Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 214


__ADS_3

Pagi pun datang, Tiga mobil mewah beriringan masuk ke dalam pelataran rumah besar Yola.


Dan pemilik mobil itu adalah Titan, Chris, dan Radja berikut Dibi dan para bocah bocah juga ada, Oma Oma lainnya pun ada kecuali Chris si duda setia tak punya pendamping lagi... Rose dan Vane adalah Oma itu. Ada yang kenal Rose dan Vane ? Kenalan dong di kisah mereka.....(Hihihi Promo lewat)


Tuan rumah belum ada yang menyambut mereka, tapi semuanya sudah menyerbu masuk ke dalam ruang tamu itu, apalagi tujuh kepala bocah bocah di hadapan mereka main lari lari saja memasuki inti rumah Abraham mencari keberadaan Vay, Petir juga Pelangi yang anak gadis semata wayang Biru-Mentari ini sudah di rindukan oleh kembarannya.


Dari arah belakang, ada anak remaja pun yang berjalan santai mengikuti lari tujuh bocah ini menuju kamar Vay... Dibi. Ia juga cemas gila ke Vay apalagi ke Pelangi. Ke Petir ? ada sih cuma sedikit. Petir kan laki laki, bisa jaga diri sendiri. Pikir Dibi.


" Kalian yang sopan ya !" Lerai Rose lembut ke Cucu cucu nya yang melihat kerusuhan lomba menaiki tangga menuju ke lantai dua, pinggang nya kini di rangkul Radja-suaminya seraya berjalan ke arah sofa di mana Chris serta pasangan Titan-Vane sudah duduk santai dengan mata sana sini mencari tuan rumah.


Bi Tina serta Ambu yang berada di dapur, tergopoh-gopoh menuju arah suara rusuh itu... Ke-dua wanita paruh baya itu mengira rumah Kemal di serbu segerombolan banteng... Kedubrak kedubrak rusuh berisik, eh... keluarga besar Kemal toh.


" Selamat datang semuanya." Sambut Bi Tina takzim, menawar kan minuman apa ke mereka yang ingin minum apa. Ambu siap membantu tapi Titan menyuruh nya untuk berbincang bersama.


" Yola dan Kemal belum bangun kah ?" Tanya Chris


" Belum ! Nak Yola dan Nak Kemal masih di dalam kamar sedari pulang di dini hari."


" Anak anak sih ?"


" Sama ! Mereka seperti nya kecapean !"


" Ck, Lagak nya nyuruh kami datang pagi pagi, tapi dia nya aja masih keenakan tidur." Radja mendumel.


" Soalnya Nak Yola semalam terluka ?"


" Terluka ?" Kaget mereka.


Ambu mengangguk, menjelaskan sedikit karena ia pun tidak tahu detailnya, Suara itu sedikit canggung, Ambu merasa insecure sendiri duduk di antara keluarga Kemal yang wangi wangi sementara tangannya bau bawang habis bantu Bi Tina tadi di dapur, Mana dua wanita di hadapannya itu anggun anggun benar lagi, ia jadi tidak enak hati. ah... Apa benar iya ? Rose dan Vane itu sudah menjadi Oma ? Kok kayak kayak nya masih indah saja tuh kulit ? Batin Ambu bertanya tanya.


Rose-istri Radja ini menyadari Ambu telah memperhatikan nya.


Abah pun baru bergabung, tersenyum dan menyapa sopan sebagai tanda ramah nya.


" Bang, Apa ada tai ayam di wajah ku, atau baju aku terbalik atau lipstik ku blepotan, atau di mata ku ada kotoran nya ? atau bulu hidung ada yang keluar ?" Rose berbisik ke Radja.


" Napa emang ? Nggak ada, masih sempurna di mata Abang !" Radja malah menggoda dengan bisikan nya pun, dapat cubitan kecil dari Rose.

__ADS_1


Awww !


" Kebelet kamu, Dja ? Noh kamar mandi." Chris berbicara ketus, ia dengar bisikan godaan Radja ke Rose... Dasar lupa umur ! Dumel nya dalam hati.


" Hahaha, iri bilang dangdut !" Radja tertawa kecil menanggapi keketusan si Chris.


Perbincangan ringan berlanjut, Tidak ada yang berniat mengganggu Yola dan Kemal, mereka akan menunggu kapan pun Tuan rumah itu akan bangun.


Di kamar Vay, Pelangi dan Vay satu kamar, Mereka belum bangun, pakaian pun belum ganti dari baju yang di pakainya dari kemarin, Titah Yola yang menyuruh mereka ganti baju tak terlaksana karena semalam adalah malam menegangkan bagi nya yang membuat tubuh itu sakit semua.


Petir sih sudah bangun, tadinya sangat bosan menunggu Vay dan Pelangi yang tak kunjung bangun, tapi mengetahui keberadaan semua sahabat nya jadi semangat lagi. Dan kini bocah bocah itu berada di dalam kamar Vay yang luas di tambah ada Dibi pun yang saat ini memperhatikan Pelangi dalam tidur nyenyak, Topan dan Badai pun sama... Bahkan ke-dua anak kembar itu sudah duduk di sisi Pelangi yang rasa rasanya tidur kebo tidak terganggu akan keberisikan semua orang dalam mengobrol, apalagi ada Ama yang cerewet suasana makin berisik saja.


" Pe." Topan mengurai rambut panjang Pelangi yang menutupi sebagian wajah kembarannya, adik perempuan nya terluka ! Pipi yang tadinya mulus kini ada memar kebiruan.


Pe tidak terganggu, hanya bergumam di balik tidur tengkurap nya.


Dibi yang tadinya berdiri seraya menyender tubuh tinggi itu di tembok, Maju ! Saat ia melihat kaki Pelangi yang terluka.


" Jangan sentuh adik ku." Hardik Topan dingin ke Dibi yang ingin menyilak selimut Pe, ia belum tahu ada luka parah di kaki adik kembarnya. Yang lain cuma jadi penonton. Si Twins aja ogah ogahan ikut campur, karena dari semalam Topan dan Badai bagai kesetanan yang di kurung oleh Titan-Opanya di dalam kamar agar tidak kabur mencari keberadaan Pe di pertengahan malam.


Bhumi bergidik ngeri di saat mengingat kejadian semalam... Topan-Kakak sulung nya itu sampai loncat dari balkon ingin kabur tapi berujung ketangkap juga sama Opa nya, dan Angkasa pun tak kalah ngeri nya ke Badai yang biasanya sifat kakak ke tiganya itu humoris beda dengan semalam, yang terlihat liar, Badai semalam menghancurkan kaca jendela ingin kabur, lihat lah tangan kakanya itu di lilit perban medis. Terluka iya di omelin sama Oma Opa nya pun iya.


" Aku bilang jangan ya jangan di sentuh." Topan kekeuh, menangkis tangan kak Dibi nya, tapi Dibi pun keras kepala. Ia cemas melihat kaki Pelangi terluka tapi belum di obati dengan betul. Di dorong nya jauh jauh Topan hingga menabrak Petir.


" Lihatlah, Pelangi terluka, Kakak hanya ingin melihat nya bukan ingin mencium Pelangi seperti masih di umur tiga tahun dulu." Semprot Dibi membuat Topan dan Badai yang ingin mengeroyok Dibi jadi terurungkan.


"Astaga..... Ama ! Tolong mintain obat ke Bi Tina?" Topan melotot kan mata nya ke kaki Pelangi. Ama tanpa kata main nurut patuh.


Pe yang kaki nya serasa ada yang menyentuh, jadi terganggu dan pelaku nya Dibi yang segera di tangkis oleh Topan.


"Nyebelin !": Sungut Dibi kesal, ia nyerah akan ke overprotektif Topan terhadap Pelangi.


" Guruh aja punya adik cewek tidak seperti kalian." Dumel nya lagi. Guruh yang di sebut namanya hanya mendelik ke Dibi.


Gue aja sayang kok ke adik gendut gue. Batin Guruh membernarkan sifat over si Kembar.


" Kalian kok di sini ?" Pelangi mengucek mata nya yang susah untuk di ajak melek. ia kira ini adalah kamar teritori nya yang di larang keras keempat suadaranya plus Dibi pun yang tak boleh ada yang menginjak kamar nya karena Pelangi itu kesal ke lima orang itu yang kadang terlalu overprotektif menjaganya.

__ADS_1


" Keluar dari kamar ku." Usir nya masih linglung.


Tidak ada yang bergeming. Dibi yang melihat wajah bantal Pelangi yang mata itu melek ogah ogahan dengan rambut berantakan jadi tersenyum lucu.


" Kamu ada di kamar kak Dibi." Goda nya. Lekas Pelangi membuka matanya bulat dengan melihat sekeliling kamar... Bukan kamar ku ? Batin nya sadar seratus persen. " Ini kamar Vay ! kalian kenapa ada di sini ? nggak pada sekolah ? Dan kak Dibi, ini kamar Vay, bleeek !"


Pelangi melirik ke sisi Vay yang melenguh terganggu ulah Petir yang iseng... membuka gorden jendela lebar lebar hingga anak Nata itu terasa silau. Tapi tetap saja Vay masih ngebo aja.


" Libur kan ?" Jawab Ama yang sudah datang membawa kotak obat. Topan meraih kotak tersebut dan ingin mengobati kaki adik nya.


" Jangan Topan, aku mau ke kamar mandi dulu." Pelangi menolak, ia kebelet. Tapi saat ingin berjalan selangkah, ia meringis sakit, kaki, punggung serta perut nya yang terkena serangan dari penjahat semalam jadi terasa sakit. Pasti di balik baju itu memar deh. Tebak nya dalam hati tak berniat mengeluh terang terangan karena kalau ia mengadu sakit maka kembaran nya akan memperlakukan seperti bayi, ia tidak suka di manja.


" Aku bantu, Naik lah ?" Badai menawarkan punggung nya untuk menggendong Kaka perempuan nya, padahal Pelangi bisa sih walaupun terpincang pincang tapi melihat wajah wajah Nyebelin kembarannya, ia ingin menggoda, sekalian bikin marah.


" Aku mau nya kak Dibi yang gendong." Pelangi tersenyum manis ke arah Topan yang melotot horor kepada nya. Sejurus ada tangan yang menjitak lembut Kepala nya dan pelakunya adalah Badai. Pelangi hanya mendengus kecil.


" Ayo, kak Dibi dengan senang hati." Dibi setuju cepat. sekonyong-konyong nya ingin melangkah ke sisi Pelangi, eh...Topi Hoodie nya ada yang menarik dari belakang. "Si Topan kurang ajar." Sarkas nya sinis.


" Aku bilang kak Dibi jangan berani beraninya menyentuh adik ku." Topan berjongkok, memasang punggung nya di hadapan Pe. " Ayo naik atau sekalian kaki itu ku patah kan." Ancam nya ke Pelangi, ia tidak bisa sama sekali di becandai bila menyangkut Pelangi-Wanita ke-dua istimewa nya setelah Mentari-Bundanya harus ia jaga melebihi hidup nya, Biru-ayah nya melatih nya untuk menjadi sosok laki laki pelindung keluarga.


" Ayo, Aku mau di patahin kaki nya, ingin tahu rasanya." Pelangi ngelunjak, menggoda Kakak beda lima menit nya yang sekarang sudah di gendong oleh Topan menuju ke kamar mandi. Topan mood nya kembali tenang, dalam hati ia bersyukur masih bisa bertemu dengan adik nya.


" Topan gila !" Dibi mengumpat terang terangan dan berlalu keluar dari kamar Vay karena kesal, ia tidak bisa mengatur bocah 12 tahun itu, dari kecil pun Topan sangat susah di dekati oleh nya. Padahal dulu ia sering memegangi botol susu Topan di saat si cool itu masih bayi yang di tinggal koma oleh Bunda nya. "Huu... Inikah balasan mu kepada Amma mu ini ?" Dibi mendramatisir sendiri di langkah nya itu.


Hahahaha


Tawa terdengar menyertai langkah Dibi yang terlihat kesal ke Topan.


" Hoaaamn,. Apa sih berisik amat di kamar Vay."


Vay menguap lebar lebar di hadapan Petir. yang anak Senja itu lagi berjongkok ingin mengerjai Vay yang tak kunjung bangun. Tapi niat ngerjain ia sudah duluan dapat imbas nya. Bau naga mulut Vay yang menguap menerpa wajah nya.


" Mulut mu bau amat si Neng Bule !" Petir memencet hidung nya.


" Hahaha, kan Vay baru bangun dan dari kemarin hanya makan roti hasil nyomot di om Stupid semalam, belum sikatan lagi karena semalam langsung tidur, sini di tambahin...." Haaaaaa !


Semuanya meninggalkan kamar Vay, si pemilik kamar mengusir dengan aroma mulut nya.

__ADS_1


Hahaha, Emang enak... Lanjut tidur ah... Vay kembali berbaring malas malasan, ia masih ngantuk.


__ADS_2