
Boom..
Nata, Mita dan Andra begitu terkejut dengan pengakuan Dian yang seraya telunjuk tangan itu terarah ke Nata.
Ibell ? Wanita anggun ini masih datar dengan seringai tipisnya.
" NATA " Hardik Mita meminta pengakuan, Tapi dalam hati nya ia juga senang, Yes...Jadi orang kaya akan jadi kenyataan, batinnya malah senang.
" Bell, jangan percaya. Abang bersumpah demi nyawa Abang kalau Dian itu ngaur." Nata tak memperdulikan Mita mau pun lainnya kecuali ke Ibell, ia sangat takut Ibell marah kepadanya. Tapi kenapa istri nya ini malah diam saja, kecewa kah atas pengakuan Dian yang percaya begitu saja.
" Bell." Guncang Nata di bahu Ibell yang sudah seperti boneka rusak, istri nya malah melamun ternyata.
" Eum." Ibell hanya bergumam dan beranjak ke sisi Dian yang sok menampilkan wajah sedih yang seakan-akan Kaka tiri nya itu adalah korban.
Semua bingung dengan sikap santai Ibell yang malah menepis air mata buaya Dian seakan akan meledek kakak tirinya.
" Kak Dian, Entah kata kata apa yang harus nya untuk kakak dengar dari mulut Ibell, Coba pilih...Mau secara lembut atau secara kasar ?" Aura Ibell yang tadinya santai kini terlihat menyeramkan, sisi wild nya keluar yang sudah ia sembunyikan rapat rapat, mencekram pelan rahang Dian sampai wanita penipu ini bergetar takut, menepis tangan Ibell yang bukan nya terlepas malah semakin erat saja mencekram nya sakit.
" Ma, kak Andra !" Suara Dian yang terbaring di brankar Terdengar pilu minta tolong.
Mita yang baru maju selangkah tetiba mundur dua langkah dapat tatapan seram dari Ibell, ia ogah berhadapan dengan sisi wild anak tirinya yang dulu ia pernah masuk ke rumah sakit akan luka kepalanya yang di bentur kan Ibell bak kesetanan di waktu itu sampai berkali kali. Jangan sampai ia gegar otak dan berujung innalilahi. amit amit dah.. belum tobat Gusti ! Takut Mita.
Nata juga bingung dan merinding melihat sisi wild isterinya, ternyata di balik sikap anggun Ibell ada jiwa pyshico nya. ah.. tapi ia bernafas lega, ke satu... Istri nya itu cerdas dan tidak muda di adu domba, ke dua..ia jadi tenang mengetahui Ibell bukan lah wanita feminim yang lemah, dia bisa jaga diri. Okelah...I love you pull pull untuk mu, sayang. Bangga Nata dalam hati.
" Ibell, kak Andra mohon, jangan sakitin Dian, Dia lagi hamil." Andra membujuk lembut, yang saat ini tangan kiri Ibell membidik perut rata Dian.
" Ibell tau kak, Ibell hanya mau menyapa anak suami ku, benar kan Dian ?" Ibell masih mati matian untuk menahan diri agar tidak meledak rasa Wild yang sebenarnya ingin mencekik mati kakak tirinya.
__ADS_1
Dian reflek menggeleng geleng beberapa kali karena ketakutan akan tangan kanan Ibell yang tadinya di rahang turun ke lehernya, padahal ia sudah mencakar tangan Ibell untuk menjauh tapi adik tiri nya ini bagai pyshico yang tak kenal sakit perih di kulit tangan nya.
"Ah, Coba jelas kan arti gelengan itu kak ? Aku tidak mengerti ?"
Dian baru sadar sudah mengaku salah melalui gelengan reflek nya, "Nata, ini an__istri kamu, tolong suruh minggir." Dian yang tadinya mau berbohong lagi tidak jadi saat tatapan Ibell semakin horor dan lehernya Semakin dapat tekanan dari tangan halus Ibell.
Nata tak bergeming, biarkan saja Dian dapat amukan dari Ibell. ia malah menikmati nya, tidak mungkin kan ia yang mengamuk dan memukuli wanita. Nanti bisa kena pasal.
" Jangan buat kesabaran ku hilang kak Dian, Katakan sekali lagi, Apa anak itu anak suami ku atau anak orang lain ?"
"Iya, Aku ngaku bohong, puaaass ? Dasar wanita gila, Lepas kan tangan mu, aku__Uhuk uhuk uhuk nanti bisa mati." Kesal Dian sesak di bagian lehernya ulah Ibell yang baru melepaskan tangannya yang seperti nya Ibell sengaja menekan cekikikan nya sesaat baru di lepas.
" Oops Maaf." Wajah Ibell bak orang polos meledek. "Tapi lain kali jangan di ulang ya kak, Ibell bukan anak kecil yang percaya akan bualan kakak, apa kakak lupa ? Kita itu sudah hidup satu atap bersama, Dan Ibell tahu semua ucapan kakak ke Ibell itu hanya bualan saja untuk membuat Ibell sakit hati dan hancur, Ibell lebih mempercayai tokek berbunyi dari pada manusia seperti kakak, coba deh kakak berubah sedikit saja sifat jelek nya, mengingat ada janin yang Ibell yakini bukan anak suamiku. kasihan anak nya, Takut takut malu punya calon Mama seperti mu. dan..ah, Sekali lagi kak Dian membual yang kelewat batas, maka cekikikan tadi akan lebih parah lagi."
Kata kata panjang lebar Ibell terdengar santai tapi membuat Dian dan Mita bergidik. Nata masih tercengang tidak percaya dengan Ibell yang mempunyai sifat wild juga rupanya, bahkan Ibell meningkalkan ruangan pun tak di sadari oleh Nata.
" Nata, maaf kan Dian yang sudah mengkambing hitamkan nama mu."
" Sus, pinjam alkohol, obat merah dan perban nya, Istri saya terluka kena cakaran ular berbisah." Nata main serubut saja, mengambil apa yang di inginkan oleh nya dari dorongan stainless yang isinya alat kesehatan.
"Lho pak, Apa ada ular berbisa punya tangan yang bisa nyakar ?." Heran suster.
" Ada, Ular berkaki dua. Bisah nya lebih mematikan dari pada jenis ular apa pun, Terima kasih ya." Nata buru buru menjawab dan berlalu pergi dengan obat untuk Ibell. Dan suster pun mengerti dengan ular berkaki dua itu.
Di taman, Nata mendekati Ibell yang duduk di bangku seorang diri dengan cahaya remang remang lampu taman. Ia tahu Istri nya lagi menangis dalam diam nya melihat punggung itu dari belakang yang naik turun. Ia pun duduk di sisi Ibell yang cepat cepat istri nya menghapus air matanya.
" Terima kasih sudah mempercayai ku, Ibell."
__ADS_1
Nata menarik tangan Ibell yang masih berdarah, kuku Dian sialan itu benar-benar tajam menancap dalam kulit Istri nya.
Ibell masih diam memperhatikan Nata mengobati luka nya step by step, membersihkan pakai alkohol, obat merah dan terakhir di balut pakai perban dua lilitan.
Hening, Ibell sibuk menangada ke langit gelap tanpa Bintang satu pun apalagi bulan. Hampa... itulah perasaan Ibell saat ini.
" Ibell hanya manusia biasa, Bang. Punya rasa bermacam macam, Ibell tidak lah mempercayai Abang seratus persen, Bila mana wanita lain di luaran sana yang datang ke hadapan Ibell dengan membawa kabar kehamilan anak Abang, mungkin Ibell bisa saja percaya, beda dengan kak Dian yang dari kecil Ibell sudah tahu watak kibul nya yang ingin menjatuhkan Ibell terus." Ibell bertutur menyampaikan kegelisahan nya tanpa memandang Nata, ia masih sibuk memandang langit kegelapan. Ia takut kalau hidup nya nanti seperti gelap malam di atas sana.
" Percaya sama Abang, Sampai kapan pun Abang akan setia ke pada mu, Bell." Nata menangkup kedua pipi Ibell untuk mau melihat ke arah nya namun Ibell langsung menepis nya.
" Ibell memang sudah menerima kekurangan Abang di masa lalu, Tapi rasa nya kenapa sulit ya berdampingan damai dengan Abang, Abang sekarang memang berubah, tapi kalau melihat Kak Dian atau pun wanita bekas Abang yang lainnya ada seonggok daging perih di hati yang Ibell rasakan. Susah hidup dengan Abang, banyak mawar berduri yang menginginkan hidup di samping Abang termasuk Mutia dan Dian yang terang terangan menabuh genderang perang, Ibell bukan wonder woman yang strong yang sampai kapan bisa bertahan terus, Ibell hanya wanita biasa yang merindukan kedamaian dan cinta tulus tanpa ada pengganggu dari wanita lain. Ibell mencintai Abang tapi Ibell juga takut kedepannya akan seperti apa rumah tangga kita."
Nata segera menarik Ibell masuk ke dalam dekapannya, membelai lembut rambut Ibell dengan sayang. Istri nya benar, Hidup mereka tidak lah damai semacam rumah tangga orang lain, walaupun mereka saling mencintai dan mempunyai finansial banyak tapi pengganggu macam Dian atau pun yang lainnya mungkin sangat meresahkan, ia paham kecemasan istri nya yang takut di khianati. dan sampai kapan pun ia tidak akan menghianati Ibell karena ia tahu rasanya di khianati itu seperti apa.
" Dengarkan Abang...Rumah tangga kita akan baik baik saja yang penting kita harus selalu bersama menghadapi nya, saling berkomunikasi terbuka dari hal kecil mau pun hal besar apa pun itu, Mau kan berjalan di sisi Abang menyingkirkan mereka semua ? Kita harus win, Abaikan mereka mereka dan Abang yakin suatu saat mereka akan capek sendiri kuncinya kita harus saling percaya."
Pengarahan lembut Nata meluluh kan rasa keraguan Ibell, ada seberkas sinar yang menerangkan hati nya. Di tarik nya Kepalanya dari dada Nata, Tersenyum manis dengan air mata yang di tahan nya menetes juga saat kepala itu mengangguk mau.
" Ibell mau, kita harus win !"
" Gitu dong, optimis adalah tanda-tanda kemenangan."
Mereka saling tersenyum, Nata menghapus jejak air mata Ibell dan kembali memeluk istrinya dengan sayang setelah mengecup kening Ibell.
" Love you, Bell." Batin nya mencium pukul kepala Ibell berkali-kali.
" Bang, Besok besok jangan terlalu tampan ya..atau wangi gitu, pakai parfum bangkai aja Bang, biar wanita lain pada kabur." Ibell bercanda, mencoba menghibur hatinya yang masih resah karena ulah liar Dian.
__ADS_1
Nata tersenyum tipis, mengangkat dagu Ibell untuk menangada ke wajah nya. " Sekalian di tambah tulisan di jidat Abang. Warning.. Laki laki gila, jangan mendekat."
Hahaha.. Mereka tertawa bersama dan kembali berpelukan.