Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 126


__ADS_3

" Maaf, Pak. Permisi !"


Ibell memamerkan senyum paksa nya, melewati sisi tubuh Nata untuk pergi. Nata mengekor, ia penasaran dengan wajah lebam Ibell.


" Pak, Nasi goreng nya bagaimana ?" pedagang memanggil Nata yang mau pergi mengekori Ibell.


Dengan terpaksa, Nata berbalik lagi, " Bungkus pak, buruan, Nih uangnya." Nata tergesa-gesa, membuat sang pedagang menjadi gugup untuk membungkus makanan tersebut.


" Uang pas aja, pak !"


"Buat bapak aja."


Nata yang buru buru ingin mengejar Ibell yang sudah jauh, tak memperdulikan kembaliannya. Nata terus berjalan, mengejar langka Ibell.


Kenapa sih pakai ngekor segala. Ibell semakin berjalan cepat, masalah nya sudah banyak, ia tidak mau di ganggu oleh Nata, cukup di kantor, di luar jangan sampai.


" Ibell, tunggu, aduh."


Mendengar ringisan bos mesum nya di belakang, Terpaksa Ibell berhenti, berbalik menghampiri Nata yang entah kenapa memegangi perutnya ?


" Kenapa pak ?"


" Perut ku sakit, belum makan.. semenit lagi tak di isi mulai dari sekarang, saya akan pingsan dan kamu akan di repot kan oleh tubuh saya." Nata tersenyum jumawa dalam hati di kala Ibell membantunya untuk berjalan ke kursi taman yang tak jauh dari mereka, Ibell mudah amat di bohongi. Batinnya.


" Saya tahu bapak hanya modus, masa wajah segar begitu mau pingsan."


Aih, gue kira Ibell percaya ! Nata tercengir bodoh seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Kenapa orang tajir seperti bapak bisa berkeliaran di bahu jalan." Ibell duduk bersender di punggung kursi taman.


" Mau cari makan lah ! Ini buktinya." Kelitnya. seraya ikut bersender, memamerkan bungkusan nasi goreng nya. Baru kali ini ia bertingkah konyol hanya demi seorang wanita. Biasanya wanita lah yang dengan pasrah terlentang di kasur nya.


" Kamu sendiri, kenapa wanita malam malam begini keluyuran, tidak takut kena orang jahat ?"

__ADS_1


Ibell diam, Nafasnya terhembus gusar, biasanya bagi orang..rumah adalah tempat ternyaman, Tapi bagi Ibell... rumahnya adalah tempat neraka bagi nya. Punya ayah kandung tapi sama saja seperti ayah tiri. ia ingin mengadu, tapi bingung ke siapa.


" Makan lah, pak. Saya akan menemani bapak di sini sampai selesai." Ibell mengabaikan pertanyaan serius Nata.


" Pipi kamu kenapa ? apa ada yang mengganggumu orang jahat di sekitaran sini ? beri tahu ke saya, kita akan samperin." Entah Kenapa hati Nata tak tega melihat wajah mulus itu jadi lebab, mata indah itu juga terlihat teduh tak biasa nya bersedih.


" Ini hanya terbentur pak." Ibell berbohong, Menarik bungkusan makanan Nata dan membukakan nya untuk di berikan ke Nata, Sementara Nata tak ada hentinya menatap wajah cantik Ibell yang tertunduk layak nya banyak masalah.


"Makan lah !" Ujar Ibell memberikan kotak putih makanan itu.


"Suapin !" Manja Nata menggoda Ibell, Ibell menurut, bukan apa-apa...ia hanya ingin cepat Nata makan dan pergi meninggalkan nya.


Nata yang melihat Ibell menurut tanpa keketusan, menjadi aneh..ia lebih suka Ibell mengeluarkan ucapan bon cabe nya.


Tiga suap sudah masuk ke dalam mulut Nata dari tangan Ibell, jantung Nata sedari suapan pertama sudah berdegup kencang. ada apa ini ? perasaan seperti ini lah yang gue benci. Nata mengelak dari perasaan nya sendiri, ia tidak bodoh kalau perasaan itu adalah perasaan suka ke lawan jenis, layaknya seperti dulu yang ia rasakan ke Mutia. Mutia ? Tidak..ia tidak mau jatuh cinta lagi untuk kedua kalinya, dan berakhir patah lagi untuk kedepannya. Sakit coeg.


"Maaf pak !" Ibell tersenyum geli melihat ada sebutir nasi di sudut kiri bibir Nata, tangannya terjulur untuk menyingkirkan. Namun Nata pun reflek memegang lembut tangan Ibell. Mereka bertemu pandang dalam diam memuji perangai masing masing.


" Baru sadar saya tampan ya, Bell." Melihat kegugupan Ibell, Nata langsung saja tersenyum menggoda.


" Bapak kok tingkat pede nya selangit amat ya, nih..makan sendiri, sudah seperti anak kecil saja." Suara Ibell mulai ketus, Dan Nata suka itu.


" Ma, Suapin lagi__." Rengekan godaan Nata berhenti, di kala melihat Ibell beranjak pergi. Ia pun kembali mengikuti langkah Ibell yang sudah seperti anak kecil takut kesasar.


" Kenapa masih mengikuti saya ?"


" Tidak baik cewek cantik malam malam berkeliaran sendiri." Nata berucap seruis, apalagi melihat sekitaran yang suasana sepi.


" Maksud bapak, Bapak mau mengikuti saya sampai rumah ?"


" Why not?" Santai Nata di belakang tubuh Ibell. Ibell langsung berbalik, berhenti cepat. Namun tak terbaca oleh Nata hingga tubuh mungil itu tertabrak pelan oleh tubuh besar Nata membuat Ibell hampir terhuyung kalau Nata tidak sigap menarik nya masuk ke dalam pelukan dada bidang seorang Nata.


Adegan romantis On, Ibell tertegun di dalam pelukan Nata, ini posisi intim untuk pertama kalinya bagi Ibell, ada rasa desir yang mencubit hati Ibell. Tapi ia abaikan, perasaan itu tidak penting, yang ia heran kan saat ini...Kenapa degub jantung pak mesum nya terdengar jelas di telinga nya yang saat ini masih menempel di dada Nata karena pak mesum ini mengambil kesempatan dalam kesempitan yang tangan kekar Nata melingkar nyaman ke tubuhnya.

__ADS_1


" Pak, lepas."


Nata tak merespon, ia nyaman di posisi ini.


" Pak, jantung bapak butuh di scan, takut ada kelainan." Ibell mencubit dada Nata, ia tidak tahu kalau titik cubitannya jatuh pas di kismis hitam Nata di balik kemeja itu.


" Aww, Ibell..kamu hampir mencabut susu saya." Nata tersadar dari perasaan degub nya. Kemesuman nya On, Ibell yang mendengar kata susu, melongo hah.


" Kalau tercabut, Nanti kamu nyusu di mana ?" Nata tersenyum mesum. Ibell masih melongo.


" Pokoknya kamu harus ganti rugi, susu saya lecet lecet perih di dalam sini." Modus Nata menunjuk dadanya. " Pasti berdarah darah deh." Tambah nya lagi.


Ya Tuhan, apa salah dan dosa ku, hingga malam ini di pertemukan si bapak mesum. Ibell hanya sanggup berlapang dada saat ini melihat Kelakuan Nata. Tapi jujur... malam ini ia tidak merasa kesepian, walaupun si bos mesum, tapi ada sedikit rasa keterhiburannya terhadap Nata.


" Bapak itu kalau ngomong suka berlebihan ya, Coba saya lihat, buka kemeja nya." Ibell hanya membeli godaan Nata.


" Yakin Bell mau buka bukaan di sini, lebih baik di rumah saya aja, mau." Nata tersenyum geli melihat mata Ibell melotot seram kepadanya.


" Jangan di rumah bapak, mending di rumah saya. Karena kalau di rumah saya...saya tahu tempat pisau terletak nya di mana untuk membuat dada bapak berdarah darah sungguhan." Santai Ibell membeli godaan Nata. Sejurus ia beranjak berjalan lagi.


Glek..seram amat...


Nata pun mengekor dengan mulut ia rapat rapat kan, ia ingin memastikan Ibell sampai rumah nya dengan selamat. mobil pun ia tinggalkan di pinggir jalan, ia penasaran.. rumah Ibell sebelah mana.


Sampai di depan rumah sederhana, Ibell berbalik melihat Nata.


" Sudah sampai ! Terima kasih atas kawalan nya, Pak. Jangan harap saya memberi tawaran ke bapak untuk mampir, karena tentu saja tidak. bukan saya tidak sopan, tapi ini sudah malam, di larang bertamu malam malam di rumah saya."


Ibell masuk santai setelah berceloteh ria mengusir pak mesum nya dengan cara lembut.


Nata sendiri hanya diam saja, ia sibuk mengingat ingat rumah ini pernah ia lihat sebelumnya, tapi punya siapa ?


Shiit..ini kan rumah Dian- Mantan sekretaris ku Sebelum Ibell..jadi mereka keluarga ? lucu...satu murahan, satu sok jual mahal.

__ADS_1


__ADS_2