
Nata sampai di pelataran parkiran sekolahan, Masuk ke ruang guru, di sana sudah ada Petir-anak Langit berikut dua murid lainnya beserta orang tua Dika yang kini menatap Vay seperti ingin menguliti anak Ibell itu, Membuat Vay menunduk takut dengan tangan ia remas di atas pangkuannya.
" Lho, Pak Nata, Anda kok di sini ? Apa anda punya anak bersekolah di sini ?"
Tiba tiba tatapan mata ayah Dika teralih ke sosok Nata- investor di perusahaan nya.
" Saya ke sini karena mewakili jagoan ini, Apakah dia nakal ?" Nata merangkul pundak Petir sejenak dan duduk Setelah di persilahkan oleh pihak guru.
" Tidak pak, bukan jagoan bapak yang salah Tapi dia." tunjuk Papa Dika ke Vay seraya menggeser tubuhnya agar Nata melihat sosok mungil yang semakin menunduk takut di belakang sana. Entah kenapa ada rasa aneh yang menjalar di hati Nata melihat sosok jelita itu. Kaki nya reflek mendekati Vay yang ketakutan.
" Om Nata, Vay nggak salah, Dika yang memulai nya, hingga Vay mendorong Dika." Jujur Petir bersaksi, anak anak begitu polos bukan ? Hanya ia seorang yang boleh menjahili anak setengah bule ini, siswa lain tidak di izinkan nya. Titik. Awas saja Dika besok besok, ia akan menjahili anak kurang ajar itu. Batin nya nakal.
" Tinggal menunggu orang tua Vay ya bapak bapak." Ujar Kepala sekolah menengahi yang terlihat Papa Dika mau marah marahin Vay lagi.
" Kalau orang salah tidak patut untuk takut anak manis, Angkat dagu mu dan coba membela diri."
Vay menuruti perintah Nata yang berjongkok di hadapannya, Mata Amber nya bersibobrok dengan manik yang sama milik Nata. Sekilas mereka bertatapan dalam, Saling beradu pandang. Tadi kaki yang reflek mendekati Vay kini tangan lancang Nata menyentuh pipi Vay hidung dan rambut. Sosok anak mungil ini seakan-akan melihat sosok nya sendiri di versi perempuan. Astaga.. Kenapa melihat anak ini mampu membuat hati nya berdesir hangat. Batin nya sangat nyaman.
Sama dengan Vay, Ia pun merasakan hal aneh di beri dukungan oleh orang yang baru di lihat nya, Tidak di pungkiri...ia merindukan sosok Ayah, Tapi kata Bunda nya... Ayah nya itu dalam dinas di tempat yang sangat jauuuhh, katanya. Ini kah rasa di sentuh oleh sosok ayah, Damai !
" Dika tadi menghina Bunda ku, Om Bule." Vay pun lancang menyentuh rambut pirang Nata yang sama persis warnanya, Bronze Sweet caramel.
" Bunda kamu memang jelek, tonggos, menjijikkan." Sela Dika menghina. Vay kembali garang, ia tidak suka pokok nya ada yang menghina wonder woman nya.
Nata menahan Vay yang ingin menghampiri Dika. Sudut bibir Nata tersungging, Ternyata anak jelita ini tidak lah penakut sesuai prediksi nya tadi.
" Nah, tadi seperti itu penghinaan Dika ke Vay, pak kepala sekolah." Saksi Petir.
Pak kapsek mengangguk, " Pemicunya memang Dika, Tapi Vay tidak boleh melakukan kekerasan, itu pun salah, bahaya bagi nyawa orang, Apa Vay tidak takut polisi ? orang kriminal hubungan nya polisi lho." Lembut pak kepala sekolah berada di tengah-tengah agar tidak berpihak. ia melupakan orang tua Vay yang belum hadir.
"Vay takut polisi, Om. Tolong Vay." Vay beringsut bersembunyi di belakang tubuh tinggi Nata, ia meminta pertolongan, jangan sampai ia di bawah polisi.
__ADS_1
"Tenang ya !" Ujar Nata ke Vay. Dan tatapan nyalang nya ke pak Kapsek, bisa bisanya membawa nama polisi, itu kan bisa menekan mental anak polos ini.
" Pak Freddy, Ini kan awalnya anak anda yang memulai, jadi mohon kebijakan nya lah. Masalah tanggung jawab biaya ke rumah sakit biar saya yang mengganti nya." Nata sampai rela mengeluarkan kocek nya demi si jelita ini yang entah anak siapa ? ia juga penasaran ke orang tua Vay yang kata Dika tonggos punya.
Masalah selesai, Orang tua Dika tidak mampu menolak keinginan Nata, Kenapa pula investor nya ini hadir di tengah-tengah mereka, padahal ia sudah tidak sabar memaki orang tua Vay yang tak kunjung datang.
Di tempat lain, Ibell mendengus kesal, si losbak pakai kempes lagi, untung bengkel tak jauh di mata.
" Pak nanti saya balik lagi ya, saya buru buru."
Ibell terpaksa naik taksi ke sekolahan anak nya.
" Lho, Vay. Kamu kok belum pulang ? Mana orang tua mu ?" Nata yang ingin pulang mengurungkan niatnya, Ikut duduk di sisi Nay di ujung koridor.
" Om Nata, Petir pulang ya, Sudah ada sopir yang menjemput." Nata mengangguk setuju ke arah Petir. "Bule manja, Kakak tampan pulang ya ?" Tengil nya ke Vay, Vay tak merespon, suasana hatinya tidak baik. "Mana ucapan terima kasih mu !" Tuntut Petir ingin menggoda si jelita yang selalu melawannya.
" Terima kasih !" Cetus Vay terpaksa.
"Sana pulang !" Sela Nata mensentil gemas kening anak Langit yang masih saja sempat menggoda anak jelita yang semakin murung saja.
" Ish, iya iya."
Kepergian Petir, Nata tak ada hentinya memandang wajah Vay, Ada rasa sedih merambat hati nya di kala melihat wajah jelita itu tak kunjung bagus air mukanya.
" Vay tinggal di mana ?"
" Di desa ?"
" Hah, Di desa ?" Kagak salah dengar kan ? Batin Nata seraya mengucek daun telinga nya.
" Iya, Di desa, desa Vay sangat sejuk lho Om, tidak seperti di sini, panas dan bising." Vay langsung ceria menceritakan segala sesuatu nya di desa nya. Nata ikut terbahak bahak di saat Vay bercerita tentang ayam nya yang selalu mengejarnya.
__ADS_1
Kenapa aku mudah berbaur ke sosok anak ini ? ke anak sepupu ku pun aku tidak sedekat ini, tapi Vay__"
" Nanti Vay kenalkan ke Bunda Vay ya Om, sini Om, Vay mau berbisik tentang rahasia bunda."
Baru Vay ingin menceritakan tentang penyamaran Bunda nya yang tonggos jelek itu hanya gigi palsu. Eh..Dari arah gerbang ia sudah melihat sosok Bunda nya. ia tetiba ingat akan janji Ibell yang ingin membelikan nya laptop. Vay beranjak cepat seraya berpamitan ke Nata. ia tidak sabar punya laptop, belajar di desa lewat alat canggih itu seperti nya menyenangkan.
" Vay, jangan lari lari." Mata Nata tertuju ke gerbang seraya memiringkan kepalanya berusaha melihat dari kejauhan sosok orang tua Vay, sayang sekali... Sosok orang tua Vay sudah berbalik badan membuka pintu taksi.
" Muslimah." Monolog nya yang hanya melihat pasmina hitam yang di kenakan Ibell.
...****...
"'Aduh Vay, Uang Bunda kok nggak ada ya." Ibell menepuk jidatnya, konyol. Ia salah tarik dompet, ia membawa dompet lama nya yang tujuh tahun di abaikan nya.
Wajah jelita Vay tetiba murung, menelan ludahnya sendiri dan kembali menaruh tas berisi laptop ke atas etalase di toko elektronik di dalam mall ini.
" Ya sudah deh, hari ini nggak apa-apa kok pulang tanpa laptop." Dalam hati Vay, sangat kecewa karena tidak jadi membeli barang mahal ini.
Melihat air muka kecewa anak nya, Ibell menimang nimang niat nya untuk memakai ATM yang entah masih berfungsi atau sudah habis isi termakan pajak.
Mungkin sekali ini tak apa, Toh aku menggunakan ATM ini bukan di desa, tapi di kota.
Ibell menarik satu ATM platinum milik Nata yang dulu.
Drrrtt.
" ATM aktif pak, Di area Mall, saya akan mengirim lokasinya."
Nata langsung belok setir dengan ugal ugalan, ke arah tujuan yang di info kan ante antenya.
Aku akan menemukan mu Ibell, Bagaimana pun caranya, kamu harus balik ke pelukan ku.
__ADS_1