
Ibell tertegun, berada di antara keluarga besar Nata yang penuh kehangatan, sudut mata nya berair haru di kala mereka semua tidak memandang rendah diri nya sebagai pekerja Nata, Mereka memperlakukan nya dengan sangat baik apa lagi Mama nya Nata yang tiba-tiba menariknya duduk di antara mereka. Sementara para pria duduk berpisah di mini bar yang tak jauh dari tempat para hawa duduk ngobrol keseruan mereka, Ibell hanya sesekali mengeluarkan suaranya, itu pun kalau di tanya saja. Jujur...ia iri dengan keluarga besar ini....
Iri...dari dulu ia haus dengan kasih sayang orang tua, Ibu nya meninggal dunia karena sakit, Ayah nya yang kurang perhatian terhadapnya malah menikah lagi di waktu ia berumur delapan tahun, sehingga ia di besarkan oleh ibu tiri yang suka menuntut ini itu kepadanya dengan embel-embel harus balas Budi sebagai ganti ruginya yang selama ini membesarkannya, makanya ia harus bekerja banting tulang untuk mencari uang karena di tuntut terus, Ayah nya yang tiap hari di asut oleh ibu tiri nya untuk membenci nya membuat ia benar-benar kehilangan kasih sayang orang tua, belum lagi...Ibell mempunyai dua saudara tiri yang sama saja menyebalkan nya. Di antara keluarga nya yang tulus mencintai nya hanya satu orang-Nenek. Tapi... Karena penyakit tua, Nenek nya baru baru ini meninggalkan nya untuk selama lamanya, sebelum ia bekerja di perusahaan Nata.
Di tengah keramaian suara suara canda tawa keluarga Nata, Handphone nya berdering, ia tidak enak karena suara layar nya mengganggu kehitmatan mereka, dengan itu ia izin keluar untuk menerima telepon. Yola yang melihat Ibell sudah berjalan, entah kenapa kaki nya beranjak mengikuti.
" Halo, Ma ?" Ibell langsung mengangkat panggilan itu setelah berada di teras rumah.
" Kamu tuh lama amat si Bell ngangkat telepon Mama ?"
" Maaf Ma, Ibell tadi lagi di toilet." Boong nya.
" Lupakan, Kamu segera kirimkan uang buat Mama ya ?"
" Tapi kan, Ibell belum gajian ma, Mana ada Ibell megang uang ?"
" Kamu gimana sih ? Katanya jadi sekretaris dan asisten sekaligus, Mana ? Bohong saja kamu tidak punya tips dari bos mu. Jangan bohongi Mama, Kualat kamu nanti." Oceh nya. Ibell yang tahu watak orang tua sambung nya hanya meraba dadanya untuk sabar. ia tahu maksud tips itu yang menganggap dirinya asisten pribadi yang mau di ajak naik ranjang. itulah sindiran Mama nya.
" Kalau jadi orang tuh kudu pintar pintar Bell, gunakan kesempatan kamu menjadi asisten orang kaya, goda dong biar kamu di jatah, bila perlu telanjan* di depan nya."
Ibell hanya diam di ceramahin yang di luar nalar, ia bahkan meneteskan air matanya, karena lidah tak bertulang Mama tiri nya, Miris. Hatinya sakit.
" Ma, tolong ya..Ibell tidak serendah itu, Ibell pasti akan memberi uang ke Mama dengan halal supaya berkah masuk ke dalam tubuh Mama yang cantik jelita, Tapi tidak sekarang, nunggu Ibell nerima gaji pertama Ibell."
" Halah..sok suci kamu, Kamu tiru dong kinerja kakak kamu itu pintar ngambil uang bos nya."
Pintar apa nya ? Yang ada bodoh dengan gampangan mau saja di 'sentuh'. Batin Ibell kembali diam mendapat nyap nyap terus dari balik layar.
" Noh, lihat juga tuh cara kerja Kaka laki laki mu, Dia saja tuh ya sebagai cowok pintar menguras harta cewek nya yang kaya raya, kamu tiru cara mereka biar jasa balas budi mu tidak setengah-setengah, Buang tuh nama halal. Halal haram sama saja duit, tidak ada stempel cap nya kan ?"
" Ma--!"
" Tidak ada penolakan, ikuti instruksi Mama kalau mau bertahan di dunia ini tanpa merasakan kelaparan, Mam___"
Tut...Tut..Tut..
Ibell serasa kepala nya pusing mendengar hasutan unfaeda mamanya di seberang sana, dengan itu ia memutuskan sepihak pembicaraan. ia tahu... setelah pulang nanti, kuping serta beberapa kulit nya akan merah merah karena dengan lancang nya mematikan tanpa memberi kepuasan mamanya.
__ADS_1
Ya Tuhan, Hidup ku engkau yang menentukan. Pasrah nya mengelus dada untuk kesikian kalinya.
Saat berbalik, Ibell terkejut, ada Yola yang berdiri di belakangnya. Secepat nya ia menghapus jejak air matanya.
" Kenapa nangis, Nak ?"
Duh, Hati Ibell meleleh dengan kelembutan seorang ibu di hadapannya, andai Mamanya masih hidup, mungkin ia tidak akan merasa kehampaan hati sebagai seorang anak.
" Tidak Nyonya, Saya tidak menangis...ini hanya uapan kantuk saja." Elak nya. ia tidak mau terlihat rapuh di hadapan orang asing. Ibell paling anti membicarakan aib sendiri. biarkan ia dan Tuhan nya lah yang tahu isi hatinya saat ini.
" Ngantuk ya ? Tapi masih bisa di tahan sebentar dong ya."
Yola si mantan wild flower, tentu tidak bisa di kibulin, apalagi sudah mendengar gambaran pembicaraan Ibell yang katanya mama di seberang sana yang malah mensugesti sesak anak nya sendiri. ia dengar jelas suara wanita itu karena posisinya ia berdiri di belakang dekat telinga Ibell. Entah kenapa Yola begitu lancang untuk menguping pembicaraan Ibell, rasa rasanya ada magnet sendiri yang menarik Yola untuk mengkepoin pekerja anak nya ini, ia juga bangga mendengar pendirian Ibell yang menolak sugesti negatif mama nya itu.
" Bisa kok, Nyonya. apa anda butuh sesuatu ?"
Yola mengangguk, mempersilahkan Ibell untuk ikut bersama nya, tujuan nya adalah di bangku taman pelataran rumah Meca.
" Straight to the point aja ya ! karena kamu ngantuk katanya." Yola duduk di kursi putih besi khas taman, Ibell pun duduk dengan sedikit rasa bingung. ada apa Mama bos nya ingin berbicara pribadi seperti ini ? Batin nya bertanya tanya.
" Soal Nata...Oya Ibell, kamu sudah tahu belum penyakit mesum anak saya ?"
Ibell mengangguk canggung, tidak enak hati.. ternyata pembicaraan intim.
" Jujur ke saya ya ? Apa Nata pernah mengajak mu naik keranjang nya ?" Yola benar benar to the point, mempertanyakan ke iman-an Ibell.
Mata Ibell yang pura pura ngantuk, jadi terbelalak mendengar pertanyaan Yola, ia menggeleng sejurus mengangguk.
" Maksud saya, iya.. tapi sumpah demi apapun Nyonya, Saya menolaknya, saya ingin bekerja dengan kebersihan tanpa ada Affair apa pun, walau pun saya tumbuh dalam keluarga yang tidak sehangat keluarga anda, Tapi iman saya kokoh kok untuk tidak mudah di hasut duniawi. Sebelum meninggal, Nenek saya sudah membekali saya ajaran hidup penuh dengan kehormatan. jadi tenang saja...saya tidak akan memanfaatkan tubuh saya untuk sekedar kemewahan dari anak Nyonya.
Yola tersenyum penuh makna mendengar jawaban polos nan jujur yang terpancar di mata Ibell. Hati Yola sangat mudah percaya begitu saja ke gadis yang baru di kenalnya ini. Fix... setelah ini ia akan mendalami siapa kehidupan pribadi Ibell.
" wanita memang harus menjunjung tinggi martabat nya, saya salut dengan pemikiran anak muda seperti kamu, Iya Ibell...maaf ya tadi saya mendengar percakapan kamu dengan mama mu, kamu itu__ ?" Yola terdiam, sadar sudah terlalu dalam mengulik pribadi Ibell.
" Saya anak piatu sejak berusia delapan tahun, Ayah menikah lagi, sehingga saya di tempat kan sebagai anak tiri di rumah, tapi saya masih bersyukur kok masih punya keluarga." Cerita Ibell dengan inti hidup nya. ia pun tertegun diam, sadar dengan curhatan hati nya kepada siapa ia sekarang berhadapan. " Maaf ya Nyonya, saya lancang !"
"Tidak, entah kenapa saya tertarik dengan kamu. Oya Ibell..saya akan memberikan mu uang asalkan kamu mau membantu saya ?"
__ADS_1
" Membantu ?" alis Ibell bertaut, menatap serius wajah ayu di hadapannya.
" Ya....Kamu cukup melapor kan segala sesuatu kegiatan Nata yang unfaeda itu, Misal kan... kalau Nata dalam kumat yang dalam memboking wanita bayaran, kapan dan di mana tempatnya. gitu gitu pokoknya deh." Yola saja jijik dengan tingkah buruk anak nya. Heran deh... beginilah punya biologis penjahat kelami*, Sifat buruk kok turun menurun. Kalau mengingat ke sana... Yola jadi kesal ke Kemal. Untung suaminya tidak berada di sisi nya, kalau ada.. Kepala Kemal sudah tertombak memakai runcing sepatu tinggi nya.
" Duh, bagaimana ya ? Saya takut pak Nata marah kalau tahu saya bekerja sama dengan Nyonya yang ikut campur dalam hal pribadi beliau." Tolak halus Ibell.
"Please..ini demi kelangsungan masa depan keturunan saya lho Bell, bayang kan saja...anak saya cuma satu satunya, kalau terkena penyakit kelami* karena kebanyakan menyedot lubang bayaran yang entah busuk atau harum tuh baunya si lubang lubang mereka , Jadi bantu saya ya ?" Harap Yola.
Ibell yang merasa berada di tengah-tengah benua, mau sana sini air laut semua yang siap menenggelamkan nya. jadi serba salah, tapi ia tidak tega juga melihat kesedihan wajah Nyonya ayu ini. ia pun mengangguk.
" Baiklah ! Tapi maaf nyonya, saya tidak dua puluh empat jam di sisi pak Nata, jadi mungkin saya cuma sedikit dikit tahu kalau masalah pribadi pak Nata"
" Tidak masalah, yang kamu tahu aja. kan kamu yang membuat jadwal anak saya...tinggal laporkan waktu waktu luang Nata dalam pekerjaan nya, nah biasanya waktu luang itu di jadikan sebagai neraka jahanam ranjang si cassanova pitik itu." Yola meninju kesal tangan nya sendiri, membayangkan Nata lah yang di tonjok. Sungguh miris punya anak satu satunya tapi gagal menjadi ustadz. malah ketimbal balik nya tuh Kelakuan. " Yakin mau ya ?" Lanjut Yola.
" Iya." Sahut Ibell ragu. entahlah.. apa ia akan terkena imbasnya atau tidak.
Yola yang mendengar persetujuan Ibell tersenyum cerdik. ia punya rencana sendiri. Jiwa ke ibuannya meronta ronta melihat sosok Ibell saat pertama kalinya, ia melihat ada harapan kebahagiaan Nata di sana. Semoga pilihan nya tepat. Semoga !
" Tapi Nyonya, di otak saya sedari tadi bertanya tanya... tentang perkataan anda yang harum atau busuk baunya lubang lubang mereka ? maksudnya itu lubang hidung atau apa ya.. otak saya ngebleng ? Apa pak Nata suka menyedot hidung mereka kah ?" Polos Ibell yang tidak mengerti lubang apa yang di maksud dengan Yola, sungguh... ajaran baik Nenek nya tidak di peruntukkan membahas perlubangan. ah... Andai nenek nya masih hidup, maka ia akan bertanya ke Nenek nya saja.
" Hahaha, iya.. Ibell, lubang hidung, Nata suka menyedot hidung mereka, dan saya tidak suka..jadi suatu saat Kalau saya memergoki Nata menyedot lubang hidung mereka, maka saya yang akan menyedot mereka pakai sedot WC." Yola tertawa geli, ternyata wanita di hadapannya sangat polos dengan kode kode intim.
" Jijik ih." Ibell bergidik jijik.
" Apanya yang jijik Ibell ? Ma ? Kalian kenapa malah seru berduaan di sini."
Ibell dan Yola segera menengok ke belakang ketika suara Nata menyela.
" Bapak, Lubang hidung. ia itu, menjijikkan !" Ibell menatap intens hidung Nata dengan rasa mual membayangkan Nata menyedot hidung seseorang yang mungkin memiliki cairan kehijauan.
" Apa sih Ibell." Nata yang kurang paham, menyentuh hidung nya.
" Hahahaha..." Yola yang terbahak bahak sedari tadi tidak bisa berhenti akan ulah ucapan kode kodenya yang tidak di pahami oleh Ibell. " Sudah lah...Nata, Antar Pulang si Ibell, dia sudah ngantuk kata nya. biarkan ia bermimpi tentang lubang hidung. jaga jarak ya, ada setan di tengah tengah kalian." Yola beranjak pergi dengan masih terkikik geli.
Kedua anak muda yang di tinggalkan, menatap datar Punggung Yola. sejurus tatapan mereka bertemu.
" Aneh." Ujar Nata. Ibell mengangguk polos.
__ADS_1