
Di jam yang sama saat Pasangan Yola dan Ambu berbincang serius. Di rumah, Nata yang katanya membantu Ibell memasak hanya sibuk menatap damba istri nya, Ibell terlihat enak di pandang saat serius. Mata itu lurus lurus ke wajah Ibell yang memotong motong sayuran.
Tangan Nata sendiri sibuk mengiris bawang merah, asal asalan.
" Perhatikan apa yang di iris, Ibell tidak mau di salahkan nanti karena gara gara memandang Ibell terus tangan itu jadi putus."
aih ding, ketahuan. Padahal Ibell tidak melirik sedikit pun ke arah nya.
" Kamu cantik sih." Rayu nya.
" Jadi kalau tidak cantik, maka nanti Ibell tidak akan di lihat barang sedikit pun."
Alamak salah lagi.
" Tentu saja di lirik kok, kalau cinta sudah menguasai hati, logika tidak akan memandang wajah ataupun kekurangan doi." Ting Ting...Mata Nata berkedip lucu menggoda Ibell saat kali ini rayuan nya dapat membuat Ibell mendongak ke arah nya.
" Bawang nya cepat di iris, Ibell menunggu nya."
Yakh, di cuekin rayuannya. senyum sikit kek.
" Baik lah." Karena kata Ibell, irisan bawang merah nya harap di segera kan selesai, Nata menunduk dalam penuh ke seriusan, ia tidak sadar kalau uap zat enzim dari bawang akan membuat nya menangis.
Satu dua tiga sampai bawang ke empat masih ok, irisan bawang ke lima__"
" Aah, pedih. Ibell__" Mata Nata sudah berair perih, Memejamkan matanya berniat untuk mengucek ucek nya agar pedih nya hilang, tapi Ibell segera menepis tangan Nata yang sedari tadi beranjak cepat di awal Nata bersuara pedih.
" Jangan di usap, pejamkan saja dulu, Ayo berdiri dan ikut Ibell."
Tak apalah perih juga, yang penting kali ini dapat perhatian, tangannya langsung adem di tuntun Ibell entah kemana karena ia terpejam ulah si bawang merah jahat, Zat enzim nya membuat nya payah.
Ibell membantu Nata mengusap wajah Nata menggunakan air dingin agar mengurangi perih mata Nata.
Akhirnya legah.
" Terima kasih sayang, tapi kalau mau nolong jangan setengah-setengah dong. usap air nya." Kesempatan dalam kesempitan, Nata menyuruh Ibell membersihkan sisa sisa air di wajahnya. Kalau di rajukin begini, di sentuh sedikit oleh Ibell rasa nya dapat hoki banyak. Ia rindu dengan belaian kasih sayang Ibell yang hilang respect untuk nya.
" Nanti, Ibell ambil tissue dulu."
__ADS_1
" No, pakai ini !"
Ujung pashmina putih Ibell, di tahan Nata, Lebih mesra saja kalau kain yang melekat di tubuh pasangan kita yang di buat membersihkan. Menurut Nata itu terkesan manis.
Baiklah, tak ingin lama lama dan berakhir masakan tidak siap siap karena ulah Ayah dari anak nya yang bukan nya membantu nya malah membuat nya lelet saja. Ibell pun mengusap pelan wajah Nata dengan ujung pashmina nya. Namun terhenti akan Nata yang tiba-tiba menyentuh dan menggenggam lembut tangan nya. Mata mereka saling beradu.
" Ibell, aku mencintaimu, sangat !" Ungkap Nata sungguh sungguh,berbisik, mencuri kecupan kening Ibell dan kembali segera duduk di meja untuk membantu Ibell menyiapkan bumbu lagi, tapi bawang...sana jauh jauh, biar Ibell yang mengiris mu.
Ibell tertegun seketika membelakangi Nata, menyentuh kening bekas kecupan Nata yang terlihat tulus hingga ada getaran aneh yang mensentil gemas hati nya. Dengan cepat, tak ingin membuat Nata besar kepada, Ibell menyematkan wajah datar nya dan mulai bertugas kembali.
Suami mu memang manis mulut Ibell, apa kamu lupa sifat sesungguhnya, tukang gombal plus mesum terhakiki.
Aww...
Karena sibuk membatin seraya tangan mengiris bawang, Ibell melukai tangan nya sendiri, Sampai berdarah.
" Astaga, berdarah." Tanpa jijik, Nata menarik jari Ibell, menghisap pelan jari itu, berniat untuk menghentikan darah nya dengan senyawa alami dari liur yang di sebut komponen histatin obat alami yang mempunyai anti mikroba.
Jangan di tanya jantung Ibell, di dalam sana degub jantung nya bekerja dua kali saat mendapat perhatian sederhana tapi melihat wajah cemas suaminya membuat bibir itu tersenyum arti.
" Jangan di manja, Luka ini tidak seberapa, darah ini cuma dua tetes, beda waktu saya terjatuh tujuh tahun lalu." Ibell menarik tangannya, menuju ke wastafel tempat cuci piring dan membasuh luka nya.
Nata menyadari perubahan itu, duduk kembali dengan nafas keluh nya.
"Sampai kapan kamu menahan diri Ibell ? maafkan aku. aku tahu...hati mu masih ada nama aku di sana, Berjalan lah maju, jangan berjalan ke belakang, Nanti jatuh." Ambigu nya.
Ibell tidak menyahut, melainkan menghidupkan kompor ingin memulai aksi memasaknya.
...****...
Di kebon teh, Bocah-bocah jahil itu masih menikmati hari dengan bermain, Vay dan Petir berpisah dengan rombongan Ama dan Lautan berikut si Twins. Pe dan Topan ? jangan di tanya sedari awal juga ke dua nya sudah berpisah.
" Sebelah kiri kak."
" Mana, nggak kelihatan ?"
"ke kiri lagi, daunnya harus di silak dulu baru kelihatan"
__ADS_1
Jangan di tanya lagi ngapain, Vay dengan jahil mengerjai Petir sampai anak Langit Senja itu sekarang bergantungan di pohon jambu biji yang lumayan tinggi, padahal buah nya tidak ada, Vay berbohong ada dua di atas sana, Petir saja yang buta tidak jeli, maka nya tidak melihat, ledek Vay tadi, hingga Petir berujung di atas sana untuk mencari buah dua biji itu.
Cari sono sampai musim buah sudah tiba.
Vay tersenyum evil di posisi berdiri nya, mungkin menikmati kejahilannya, Lebih nyaman seraya duduk santai kayak nya deh, entah kapan kakak kelas nya yang sebentar lagi akan lulus sadar dari kebodohan kalau ia hanya iseng saja.
" Vay, sebelah mana ?"
Tidak ada sahutan, Vay mendengar nya kok, tapi bersiul siul lebih syahdu saat ini.
Di sisi Pelangi, Merasa capek membantu ibu ibu memetik daun teh, Anak ke-dua dari Mentari itu meninggalkan tempat ingin menghampiri para saudara nya, Haus melanda nya. Namun tidak hati hati, Pelangi terpeleset, sepatu nya tidak sengaja menginjak batu berlumut hingga membuat nya jatuh.
Aduuh.
Pelangi terpekik sakit di bagian pinggulnya yang terduduk.
" Sial benar sih ah." Mood nya drastis down lagi.
" Maka nya, Jalan itu pakai mata, bukan pakai mata kaki."
Pelangi menoleh ke asal suara, Ada teman Vay yang bernama Guntur.
" Jalan pakai kaki, bukan mata." Balas Pelangi menolak bantuan Guntur yang ingin menarik nya berdiri.
" Yakin bisa bangun ? Ya sudah saya tinggal kalau begitu, dan ah..." Guntur berbalik lagi. " Di samping tangan kanan mu, ada ulat bulu, menyentuh sedikit saja, kulit orang tajir itu akan gatal gatal." Ucap nya datar, saat orang tajir terucap, sengaja menekan nya seakan-akan membenci orang orang tajir.
Aaarg.. Hust hust..
Mendengar ada mahluk kecil tapi mampu sebagian orang takut menghindari, Pelangi menjerit, mengusir dengan konyol, mana ngerti ulat tersebut sedang di usir, malah semakin menghampiri duduk nya Pelangi yang kesusahan untuk berdiri.
" Dasar manja."
Umpatan anak blasteran ketimuran itu, Membuat Pelangi mendengus, Tapi tangannya menerima uluran tangan Guntur untuk membantu nya dari pada di sentuh ulat.
" Aku tidak manja, Semoga kedepan nya kita tidak pernah bertemu, kalau terjadi..." Tangan lembut itu mengepal erat di hadapan wajah Guntur, tanda ia bukanlah anak manja, Percuma dong jadi nak muay Thai tante Gemi nya kalau di remehin.
" Lucu." Gumam Guntur saat Pelangi sudah berlalu dari hadapan nya dengan jalan sedikit terseok.
__ADS_1
Kalung ?
" Pelangi." Baca nya di liontin latin itu yang pasti milik gadis tadi. " Nanti pasti kita akan bertemu lagi." Lirihnya belum niat untuk di kembalikan, padahal ia bisa mengejar langkah itu, Nanti orang nya juga datang sendiri, batin nya menyadari kalung tersebut bukan kalung biasa, kalung nya terdeteksi GPS khusus. Tebak nya mudah akan keahlian nya yang di sembunyikan selama dari Pelarian orang orang yang mengincar nyawanya.