
Ibell mencium punggung tangan Nata setelah berjamaah subuh, Anevay masih bobok nyenyak di kasur pribadi mereka.
Di cium tangan pembuka surga nya dengan lafadz nya dalam hati. Rasa sejuk di hatinya terasa damai. Setiap wanita mendambakan memiliki suami sempurna, bagi Ibell cukup satu, Yakni suami taat Agama...Maka kebaikan di belakang mereka akan menyapa indah akan kehendak-Nya.
" Terima kasih sudah mau menjadi imam Ibell lagi !"
" Abang lah yang seharusnya mengatakan kasih syukur itu, Kebalik sayang." Nata mencium dahi istri nya penuh sayang yang masih menggunakan bukena.
Sesungguhnya, Sentuhan dahi lah yang mengena mampu mendesir kan hati, dari pada ciuman di bibir. Ciuman di dahi pertanda ciuman tulus kasih dari pasangan. Di bibir ? lebih mendominasi ciuman penuh nafs* gairah.
Hati Ibell meleleh, Perlakuan Nata sangat manis.
" Ibell mau ke dapur, nyiapin sarapan, Abang mau sarapan apa ?"
" Kamu !" Tengil Nata kambu, menggoda. Ibell yang sibuk membereskan alat sholat, sejenak melirik Nata yang alis itu naik turun menggoda nya.
" Mau di lihat atau di dengar Vay ? Kalau mau yak hayuk saja." Ibell menantang.
Hm, sabar lagi !
" Ada Bi Tina yang nyiapin sarapan, Bagaimana kalau kita pacaran saja sambil joging, Biar fresh saat honeymoon."
Nata menurunkan nada bicaranya, anak jelitanya jangan sampai bangun. Dua kali Vay menggagalkan upaya menyerang Eni semalam. Masa mau pacaran ala anak Abege pun di ganggu.
Tidak ada salahnya, hal kecil tapi menghangatkan hubungan.
" Ok, let's go !" Sambut Ibell setuju. Mereka pun bersiap siap menggunakan style joging. Sepatu terpasang sempurna, siap meluncur di fajar yang masih malu-malu menampakan wujudnya.
" Bi Tina ! Kalau Vay atau siapa pun yang nyari kami, bilang saja lagi joging ya." Ibell meninggalkan pesan ke Bi Tina yang sibuk di dapur.
" Iya, Nyonya muda."
" Ibell saja, Bi. Nyonya di hilangkan, Ibell kurang enak dengar nya."
" Ah__Ibe, Non aja ya ? rasa rasanya, Bibi pun tidak enak kalau hanya__"
" Terserah bibi saja !" Ibell tersenyum ramah.
Sementara Nata menunggu Ibell di ruang tengah duduk di sofa. Beranjak cepat saat melihat Ibell keluar dari arah dapur, ia tidak sadar kalau dompet nya keluar dari saku celana Jogger nya.
__ADS_1
" Siap ?"
" Siap dong, berapa meter pun Ibell siap."
" Masa ? Nanti minta gendong lagi." Ledek Nata, Tangan mereka bertaut erat seraya berjalan ke luar gerbang.
" Ck, Julukan Vay ke Ibell itu, Wonder woman. Masa joging saja cemen sih."
Nata tersenyum seraya mencubit pipi Ibell, gemas. ia senang istri nya sudah berbinar, beda dari hari kemarin.
" Bang, kita joging nya ke arah rumah Papa Ibell yuk ? Ibell ingin mengetahui keadaan Papa, Mama Mita, kak Andra, serta kak Dian. apa kabar kak Dian ya ? sudah sembuh belum dari depresi nya ?" Suara Ibell menyendu mengingat keluar nya. Nata yang mendengar keinginan tahuan istri nya tentang Dian, jadi memalingkan wajah nya. Kaka tiri Ibell itu sudah meninggal dunia, depresi berat seraya hamil bukanlah hal mudah. Dian sudah meninggal berikut janin nya pun di dalam rumah sakit jiwa karena pendarahan hebat. Nata tidak ingin mengungkapkan nya sekarang, Ia belum puas melihat wajah cantik istri nya tersenyum tanpa beban saat ini. Biarkan Mertuanya sendiri yang menjelaskan semuanya.
" Ayo, kita joging nya ke sana."
Mereka pun berlari kecil, mengambil jalan tikus untuk mempercepat jarak tempuh mereka.
Nata sesekali menggoda Ibell dengan cara meninggalkan jarak jauh Ibell di belakang sana.
" Ayo Ibell, Baru tiga puluh menit sudah payah."
Ibell duduk di tanah asal asalan, Nata yang tadinya sedikit jarak jauh di depan. Kembali menghampiri Ibell yang sibuk duduk seraya tangan itu menyekah keringat menggunakan handuk kecil.
" Capek Bang, haus lagi. Beli minum dong." Pinta nya.
Lah mana dompet nya ?
Ibell mendongak menatap Nata yang malah duduk lagi di dekat nya.
" Dompet Abang hilang Bell, jatuh di rumah atau di jalan, entah ?"
"Yeakh." Keluh Ibell, tenggorokan nya sangat kering. " Terus bagaimana dong ? Ibell juga nggak bawa dompet, nasib dompet Abang gimana kalau benar jatuh di jalan ?"
" Ya ngamal." Pasrah Nata tak ada niatan untuk balik lagi hanya sekedar mencari dompet, banyak orang yang lalu lalang, tidak mungkin di anggurin kan melihat dompet di jalan. " Kartu nanti Abang blokir semua kalau benar hilang di jalan. Sudah jangan pikirkan itu. Lebih baik kita jalan lagi, bentar lagi ini sampai ke rumah Papa Pandji."
Nata memasang punggung nya, Kasihan melihat Ibell yang sudah terlihat payah, berniat menggendong bayi besarnya.
" Apa ini maksudnya ?"
"Gendong lah, buru naik !"
__ADS_1
"Banyak mata tahu Bang !" Ibell malu, Nanti jadi pusat perhatian orang.
" Cuekin, kita sudah halal."
Oke ! Bila seorang Nata berfirman, istri kudu nurut saja. Ibell pun naik ke punggung lebar Nata, lumayan lah... Dapat tumpangan empuk.
" Berat nggak Bang ?" Goda Ibell tersenyum jahil. Aroma mint dari tubuh Nata menguasai hidung Ibell yang bertengger di pundak dekat leher Nata. Dalam hati, Ibell merasa beruntung.
" Kalau berat, ngomong ya, kaki Ibell masih kuat lho." Imbuh nya lagi menggoda.
" Diam lah Ibell, nafas mu yang menerpa leher ku, membuat Beno ku tersetrum." Balas Nata mesum, Bibir Nata tertarik naik, tersenyum. Ia tahu, kalau menyangkut hal mesum pasti Ibell akan kicep, diam kan. Batin nya merasa menang.
" Masa ? Kalau begini sih ?"
Aih...Nata salah prediksi, Ibell nggak kicep, diam diam malah meniup mesra telinga nya, Beno yang tadinya tidur benar benar tersetrum akan ulah Ibell.
" Jangan sampai, kita berbelok ke arah hotel sana ya, Bell !" Ancam Nata. Ibell tersenyum miring.
" Apa bawa uang ? pan dompet raup." Ledek nya.
iya juga ! Ah... Ibell menyebalkan. Dengus Nata dalam hati.
" Di toilet umum juga bisa." Nata tersenyum jumawa. Sejurus bibir nya dapat cubitan dari tangan seenak jidat Ibell.
"Ish..Nanti kalau kamu jatuh, bagaimana ? Jangan bibir yang di cubit, tapi hati ku saja." Hihihi. Nata terkikik padahal punggung nya mulai berdenyut denyut.
"Nggak gimana gimana, jatuh ke bawah jelas, bokon* korban nya." Santai Ibell gemas, seru juga membuat kesal suami nya yang sok kuat ini, Ibell tahu Nata sudah kepayahan membawa beban tubuh nya. Tapi biarkan Nata menyerah dengan sendirinya. " Hati jangan di cubit bang, di sambel-in enak kayak nya."
Hahaha.. Ibell sengaja mematahkan gombalan Nata.
" Cih, Lo pikir hati Abang ati ayam ? Romantis dong balas nya, biar punggung Abang tidak panas, hati senang beban hilang."
Ibell diam tak merespon, Mata dan hidung nya di buat mupeng oleh pedagang nasi uduk yang di lewati nya. Pagi pagi sarapan begituan enak kayak nya.
" Bang, Nasi uduk enak kali yak, nyarap yuk." Ibell lupa kalau mereka lagi boke, boke karena tidak membawa dompet.
" Lupa ? Kita lagi boke !" Sahut Nata kasihan juga akan keinginan kecil Ibell tapi tidak di penuhi.
" Ah...lupa." Konyol Ibell. Harus nya ia menepuk jidatnya sendiri akan kepikunan nya, Tapi tangan itu menepuk jidat Nata. membuat Nata memutar bola matanya, malas.
__ADS_1
Bugh..
Siapa yang jatuh ?