Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 216


__ADS_3

Jauh dari daratan bin di tengah laut di atas kapal... Ibell terbangun dari tidurnya di siang hari, tubuh nya terasa lemas, badan nya demam, ada Nata yang tertidur di sisi nya dengan tangan suami nya itu berada di atas jidat nya guna menahan kain kompres agar tidak terjatuh.


" Vay !" Lirihnya mengingat anak nya sedang dalam pencarian. Ibell menarik tubuhnya kasar hingga mengganggu Nata yang baru terlelap dalam duduk nya di sisi kasur itu.


" Ibell hey, mau kemana ?" Nata langsung sadar sepenuhnya dari tidur pendek nya. Istri nya itu main menuju pintu ingin keluar kamar tanpa adanya hijab di kepalanya. Pasti karena Vay.


" Mau nyari Vay, Abang !"


Tangan Ibell di tarik paksa oleh Nata, hingga tubuh itu masuk ke dada pelukable Nata, di usap nya rambut itu untuk menenangkan Ibell yang sedang gelisah.


" Ayo Abang, bagaimana pun caranya kita harus pergi dari kapal ini." Ibell meronta di pelukan itu.


" Hey dengarin Abang !" Nata semakin erat memeluk. Ibell terus mencoba lepas, anaknya membutuhkan nya, anak semata wayangnya yang tidak akan ada ganti nya lagi dari rahim nya sedang dalam kesusahan.


" Vay sudah pulang, Vay sudah pulang..!" Nata sampai mengulang dua kali perkataan nya baru Ibell mendengar nya yang sibuk meronta.


Lantas, Ibell mendongak ke wajah Nata, mencari kebenaran di sana.


" Abang tidak beralibi kan ?"


Nata mengangguk meyakinkan Ibell.


" Kita akan menelpon orang rumah, biar kamu percaya tapi nanti setelah kamu makan dan minum obat biar demam kamu turun." Honeymoon Nata serasa hancur, pertama karena adanya para sahabatnya, ke-dua adanya masalah hilang nya Vay, Kapan bahagianya coba ? Beno juga semakin kasihan Puasa entah berapa purnama datang berganti waktu.


" Sekarang aja ya Bang."


Nata menarik cepat handphone Ibell, ia ingin Ibell makan dulu. " Kasihanilah Abang mu ini." Nata Berambigu, ia sebenarnya ingin berkata... kasihanilah Beno ku ini.


" Abang yang harus kasihan sama Ibell, siniin hapenya atau Ibell marah, Ibell mau dengar suara Vay, Abang !" Rengek Ibell. Nata kekeuh, menyembunyikan hape Ibell ke saku nya. Bahkan satu sendok bubur sudah siap di hadapan mulut Ibell.


" Aaaa, buka mulut mu ! Atau Teori mulut lah yang akan menyuapi mu seperti cara Biru dulu ke Mentari." Nata mengingat cerita curhatan Biru. Ibell yang tidak paham, mulut itu rapat rapat keras kepala ingin menelpon anaknya terlebih dahulu.


" Ok !" Sungut Nata, satu sendok besar bubur masuk kedalam mulutnya sejenak tanpa di kunyah, lalu kembali di lepehkan masuk ke dalam sendok. " Ini namanya teori mulut." Sendok itu sudah di hadapan bibir Ibell yang menampilkan wajah jijik nya.


" Ihh, jorok ! Makan sendiri saja satu sendok itu, Ibell mah ogah walaupun cinta juga tapi di suruh makan bekas lepehan juga ogah benar."


Ibell menepis pelan tengan Nata yang bibir Suaminya itu menahan tawa.


" Huuu, Dasar. Coba sini sendok baru nya." Ibell mengikuti gaya Nata, bekas lepehan di sendok itu ia berikan ke Nata. Nolak kan si paksu ini !


" Makan Ibell." Ibell akhirnya menurut juga, tapi dengan cara buru buru agar cepat habis makanan nya biar cepat pula Menelpon orang rumah.


" Pelan pelan, nanti kesel__"


Uhuk uhuk.. Tuh kan, belum habis ucapan Nata, sudah keselak aja.


" Minum !" Sigap Nata. dalam hati... Ibell memberikan jempol untuk perhatian Nata kepada nya. Tapi dalam hati aja, nanti Suaminya bisa besar kepala ke-Gr-an.


Makanan sudah habis, minum obat pun sudah selesai, Ibell menagih janji Nata.


" Ayo cepat."


Nata pura pura bodoh, ia sengaja menaruh pipi nya di hadapan wajah Nata, ingin di cium dulu sebagai vitamin. ia kan semalaman sudah capek menjaga Ibell yang demam tinggi plus istri nya juga sering ngigo menyebut nama Vay di bawah alam sadarnya.

__ADS_1


Cup cup cup cup cup cup...


" Apa nya lagi, Lubang hidung nya mau ?" Seluruh wajah itu Ibell sudah kecup cepat, Kedua mata, dahi, kedua pipi, pangkal hidung, dagu dan terakhir bibir, kecuali lubang hidung Nata, ogah ! mungkin rasa nya asin asin jijik.


Nata mengangguk menggoda, istri nya niat amat segara di kabulkan keinginan nya sampai rela menawarkan lubang hidung juga mau di cium ?


" Abang !" Nah lho...Suara Ibell sudah terdengar tidak sabar.


Nata cepat cepat mengeluarkan telpon nya. Jangan sampai di ambekin.


Tut !


" Tidak ada yang ngangkat Bell."


" Coba lagi !"


Nata menurut.


Sejurus kamar terdengar di ketuk dari luar, cepat cepat Ibell memakai jilbab nya, melihat Ibell sudah rapi, Nata membuka pintu. Empat pasangan suami istri menerobos masuk sebelum di persilahkan.


" Ibell, sudah sembuh ?" Bintang duduk di dekat Ibell dengan laptop di tangannya.


" Mendingan Bin__ Vay ! Halo sayang !"


Pantas saja di telpon biasa kagak ada yang ngangkat, lah.. Mereka video calling. Nata menaruh handphone nya, Di layar laptop sudah terpanggang jelas anak serta klan klan nya di layar itu.


" Bunda Ayah, hai semuanya !" Di layar itu Vay di pangku oleh Kemal menyapa Ibell Nata dan seluruh sahabat Orang tuanya.


Mentari, Senja serta Jum jadi bingung dalam hati yang sebelumnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kecuali Bintang.... Bintang sudah tahu, tapi bukan tahu dari Dirgan melainkan Dibi tadi pagi.


Semoga Vay tidak menyinggung tentang penculikan. Biru dan Langit kompak was was dalam hati, pasal nya ia belum menceritakan masalah anak mereka sempat jadi korban penculikan. Niat nya pulang dari berlayar baru menceritakan nya. Semoga aja !


" Sayang, kamu dari mana aja, eum ?" Ibell mengelus layar itu, tepat di pipi anak nya.


" Vay ada di rumah kok, Bunda !" Bukan berbohong, Vay kan benar ada di rumah saat ini.Polos nya tak ingin mempermasalahkan hal semalam.


Lantas Biru dan Langit saling pandang dengan kode selamat. Karena Vay kayak nya tidak berniat membuat Ibell cemas.


" Tunggu dulu deh, Coba di Zoom bagian wajah Petir, Pelangi dan juga Tante Yola." Samar samar Mentari menyadari wajah babak belur orang yang di sebut nya. Ketiga nama yang di sebut, cepat cepat keluar dari layar dengan beralasan mau makan.


Selamat ! Biru dan Langit elus dada diam diam.


" Vay Kemarin hilang kemana, Sendiri atau sama Petir Pelangi ?"


Hilang ? Senja dan Mentari jadi bingung. Adik kakak itu kompak menatap suami masing masing yang ogah ogahan membalas mata para istri nya, melengos.


" Vay__"


" Vay sayang dan semaunya, uda dulu ya... Bunda Ibell lagi sakit, mau istrihat__"


" Apa sih, Biru !" Ibell menahan tangan Biru yang ingin mematikan layar. Nata tersenyum melihat Biru di plototin oleh Ibell juga Mentari sekaligus.


" Aku cuma perhatian kesehatan kamu, Ibell." Elak Biru garuk tengkuk.

__ADS_1


" Coba Vay ceritakan kejadian kemarin dengan jelas, jangan berbohong ke Bunda." Ibell kembali fokus ke Vay.


Dan bibir mungil itu pun berceloteh jujur lempeng polos membuat Ibell, Mentari juga Senja termasuk Jum mangap mangap kaget.


" Sudah ya Bun, ayah ! Vay mau makan siang dulu, have fun aja di sana, Di sini Vay banyak teman kok, aman sentosa, bye Bun !"


" Aku kok baru tahu sekarang sih ? Apa hanya aku yang ketinggalan berita ?" Senja mendelik tajam ke suami nya.


" Tari pun baru tahu.... Hulk ?" Mentari meminta penjelasan ke Biru, Ayah si kembar itu pura pura mules. Mampus gue, Gagal sudah rencana !


Hulk...! Panggil Mentari, Kesal. Biru selamat saat ini.


" Mendung ? Atau semuanya, kalian menyembunyikan masalah penculikan anak anak dari kami ya ?" Senja yang biasa pembawaan nya tenang dan berkelas, kini lepas kendali dalam bertutur.


" Bukan begitu Senja, Kami hanya ingin membuat kalian tidak kepikiran dan menjadi sakit, contoh nya Ibell tuh sakit." Langit membela diri.


" Kapal akan singgah di pelabuhan di sore ini , Aku ingin pulang mengunakan pesawat di daerah sekitar nya !"


Nah kan... Hancur sudah rencana mereka. Ibell, Mentari juga Jum serta bintang menyetujui ucapan Senja yang terlihat kesal ke orang orang yang tidak memberi tahukan masalah besar tentang penculikan anak nya. walau pun keadaan sudah kondusif tapi tetap saja, Ibu tidak akan tenang sebelum memeluk erat tubuh anak mereka.


" Itik, jangan gitu dong !" Langit mengejar langkah Senja keluar dari kamar Ibell. Semua nya pun bubar meninggalkan Nata dan Ibell yang saling pandang.


" Honeymoon nya gagal total ! Nasib mu mas Beno, Kasihan !"


" Bibir komat kamitin apa Bang ?!" Ibell menyelidik, ia melihat bibir Nata bergumam.


" Ah... Tidak, cuma berkata, ayo istrihat lagi, biar Mama nya Eni sembuh agar Papa nya Beno ikut bahagia." Ambigunya, Nata naik ke kasur, menarik Ibell untuk berbaring dan di peluk nya tubuh Ibell yang masih demam itu. Ia ngantuk berat efek begadang menjaga Ibell.


" Bang !"


" Eum, Abang ngantuk Ibell, Kalau Eni kangen Beno, Nanti saja gitu, Mama Eni nya harus sembuh." Nata menjawab dengan mata terpejam siap melanglang buana ke alam mimpi agar mimpi kelak nya jadi kenyataan. Bahagia sampai tua nanti bersama Ibell.


Ibell tersenyum samar mendengar sahutan ambigu mesum suaminya, ia hanya ingin berterima kasih sudah mengompres nya semalam penuh. Ibell membalas pelukan hangat Nata, Sejurus ikut terlelap di siang bolong itu agar kembali sembuh untuk perjalanan pulang nanti.


Di ruangan kantor sederhana yang baru setahun ini memulai bisnis nya kembali untuk bangkit dari kebangkrutan di waktu tujuh tahun lalu yang di sebabkan oleh seorang Dinata Kedward Abraham... Alvin Albian mengomeli habis habisan anak buah nya yang belum berhasil juga menyulik anak Nata.


" Kenapa lambat sekali dalam bekerja hah ?"


" Kalau kayak gini, Nanti saya akan gagal, Dinata mungkin saja pulang dari liburan nya dan Kalian akan semakin susah menyulik bocah itu.


dua anak buah ini hanya berdiri takzim tak berani menjawab ocehan kesal Alvin.


" Kenapa diam saja !!!!"


" Tadi ketika kami mengintai rumah pak Kemal, ada banyak orang bos, Kami tidak bisa bertindak banyak, bahkan saat kami ingin memanjat pagar, kami kesetrum, rumah nya banyak jebakan nya. Pakai sensor aktif semua. untung saya selamat bos."


" Mati aja sekalian, kalian pergi lah. tidak becus."


Ke-dua nya berlalu pergi, dari pada di amuk.


" Gue akan bertindak sendiri, Lo harus tahu rasa nya kebangkrutan itu apa Nata, Gue akan memanfaatkan anak jelita Lo."


Alvin melempar pisau ke Foto Nata, tapi bidikan itu jatuh ke di antara wajah Vay dan Ibell.

__ADS_1


__ADS_2