
Ibell termenung di halte memikirkan perubahan Nata, Niat masuk kerja seperti nya bolos setengah hari, ia butuh sendiri untuk berpikir jernih, Tidak mungkin suami nya itu berselingkuh kan ?
Di arah jalan lain, Ibell tidak menyadari ada mobil Nata yang memperhatikan nya, Ya..Nata yang merasa bersalah berbalik arah lagi, ia tidak mau terjadi apa apa ke Ibell dengan cara menurunkan istri nya di jalan.
Ting Ting Ting..
Baru Nata ingin menghampiri, Suara motor Andra memberi tanda klakson nya ke Ibell.
" Kak Andra ?" Gumam Ibell menarik nafas pendek pendek melaraskan perasaan kecamuk nya.
" Ayo naik, Kaka antar kerja !" Tawar Andra sedikit berteriak karna bising kendaraan sekeliling jalan sangat berisik bersahutan.
Ibell pun naik, Tanpa memakai helm yang di tawarkan Andra.
" Ibell tidak mau ke kantor, kak. Antar Ibell ke rumah aja ya, kangen Papa !"
Andra melirik sekilas ke air muka Ibell yang terlihat gusar melalui spion, adik tirinya seperti ada masalah ? Tapi tidak mau Cerewet dulu mengingat mereka ada di jalan raya. Motor pun melaju ke arah rumah mereka.
Nata yang melihat itu semakin bingung langkah apa yang harus ia ambil, Niat kerja nya jadi down dan mengikuti laju Andra, akan memastikan Ibell selamat sampai tujuan, mengingat Andra dulu bukanlah orang baik.
...****...
" Ternyata ke rumah orang tua nya." Monolog Nata, Yakin Ibell akan aman bersama Pandji, Nata pun membelok setir nya untuk pergi.
Assalamualaikum..
Ibell langsung mencium takzim punggung tangan Papa nya yang berjemur di teras, begitu pun ke Mita yang terlihat kurus dan berantakan tidak seperti biasanya yang rapi bak stail modis orang tajir selalu, kini pakaian Mama nya pun sekedar memakai daster rumahan longgar.
" Kok nggak kerja Bell ?"
Suara Mama terdengar lembut tulus. Apa mama berakting pakai hati di depan Papa nya ?
" Lagi nggak enak badan Ma, jadi di bolehin ke sini sama Bang Nata." Elak nya. Andra tidak percaya yang masih berdiri di belakang Ibell. Namun waktu nya harus pergi ke bengkel yang di modalin Ibell, ia tidak jadi menyela, ia juga merasa tidak berhak mempertanyakan pribadi Ibell. Dengan itu ia pamit untuk mencari rejeki halal.
Hari ini, Ibell merasakan ada kehangatan tulus dari kata kata Mita, Ia hanya bersyukur dalam hati sekaligus berdoa kalau mama nya ini benar benar ingin merubah sikapnya terhadapnya.
" Dian kondisinya bagaimana, Ma Pa ?"
" Kata Andra, Mental nya semakin turun, Mama dan Papa belum sempat lagi menjenguk nya di rumah sakit. Bell.. Terima kasih ya atas pertolongan biaya nya, Kamu masih mau membiayai kami juga pengobatan Dian di rumah sakit jiwa, padahal kakak mu Ingin menghancurkan rumah tangga mu dengan menuduh Nata yang menghamilinya." Mita tertunduk malu, andai waktu bisa di ulang, ia akan mendidik anaknya layaknya seperti Ibell yang tahu Agama.
__ADS_1
Ibell menggeleng dan Tersenyum. dua katanya yang terucap Kita keluarga... Membuat Mita langsung menagis meraung raung dengan kata maaf terus menerus di bibir nya dengan pelukan hangat yang di rasakan Ibell. Pandji jadi terharu melihatnya. Alhamdulillah.... Istri nya nampak tulus kali ini ke anak kandungnya.
...****...
Drrt...
Bunyi gawai Ibell berdering nyaring yang baru saja sedetik duduk di kursi sekretaris nya di siang hari ini, Setelah dari rumah keluarganya, ia memutuskan untuk ngantor, percuma juga balik ke rumah suami nya, Sepi.
Sebelum menjawab, mata nya terlebih dahulu melirik pintu ruangan suami nya. Ia rindu dengan kata kata mesum Suaminya, Mudah mudahan Suaminya itu tidak aneh aneh lagi.
" Halo, lama amat sih ngangkat telepon dari mama ?"
Mama mertua ?
" Ah, iya Ma, Ibell lagi...i_ di toilet !" Gagap gugup suara itu.
ah ding. Malah tut tut minta video call.
Klik.. Ibell menerima nya, ia nampak bodoh di tatap intens oleh Yola di seberang layar.
" Mana toilet itu ?" Sindir Yola mengetahui Ibell sekarang duduk di meja sekretaris.
" Ma, sehat ? Kapan pulang ? Ibell rindu." Ibell mengalihkan kebohongan nya.
" Apa Nata nakal kepada mu, berbuat aneh aneh gitu ?" Yola tidak menjawab sapaan basa basi Ibell, ia langsung to the point.
Pasti Bi Tina yang melapor kejadian tadi pagi. Batin Ibell. Mama mertua nya di seberang sana lagi senggol bacok.
" Ah__"
" Jangan mengelak, Mana anak gendeng Mama, di hubungi sedari tadi tapi tidak ada respon."
"'Ma, Kami baik baik aja kok, udah...Mama tidak perlu berpikir macam-macam ya, Mama heva fun saja Ok."
Ibell tidak mungkin mengadu apa apa yang tidak jelas permasalahannya. ia saja tidak tahu apa permasalahan yang di hadapi sekarang ini, mau ngadu apa coba ? Ia tidak mau membuat Nata berpikir negatif padanya yang selalu ngadu ini itu ke Yola. ia hanya berharap Nata tidak menghianati nya akan perubahan sikap nya itu.
" Nata ada di mana ?"
" Lagi meeting mama sayang !" Sahut Ibell lembut.
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak menemaninya ?"
Salah lagi kan ?
" Ah..Mmm, Ini mau ke sana, bawa ini." Ibell memamerkan satu berkas asal asalan menarik di meja nya. " Uda ya Ma, Nanti lanjut lagi, Bang Nata butuh Ibell, salam buat Papa, Bye..."
Tut.
Ibell mematikan cepat ponsel nya, Mama mertua nya itu tidak mudah di bohongin, ia tidak mau mengganggu Mertua nya yang lagi berlibur, ia akan menyelasaikan masalah yang tidak jelas itu, Dengan itu ia beranjak ke ruangan Nata tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ceklek
" Kamu, Kamu, Kamu, Kalian kerja nya sambil tidur hah ? Kerjaan kalian tidak ada yang beres."
Kaki Ibell terpaku di dekat pintu, Rupanya suaminya dalam keadaan marah marah terhadap tiga karyawan nya. Ia ingin berbalik keluar namun ia pun dapat sasaran kemarahan Nata.
" Dan kamu, Masih punya etika kan ? Kenapa masuk ke ruangan ku tanpa ketuk terlebih dahulu." Marah nya ke Ibell, Namun dalam hati Nata bersedih sudah menghardik Istri nya sendiri. Tapi inilah yang ia inginkan, Ibell harus jengkel kepadanya dan biarkan istri nya pergi meninggalkan orang cacat ini selamanya dengan rasa kebencian untuk nya. dengan itu... Ibell akan mudah melupakan nya dan melanjutkan hidup bahagianya.
" Ma-maaf pak. Saya salah !"
Braaak.. Ibell Keluar dengan membanting pintu. Tiga orang karyawan ini menjadi semakin menunduk ciut, Istri sendiri di bentak sarkas apalagi cuma karyawan biasa. Batin mereka.
" Sudah pada keluar dari ruangan saya, SP 1 ambil di ruangan HRD, Bila kalian bekerja tidak serius lagi maka pemecatan tidak terhormat akan kalian peroleh, Bukan hanya kalian tapi semua yang ada di perusahaan tanpa terkecuali." Emosi Nata meletup-letup, hati nya miris melihat sudut mata Ibell berair. Ia harus melakukan sesuatu yang lebih ekstrim lagi agar Ibell tidak terlalu banyak menangis karena ulahnya yang bodoh. walaupun resikonya kehilangan dan kebencian dari Ibell dapatkan, Tapi setidaknya... Hidup Ibell akan berlanjut bahagia nanti dengan pria lain di luar sana yang sempurna lahir batin.
Maafkan Abang Ibell, Abang mencintai mu, Dengan itu Abang tidak boleh egois, senyum mu indah, Abang tidak bisa membayangkan senyum itu luntur bila mana kita masih bersama sampai umur kita di akhir senja. Tidak ada keluarga bahagia tanpa adanya keturunan di antara kita. Insyaallah..Abang akan ikhlas ridho melihat mu Tersenyum walaupun nanti senyum indah mu bukan untuk Abang lagi.
Nata menangis cengeng tanpa suara dengan memandang foto Ibell yang di atas meja nya. Terlintas nama orang lain di otaknya dengan rencana jelek akan namanya yang ia terima dari kutukan Ibell nanti.
" Ibell, Saya ingin keluar, Kalau ada urusan penting, Pending saja sampai saya datang lagi."
Nata bertitah seraya berjalan di hadapan meja Ibell tanpa menoleh barang sedikit pun, ia mati matian untuk tidak menoleh agar tidak melihat wajah cantik yang bersedih itu, ia harus tega demi masa depan kebahagiaan Ibell.
" Bang Nata ! Mau kemana ? Ibell i__"
" Tidak usah banyak tanya, di sini kamu hanya bawahan, lain di rumah lain di kantor."
Tes Tes Tes... Ibell menangis lagi, langkah nya berbalik memunggungi Nata tetiba, Salah ku apa, Bang ?"
Maaf, Ibell ! Nata hampir luluh melihat punggung Ibell tidak stabil naik turun, tangan yang hampir membalikkan pundak Ibell tertarik kembali mengurungkan niatnya, ia tahu istri nya sakit hati akan perlakuan dinginnya. Tapi inilah keputusan... Nata seakan-akan makan buah simalakama... Mencintai istri nya tapi harus melepaskan demi kebahagiaan Ibell. Semoga pilihannya tidak salah. Semoga !
__ADS_1