
Beberapa menit lalu, Nata membawa tubuh pingsan Ibell ke rumah Abah, Ia tidak di perbolehkan masuk ke dalam kamar oleh Ambu, padahal ia ingin sekali mengurus istri nya. Tapi kata orang tua berhijab ini, Biarkan saja Issa pingsan agar tidak bekerja mengurus sayuran terus. Issa tuh anak nya batu.. sudah di bilangin jangan memporsil tenaga tapi selalu keras kepala. Kata Ambu lagi... Ibell selalu bersemangat bekerja demi masa depan Vay agar kelak hidup nya layak. Nata merasa tidak berguna mendengar kegigihan istri nya demi anak nya, Sementara diri nya ? Ah.. Ibell memang luar biasa.
Tadi, Nata pun sudah memperkenalkan dirinya sebagai suami Ibell, bukan guru Vay. Abah dan Ambu percaya, mereka pernah tidak sengaja melihat foto Nata di dompet lama Ibell yang jarang di buka oleh sang empu.
" Jadi, Om Bule, Ayah Vay kah ?"
Nata mengangguk, kini ia, Vay dan Abah berada di ruang tamu dengan Vay di pangkuannya seraya sesekali menciumi rambut anak nya penuh kerinduan. Sementara Ambu di dapur sibuk menyiapkan makan malam sekena nya. Biasanya Ibell yang memasak, tapi anak angkat nya itu kan masih di kamar tertidur, pingsan lebih tepatnya.
" Jadi sayang, Vay jelita ini harus panggil Ayah ya, jangan Om lagi."
Lantas Vay turun dari pangkuan Nata, bertolak pinggang dengan mata meneliti Nata seakan akan mau jadi juper dadakan.
" Terus kenapa waktu di sekolah tadi, Om eh Ayah Bule jadi wali kak nyebelin itu."
Nata mencoba menebak siapa Kaka yang di maksud oleh Vay yang di katai nya nyebelin.
Pasti Petir !
" Kenapa bukan datang untuk jadi Wali Vay saja, Apa Om eh Ayah tahu, Papa nya Dika menakutkan, Kumis panjang nya membuat Vay takut." Vay masih kelu mengucapkan kata Ayah yang seumur tujuh tahun baru kali ini, Auto lidah nya masih terasa asing dengan kata Ayah. Tak di pungkiri, Vay sangat senang mempunyai Ayah macam teman teman nya.
" Vay senang punya Ayah !"
" Vay akan pamer ke orang orang desa, kalau Vay bukan anak jadah yang kerap kali Vay dengar berucap begitu ke Bunda."
" Tapi Anak jadah itu apa sih, Yah ?"
Nata dan Abah tidak di beri cela untuk menjawab celoteh demi celoteh Cerewet Vay. Anak kecil selalu polos seperti ini bukan, yang bila mana hati nya merasa senang makan akan terus berceloteh ria, tapi kalau lagi mood nya jelek, maka pasti tetiba berpuasa kata, di tanya pun pasti akan menjawab ketus atau sekena nya saja.
__ADS_1
" Vay bukan anak jadah sayang, Nanti ayah tegur mereka ya." Nata menarik tangan Vay langsung agar jari jemari Vay yang rupa rupa ingin menari di laptop baru di beli nya untuk mencari arti Jadah bin Haram.
Abah sendiri bernafas lega, kasihan ke Vay kalau tau arti itu, ego anak anak itu harus selalu di jaga bukan ?
" Ayo semuanya, masakan Ambu sudah siap, kita makan yuk, Vay ajak Ayah nya juga sayang." Ambu datang dengan senyum ramahnya. Sementara Vay terbahak melihat ada tepung di pipi Ambu nya.
" Ish, kamu selalu meledek Ambu Vay. Ambu cubit kamu ya." Canda Ambu, ah... pasti ia akan rindu ke anak jelita ini bila mana Issa di bawah pergi oleh suaminya, hidupnya akan kembali sepi, berdua lagi sama suaminya, hidup menua berdua saja tanpa anak cucu tuh terasa kurang juga di masa tua.
Hahahaha.. Vay tergelak di atas gendongan Abah yang di kelitik canda oleh Ambu seraya menuju ruang makan yang hanya empat kursi.
Nata pun melangkah masuk, tapi langkahnya terhenti di depan pintu kamar Ibell, ia ingin sekali masuk ke sana, dari pada makan malam ia lebih ingin memandang wajah Ibell saja. Tapi Ambu kembali bersuara untuk melarang nya demi menghargai keputusan Ibell kata nya.
Selesai makan, Ambu menemani Vay untuk belajar di ruang tamu sepetak itu. Nata dan Abah lebih memilih duduk di teras yang sepi hanya ada suara suara serangga kerap terdengar.
" Apa boleh saya mendengar dari Abah, Apa yang sebenarnya terjadi sama Ibell sampai tindakan histerektomi untuk istri saya alami, Bah ?"
" Dulu..." Abah pun bercerita.
Seorang wanita hamil besar di perkirakan Bidan desa berumur delapan bulan perut itu, Ibell. Hujan deras turun, kilat bersahutan dengan gerumuh saat ini.
" Issa, ini hujan nak ! Kamu mau ke mana ?"
" Mau nyusul Abah di sawah Ambu, Kasihan Abah lagi sakit, Nanti nambah sakit, setidaknya pekerjaan Abah cepat selesai kalau di bantu."
" Tapi lagi hujan nak, Biar Ambu yang bantu Abah, Kamu di sini saja."
Ibell tidak mendengar kan larangan Ambu nya, Pikiran nya cemas ke Abah yang masih demam tapi dengan terpaksa harus stay di sawah untuk mengatur aliran air hujan agar tanaman mereka tidak terendam banjir, Ia tidak mau jadi benalu di keluarga ini, setidaknya ia bisa membantu sebisa nya.
__ADS_1
Sampai di sawah, Ibell langsung membantu Abah nya dengan cangkul di tangan.
" Lho, Neng, kenapa ke mari ? ini hujan lho, kamu pulang saja, Nanti kamu sakit." Tolak Abah akan bantuan Ibell.
" Abah pun lagi sakit tapi hujan hujanan, Issa tidak mungkin ongkang ongkang kaki bukan Bah, Masa tamu ngelunjak."
Abah lebih baik merelakan sawah nya kebanjiran dari pada harus membuat Ibell membantu nya di bawah guyuran hujan. dengan itu ia mengajak Ibell untuk balik ke rumah saja.
Awww..
Namun nahas, Saat perjalanan pulang, Ibell terpeleset. Pendarahan di pangkal nya langsung berbaur dengan air hujan. Ibell langsung saja tidak sadar kan diri.
" Issa, bertahan ya Nak, pertahan kan bayi mu."
Di bawah guyuran hujan, Abah susah payah membawa Ibell ke ibu bidan desa nya. Tapi sampai di sana, Issa hanya di beri pertolongan pertama, dan malah di rujuk ke rumah sakit yang lebih memadai alat kesehatan nya menggunakan mobil siaga milik desa.
Di rumah sakit, Abah harus di beri pilihan dokter untuk mengehentikan pendarahan di rahim Ibell yang sangat dalam sampai di vonis harus di angkat rahim nya biar nyawa anak angkat nya tertolong.
Bagaimana ini, Demi menolong Ibu dari bayi perempuan yang baru di adzan kannya yang terlahir Cesar, Mau tak mau Abah menyetujui dengan berat hati, Ia juga sebenarnya kebingungan mau mengambil keputusan apa ? Di sisi lain Abah serasa tidak berhak untuk mengambil keputusan besar yang bisa membuat Ibell menjadi wanita tak sempurna lagi karena nyata nya ia bukan lah Keluarga kandung nya, jelas jauh dari kata suami juga , Tapi di sisi lain...demi kemanusiaan dan demi melihat detak Issa lagi, Abah nekad lancang mengiayakan dokter.
Biarakan Ibell marah marah kepadanya nanti, itu urusan nanti saja.
Abah berhenti bercerita karena melihat Nata meniti kan air mata pilu dengan kepalan itu meninju ninju lantai keramik teras rumah nya.
" Dua hari pasca operasi rahim, Ibell baru sadar dari kritisi nya...Ia tidak marah ke Abah saat kenyataan rahim nya, Melainkan berterima kasih sudah membantu kata nya. Tapi melihat tangan istri mu memegangi perutnya, Abah tahu, dia sedih luar biasa." Abah kembali bercerita lagi.
" Itu karena ulah ku, Ibell menderita karena kebodohan kesalahpahaman yang ku buat." Nata menghapus jejak air matanya.
__ADS_1
" Yang lalu biarlah berlalu Pak, Istri bapak memang tidak sempurna saat ini, Tapi...hati nya begitu sempurna, dia istri yang baik dan Sholeha, sabar ya pak. Anda termasuk beruntung, karena pernikahan kalian sudah ada Vay, tapi Abah dan Ambu... sudah ubanan seperti ini masih pacaran saja." Hehehe..Abah mencairkan suasana bercanda agar Nata tidak terus meneteskan air matanya tanpa isak.