.


" Kenapa harus marah sih Wild, Toh memang benar kok, dulu kita pernah mengabaikan Nata kecil ke Bi Tina, Nikmati saja buah karmanya."

__ADS_1


Plak... Mulut lemes Kemal dapat hadiah dari Yola, sebenarnya Yola tidak keberatan momong cucu nya, justru mengasyikkan, cuma bahasa Nata itu lho yang membuat nya kesal... Hutang ? Ck... Minta di kebiri dua kali tuh si mantan Cassanova.


__ADS_2