Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 181


__ADS_3

Selesai mandi, Nata dan Vay masuk ke kamar menyusul Ibell yang saat ini duduk di sisi kasur hanya berukuran kecil, di pakai tidur bertiga pasti akan sesak. Bisa rebahan tapi untuk bergerak sedikit maka akan bersentuhan. Oh... Tuhan, Ibell canggung. Walaupun Nata masih Nata yang dulu, Tapi perpisahan selama ini membuat nya kecanggungan tersendiri.


" Ayo Ayah, Vay di sini, Bunda dan Ayah di sini."


" Lho, Vay. Salah Nak, Vay kata nya mau di peluk bersama, Berarti Vay harus di tengah dong."


Ibell segera menyanggah cara atur Vay di tempat tidur sempit itu, anak nya malah ingin tidur di pinggir, mepet dengan tembok. Apa apaan ini bocah ? Malah ia di atur oleh Vay di suruh tidur di posisi tengah, itu artinya..ia dan Nata ?


" Wonder woman nya Vay, Kata Ama, Memang seperti itu, Vay meluk guling, Bunda meluk Vay, dan Ayah meluk Bunda. seperti gerbong kereta lho Bun !" Vay naik ke kasur mengambil posisi nyaman nya. Nata memberi up plus dalam hati untuk anak pintar nya ini, tahu aja keinginan Ayah nya. Batin nya bersorak ria.


" Uda lah Ibell, turutin saja, lagian sekedar tidur ini." Lihat Akting nya.. Nata berupaya datar datar saja, padahal rasanya ingin berloncatan saking bahagianya, ini lah yang ia tunggu, tidur seraya memeluk erat tubuh istri nya. ah.... rasanya pasti nyenyak, ia kan tidak pernah tidur nyenyak lagi selama Ibell meninggalkan nya.


Ibell tidak menjawab lagi, naik ke kasur dan mengambil posisi nyaman nya pun. Tak membuang waktu, Nata dengan santai segera menyusul tepat di sebelah Ibell yang memunggungi nya karena Vay kan minta di peluk seperti main gerbong kereta.


Ibell langsung menahan nafas saat tangan Nata mulai memeluk nya dari belakang, Demi apa... Jantung nya berdegup kencang, Tidak bisa begini terus, ia pasti akan mati karena menahan nafas terus. Ibell menengang wajah nya tetiba panas entah kenapa.


Rileks Bell, Tahan sampai Vay nyenyak.


Nata yang di untung kan di sini, tersenyum manis di belakang tengkuk leher Ibell yang tidak memakai hijab nya, sengaja menaruh wajah nya dekat tengkuk itu agar Ibell kegelian akan hembusan nafas nya. Ah...ia akan terjaga saja malam Ini, Sayang kalau di bawah tidur, Nanti bisa bisa Ibell beranjak lagi kalau Vay dan dirinya sudah terpejam nyenyak.


Mendengar hembusan teratur Vay, Ibell segera menarik tangannya dari pinggang kecil anak nya. Membuat posisi terlentang menghadap langit langit kamar.


Melihat itu, Nata segera memejamkan mata cepat cepat berakting pulas.


" Ibell tahu, Abang belum tidur." Lirih Ibell bersuara. Ekor matanya melirik wajah Nata tanpa bergerak sedikit pun. Tangan Nata yang bertengger nyaman di perut nya di singkirkan nya.


Yakh,. Ketahuan.


Nata pun membuka matanya, tersenyum manis ke Ibell.


" Kenapa belum tidur ? Susah ya, karena ada orang ganteng ?" Nata menggoda, reflek Ibell berbalik menghadap Nata, tapi karena kasur begitu sempit, kaki nya tidak sengaja menendang Nata, membuat Ayah anak nya ini hampir terjengkang ke bawah, tapi oh No, Karena Kelakuan tak sengaja nya..Nata reflek bertahan diri agar tidak terjatuh namun apa yang terjadi...Nata menariknya tanpa sengaja membuat bibir mereka bertemu.


Sejurus, Ibell menarik kepalanya cepat, wajah nya merona panas sendiri.


" Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan."

__ADS_1


" Tapi Abang suka dengan kesempatan." Sahut Nata kalem. Ibell melirik sengit tampan jumawa Nata.


" Sadar lah Dinata Kedward Abraham, Kita butuh bicara serius."


" Dan Abang akan mendengarkannya istri ku, Issabelle Lovelia." Lagi, Nata menjawab santai, menekan Istri ku agar Ibell sadar posisi nya. Tidak dingin lagi terhadap nya.


"Mau kemana ?"


Ibell yang bangkit dari kasur, di tarik segera oleh Nata hingga Ibell masuk kedalam pelukannya. Jantung mereka berdegup kencang bersahutan, Ibell sadar...Di dalam sana masih ada nama Nata, tapi mengingat diri nya yang tidak sempurna lagi Membuat nya gelap, takut untuk memulai lagi.


" Lepas atau ku gigit dada mu !" Ancam Ibell tidak main-main.


" Ku terima lapang dada, di iris tipis tipis pun boleh, itu pun kalau kamu tega melukai ku." Gombal Nata tersenyum genit, Dalam hati ia ingin sekali memangsa mesra bibir cemberut Istri nya. Tapi sabar ! Ibell masih jadi singa liar, belum jinak. Nata malah ngelunjak meniup pelan wajah Ibell yang masih di tahan nya.


Sekonyong-konyong Ibell tersentak dan benar saja menggigit dada Nata tanpa ampun, Nata yang ingin terpekik sakit tertahan suaranya, sadar nanti akan membangun Vay dan mungkin Abah Ambu pun bisa saja menerobos masuk ke kamar.


" Rasain !" Ledek Ibell lirih dan segera bangkit dari kasur dengan pergerakan pelan.


" Hiks, Tega kamu, Ibell. Nanti air susu ku habis lho" Nata terisak bohong, Akting membuat wajah nya seperti anak tiri yang teraniaya. Tapi Istri nya datar datar saja bak orang tak berdosa. padahal benar sakit lho.


" Jangan merengek cengeng deh, Ibell tunggu di teras, bicara di sini nanti Vay bangun." Ibell keluar duluan, tapi berbelok ke dapur terlebih dahulu.


Nata malas malasan untuk bangkit, baru beberapa menit menyalurkan rasa rindu nya ke harum tubuh istri nya. Tapi..ah..Si istri yang kini berperilaku menyebalkan tingkat dewa main mengelak saja, Dosa kamu Ibell ! Dengus Nata merasa teraniaya, lebay.


"'Bah, Mereka malah ke luar kamar, mediasi nya tidak terjadi Bah." Ambu dan Abah di kamar sebelah yang menguping menantikan suara laknat dari pengantin bersambung, jadi pendengar kecewa. Suara pintu kamar terbuka, di susul ada suara aduk aduk sendok berbenturan gelas, menebak.. Ibell lagi bikin minuman, dasar anak angkat nya itu ego nya tinggi sekali. susah di luluh kan. atau...Nata yang kurang garcep ? pikir ke dua orang tua ini.


" Ah, ini masih awal Buh, biarkan mereka, bagaimana kalau kita saja yang bergoyang." Mesum Abah menyilak daster istri tersayang nya.


"'Hehehe, ayo Bah, tapi suara ah uh ah nya jangan kencang kencang ya, Nanti Issa dan suaminya dengar ." Ambu menyambut dengan tawa kecil nya.


Di luar ruangan, Nata tidak melangkah keluar teras, tapi menyusul Ibell masuk ke dapur yang bikin minuman. duduk di kursi makan seraya memperhatikan punggung Ibell yang masih setia mengaduk aduk.


" Bisa kah kamu memberi pernikahan kita kesempatan Ibell, ku mohon jangan bersikap anak kecil dengan terus bersikap dingin terhadap ku. Vay butuh kita."


Ibell menghentikan aktivitas nya, berbalik cepat dan duduk kasar di hadapan Nata, meja makan sebagai penyekat nya.

__ADS_1


Apa kata Nata, anak kecil ? pikiran nya seperti anak kecil kata nya. Apa suaminya ini tidak mau mengerti sedikit pun rasa penderitaan nya selama tujuh tahun ini, Ia bersikap dingin karena hati nya berkecamuk di dalam sana.


" Mudah bagi mu Bang untuk datang lagi ke dalam hidup Ibell, Coba kita bertukar posisi saja... Abang lah yang di posisi Ibell, Abang tahu kan rasa insecure itu seperti apa rasanya ? Jelas...Abang tahu walaupun insecure Abang itu salah nyata nya Karena sabotase Alvin, Abang juga sampai memutuskan sepihak menarik surat cerai karena alasan insecure untuk Ibell, nah...itu yang Ibell rasakan sekarang, Ibell tidak Sem-pur-na, Tidak maksimal lagi untuk kebutuhan batin Abang nanti, jadi berpikir sejuta kali untuk berada di sisi Ibell, Bertanya lah ke diri sendiri, apa kah siap menerima batin Ibell yang jauuuhh dari best. Jujur... Ibell takut nanti Abang akan menyesal nantinya bila mana kita melangkah bersama lagi." Keluar sudah uneg-uneg Ibell.


Suara tegas Ibell membuat aktivitas ranjang Abah Ambu terhenti, tapi tak urung keluar kamar, mereka tidak mau ikut campur pribadi Ibell, biarkan ke-dua nya menyelasaikan masalah mereka dengan cara kedewasaan mereka tersendiri.


Melihat mata penuh penderitaan Ibell, Nata bangkit dari duduknya, bersimpuh di hadapan duduk Ibell dengan menggenggam lembut tangan Ibell. Alhamdulillah... Istri nya tidak menolak, Itu cukup bagi Nata kalau Ibell juga ingin bersama nya namun masalah keresahan Ibell adalah kepercayaan diri yang katanya sudah tidak sempurna lagi untuk menjadi istri.


Sungguh, Nata tidak mengutamakan lagi itu, Ia memang laki laki normal yang ingin kesempurnaan di atas ranjang, tapi cinta nya ke Ibell lebih besar dari hasrat lainnya. Toh..ia sudah punya Vay, jadi apa lagi yang di susah kan, ia sudah tidak butuh anak lagi.


Kemampuan Ibell di ranjang nya juga akan ia maklumi yang tidak sama lagi seperti dulu karena ia tahu dampak nya, Ibell nanti akan merasakan nyeri luar biasa bila mana terlalu lama di makan oleh Beno, Nata sadar...di sini yang salah akan tragedi histerektomi Ibell adalah salah nya...coba ia ada di sisi Ibell terus sebagai suami siaga, Ibell tidak akan jatuh di tengah hujan deras, istimewa ke-dua wanita tersayangnya masih bernyawa karena tragedi itu.


" Ibell, Maaf kan Abang sudah meminta mu grasa grusu untuk menerima Abang kembali, tapi yakin kan hati mu, Abang ikhlas ridho menerima kekurangan mu. Buang rasa cemas mu serta buang pikiran negatif mu, Bukan nya kemarin kamu bilang ke Abang kalau benar adanya Abang mandul maka Kamu pun akan menerima kekurangan itu, itu pun yang aku inginkan ke kamu, menerima mu apa adanya, mau wajah mu jelek kek, wajah mu benar tonggos seperti penyamaran mu, Abang tetap akan menginginkan mu, karena hati ku sudah memilih mu."


Mata Nata tak berkedip menelisik netra Ibell yang sama sama tak berkedip menatap nya intens. Sejurus...Nata menaruh kepalanya di atas paha Ibell dalam simpuhan nya. Demi cintanya ke Ibell, Dinata Kedward Abraham yang di gadang gadang dulu pecandu sek* dan pewaris tahta KA Group raksasa, Kini rela menjatuhkan harga diri nya demi satu perempuan, Kurang apalagi kesungguhannya, Apa perlu guling guling seraya menagis histeris, ah..itu nggak Manly bin lebay. Bukan diri nya. Ia akan berjuang, sekeras apapun Ibell menghindari nya, maka sekuat tenaga pun ia tak pantang menyerah. ia akan menyerah bila Tuhan nya sudah mencabut nyawa penuh dosa ini.


"Abang akan setia selalu, percayalah, dan Abang janji, Abang tidak akan memaksa mu, tapi ijinkan Abang untuk di sisi mu ya ? Ijinkan Abang membuktikan kalau Abang benar ada untuk mu, ijinkan Abang untuk mencairkan es yang ada di hati mu ? Mau kan untuk memberikan kesempatan itu ?"


Ibell tidak merespon, tapi reflek menarik tangan nya yang di genggam Nata, tanpa sadar membelai kepala Nata yang masih bersimpuh di hadapan nya, Ya Allah... Ibell berdosa Membuat suami hamba duduk bersimpuh di hadapan ku, Maaf kan hamba mu ini.


" Jangan membuat ku sebagai istri yang berdosa, Bang. Bangun lah...Kita jalani saja bagai air mengalir."


Nata mendongak, sial...di dalam simpuhan nya tadi ada buliran bening lolos begitu saja, nanti di bilang cengeng lagi sama Ibell, Segera ia menghapus air matanya, tersenyum penuh kasih ke Ibell.


" Terima kasih__"


"'Tapi beri Ibell waktu, Pergi lah tidur di sisi Vay, Biar Ibell yang tidur di kasur lantai."


Nata mengangguk, ia mengerti akan waktu yang di pinta Ibell. Tapi lihat saja...ia akan menang secepat nya, ia akan membuang tembok besar di hati batu Ibell.


Melihat Ibell menggelar kasur, Nata segera naik menempati nya, Membuat Ibell menautkan alisnya.


" Biar Abang yang di lantai, kamu sama Vay saja, tapi kalau mau berdua di sini sih..itu lebih baik." Nata tersenyum tipis akan Ibell yang tak merespon godaan nya dan pergi meninggalkan nya.


Dingin lagi malam ini..Nasib Nasib.

__ADS_1


__ADS_2