Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 228


__ADS_3

Pelangi !!!


Yap...Yang tertembak adalah punggung tangan Pelangi yang tadinya tangan itu merangkul pundak Topan seraya kepalanya bersandar di bahu Topan.


Jelas Topan dan Badai marah besar mengubun, Jangan kan luka tembak, Pelangi di sentuh sedikit aja kulit nya oleh tangan jahil, tidak terima ! Apalagi darah itu sudah keluar.


" Sialan !"


Topan mengerang keras, Ingin segera berdiri dan naik ke atas untuk membalas orang yang sudah menembak adik nya, tapi tertahan tangan Pelangi yang tidak tega melihat kulit yang selalu di jaga nya mengeluarkan darah. Semuanya panik, tapi yang di tembak hanya santai meringis ringis sedikit.


" Ini hanya___"


" Hanya apa hah ?" Badai membentak Pelangi yang menyepelekan luka tembak itu, ia cemas.


" Topan !"


Topan mengangguk paham akan lirikan mata Badai. Di berikannya pisau lipat runcing nya ke Badai. Dan Topan dengan sigap menarik kepala Pelangi masuk ke dalam dada nya, Agar Pelangi tidak melihat tangan nya di congkel oleh Badai untuk mengambil peluru itu.


Twins dan para Kurcil lain nya meringis ngeri melihat tangan Pelangi di bedah tanpa ada suntikan bius pemati rasa. Badai seperti pyshico yang tidak takut bermain pisau di tangan kembarannya, Badai yang bercita cita menjadi dokter bedah ini sangat ahli menyayat kulit itu tanpa ada rasa ragu di wajah nya, tapi sejujurnya di dalam hatinya, Badai ingin menusuk tangannya sendiri karena tangan yang di bedah nya ini biasanya ia jaga tapi kali ini ia yang harus membela kulit Pe, agar peluru itu tidak bersarang lebih lama, takut takut sel darah kembarannya yang ternoda benda asing menimbulkan efek jika darah tercemar itu berhasil mengalir naik ke saraf otak.


Tanpa mereka sadari, Dibi di tangga itu sudah tidak ada untuk menjaga tangganya, Dibi naik pitam melihat gadis yang di momong nya dari bayi itu di lukai, Dibi sudah di lantai atas.


" Hati hati kak Badai !" Angkasa tidak kuat melihat kakak nya di bedah live, kepala itu memaling kan ke arah lain.


" Aaargh" Pelangi mengeram sakit saat peluru di congkel paksa oleh Badai. Sakit ? Tentu saja sakit, jatuh sobek sedikit saja perih nya minta ampun apalagi luka tembak plus di korek korek, Saking sakit nya di congkel oleh Badai, Reflek gigi itu menggigit dada Topan yang memeluk nya. Topan pasrah dapat gigitan, bahkan Topan tak bergeming sedikitpun akan gigitan kuat Pelangi. Topan tanpa sengaja meneteskan air matanya, Bukan sakit di gigit Pelangi tapi pemicu meneteskan air matanya adalah Jeritan sakit Pelangi yang seketika merasakan debar sakit sendiri di jantung nya. Mungkin karena mereka kembar hingga seperti luka itu pun menjadi luka di benak nya terasa nyata.


Huu.. Badai mengeluarkan nafas kasar nya saat peluru sudah berhasil ia keluar kan. Vay yang di dekat Petir duduk nya sedari tadi tidak sadar tangan itu mencengkeram erat tangan Petir karena merasa ngeri melihat Kelakuan Badai. Ama sudah bersembunyi di belakang Guruh tidak kuat pun melihat bedah dadakan tanpa satu obat pun.


" Pakai sapu tangan ku, bersih !" Lautan dan Bhumi kompak bersama menangadakan sapu tangan nya.


" Aku punya !" Badai menarik sapu tangan nya, di ikatnya pelan tangan itu agar menghambat darah Pe untuk keluar.


" Ok, santai saja ! ini sakit nya masih bisa di tahan." Pelangi mencoba membuat orang orang di hadapannya untuk tidak mengkhawatirkan nya, padahal jujur...ia ingin menangis karena begitu banyak darah masih keluar dari punggung tangan nya yang walaupun sudah di ikat oleh Badai.


" Guruh, Hasil penelitian kita akan aku pakai, kamu bawa sample nya kan ?" Topan mengambil kembali pisau kesayangan nya yang di pakai oleh Badai untuk membedah tangan Pe. Di lap nya ujung pisau itu yang ada darah Pelangi ke baju nya, ia berjanji kalau pisau nya ini akan tertancap ke tangan orang yang telah membuat darah kembaran nya keluar banyak.

__ADS_1


" Kamu yakin ? Ini belum sempurna loh, kita belum tahu hasilnya, dan kita juga belum ada penawar nya ." Walaupun ragu, Guruh tetap saja mengeluarkan sesuatu di dalam tas kecil nya yang selalu ia bawa. Sebuah botol kecil yang berisi cairan khusus hasil projects mereka sendiri.


" Justru bagus kalau tidak ada obat penawarnya."


Setelah mengolesi cairan seperti racun ke ujung pisau nya, Topan pun berjalan naik ke tangga. Kaki itu berhenti sejenak nya di saat Para Kurcil lainnya ingin ikut naik.


" Jangan langgar aturan Ayah kali ini, Aku mohon. Petir dan kamu Guruh, di sini saja jagah mereka."


Semua sahabat nya pun mengangguk paham akan permintaan Topan yang benar adanya di atas sana banyak bahaya.


Di lantai dua, Topan masih di suguhi suara tembakan demi tembakan Alvin dan para orang tua lainnya. Topan bersembunyi agar tidak mendapatkan tembakan nyasar. ia ingin menunggu keadaan kondusif terlebih dahulu


Dor..


Alvin hampir tertembak oleh Dirgan dan Nata secara bersamaan. Tapi cepat cepat kepala itu bersembunyi. Gema dan Biru bersama Ibell mau tak mau hanya bersembunyi, peluru mereka habis karena tadi sudah di pakai nya untuk menembak anak buah Alvin membabi buta di pelataran gudang tadi.


Dor


Damn ! Alvin mengumpat, Peluru nya habis ! Hanya angin kosong yang keluar dari senjata nya, Bagaimana ini ? mungkin kabur jalan satu satunya saat ini, Tapi lewat mana ?


" Oke, One by One, Not deception !" Alvin keluar dari persembunyiannya dengan syarat tidak ada kecurangan di antara mereka, yang tandanya larangan keras tidak ada yang boleh ikut campur di antara mereka.


Semuanya pun keluar dari persembunyiannya, Dibi ingin menembak kepala itu tapi tertahan oleh Nata.


" Dia sudah menembak tangan Pelangi Om"


Dor


Dibi tak perduli dengan larangan Nata, sebagai kekesalannya, Dibi pun menembak punggung tangan Alvin. Longlongan kesakitan Alvin menggema. Biru yang mendengar anak gadis satu satunya terluka jadi naik pitam, Biru langsung memberikan jab demi jab di tubuh Alvin yang sebenarnya sudah terluka awal peledakan bom di monitor tadi ulah si Ama.


" Kalian curang !" Alvin munta darah di atas lantai yang sudah tersungkur. Mata marah itu tertuju ke Nata yang menyeringai remeh kepada nya.


" Ayo bangkit lah ! Kali ini tidak ada lagi kecurangan."


" Hati hati, Bang ! Dia itu licik, Harus nya memang begini."

__ADS_1


Dor !


Sisi wild Ibell pun keluar, Ibell menarik senjata Langit dan langsung menarik pelatuk nya ke arah kaki Alvin. Kembali Alvin melonglong sakit.


" Itu balasan ku, aku sih niat nya ingin membunuh mu langsung karena sudah menyakiti anak ku, Alvin." Ibell kembali ingin menembak arah jantung itu tapi senjata nya seketika berpindah tangan ke Langit lagi yang merebut nya. Ibell melotot tajam ke Langit tapi yang di plototin hanya tercengir bodoh.


Alvin tidak bisa berdiri tegak kali ini.


" Bunuh saja aku, Hahahaha !" Alvin yang sudah tidak punya peluang kabur malah menantang semua orang, mati lebih baik saat ini.


" Oh, Tentu saja, tapi secara perlahan agar kamu tahu arti rasa sakit, kamu di biarkan hidup itu tidak pernah dan tidak mau niat bertobat." Nata ingin maju untuk memukul Alvin tapi lagi lagi suara tembakan kembali terdengar dari arah paling belakang.


" Astaga Topan, Om gilirannya kapan ?"


Lama lama Nata juga kesal dari pihak orang nya sendiri, ia pan ingin juga menyiksa Alvin yang sudah menyakiti anak istri nya, tapi ini....anak sulung Biru datang datang main tembak paha Alvin dengan peluru sudah di lumuri dengan cairan hasil projects ilegal nya. dari para orang tua tidak ada yang tahu menahu aktivitas para si Kurcil, orang tua tahu nya si Kurcil itu hanya anak anak biasa yang izin keluar sekedar belajar bela diri di club milik Gema.


" Om hajar aja, Om punya waktu lima menit saja." Ambigu Topan menyeringai tajam, lima menit akan datang hal mengerikan untuk Alvin alami.


" Aku maunya tiga puluh menit ingin menghajar nya, lima menit tidak ada apa apa nya, tangan om masih gatal."


Lagi lagi Nata tertahan untuk menyiksa Alvin, Topan kembali melempar pisau kesayangan nya itu ke arah punggung tangan Alvin, Topan sudah berjanji bukan Kalau pisaunya itu harus di rasakan punggung tangan Alvin seperti yang di rasakan Pelangi.


" Anak mu, Bi ! Sumpah nyebelin pakai banget !" Nata yang tertahan melulu, jadi nya mengoceh ke Biru yang sedari tadi melongo melihat secara langsung kesadisan anak pertama nya.


Biru speechless, anak nya begitu kejam kalau di usik. Tangan itu reflek garuk-garuk kepala bodoh.


" Sisa nya tinggal dua menit Om !" Topan semakin menyeringai tajam, kepala orang dewasa ini tidak ada yang paham akan maksud waktu yang Topan ucapkan.


Tap Tap Tap...


Baru tiga langkah terpincang Nata ingin mendekati Alvin di lantai tak berdaya itu, kini kembali mundur empat langkah ke sisi Ibell


Apa yang terjadi ?


Gantung lagi ah...! pisss ! hihihi.

__ADS_1


__ADS_2