Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 167


__ADS_3

Penyesalan ? Tidak ada gunanya kata itu. Kita hanya bisa mengambil hikmah nya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di dalam sebuah hubungan agar terjalin erat, kuncinya 'salah satunya' adalah saling komunikasi yang baik. Baik menceritakan hal A-Z ke pasangan itu penting, baik itu menurut kita sepele apalagi masalah besar, butuh rundingan bersama agar mendapat jalan keluar yang menurut 'itu' solusinya. Bukan bertindak gegabah dan memfinal solusi sepihak sendiri, itu salah. Titel suami istri itu ada dua jiwa satu hati arti nya masalah apapun itu harus di komunikasi kan bersama sebelum bertindak.


Penyesalan itu rasanya hampir menggorogoti hati Nata, pencarian nya selama tujuh tahun lamanya tidak berjua. Semua itu karena kebodohannya sendiri yang main mengambil surat cerai tanpa berunding terlebih dahulu masalahnya ke Ibell.


Kenapa ia harus menandatangani surat cerai itu ? Dan kenapa Ibell tetiba melihat nya ? Ah... kalau sial sudah meneriaki kita, apa boleh buat, tanggung sendiri akibat nya.


Nata menangis darah selama tujuh tahun ini, Tega niang Istri nya Ibell pergi begitu lama nya, Jangan kan memberi kabar ke diri nya, ke Pandji-papa sendiri pun tak satu kabar pun dari Ibell.


Pihak keluarganya dan keluarga Ibell pun dalam kesedihan kehilangan sosok Ibell. Benar kata orang di luaran sana... Orang akan terlihat harganya bila mana orang itu telah pergi dari sisi kita.


Kemana Istri nya itu ? Di cari ke segala penjuru kota, pelosok desa bahkan ke negara tetangga tertentu yang ber-kemungkinan Ibell di sana tapi nihil, pencarian nya berujung sia sia. Waktu nya hampir tiap jam bayangan Ibell datang menghantui nya, Istimewa juga penasaran terhakiki nya rupa akan Perangai anak nya, Anak nya perempuan atau laki-laki ? Bahkan ia tidak tahu jenis kelami* darah dagingnya.


Please, Kembali lah sayang ! Jangan bunuh aku dengan cara ini ! Umur kebersamaan kita hanya empat bulan singkat nya, tapi kamu sudah tujuh tahun lamanya berkelana entah dimana kamu di luaran sana.


Di dalam ruangan gelap remang cahaya monitor, Nata duduk prustasi penuh kerinduan menggunung dengan pigura foto Ibell di pelukan nya. Semangat nya hampir punah, Tiap hari menunggu kabar dari ante antenya perihal Ibell adalah hobby nya, Dering telepon seakan-akan harapan laporan penemuan Ibell, Tapi lagi..Nihil.


Mata tertutup kaca mata penghalang cahaya tajam monitor kini memandang titik laporan ATM Ibell yang tak kunjung di gunakan, padahal tiap bulan Nata menafkahi Ibell lewat transfer, Tapi istri nya mengabaikan ATM nya, Harus nya Ibell menggunakan ATM untuk bertransaksi apa pun itu. Sekali saja... Maka mudah baginya melacak Ibell, tapi damn it... Ibell pintar juga. Ah... pikiran negatif mulai merambat hati Nata, Apakah istri nya masih bernafas ? Oh Tuhan...sehat kan selalu anak istri ku di luaran sana. Batin nya berdoa.


" Pa, Anak kita." Yola dan Kemal di bibir pintu menatap sedih anak nya yang pendiam tak bersemangat hidup, waktu nya selalu di depan monitor tak henti-hentinya. Yola takut anaknya stres karena kehilangan.


Kemal menarik nafas pendek pendek, merangkul bahu istri nya, menenangkan. Padahal ia juga sedih teramat sangat melihat anak semata wayangnya tak semangat hidup begitu.


...***...


Kalau hati 'terlancur' sudah kecewa apa mau di kata ? Ibarat kata ; Di persimpangan jalan kanan ada sekarung emas kemewahan tapi pernah mengecewakan , Di persimpangan kiri tidak ada apa apa yang menjanjikan tapi bebas menata hidup. Jalan mana yang kamu pilih ? Kembali kemewahan atau menata hidup ketenangan?


Bagi Ibell, Ia mengambil jalan persimpangan kiri, menata hidup damainya kian tujuh tahun ini di pedesaan asri sejuk milik Abah Ambu nya.


Namun, Hidup juga tidak mudah dalam kesendirian.. hamil tanpa suami, membesarkan anak tanpa suami butuh perjuangan terhakiki bagi Ibell menjadi hot Mommy, belum lagi cemoohan para penduduk desa yang julid nya nauzubillah. Ibell kadang menangis di atas sajadahnya.


Tapi... Selama hayat di kandung badan...apa pun bisa di lewati nya demi anak perempuan nya yang cantik jelita.

__ADS_1


" Bundaaaa."


Ibell atau Issa nama nya saat ini yang di kenal oleh penduduk desa wanita berhijab kaca mata bulat buruk rupa, gigi tonggos punya, menoleh ke belakang tepat ke gadis kecil yang di kejar kejar ayam induk betina karena ulah kejahilannya sendiri yang menggangu anak ayam tersebut.


" Tolong ! Tolongin Neng, Bundaaaa" Gadis bermata Amber berambut Bronze sweet caramel asli tanpa di warnai, keturunan darah separuh Belanda Nata, berlari mengelilingi kandang ayam guna lari dari galak nya induk ayam yang ingin mematuk nya.


Penduduk desa selalu julid mencibir Ibell bila mana melihat anak gadis itu. Lah...Anak nya cantik jelita seperti bule nyasar, kenapa Ibunya tonggos, jelek, pakai hidup lagi.


Begitu lah salah satu kepedesan mulut orang orang, tapi biarkan... Selama mereka tidak membuat kulit nya berdarah darah, Ibell masih cuek, Ia pendatang di desa ini, istimewa diri nya di perkenalkan oleh Abah sebagai ponakannya yang berada di luar wilayah. ia tidak mau membuat Abah dan Ambu nya malu karena ke wild nya untuk melawan mereka semua. Lagian ia mencintai kedamaian, Mereka menyinyir perangai penyamaran nya dari polisi di waktu tujuh tahun lalu, Maka ia hanya tersenyum manis. Lah...ia tersenyum manis, si lawan yang di beri senyuman pada bergidik jijik kabur. Kelar masalah nya.


" Hust hust hust." Ibell mengusir ayam itu agar berhenti menyakiti anaknya menggunakan kayu kecil panjang.


" Huu, akhirnya." Neng nama akrab nya, Tapi sebenarnya namanya adalah Anevay Adelle Abraham yang mempunyai makna dalam bagi Ibell, Berkacak pinggang seraya mendekati Bunda nya yang menggeleng geleng karena kejahilannya.


" Bunda kan bilang, jangan perna ganggu ayam yang punya pitik, Anak Bunda selalu jahil."


Vay hanya tercengir polos seraya mendongak menatap Bunda nya.


" Bun, Sini deh."


" Apa ?"


" Di panggil Abah-Ambu." Tangan mungil Vay, membelai pipi Bunda nya yang terkena tanah habis dari kebun. ia tersenyum manis ke Ibell. Bunda nya adalah yang terbaik, ia sering mendengar cemoohan orang tentang kejelekan Bunda nya, tapi ia bangga mempunyai Bunda macam Bunda nya ini yang bekerja keras menuruti segala keinginan nya, ia juga tahu kok wajah asli Bunda nya yang cantik teduh anggun di saat waktu itu Bunda nya lagi sholat hingga membuka penyamaran nya, ia bertanya di waktu itu... Bunda tuh cantik, tapi kenapa di sembunyikan ?


" Kecantikan bukan untuk di pertontonkan sayang, ada kalanya kecantikan itu adalah bumerang yang siap meledak menyerang kita kapan saja, Bukan tidak mensyukuri nikmat pemberian Tuhan ke Bunda, Melainkan Bunda lagi mencari kedamaian."


Begitu kata kata ambigu Bunda nya dulu menjelaskan nya. Dan kala itu ia manggut-manggut saja.


walaupun tinggal di desa, Bunda nya ini menyekolahkan nya saat ini di kota, PP menggunakan mobil bak sayuran Abah yang sudah tua.


Bangun di pertigaan malam tiap hari demi bersekolah di kota yang berbasis internasional, Padahal Vay sudah pernah menolak kalau sekolah di desa tak apa juga yang penting bisa baca tulis. Tapi kata Bunda nya.. Jangan, Vay harus jadi anak luar biasa, bukan anak biasa, katanya. Ya sudah... sebagai anak manis, ia ikut saja. Padahal jujur lho, Vay kadang capek di jalan, Gelap buta menempuh perjalanan dua jam bersama Bunda nya yang menyetir mobil sayuran penuh di belakang bak mobil, Siang menjelang adzan sore baru sampai ke desa lagi. Ini saja hari libur, jadi ia berada di pekarangan sejuk bermain dengan menjahili ayam.

__ADS_1


" Ayo kita masuk." Tuntun Ibell di tangan mungil buah hatinya.


" Bunda, Di sekolah ada murid kakak kelas Neng yang nyebelin, suka ngatain Neng kalau anak tukang antar sayur kok bisa sekolah di tempat basis internasional sih ? Sok tajir katanya,Bun." Cerita Vay, menahan tangan Bunda nya dan malah duduk di batu hitam besar di pekarangan itu. Ibell akhirnya ikut duduk di ayunan terbuat dari tambang. di bawah pohon rindang.


" Bilang dong ke teman Vay itu, Kalau tajir sih nggak, tapi uang nya Vay sama uang teman Vay itu sama nilainya, maka nya Vay bisa sekolah di tempat bagus itu. Yang negatif negatif ucapan mereka jangan di ambil hati ya sayang, yang penting Neng Vay sekolah yang benar, jadi orang membanggakan bagi Bunda dan semua orang."


Kepala kecil itu mengangguk dengan senyum manisnya.


" Terus ada lagi kakak kelas yang kadang gangguin Vay, Nama nya kak Petir, Tapi kak Petir juga kadang belain Vay kalau ada anak nakal yang gangguin, dia lindungi Vay, tapi anak nya Badung, Bun. Vay tidak suka." Vay naik ke pangkuan Ibell di ayunan itu, seraya bercerita gemas jika mengingat nama kakak kelas nya yang selalu membuat ulah kepada nya.


" Intinya nak, Setiap ada orang yang ingin menjatuhkan kita, maka sepintar pintar Vay sendiri membela diri, Selama kita tidak salah maka jangan takut apa pun masalah itu, kita hadapi dengan keberanian, Vay kan di ciptakan Tuhan mempunyai otak, maka gunakan otak jangan selalu gunakan otot. You Understand ?"


" Of course, Bunda !"


" Smart." Ibell mengacak acak sayang rambut sweet caramel anak nya. Di dalam hatinya berkecamuk, Ia sudah mengambil resiko besar dengan membuat Vay bersekolah di kota, ah... mudah mudahan keluarga Abraham tidak ada yang mengenali anak nya. Toh... selama tujuh tahun ini, ia aman aman saja...Pasti Nata sudah mempunyai anak lagi dari istri barunya. Shiit... Kenapa ia mengingat Ayah Vay, walaupun sudah di kubur nya dalam dalam nama itu, tetap saja tiap hari membuat nya terngiang gila.


Lupakan, Bell. Dia sudah bahagia..


" Bunda, Vay butuh laptop, Semua pelajaran berbasis laptop semua, guru Vay menegur Vay, begini Bun kata ibu guru... Anevay, Kasih ke Bunda alamat ini email ini ya...dan pasti kan menghubungi Ibu guru untuk membahas pelajaran tambahan." Vay bercerita ala ala meniru guru nya.


Ini nih yang Ibell hindari, Teknologi. Tujuh tahu lama nya ia tidak bermain teknologi lagi demi membunuh jejak nya.. Dan demi tidak melihat kehidupan Nata baik di perbisnisan atau pun hal apa pun yang menyangkut sosmed Nata. ia benar-benar Hiatus selama ini di perteknologian.


" Bunda. Kok diam sih."


"Ah..Mm__"


" Tidak punya uang ya Bun ?"


Ibell menggeleng, bukan uang utama permasalahan nya, selama menggantikan pekerjaan Abah mengantar sayuran ke kota, ia tidak kekurangan uang, Malah ia lah yang jadi tulang punggung sekarang di rumah Abah yang sudah tua tak bisa bekerja, Ibell ikhlas lahir batin, Tanpa orang tua itu , entah bagaimana nasib nya di tujuh tahun berlalu.


" Nanti kita beli, besok sepulang sekolah."

__ADS_1


" Horeee." Riang Vay turun dari pangkuan Ibell dan jingkrak-jingkrak senang layaknya anak tujuh tahun pada umumnya. Walaupun masih kelas satu dasar, di basis internasional semua butuh layar bening itu. Ia juara nya di kelas dalam hal teknologi, kadang guru nya juga heran katanya.


Anevay, Kamu kok tahu seluk-beluk E-LEARNING, Sejak umur berapa kamu bermain teknologi berbasis tinggi ? Vay hanya melongo dapat pertanyaan begitu dari salah satu guru nya yang pernah di bantu nya menghapus kendala virus komputer tiga hari lalu. Lah...ia saja tidak punya teknologi di desa, kapan belajarnya. Batin Vay juga bingung.


__ADS_2