
Ibell mengekori langkah Nata masuk ke kamar yang baru pulang dengan perasaan bingung tentang sikap diam suami nya.
Di ambil nya jas Nata yang teronggok di kasur begitu saja oleh kelakuan Nata, Masuk ke dalam kamar mandi tanpa ada kehangatan atau pun embel-embel Abang mau mandi dulu. Ibell berpikir keras, apa kah ia punya salah ? Atau suaminya dalam ada masalah tapi tidak mau berbagi, atau jangan jangan.. suaminya itu sudah bosan dengan nya ? Pikiran negatif nya berseliweran singgah di benak nya.
Sepuluh menit, Nata keluar dari kamar mandi, lengkap dengan baju tidur, tuh kan... Suaminya berubah, main naik ke kasur dengan punggung itu membelakangi nya tanpa satu kata pun, coba Istri yang sengaja memunggungi suami tidur dengan sengaja begitu..dosa lagi kita sebagai istri Soleha. Mata Ibell berembun menahan sesak, Tidak bisa begini...Ia harus mengetahui sikap keperubahan Nata kepadanya malam ini juga.
" Bang__"
" Abang ngantuk, Beno pun, jadi bikin anak nya di tunda dulu, Selamat malam !"
Deg...
Air mata Ibell jatuh yang sedari tadi di tahan nya, Boro boro menginginkan Beno, bapak nya aja lagi bersikap gaje.
Maaf kan Abang Bell, Abang tidak pantas untuk mu, Abang akan melepas mu untuk laki laki sempurna, bukan laki laki cacat seperti ku. Kamu pantas bahagia, bersama ku...kamu akan kesepian tanpa seorang anak sampai hari tua pun karena suami mu mandul.
Nata tak kalah sedih nya di balik mata terpejam bohong nya itu, Air mata pun menetes sedih di remang cahaya kamar nya, Ia tidak berani tidur berhadapan dengan Ibell lagi, Ia Serasa tidak pantas diri, Seharian ia berkeliling sendiri dengan perasaan berkecamuk dan ujung ujungnya mengambil keputusan besar untuk melepaskan istri nya dari hidup nya yang tidak berguna ini. Istrinya baik...pantas bahagia. Titik.
Pagi pun datang, Ibell sudah rapi dengan stail modis kantor nya, di guncang nya bahu Nata untuk bangun.
" Bang, sudah pagi ! Bangun !"
Nata menggeliat sebentar dengan menguap lebar, tanpa sadar menarik Ibell rebahan di samping nya untuk di goda nya sama seperti di pagi pagi hari sebelum nya, Ibell Tersenyum lembut, Sikap hangat Suaminya sudah kembali... Alhamdulillah. Syukur nya dalam hati.
Saat tangan lembut menyentuh sebelah wajah nya, Nata tersadar... Tidak bisa begini, ia nanti bisa kangen dengan momen indah ini bila mana ia sudah tidak bersama Ibell lagi.
Di buka nya lebar lebar mata yang tadinya seperti di lem itu, menarik tubuhnya untuk menjauh dari rebahan Ibell.
" Abang mau mandi dulu ya."
__ADS_1
Raut wajah sedih menerpa Ibell lagi, sungguh..ia tidak mengerti kenapa Nata berubah Datar seperti ini. Ingin sekali ia ingin memuntahkan uneg-unegnya untuk bertanya yang sudah di ujung lidah, Tapi suami nya main beranjak cepat masuk ke kamar mandi. Tertelan lagi pertanyaannya.
Kiss morning tak ada, senyum pun pudar, Apa salah ku, Tuhan.
Di meja makan, Ibell sudah siap menunggu Nata keluar dari kamar untuk sarapan bersama, Bi Tina ada di dekat nya sedang menyiapkan makanan, Hari ini memang Bi Tina lah yang masak karena jujur...ia pun kesiangan, menunaikan ibadah dua rakaat nya saja sampai terburu-buru karena fajar hampir muncul.
Tap..
Derap langkah sepatu pantofel Suaminya sudah terdengar, Ibell menoleh ke arah Nata yang bukan nya tertuju ke meja makan, Tapi malah menuju ke pintu utama, Bertingkah lagi kan. Ibell pun menarik tas kerja nya dan mengejar langkah Nata, Suaminya kudu di tegasin, ia di anggap patung tetiba begini.
" Loh loh, Nyonya. i_ Sarapannya ?" Bingung Bi Tina.
" Apa mereka lagi perang dunia eh dingin ? Tidak bisa di biarkan."
Bi Tina menarik gawai nya. Masuk ke dunia maya untuk men-chat pribadi Yola karena ia memang dapat tugas untuk melapor segala sesuatu tentang kehidupan anak mantu nya.
" Nyonya, Sepertinya majikan muda lagi perang dingin, Mereka meninggalkan sarapan bersama hari ini."
Braak.
Ibell menerobos masuk ke dalam mobil Nata yang mesinnya baru di nyalakan nya.
" Apa Ibell punya salah, Bang ? Katakan kalau begitu dan maaf sebelumnya." Uneg-uneg pertanyaan dasar Ibell langsung keluar. Nata belum merespon, menginjak pedal gas dan meluncur. Sungguh...ia ingin sekali mengecup bibir cemberut sedih itu, Tapi ia sudah bulat untuk melepaskan Ibell agar bahagia kelak, bukan bersama nya-pria cacat ini harus nya ke laut aja.
" Kenapa diam saja ?"
" Tidak ada Ibell, Saya cuma buru buru, ada meeting." Elak Nata, kali ini suara nya semakin datar menyelimuti malas menjawab...itu yang di tangkap oleh telinga Ibell.
Bulsyiit.. Meeting ? jadwal Abang ada di tangan Ibell, Bang. Bohong mu sangat keterlaluan.
__ADS_1
" Semua jadwal meeting, Abang majuin." Terang Nata, dan memang seperti itu. Hari nya akan ia gunakan untuk kerja nonstop, biarkan Ibell menghardik nya tidak betah dan meninggalkan nya... itulah rencananya. Walaupun berat hati, Tapi ia tidak boleh egois untuk menahan Ibell hidup bersama laki laki cacat seperti nya. Jujur...ia mencintai istrinya, Dengan itu...ia akan membuat hidup Ibell pergi dari nya agar suatu saat nanti, Ibell nya mendapatkan laki laki sempurna yang bisa membuat Ibell menjadi wanita sesungguhnya. Wanita sesungguhnya ? Titel itu akan bercap bila mana sudah melahirkan anak. Sementara diri nya..apa ? Mandul.
" Kenapa tidak konfirmasi ke Ibell ?"
" Biar kamu tidak capek !"
" Itu tugas Ibell, dan sebenarnya apa yang terjadi, Ibell perhatikan sikap Abang datar ke Ibell, Tolong... beri satu alasan yang masuk akal, Kenapa Abang berubah, apa Ibell sudah membosankan ? Atau jangan-jangan..." Tiba tiba lidah Ibell keluh, Apa jangan jangan Abang Nata ingin menceraikan Ibell karena ada wanita lain. Itulah tuduhan nya yang tertelan.
" Sudah ya, Jangan berpikir macam-macam, Abang hanya sibuk pekerjaan kok, tahu sendiri kan..Abang ingin menjadikan perusahaan software kita nomer satu." Reflek Nata menggenggam tangan Ibell dengan satu kemudi di tangannya, Ia sangat berdosa membuat Istri nya sedih berkecamuk.
" Ku harap Abang masih ingat makna ijab qobul itu apa ?" Ok... Ibell kali ini percaya, real karena Suaminya sibuk mengejar target perusahaan walaupun di sudut hatinya ada batu besar yang mengganjal ganjil. Toh.. perlahan waktu pasti akan terjawab.
Dan hening... Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Bang, Bisa tidak kita mampir di mini market sebentar saja, Tadi kan tidak sempat sarapan dan minum susu khusus program hamil, Jadi__"
" Jangan membahas tentang kehamilan, Abang tidak suka." Geram Nata reflek mencekram kemudi, Istri nya tanpa sengaja mensentil keras ego kemandulan nya.
Deg..
Berniat membunuh kecanggungan keheningan di antara mereka, malah dapat bentakan tertahan.
Ibell kembali sedih, sekuat apapun perempuan, Tapi bila mana dapat perlakuan dingin oleh suami tercinta maka rasa di hati ini...perih bak kegores pisau.
" Stop di sini Bang, Ibell mau turun di jalan sini saja, Dan istighfar lah.... mungkin ada setan yang menggelayuti mu."
Chiiit..
Nata benar benar tega meninggalkan nya di pinggir jalan, padahal ia cuma ngasal. Semakin sakit hati Ibell di buat sikap dingin Nata yang berubah seratus delapan puluh derajat.
__ADS_1
Ya Tuhan, jaga pernikahan ku dari kehancuran. Aku akan bertahan selagi Zina jauh dari suami ku.