Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 164


__ADS_3

IBELL...


Jerit pilu Nata menggema tepat selesai membaca coretan tangan Ibell, Surat gugat ia sobek dan beranjak cepat dari sofa untuk mengejar Ibell, Berarti wajah tertunduk di dalam lift tadi benar benar Ibell yang menangis pilu karena kebodohannya akan surat gugatan sialan yang di buat nya.


Damn it, I'm Fu*k.." Rutuk nya ke diri sendiri. Kaki gemetaran karena rasa kecewanya atas kebodohan nya sendiri tak di perdulikannya saat ini hanya nama Ibell yang memenuhi otaknya.


Lift tak kunjung terbuka memperlambat nya, Hanya lima lantai. Batinnya berlari menuruni tangga darurat. Menunggu lift sangat lama, sedetik waktunya terlambat maka ia akan kehilangan istri nya entah mau pergi kemana.


Sampai di pelataran apartemen, Mata Nata menemukan mobil Ibell yang selalu di sopiri oleh sopir pribadi Ibell.


" Mang Udin, Ibell di mana ?" Nafas Nata tersengal karena lima berlari menuruni tangga lima lantai.


Orang yang di sebut Nata berbalik takzim Kepadanya. Membuang rokok nya sembarangan.


" Maaf Tuan muda, Bukan nya ke unit menemui Tuan."


Shiiit. Umpat Nata, Bahkan Ibell pergi tak membawa mobil.


"Oh ya Tuan, Gawai Bu Ibell tertinggal di kabin belakang, Nanti saya ambilkan." Sang sopir beranjak.


Nata kembali mengumpat kasar, Bagaimana mau mendeteksi titik lokasi Ibell bila mana Gawai canggih nya saja tertinggal.


" Ini Tuan."


" Terima kasih, Mang. Oya...Mang Udin tolong beri tahu Bi Tina, Kalau Ibell ada di rumah, tolong di tahan jangan sampai pergi kemanapun." Nata buru buru mentitah.


" Baik Tuan, Emangnya Ibu Ibell ke__Ya, Main pergi aja sih !"


...*****...


Nata menelusuri jalan tanpa arah untuk mencari Ibell. Handset terpasang di telinga dengan mata elangnya memburu kanan kiri seraya mengemudi pelan.


" Apa Nat ?" Gambar Biru, Dirgan, berikut Langit, Lyn dan Gilang di sebrang sana dalam VC grup berbeda tempat.


" Bi, dan semuanya... Tolong bantu gue nyari keberadaan Ibell. Istri gue ada di kota ini dalam keadaan kecewa ke gue, Doi pergi Bi. Ibell melihat surat cerai itu."


Hanya Biru yang paham arah pembicaraan Nata, Yang lain pada cengong dan menganggap Nata mengigo seraya menyetir.


" Gue bantu, Otw nih." Biru langsung off dari VC.


" Gue nggak enggeh nih ?!" Gilang garuk kepala. di angguki setuju oleh Langit dan Dirgan yang sama bingung nya. Gilang malah sibuk memperhatikan gambar Lyn, lebih tepatnya Lyn ada di mana. Shiit..Lyn ada di bandara ?


" Nat, Kalau mau bercanda jangan malam malam begini." Senja-istri Langit yang mempunyai hubungan akrab dengan Nata ikut nyambung di belakang Langit yang memang sekarang ada di dalam kamar.


" Gue nggak bercanda, Nja. Tolong guys..Bantu gue. Kalau ada kabar tentang Ibell beri kabar ya."


" Yakin nih ? Ok gue otw nih." Dirgan sigap membantu.


" Gue juga." Papar Langit Off.


" Nat, Maaf gue nggak bisa, Lihat sendiri gue Bentar lagi masuk ke pesawat. Gue mendadak dapat panggilan lagi ngajar di kampus." Lyn menampakkan wajah tidak enak hati nya.

__ADS_1


" Tak apa Lyn, Hati hati ya." Ujar Nata mau meng-Off VC tapi terurungkan suara Gilang.


" Lyn, Kamu tega amat pergi ke luar negeri tanpa konfirmasi ke aku, padahal tadi sore aku sibuk godain kamu, eh malah diam saja." Protes Gilang. " S2 ku, Nyusul sana. Tunggu aku."


" Dasar brondong !" Lyn mencibir judes dan main Off saja. Akhirnya percakapan pun berakhir.


...****...


Kabut, Itulah perasaan Nata. Gagal mencari Ibell, Hotel dan penginapan semacamnya sudah ia telusuri di bantu oleh para sahabat nya dengan berbagi wilayah di kota ini.


Nihil...Tak ada jejak. Nata tersenyum miring meledek dirinya. Bodoh bodoh bodoh. Rutuk nya terus menerus.


Mengira Ibell pulang ke rumah orang tuanya, segera ia tancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata.


Lama berkendara, Nata sampai di pelataran rumah orang tua Ibell di waktu subuh buta.


Assalamualaikum....


Ibell... Ibell..


Suara itu tak sabaran memanggil nama istri nya. Ceklek... Mita keluar dengan mata susah di ajak melek.


" Nat ?" Mata Mita langsung membulat sadar dari kantuk nya.


" Ibell mana ?" Nata main terobos sampai Mita tertabrak punggungnya.


Mendengar suara ribut, Andra dan Pandji keluar dari masing masing kamar nya.


" Duduk dulu nak, Ayo katakan apa yang terjadi ? Tentang Ibell...Anak papa kan bersama kamu ?" Lembut Pandji memindai penampilan Nata sangat berantakan prustasi dengan mata sembab.


Mita masuk ke dapur berniat mengambil air putih untuk Nata.


" Jangan bilang Lo nyakitin adik gue, Nat ! Hidup nya sudah berat dari kami sebelumnya, jangan kamu tambahin pula." Sarkas Andra menebak.


" Maaf, Saya tidak bermaksud, Cerita nya sangat panjang." Nata menunduk malu di hadapan Pandji, tak berani menatap mata pria setengah baya ini karena merasa bersalah ke anaknya.


" Ceritakan, Papa mau mendengar nya." Pandji berupaya tenang, Tapi di dalam sana hati nya mulai resah mengingat di mana anak kandungnya berada. Kenapa kebahagiaan anaknya begitu singkat ? Batin nya sedih.


Sebelum menceritakan semuanya, Nata terlebih dahulu meneguk air putih dari Mita. Minum saja rasanya seperti menelan kerikil, susah di telan.


" Shiit, Gila kamu Nat, harus nya Lo jujur ke Ibell, Lo ternyata melupakan makna nama baik Isabelle yang artinya Humanisme.. itulah kepribadian istri Lo sesungguhnya, yang berarti akan menerima segala apa pun kekurangan orang sekeliling nya, kami saja yang dzolim di terima nya apalagi cuma soal kekurangan yang bodoh nya cuma salah paham saja." Andra berjudes ria menyemprot Nata setelah mendengar seksama inti cerita Nata. Menarik kunci motor nya berniat mencari adik tirinya yang baik hati itu.


" Maaf kan Nata, Nata pamit untuk mencari Ibell lagi."


Pandji dan Mita hanya mengangguk.


...*****...


" Aduh Tuan muda, Nyonya Ibell kemana atuh ? Mana dalam keadaan hamil muda lagi."


Deg..

__ADS_1


Kenyataan tak terduga lagi yang baru Nata dengar, Harus nya ia senang luar biasa mengetahui istirnya hamil, Tapi dengan pergi nya Ibell yang belum ada kabar membuat nya menangis darah di dalam sana.


"Bi Tina yakin kalau Ibell hamil, Bi ?"


Bi Tina mengangguk yakin. Nata terduduk lemas di teras yang keletihan dari semalam sampai siang ini terus-menerus mencari keberadaan Ibell.


" ASTAGAAAA !" Nata mengamuk prustasi meninju ninju udara kesal.


Bi Tina bergidik melihat pertama kali nya majikannya terlihat emosi memuncak.


...****...


Sementara orang yang di cari Nata berada di atas mobil bak terbuka bekas angkutan sayur mayur entah tujuan nya mau kemana. Semalam ia tidak sengaja melihat Biru bertanya tanya ke orang perihal apa ? Entah ? Tak mau bersinggungan dengan keluarga Nata, ia terpaksa naik ke mobil losbak ini dan berakhir tertidur karena kepala nya pusing luar biasa.


Ckiit..


" Loh, Si Neng teh siapa ?"


Bapak berambut putih pemilik mobil losbak keheranan mengetahui ada wanita cantik namun terkesan berantakan berada di atas mobil nya.


"'Sa_saya Ibe__Issa pak. Maaf ya..Saya semalam bersembunyi dari orang jahat dan berakhir di sini." Ibell tersenyum kikuk. mungkin mulai sekarang ia akan menyembunyikan identitas nya, mengingat Nata ahli pencari informasi, maka salah satu nya ini, seperti borunan. ia yakin...kabar kehamilan nya sudah di ketahui Nata dari Bi Tina, dengan itu ia harus bersembunyi seapik mungkin, nanti anak nya di ambil...ia tidak mau itu terjadi, biarkan suami nya itu bahagia dengan keputusannya yang sudah menggugat nya.


" Owalah.. Kasihan banget ya si Neng. Ya sudah...Neng Issa turun deh, Neng istirahat saja dulu di rumah abah." Mata tua berperawakan tinggi kurus dengan kulit sedikit terbakar panas matahari ini, menelisik ke arah pintu rumah di hadapan nya. " Ambuuuu, sini. Kita ada tamu." Teriaknya ke istri nya yang belum nampak.


Ibell masih setia duduk di atas mobil bak dengan punggung menyandar lemah. ia lapar hingga rasa mual nya sudah di ujung tenggorokannya. dalam hati nya ia mencemaskan keadaan janin nya, jangan sampai kenapa napa. Doa nya dalam hati.


" Kalau boleh tahu, ini kota apa ya pak ?"


Sang bapak tua ini terkekeh polos mendengar pertanyaan Ibell.


" Lihat tuh Neng di sekeliling rumah Abah. Ada sawah banyak sayuran, rumah berjauhan. dan noh...jauh dari bukit itu..ada perkebunan teh..mana ada kota punya sawah luas..si Neng Issa ada di desa Abah. Aman kok di sini, orang nya ramah dan baik baik. Ayo turun, Abah bantu."


Berpikir positif, Ibell menargetkan si bapak orang baik, Mau tak mau..ia harus menebal kan wajah nya untuk merepotkan si bapak. ia butuh tempat saat ini.


Ia pun turun dengan perlahan, mual nya Seketika hilang menghirup udara pedesaan hijau yang segar enak di pandang mata.


" Astaga si Abah, mentang mentang Ambu tidak bisa memberikan keturunan dengan tega membawa wanita muda cantik ke rumah untuk di jadikan madu, jahat sekali kamu, Bah. Ambu dengan jelas kalah bersaingnya, Dia cantik nan muda. Lah..Ambu udah tuir rambut pun satu dua banyak di tumbuhi uban."


Wanita Berdaster longgar keluar dari rumah dengan ocehannya seraya membidik spatula goreng nya yang berminyak bekas goreng ikan ke arah Abah tua ini yang berlari mengelilingi mobil bak, takut terkena bidikan si Ambu.


Tanpa sadar, Ibell tersenyum lucu melihat kelucuan sepasang suami-istri yang kata nya tidak mempunyai keturunan.


" Bukan atuh, Mbuh. Si Neng teh lagi kesusahan di kejar orang jahat katanya, jadi Abah teh bantuin. Ngamal Mbuh. Lagian si Neng mana mau sama Abah yang bau tanah ini, si Neng mau pun tetap Abah nolak, di mata Abah teh, Ambu tuh tetap cantik glow__ glossy apa teh namanya nyak."


Ibell kembali tertawa mendengar rayuan maut si Abah yang ujung ujungnya terpeleset salah. Dan akhirnya si Ambuh yang berhijab ini berhenti mengejar Suaminya. Menatap Ibell dengan susah di artikan.


" Benar kata abah, Ambu. Issa tersesat sampai ke sini karena bersembunyi di mobil Abah." Sopan Ibell menjelaskan.


Si Ambu tersenyum tidak enak hati. " Maaf ya Neng, Ambu kira__ah sudah deh, ayo masuk." Si Ambu menarik lembut tangan Ibell untuk ikut, selangkah si Ambu menoleh ke suami nya. " Ralat Bah, bukan glossy nyak..itu sih berminyak seperti spatula ini, glowing yang benar ! Paham Abah ?"


" Nyak."

__ADS_1


__ADS_2