Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 155


__ADS_3

Ibell segera membawa Pandji-Papa nya ke rumah sakit, Andra bersama nya dengan sopir kantor lah yang mengantar mereka. Mita pun ikut setelah memaksa Dian mengemudi padahal anak perempuannya itu lagi tidak enak badan katanya.


Saking panik dan cemas akan kondisi Papa nya yang terus batuk batuk membuat Ibell lupa mengabari keberadaannya ke Nata. Handphone pun ia abaikan di dalam mobil yang tertinggal tanpa sadar.


" Keluarga pak Pandji ?" Panggil sang dokter yang baru selesai memeriksa, Ibell yang paling sigap berdiri dari kursi tunggu, beda dengan Mita yang paling malas dengan bau rumah sakit.


" Saya anak nya !"


"Begini bu, Pak Pandji harus di rawat inap sampai sembuh, Setelah memeriksa sample muntahan beliau yang terus batuk batuk di sertai munta munta, beliau ternyata keracunan zat kimia, kalau boleh tau pak Pandji makan apa sebelumnya ?"


Ibell menggeleng tidak tahu sebagai jawaban nya ke Dokter laki laki di hadapan nya. Ibell pun menatap tajam ke arah Mita, apakah ibu tiri nya itu melewati kewajaran jahat nya ? Terlalu.


" Ya sudah, saya permisi." Anjak pak Dokter.


" Kenapa mata mu menatap tajam ke Mama, Bell. Apa kamu menuduh Mama ? Gini gini juga Mama masih sayang papa mu, tidak mungkin Mama meracuni nya." Hardik Mita tidak terima di beri tatapan tuduhan Ibell dan Benar ada nya ia berkata jujur yang tidak tahu menahu tentang zat kimia apa yang masuk ke dalam tubuh suami nya, setahunya sepulang kerja suami nya dalam kondisi sudah batuk batuk.


"Maaf kalau begitu, Tapi kalau benar, Ibell tidak akan memaafkan Mama." Ibell beranjak masuk ke ruang inap papa nya meninggal kan Mita dan ke dua kaka tiri nya. Andra pun ikut masuk sejenak melirik dan berkata. "Ma, Dian. Ubahlah sikap kalian ke Ibell, Dia Keluarga kita juga, dan dia barusan menolong nyawa Andra yang mungkin akan mati tadi , tanpa pertolongan Ibell Andra pasti sudah terbujur kaku dan tidak melihat Mama dan Dian saat ini."


Dian dan Mita tercengang kaget mendengar kata pembelaan Andra ke Ibell.


Itu cuma pencitraan, kak Andra. Dian tidak setuju.


" Jangan dengarkan Kak Andra, Ma." Hasut Dian, jangan sampai mama nya pun malah berpihak ke Ibell.


Mita hanya diam saja.


Sementara di rumah, Nata mondar mandir cemas di teras menunggu Ibell yang tak kunjung sampai rumah padahal malam sudah larut, Menelpon Ibell pun tidak ada respon. Begitu pun sopir kantor nya yang malah tidak aktif. Nata cemas sendiri jadinya, takut takut Ibell kenapa kenapa di jalan. Ah... harus nya ia tidak membiarkan Ibell ke luar kota.


" Jalan satu satunya cuma meretas."


Nata beranjak cepat, bahkan ia berlari ke arah ruangan kerjanya berniat mengetahui keberadaan Ibell melalui titik jaringan handphone Ibell di mana letak terakhir nya saat ini.

__ADS_1


" Ketemu !" Dahi Nata berkerut bingung akan posisi Ibell yang berada di area rumah sakit, Segera ia pergi untuk menyusul Ibell. Apa yang terjadi dengan istir nya itu ? Apa Ibell sakit. Ah..Nata berkendara bagaikan pembalap.


Kembali ke rumah sakit, Dian yang tubuh nya merasa lemas tetiba ambruk ke lantai di dalam ruang inap Pandji. Ibell, Mita dan Andra di buat terkejut.


" Panggil dokter kak !"


Andra segera beranjak setelah membaringkan Dian di sofa yang memang saat ini fasilitas VVIP yang Ibell pilih kan untuk perawatan papa nya, Ibell ingin terbaik dan nyaman untuk orang tua kandung satu satu nya.


" Dian, bangun. Kamu kenapa ?" Walaupun sosok Mita adalah Ibu matre, tapi rasa keibuannya juga ada ke anak tersayang nya saat ini.


" Kenapa pada sakit semua, Nak..Maaf kan papa yang sudah merepotkan mu !" Pandji bersuara lemas yang sudah sadar beberapa menit lalu, ia tidak enak hati ke Ibell yang pasti juga menanggung biaya pemeriksaan Dian.


" Sudah lah, Pa. Kak Dian pasti cuma masuk angin doang, itu kata Mama tadi."


Baru Mita ingin bertukas ke Ibell, dokter dan Andra sudah datang berikut dua suster membawa brankar dorong.


"'Kami akan memeriksa pasien di ruangan kosong, Bu." Takzim dokter.


Mita mengangguk sambil mengikuti langkah petugas kesehatan, Andra pun ikut keluar kecuali Ibell yang masih setia duduk di sisi Brankar Pandji.


Pandji mengangguk patuh, dan Ibell pun beranjak di mana Dian berada. Namun di luar ruangan punggungnya malah di tabrak pria yang gelagapan tidak jelas dalam melangkah.


" Aduh, Kalau jalan hat__Bang Nata ?"


" Ibell !!!" Cup cup cup.


Nata segera saja mengecup rindu selebar wajah cantik istri nya padahal belum 24 jam tidak bertemu tapi rindu nya memuncak heboh.


Suit suit dari para beberapa suster yang sedang melewati nya terdengar menggoda yang berhasil membuat Ibell merona akan Kelakuan suami mesum nya yang tidak tahu tempat main kecup saja.


Lebay nggak sih ? Batin Nata namun ini lah kenyataannya, ternyata ia benar benar jatuh cinta ke istri nya itu yang tidak mau jauh jauh barang sehari pun.

__ADS_1


" Kamu kenapa, apa kamu sakit ?"


" Tidak Bang, Ibell baik baik saja." Ibell pun menjelaskan kalau Papa nya yang sakit dengan detail ke Nata, begitu pun tentang Dian yang pingsan.


" Harus jenguk Dian juga ya ?" Malas Nata.


" Eum, ayo !"


Akhirnya Nata pun hanya pasrah, padahal ogah lah ia bertemu mantan sekretaris nya itu.


...****...


" APA ? HAMIL ?"


Duarrr..


Ibell dan Mita sangat terkejut, mendengar penjelasan dokter yang memeriksa Dian, Nata dan Andra hanya bermuka datar. Sepintar pintar nya tupai melompat pasti akan jatuh juga, Begitu pun akan adik kandung nya, sepintar adik nya itu bermain cantik berjajal sana sini suatu saat akan kena batunya juga, dan saat ini batu itu sudah bersarang di perut adik nya. Batin Andra speechless.


" Iya ibu, Kalian akan kedatangan calon mungil, kalau begitu mari." Pamit sang Dokter.


Dan Mita segera saja mencecar anak nya yang sudah sadar, mendesak Dian untuk membuka suara siapa bapak biologis dalam kandungan itu.


Aduh, apa ini anak dari tukang kurir itu ya ? Kenapa begini.. Harus nya kan Anak Nata yang malam itu aku memang sengaja tidak minum pil, tapi nahas... senjata makan tuan. Sialan !


Dian menutup mulutnya rapat-rapat, ogah ogahan ia mengakui sang tukang kurir yang jelek pakai buncit itu. Amit amit ! Batin nya jijik.


" DIAN ?" Bentak Mita.


Keempat anak mantu nya hanya diam ingin mendengar suara Dian.


Aha... otak licik Dian tetiba menyala, bagaimana kalau ia menipu adik tiri nya yang sok pintar itu, coba kita lihat... Ibell akan menangis kecewa kah ? plus meminta cerai ke Nata kah ? bila mana ia mendrama layak nya orang tertindas ?

__ADS_1


Satu dua tiga... Dian siap menboom adik tirinya.


" Nata...Ini anak Nata...Hiks, Hiks."


__ADS_2