
Nata sudah sampai di depan gudang terbengkalai di mana titik GPS berhenti di titik si pengirim.
Ia belum masuk, butuh siasat ! Salah langkah mungkin fatal bagi nya.
Sejurus gerombolan besar Biru datang bersama Dito dan anak buah nya yang sangat banyak, Nata sampai mengerutkan keningnya akan ulah Biru yang seakan-akan mau berperang besar besaran dengan membawa lima mobil yang terisi anak buah Biru.
" Apa gue telat ?" Biru melempar satu pistol nya untuk Nata simpan. Nata melempar kembali, menolak. ia sudah membawa senjata kesayangannya sendiri.
" Gue juga baru sampai di titik GPS ini !" Sahut Nata dengan mata lurus lurus memandang gudang gelap di hadapannya.
Dari arah jalan ada dua mobil yang datang, Satu milik Dirgan dengan Gema dan Langit di atasnya, Satu mobil paling belakang jauh dari gerombolan Nata adalah milik Dibi dengan para kurcil smart di atas nya, anak Dirgan-Bintang ini dapat rengekan dari Pelangi agar mau mengikuti mobil milik Dirgan. Mau tak mau Dibi menurut karena apa pun yang di minta Pelangi mutlak bagi nya. Dibi tidak tega melihat wajah imut Pelangi yang sudah di anggap nya adik sendiri merengek kepada nya.
" Eh, jangan gegabah kalian !" Dibi segera mengunci pintu mobil nya otomatis dari kemudi saat para Kurcil ini mau turun begitu saja, Dibi tidak mau di salahkan nanti kalau ada kejadian yang tak di inginkan.
" Terus kesini kita hanya jadi kambing conge gitu." Petir protes cemberut
" Nurut atau kakak akan putar kemudi, balik sekarang juga."
Semuanya mendengus pelan akan ancaman Dibi. Topan yang duduk di sebelah kemudi Dibi malah menyala kan musik, sengaja meledek Dibi, pan di suruh diam santai.
" Gue gibeng pala Lo, Topan !" Dibi bergegas mematikan musik, bisa ketahuan nanti sama orang di depan sana.
Pelangi dan Ama kompak tersenyum lucu akan kelakuan Dibi dan Topan yang tidak pernah sejalan otak.
" Hust diam deh, kak Dibi lihat sana."
Petir melihat para orang dewasa sana terlihat mati kutu. Dibi yang melihat situasi kurang kondusif memarkirkan mobilnya ke tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat musuh, Para orang dewasa sana telah di tekan ancaman oleh lawan dengan membawa nama keselamatan Vay dan Ibell yang di beri video di mana ke-dua sandera telah di beri bom.
" Sialan !"
Biru mengumpat kasar, percuma bawah anak buah yang banyak kalau bergerak sedikit pun tidak bisa karena mementingkan keselamatan Ibell dan Vay.
" Ikuti saja perintah nya, Bi. keselamatan Vay dan Ibell serahkan pada ku, jangan ada yang bertindak gegabah karena aku tidak mau kedua wanita ku terluka karena ketidak sabaran kalian, Alvin adalah pyshico gila, kalian gegabah maka nyawa istri dan anak ku taruhan nya."
Biru dan parah sahabat nya pun terpaksa mengangguk menyetujui Nata, mereka mau di tekan oleh anak buah Alvin padahal kalau di suruh
__ADS_1
" Bos kami hanya mengijinkan Tuan Nata !"
Anak buah Alvin yang tak kalah banyak dari anak buah Biru mengepung Biru dan ante ante nya dengan senjata menodong di lingkaran bundar itu. Hanya Nata yang di bawah masuk dengan senjata Nata sudah di geledah semua nya, Nata masuk ibarat kata naked seutuhnya karena tidak ada persiapan khusus sekalipun, kata keberuntungan lah yang Nata harap kan saat ini. Semoga ia bisa keluar membawa anak istri nya dengan selamat, ia rela bertarung nyawa demi ke-dua wanita tersayangnya.
" Selamat datang ex friend ! Senang bisa berjumpa lagi dengan mu."
Suara itu lah yang menyambut Nata di ruangan berdebu tersebut.
" Dari dulu Lo memang pengecut Alvin, bisa nya berkoar tapi nggak menampakkan diri, Keluar lah kalau Lo memang laki , Sialan ! Bisanya bersembunyi."
Mata Nata menggerlya di ruangan remang cahaya yang kesal mendengar suara Alvin tapi orang nya tidak nampak. Anak buah Alvin pun sudah keluar dari ruangan tersebut Menyisahkan Nata seorang diri.
" Terserah Lo mau ngomongin gue banci, Yang jelas gue nikmatin permainan ini dan ah...Lo hanya punya waktu 25 menit untuk menyelamatkan anak istri Lo, pilih lah.... ruangan sebelah mana yang Lo mau masukin terlebih dahulu, di sisi kiri adalah ruangan Vay di sekap dengan bom bersama nya, di sisi ruangan kanan ada Ibell-istri tercinta lo dengan rintangan khusus yang siap menyambut Lo. Hahahaha ?" Alvin tertawa jahat di balik ruangan monitor yang bisa melihat Nata yang marah luar biasa di permainkan oleh nya. Alvin puas saat ini bisa mempermainkan Nata sebelum rivalnya itu mati. Alvin di atas angin.
Nata mengeram kesal, ia seperti makan si buah malakama, mana yang harus ia selamat kan, anak atau istri nya terlebih dahulu ?
Kaki itu reflek melangkah di sisi sebelah kiri, di mana Vay berada di dalam sana.
Ceklek..
Vay langsung terpekik memperingatkan langkah Nata yang masih membuka pintu perlahan.
" Why ?" Heran Nata. Mata Amber Vay pun menggerlya ke setiap sudut yang ada sensor tembak nya, sekali tubuh Ayah nya terekam sensor, maka tembakan akan keluar bergantian karena di anggap penyusup.
Nata memberikan jempol nya tanda mengerti. Ia berpikir keras bagaimana mengelabui tembakan otomatis itu.
" Ayah harus bagaimana, Vay ?" Otak Nata tiba tiba buntu karena cemas akan keselamatan anak nya. ia tidak punya waktu banyak sehingga membuat nya panik tidak bisa berpikir jernih.
Alvin di monitor pusat masih memperhatikan Nata yang belum masuk jebakan.
" Dua menit awal di bagian itu akan langsung agresif, dan setelahnya dua menit berlanjut tembakan akan keluar dari sensor belakang Vay. Sebisa mungkin dua menit bergantian usahakan dan harus kudu tubuh Ayah tidak masuk jangkauan pendeteksi sensor."
Nata tersenyum, mengerti penjelasan anak smart nya. Secepat kilat Nata berlari cepat menggunakan waktu seperkian detik untuk memanfaatkan waktu hanya per dua menit menghindari sensor tembak silih berganti.
Dua Sensor memang langsung agresif dalam dua menit, tapi bukan menembak Nata melainkan sasaran kosong karena Nata berkelit cepat ke sisi Vay yang terikat.
__ADS_1
" Ayo ayah, tinggal beberapa detik lagi sensor di belakang kita akan menembak Ayah dan mungkin Om jahat itu juga mengaktifkan target di badan Vay."
Nata kesusahan membuka tali, ia gugup sendiri melihat bom aktif yang berjalan mundur waktu nya.
Benar kata Vay, Alvin yang melihat keberhasilan sepersekian persen Nata di balik layar, jadi Kesal ! Sensor ia setting untuk menarget ke Vay pun, itu tandanya Nata harus berkelit dari kejaran sensor tembak dengan harus melindungi anaknya agar tidak tertembak sia sia.
Dor...
" Ayah !!!" Vay terpekik, kaget !
Dua menit sensor tembak kembali berpindah, Nata dengan cepat mendorong kursi yang menyatu ikat dengan tubuh anak nya ke arah depan di mana sensor bagian depan berhenti bekerja menembak, Agar Vay selamat dari tembakan, Nata mengorbankan betis nya terserempet peluru kendali sistem. Biar kan, Yang penting anak nya selamat.
" Kita harus keluar dulu dari sini, Vay !" Nata meraup Vay sekaligus kursi tersebut dengan susah payah di buat kursi sialan, Nata baru menyadari kebodohannya yang kalau bom tersebut di gerakkan atau Vay berdiri sebelum waktu bom nya di off kan maka duaaar tanpa memerlukan waktu habis.
Nata berhasil membawa Vay ke luar dari ruangan sialan itu.
Di sisi Kurcil smart bersama Dibi yang mengintruksikan pergerakan endap endapan nya yang ingin masuk ke gudang tersebut, lancar jaya karena anak buah Alvin semua nya sibuk membekuk Biru cs. Mereka sudah berada di ruangan yang remang pencahayaan, tanpa takut bahaya mereka terus menelusuri gudang tersebut mencari keberadaan Vay dan Ibell.
" Ini tempat apa sih, bau amat ! Ama nggak suka tempat ini, jelek !" Ama cerewet, bibir nya itu sangat lemes, dengan itu Guruh yang sedia kala berdiri di sisi adik nya membekap mulut adik nya lembut, ia tidak mau ketahuan.
" Ama diam ya, atau kakak akan meninggalkan mu di sini, tidur bersama tikus garong." Petir yang menggerutu seraya berjalan pelan mengikuti si Kembar dan Dibi yang ada di depan sana.
" Ama mau pulang aja lah, percuma juga kan Ama di sini, Ama kan tidak bisa berkelahi !" Mood Ama tiba-tiba jelek, coklat di tangan nya sudah habis, di kantong pun tidak ada persediaan.
" Ya, sana pulang, di jalan ada kuntilanak siap bawa kamu terbang."
Guruh masih diam akan kesarkasan Petir yang tak sabaran kepada Ama.
" Kuntilanak akan kesusahan bawa tubuh Ama yang gemoi lucu ini."
" Diam lah Ama !"
Ama tersenyum, ia sengaja membuat Guruh yang irrrrrrit bicara itu mengeluarkan suara emasnya, lagian dari ujung perjalanan sampai di titik ini kakak nya tidak ada satu kata pun mengeluarkan suara nya seperti orang bisu, 'kan Ama rindu.
STOP !
__ADS_1
Tangan Dibi di depan memberi instruksi tiba tiba, Kompak yang di belakang tabrakan tubuh, ulah Ama yang tadi nya grasa grusu berjalan di paling belakang membuat Petir menubruk Guruh dan berlanjut sampai ke Topan, Lautan, Twins, Badai dan seterusnya sampai Pelangi terpekik menubruk tubuh tinggi Dibi yang siap menjaga keseimbangan Pelangi masuk ke dalam dadanya. Auto Topan dan Badai Kompak marah ke Dibi yang main peluk saudara perempuannya. Overprotektif si Triplets kambu, Bukan nya pada diam, Dibi dan Topan saling berketus ria. Ama dan Pelangi yang malas dengan itu main pergi duluan, Vay terlihat di mata mereka.