
Di sisi Vay cs...
Bocah bocah ini sudah di posisi masing-masing sesuai plan yang sudah tersusun untuk menyerang musuh yang tidak sabaran di luaran sana minta di bukakan pintu. Vay yang lebih enak posisi nya.... bersembunyi di belakang sofa, duduk menyilang di lantai seraya mulut nya asyik mengunyah roti yang di comot nya di atas meja milik si Om Onta. Ia lapar, butuh tenaga untuk berlari lari lagi nanti.
Bukan nya ia tidak setia kawan, wong kata ketiga kawan nya ia cukup bersembunyi saja karena tidak punya keahlian berkelahi kata nya. Ya udah...Jadi makan saja seraya menunggu di beri instruksi untuk... Vay kabur !
One !
Two !
Three !
Bocah bocah ini menghitung tanpa suara kecuali Vay yang jauh dari ke-tiga teman nya.... Petir siap membuka pintu, di sisi kiri kanan di dekat pintu sudah ada Guntur dan Pelangi dengan pukulan baseball di tangan masing-masing, Petir sendiri sudah siap menyemprot gas mata sebagai awal pengecohan.
Ceklek...
Duahg...
Bugh...
Ah sial, Tidak sesuai ekspektasi.... Petir lebih dulu terkena tendangan hingga jatuh mundur beberapa langkah, dada nya sesak terasa. Si Onta ini terlihat sangar sangar gesit peka dari serangan, berbeda dengan ke-dua onta stupid yang sudah di lumpuhkan nya.
Bersamaan itu.... Pelangi dan Guntur berhasil berkolaborasi dengan pukulan baseball berhasil dua kali bertengger keras di punggung si Om Onta. Tapi si Om malah santai santai saja, Serasa tidak merasakan sakit.
Bahaya ini mah ! Batin Petir Cs. Mereka punya lawan yang kuat.
" Kalian cari mati ! Dan anda Tuan muda, Jangan sampai menyesali kematian teman teman anda."
Perkelahian terjadi, tiga lawan satu...Tapi kekuatan si Om Onta masih lebih unggul, Petir dan Guntur selalu terkena pukulan keras di bagian dada juga perut mereka hingga menyisakan sakit di bagian dalam itu.
" Gadis ingusan !"
Bagh buhg..
Giliran Pelangi yang masih bertenaga, kekuatan luntur Pelangi layak nya sedang menari tapi terlihat berisi tenaga mampu membuat si Om tersungkur ke lantai di mana ada Vay yang masih mengunyah.
Aaargh.. Reflek Vay berteriak kaget dengan tangan itu pun reflek memukul kepala si Om pakai baseball yang memang ada di pinggir nya sebagai senjata jaga jaga nya.
" Ha-ha-ha, Rasain jurus termehek-mehek Vay, mau di kentutin lagi kah ?!" Vay berloncatan naik ke sofa, berlari di atas sofa ke arah pintu di mana Guntur, Petir dan Pelangi sudah menunggu nya untuk lari bersama. Mereka tidak bisa bertarung terus, Otot mereka bukan tandingan si Om Onta itu yang semakin seram saja terlihat.
Kepala si Om langsung berdarah ulah pukulan asal asalan Vay namun bertenaga, pening terasa tapi sebisa mungkin ia mengejar bocah-bocah sialan itu, Tuan muda si Pewaris tahta kerajaan mereka di Negara nya kelak itu, harus ia tangkap akan suruhan dari seseorang yang merasa terancam kalau Guntur kelak menjadi dewasa yang bisa saja datang datang menuntut hak nya. Bos nya tidak mau itu terjadi.
" Berhenti atau saya tembak !" Ancam nya. Bocah-bocah sudah berada di luar unit. Tangan si Om sudah siap menarik pelatuk nya membidik kaki Guntur yang berlari paling belakang dengan tangan kiri Pelangi bertaut tak sadar dengan tangan nya.
Telinga kelinci Vay dan Pelangi sangat bagus mendengar ancaman itu.
Sekonyong-konyong ada dua pisau yang membidik si Om dari sasaran berbeda. Dan pelakunya adalah kejelian Vay dan Pelangi yang pintar membidik sempurna.
__ADS_1
Pisau itu yang tadi di temukan Vay dan Pelangi waktu awal bersembunyi di dekat sofa. Sangat berguna !
Vay membidik kaki si Om hingga menancap di pangkal paha, Beda dengan Pelangi yang sasaran nya di tangan si Om hingga pistol itu jatuh. Mereka tidak lah saling kode, hanya ke reflekan begitu saja, Vay saja tidak tahu punya kemampuan membidik yang belum latihan sama sekali, ia dulu hanya sering membidik burung dengan ketapel buatan Abah nya di desa. Lain hal nya Pelangi yang sudah pernah berlatih bersama kembaran nya di bawa pengawasan kakak Dibi nya.
Suara erangan kesakitan terdengar ngilu dari mulut si Om. Erangan itu kembali terdengar di saat mencabut pisau di paha nya..
" Bocah sialan, terkutuk !"
Clep...
Aww..Hiks, Sakit !
PELANGI !!! Teriak ketiga nya.
Pelangi terkena lemparan pisau saat kaki itu melangkah masuk ke dalam lift, Untung sepatu nya tebal hingga hanya tertancap ujung nya saja di tumit itu. Tapi nyeri !
" Tutup cepat Vay !!!" Titah Guntur ke Vay yang berada di dekat tombol lift, jangan sampai si Onta itu berhasil mengejar mereka sampai ke lift yang benar adanya terus mengejar walaupun tertatih-tatih.
" Pe, kamu tidak apa apa kan ?" Guntur menarik pelan pisau itu.
" Pala Lo, lihat sendiri kan ?" Pelangi ngoceh.
Guntur menerima ocehan itu seraya melepaskan sepatu Pelangi dan membalut luka itu menggunakan sobekan baju nya, rusak sudah kaos Guntur demi darah Pelangi berhenti mengalir. Ok beres ! Sepatu kembali di pasang oleh Guntur dengan pelan pelan, tapi tetap saja dapat pukulan keras dari Pelangi yang sakit katanya yang ia tidak hati hati memasang nya. Guntur menerima pasrah lagi pukulan Pelangi.
" Kak Pe, harus kuat ya, jangan mati, nanti kembaran kakak akan marah ke kita kita." Seruan polos polos Vay di hadiahi jitakan lembut dari Petir.
Ting... Mereka sampai di lantai dasar.
"Ayo cepat !" Guntur menawarkan bantuan, memapah Pelangi yang berjalan tertatih, ia belum merasakan aman kalau mereka masih berada di pelataran lobby apartemen yang sial nya tidak ada penjagaan, sepi benar. Jelas sih... Ini sudah jam dua malam.
" Kita ke arah mana ?" Bingung Petir, ia tidak menguasai jalan di wilayah ini. Tangan itu setia menggenggam tangan Vay yang nampak lelah juga kedinginan.
" Ke sini !" Guntur yang terkenal anak jalanan, berjalan duluan dengan tangan memapah Pelangi yang terpincang pincang. Mereka sedikit merasakan lega karena sudah berada di luar area apartemen, Jalan tikus lah yang di tempuh mereka saat ini.
"'Uh, Sial benar sih kaki ini." Keluh Pelangi. Guntur yang kasihan menawarkan punggung nya untuk menggendong Pelangi.
" Yakin ! Kuat nggak ? Nanti bukan nya terasa di gendong malah remuk badan gue karena__"
" BURUAN !!!" Potong tegas Guntur, ia tidak mau tertangkap lagi dan berujung nasib nya terancam, istimewa ada ke-tiga orang ini yang tidak sengaja terseret masuk ke dalam masalah nya. ia tidak mau membuat bahaya anak orang.
Petir tersenyum melihat itu, andai ia membawa handphone, maka ia akan mengabadikan Pelangi yang telah di gendong laki laki lain, Ia ingin membuat Dibi, Topan, Badai, berikut kembar Twins, meradang yang pada overprotektif ke Pelangi, saudari perempuan mereka yang hanya satu satunya.
" Kamu capek Vay ?"
Vay mengangguk lemas.
" Ngantuk juga."'Sahut nya ke Petir.
__ADS_1
" Kakak gendong, kayak kak Pe, Mau ?"
" Pakai banget, kaki Vay serasa mau copot, Tapi kak Petir jangan isengin Vay ya." Vay rada rada curiga, ia masih musuhan sama kak Petir bila menyangkut iseng mengisengi.
" Tentu tidak!"
Rejeki ini mah, tumpangan gratis, Vay tidak ragu ragu lagi naik ke punggung Petir yang anak om Langit ini tinggi semampai. Bahkan Vay tidak ragu ragu menaruh dagu nya menumpu di bahu kiri Petir seraya mata itu menatap punggung Pelangi yang di gendong Guntur di depan jalan nya.
" Kak ! Vay ngantuk, ini debut pertama kalinya begadang dengan gaya lari larian ekstrim. Vay capek ! Vay sering nya begadang di jam tiga pagi sama Bunda ngangkut sayuran seraya berangkat sekolah." Cerita keluh Vay dengan suara lemah itu di pundak Petir yang tersenyum manis mendengar kemanjaan Vay kepada nya.
" Tidur saja di pundak kakak, tapi pegangan yang kuat di leher kakak ya biar tidak jatuh. eh... Jangan nyekik juga kali Neng Bule, Nanti kakak mati bisa gentayangan."
Setelah pas pegangan tangan itu di leher Petir, Vay memiringkan ke arah kepala Petir dengan mata ia pejamkan. matanya sangat lengket untuk di ajak melek.
Petir tersenyum manis melihat wajah jelita itu tertidur lelap di pundak nya.
" Kita akan kemana Guntur ? Tidak ada kendaraan, sepi sekali."
" Kita istirahat bagaimana, di pos ronda itu. Kayaknya sudah aman deh untuk berhenti berjalan." Guntur menjawab sangat pelan saat menyadari kalau Pelangi tertidur di pundak nya.
" Boleh, Kasihan juga Vay dan Pelangi, butuh istirahat."
Pelan pelan, Guntur dan Petir menaruh tubuh gadis yang ada di gendongannya masing-masing untuk rebahan di pos ronda yang sial nya tidak ada yang ngeronda.
Mereka sekarang ada di perumahan warga yang sedikit kumuh, bangunan nya sangat dempet dempetan.
" Terima kasih sudah menolong ku ?"
Petir menyungging kan sudut bibirnya akan seruan lugas santun Guntur.
" Aku nggak nolong kamu ! melainkan menolong sepupu ku." Datar Petir menjawab dengan nada sedikit songong nya, seraya menunjuk Pelangi yang meringkuk kedinginan.
" Tetap saja, aku berterima kasih."
Petir tidak menjawab, ia memilih rebahan di sisi Vay dan ikut memejamkan matanya.
Guntur yang melihat ke-tiga orang di hadapannya terpejam, memilih tetap terjaga, waspada setiap situasi dengan mata itu menatap dalam dalam wajah lelap Pelangi, senyum nya terlukis manis, di dalam hatinya bergumam... " Suatu saat aku akan datang sebagai superhero mu. Terima kasih !"
"'Jaga mata mu, jangan sampai saudara kembar overprotektif nya mencolok mata itu." Petir bersuara di dalam mata terpejam bohong nya.
" Dan setelah lepas dari sini, Lebih baik menjauh dari Pelangi, bukan aku mau ikut campur, tapi Topan tidak akan melepaskan mu karena adik kembarnya terluka gara gara diri mu, Topan memang tidak banyak berbicara, melainkan banyak bekerja langsung. Apalagi Pe berdarah darah begitu, itu tandanya....Darah si Triplets lah yang ikut terbuang, di tambah dengan Badai, sahabat aku itu juga sadis gila, walaupun sifatnya homuris, Tapi sesungguhnya Badai juga pyshico bila menyangkut keselamatan Pelangi. Aku yakin, mereka saat ini dalam keadaan marah karena Pelangi belum pulang."
Petir tersenyum miring, sejenak membuka matanya lebar-lebar melirik ke Guntur yang biasa saja di bilangin. " Batu juga ternyata nih cowok !" Batin nya.
" Dibi itu siapa ?" Guntur malah penasaran nama asing itu.
"'Calon masa depan Pelangi." Canda Petir berbohong, Cuek melihat wajah Guntur jadi melengos tanda tidak suka.
__ADS_1