
Ngiung ngiung ngiung..
Sepuluh menit Ibell pingsan tak sadarkan diri, membuat Yola dan Nata panik, mereka sekarang di atas ambulance, Kemal di belakang menyusul dengan mobilnya, ambulance itu pun sebenarnya kebetulan lewat di depan komplek yang di berhenti kan oleh Yola untuk di bawa kerumah sakit. Kini Yola menatap tanya nan sinis Nata yang sedari tadi berubah ubah eskpresi nya.. kadang pucat, panik dan kadang sedih, entah apa yang di lakukan anak nya itu ke Ibell, ia harus menyelidiki nya.
" Mantu mama kamu apakan hah ? Kenapa sampai pingsan, ini juga.. Baju Ibell sampai terbalik begini, Tidak menggunakan pakaian dalam, celana boxer milik kamu pakaikan. kamu memperkosa nya ya ?" Cerca Yola menatap selidik Nata. Sopir Ambulance memasang telinga mendengar kata perkosa. wah kriminal. Batin sang sopir.
Ini semua karena kamu, Beno ! Nata menggeleng pelan akan pertanyaan Yola, melirik sinis ke Beno.
" Apa tuh maksud dari gelengan bodoh mu ? Mama menunggu jawaban mu, bukan kepala mu."
" Bukan Ma, Nata tidak memperkosa nya, cuma... Ibell ketakutan sama Beno ?" Tatapan mata Nata sayu memandang wajah pucat Ibell. " Ma, Nata takut Ibell akan lewat gara gara melihat penampakan Beno." Sambung nya terdengar sedih.
" Beno ? Lewat ? Mama tidak paham." Alis Yola bertaut dengan kata ambigu Nata. " Lewat ? Maksud mu, Ibell akan innalilahi ?"
Nata mengangguk.
"'Ish..Kalau ngomong tuh yang benar, Ayo jujur sama Mama, kamu paksa Ibell untuk melayani mu kah ? Secara kasar dan beginilah hasilnya, Ibell tidak kuat dan pingsan ?" Yola kesal kali ini, memukul lengan Nata untuk mendesak anak nya apa yang sebenarnya terjadi.
"'Bukan Ma." Elak Nata dari tuduhan keji mama nya. " Nata kan sudah bilang kalau ini gara gara Beno, bukan Nata penyebab nya tapi penampakan Beno yang membuat Ibell shock."
" Penampakan Beno ? Di rumah kita ada setan kah.. iiih ?" Yola bergidik ngeri.
Nata menatap malas Mama nya yang tidak mengerti dengan kode kode Beno padahal tadi telunjuk nya menunjuk ke bawah perut nya, Mungkin Mama nya lagi servernya buntu gara gara mantu nya yang pingsan.
Ambulance kini sudah sampai di depan lobby rumah sakit, beberapa suster dari arah dalam mendekat melihat ada pasien baru dari ambulans. Mendorong brankar Ibell ke ruangan pemeriksaan. Yola dan Nata pun ikut mendorong, Yola masih menunggu jawaban jelas dari Nata. Dari belakang ada Kemal yang berlari kecil menyusul keluarga nya.
" Maaf, para keluarga harap di sini saja." Satu suster menutup pintu ruangan pemeriksaan. Ke-tiga nya menurut.
" Apa yang terjadi sama Ibell, Ibell sakit apa ?" Kini Kemal lah yang bertanya penasaran.
" Melihat penampakan Beno, kata Nata, Mas ! Di rumah kita ada setan nya." Yola yang menjawab. Dan Nata hanya berdecak lidah atas kesalah pahaman pengertian penampakan Beno.
" Masa sih, kok rumah kita jadi horor ? Nanti, Mas akan menelpon Bi Tina untuk mengusir setan siang bolong itu." Kemal benar benar mengeluarkan gawai nya. Tersambung.
" Halo, Bi Tina ! Tolong ke kamar Nata, usir tuh penampakan Beno di dalam sana ?
" Penampakan Beno ? Saya tidak paham tuan !"
__ADS_1
" Ibell pingsan karena melihat penampakan Beno kata nya, Coba Bibi nyari pawang nya gih."
" Iih, Tuan ! Maksud tuan, di kamar tuan muda ada Setan bernama Beno, gitu ?"
" Iya !"
" Seram juga ya, Nanti bibi cari deh, Tapi nanti ya...Bibi jadi takut merinding di siang bolong begini, mana sendirian lagi, Tuan..saya ijin beli pulsa aja ya, takut di hantuin." Bi Tina di sebrang sana jadi blingsatan sendiri, kuduk nya berdiri semua, ngeberit keluar dari dapur ke taman belakang.
" Terserah Bibi, tapi rumah di kunci rapat semua ya, jangan sampai ada maling.. Ingat, Security kita lagi cuti."
" i-i-iya, Tuan !"
Tut
Nata angkat tangan akan kesalah pahaman ke-dua orang tuanya, ia sibuk memandang pintu ruangan Ibell.
Ceklek..
" Keluarga pasien." Sang Dokter laki laki setengah baya berkacamata minus keluar dari pintu. " Ah...pak Kemal, itu di dalam keluarga anda ?"
Sang Dokter membungkuk hormat sekilas, ternyata ia mendapat kan pasien dari pemilik yayasan rumah sakit.
" Mantu bapak tidak apa apa, mungkin pingsan karena shock hingga tekanan darah nya turun, satu infus sedang terpasang, kalau habis bisa langsung pulang kok, pak. Silahkan masuk, saya akan melanjutkan pekerjaan di pasien lainnya." Pamit sang Dokter. Kemal mengangguk takzim.
Kini mereka sudah memenuhi ruangan Ibell yang di mana mantu nya itu sudah sadar, tapi mata nya tak tenang, sibuk menghindari wajah tampan Nata.
" Bagaimana perasaan mu, Nak ?" Lembut Yola bertanya di sisi brankar berdekatan dengan Kemal, sisi brankar satu nya ada Nata yang berdiri lega.
" Baik kok, Ma, Pa ! Ibell tidak apa apa. ayo kita pulang saja." Ibell tidak enak hati, sudah membuat repot Keluarga baru nya.
"Nanti ! Nunggu cairan infus nya habis dulu, baru kita pulang." Jelas Kemal. Ibell mengangguk paham.
" Bell !" Panggil Nata. Ibell ragu ragu untuk melirik. " Kamu membuat ku cemas."
Duh..kok aku jadi malu sendiri. Batin Ibell hanya diam menatap Nata serba salah.
" Sayang, Coba ceritakan penampakan Beno itu seperti apa ?"
__ADS_1
Wajah pucat Ibell semakin pias saja mendengar pertanyaan Yola. masa ia harus menjabarkan adik Nata.
" Iya, Nak ! Ceritakan.. Papa sudah menelpon Bi Tina untuk mencari ahli pengusir penampakan Beno itu." Sambung Kemal, niat hati menghibur mantu nya agar pulang pulang ke rumah tidak ketakutan lagi. Lagian kok aneh ? Kemal seumur umur tinggal di rumahnya, tapi kagak pernah tuh melihat penampakan Beno, siang bolong lagi. Benak Kemal bertanya tanya.
Nata dan Ibell kini saling pandang, Nata dengan tatapan geli nya melihat wajah memerah malu istri nya, Dan Ibell menatap Nata agar suami nya itu mengalihkan pertanyaan kedua orang tuanya.
" Kok diam Bell ?" Yola masih menunggu, tatapan nya tajam ke Nata seakan akan berkata... kelar hidup lho kalau penampakan setan Beno cuma akal akalan doang yang sebenarnya ingin memaksa Ibell melayani syahwat mu. Begitu lah arti tatapan sinis Yola.
" It-it-itu, Ma ! Bang Nata saja lah yang menceritakan nya. Ibell malu." Jujur Ibell. Nata jadi tersenyum lebar melihat wajah sipu Ibell.
" Nata !" Tekan Kemal.
" Kalian tuh ya, kagak ngerti amat sih Penampakan Beno ? Beno itu ini.." Tunjuk Nata ke bawah perut nya. "Ibell ketakutan melihat nya karena On parah pakai banget."
Mulut Kemal dan Yola kompak melongo hah ?
Ibell yang rasa rasanya ingin menenggelamkan wajahnya ke dasar laut, Malu tingkat dewa.
" Jadi ?" Hahahamppt. Kemal segera membekap mulut Yola yang tertawa kencang, ia sendiri sudah sakit perut menahan geli tawa nya tapi menyadari wajah Ibell yang memerah malu, jadi tertahan. Ok..kini Kemal dan Yola baru paham, kenapa Ibell memakai baju kebalik, tanpa pakaian dalam di balik kaos itu, dan ah.. apa apaan, di balik selimut itu juga hanya pakai boxer Nata, untung unyu unyu di pakai oleh Ibell dan ah... untung mas suami nya tidak melihat boxer itu. Astaga...siang pertama anak mantu nya tertunda karena Beno terlalu besar.
" Aduh pa, lepaskan tanganmu, Sana telpon Bibi lagi, Takut takut Bi Tina malah memanggil mbah dukun sembur sana sembur sini di rumah kita." Yola masih menahan tawanya.
" Oke !" Anjak Kemal keluar ruangan.
" Dan kamu Nata, sana beli pakaian layak untuk Ibell di dekat sini, masa istri mu di kasih boxer sih."
Ibell mengintip di balik selimut nya, mencari kebenaran perkataan Yola.
" Ahhh..Bang Nata, Masa__iih, nyebelin deh !" Ibell merajuk ke ulah Nata yang asal asalan.
" Hehehe, maaf Bell. Abang panik sih. Ok..Nanti Abang beli baju dulu."
Hahahaha..
Yola yang tidak kuat untuk tidak tertawa, Masuk ke dalam kamar mandi saja membuang mulas perut nya yang tertahan geli. Benar benar Ibell adalah penerang keluarga nya yang sepi jadi rame.
Ya Tuhan...malu maluin kamu, Ibell. Ibell memukul jidat nya berkali kali saat orang sudah pada beranjak.
__ADS_1