
" Nak Yola mau olahraga juga ?"
Yola mengangguk dengan senyum hangat nya. Wajah Abah Ambu di hadapannya antusias mengajak.
" Olahraga apa Ambu ?"
" Entah ini apa nama nya, tapi di tipi ntu, Ambu suka lihat nya." Di pinggang Ambu terdapat hula hoop. Abah sedari tadi tertawa lucu karena istri nya tidak bisa memakai alat tersebut, padahal Abah juga tidak bisa bisa.
" Ini itu nama nya hula hoop, fungsi nya untuk membakar kalori perut dan lemak di bagian pinggang, Kalau Ambu sering olahraga perut ini di jamin deh, pinggang Ambu akan berbentuk indah, Abah akan kesemsem layak nya pertemuan pertama." Yola menggoda, Membuat Abah-Ambu tersenyum malu malu seperti abege " dan Cara pakai nya seperti ini."
Yola meminjam alat Abah di masukkan alat itu ke tubuh nya melalui kepala, dan alat hula hoop itu pun sekarang berposisi di bagian pinggang.
Abah dan Ambu memperhatikan gerakan pinggang Yola yang luntur punya, hula hoop itu bergerak indah mengikuti gerakan pinggang Yola yang santai bergoyang tapi tidak jatuh jatuh ke tanah.
Ambu pun mengikuti, Bukan nya alat itu berputar di pinggang nya, malah melorot ke kaki. Pinggang nya masih bergoyang asal asalan, eh...Hula hoop nya sudah berada di bawah tanah membuat Abah terpingkal pingkal lucu. Yola pun sama, tertawa lucu. tetapi tak mengurungkan semangat Ambu yang ingin bisa bermain alat tersebut, biar pinggang nya seperti nak Yola kata nya yang sudah Oma tapi masih seperti wanita rapet.
*****
Mobil Ibell kini sampai di pelataran sekolah Vay, di parkirkannya mobil itu dengan rapi yang memang niat menunggu Vay sampai pulang.
" Lho Bun ! Apa__"
" Bunda akan nungguin Vay sampai pulang, tak masalah kan ?"
" Tentu saja." Vay tidak keberatan, bibir itu mengembang senang, di ciumi nya tangan Ibell dan berlari ke koridor karena bel sekolah sudah berbunyi.
Dari arah jauh, Seorang berpakaian tertutup jaket Hitam dengan masker berwarna hitam pun mendengus kesal, Kenapa ada Ibell ? Gumamnya marah, Ibell bisa saja menggagalkan rencana nya untuk menculik Vay. ia sangat menggebu-gebu menghancurkan Nata.
Ya.... Orang itu adalah Alvin Albian.
Ibell sudah duduk di sebuah bangku, ia merasa ada orang yang memperhatikan nya, Mata itu pun menggerlya ke sana kemari yang ada hanya petugas sekolah yang lagi bebersih, tidak ada yang mencurigakan.
"ah.... mungkin hanya perasaan saja, Kenapa aku selalu parno ?" Ibell menepis prasangka buruknya.
" Aku akan kesini lagi Ibell, Kamu pun akan aku culik, biar sekalian Nata hancur sehancur hancur nya sampai bernafas sendiri pun tidak bisa karena kehilangan kalian."
Alvin beranjak pergi saat ini, ia berada di balik pohon dekat pagar besi itu.
__ADS_1
*****
Di sisi Nata, Bukan nya ke kantor, Anak semata wayang Yola itu malah berhenti di sebuah restoran bintang lima, ia ingin membuat kejutan besar untuk istri nya nanti malam saat dinner berdua.
" Kami akan memberikan pelayanan terbaik untuk anda tuan Abraham."
Nata mengangguk kecil sebagai sahutan nya ke maneger restoran ini. ia telah memboking tempat ini di jam makan malam nanti, berikut satu kamar hotel untuk nya dan Ibell menginap.
" Ah, Di sebelah sana harus ada pemusik piano, istri saya suka dentin piano yang romantis."
" Baik Tuan ! apa ada lagi ?"
" Eum, Nanti harus ada bunga Lily, Jangan ada mawar merah, Istri ku cantik tapi tak berduri, Isteri ku berlambang bunga Lily putih yang bersih."
Nata terus menerus berbicara cerewet menginginkan kesempurnaan rencananya demi membuat istrinya bahagia nan nyaman di dekat nya.
Manager di hadapan Nata dengan rinci menulis keinginan klien besar nya, bagaimana bukan klien besar, Orang tajir ini telah menyewa resto Bintang lima, rela mengeluarkan kocek besar demi membuat wanita nya bahagia, ah...Sang Maneger menjadi penasaran rupa akan wanita spesial orang di hadapannya.
Di sisi Ibell, setelah menunggu bosan. Waktu pulang sekolah pun telah tiba, Ibell menyambut dengan senyuman manis nya ke Vay yang berlari bersama Purnama ke arahnya. Sesuai tekat jahatnya, Alvin pun telah ada di area sekolah itu dengan rencana matang nya.
" Ama mau pulang bersama kita atau__!"
" Ya sudah, Kalau gitu kita duluan ya Ama, Salam sama Mami Ama ya."
" Iya Tante !"
" Bye, Ama ! Jangan kangen Vay ya, Vay mau jalan jalan." Vay bercanda, tapi entah kenapa, perkataan Vay serasa aneh masuk keperasaan Ibell.
Ibell membuka pintu mobil nya untuk Vay naik, Sejurus ia pun berlari kecil ke arah pintu kemudi, menekan pedal gas dan berlalu pergi meninggalkan pelataran sekolah, Mobil Alvin mengikuti dari belakang tanpa di ketahui Ibell.
" Bagaimana pelajaran nya Vay, Lancar masuk otak?"
" Lancar jaya dong Bun, Anak Bunda kan cerdas." Vay memuji diri sendiri, padahal tadi ia dan Ama dapat teguran karena bercanda di saat pelajaran sedang berlangsung.
" Bagus__"
Drrrt
__ADS_1
Suara dering ponsel Ibell mengganggu obrolan santai Bunda anak itu.
" Ayah yang nelpon, Bun ?" Vay yang menarik gawai itu di atas dasboard akan titah Bunda nya.
" Ini !"
" Angkat saja sayang, di aktifkan saja speaker nya."
Vay menurut kembali, mendail call hijau itu dan mendekatkan ke arah wajah Ibell yang setia mengemudi.
" Halo Ibell, nanti malam jangan sampai lupa datang ya, Abang soalnya tidak pulang ke rumah, langsung otw ke tempat yang uda Abang pesan untuk dinner bersama."
" Assalamualaikum, Abang !" Ibell menyindir Nata yang langsung membeo di seberang sana.
" Hehehe, Waalaikum sayang, eh salam." Nata tertawa kecil di seberang sana, Vay yang mendengar itu jadi ikut tercengir.
" Ok, Nanti Ibell datang, tapi sebenarnya acara apa__"
Gawai itu tiba-tiba mati.
" Lowbet Bun !" Ujar Vay memberitahu kan. di taruh nya gawai Bunda nya ke dashboard kembali.
" Tak apa, 'kan kita mau pulang ke rumah."
Ibell membelok kan setir ke jalan pintas menuju rumah nya karena di depan sana pasti macet, Alvin yang masih mengikuti mobil Ibell tersenyum jahat.
" Sudah ku duga, kamu akan lewat jalan berbahaya ini Ibell."
Alvin mempercepat laju nya, hingga mobil itu sudah tepat berada di belakang laju mobil Ibell.
Ibell yang mendapat klakson menggebu dari mobil di belakang nya, memicingkan mata ke arah spion, mencoba mengenali wajah di balik kaca bening mobil itu, Alvin dengan sengaja melambai kan tangan nya seraya mencoba mensejajarkan laju kendaraan Ibell agar bisa beriringan.
Alvin ?
" Vay, kencangkan sabut pengaman mu, Perasaan Bunda tidak enak, ada orang jahat yang mengikuti kita."
" Hati hati ya Bun." Vay menurut. Jantung nya seakan mau copot di saat Bunda nya menekan pedal gas lebih kencang lagi meninggal kan laju mobil Alvin di belakang sana.
__ADS_1
Kamu tidak akan lolos cantik ! Alvin menyeringai, dengan senang hati akan meladeni laju mobil Ibell yang ingin kabur dari nya.