
Di kebun teh...Vay benar adanya membawa teman teman nya ke kebun itu.
" Waaah, Neng Bule... Kampung kamu bagus banget, sejuk."
Petir merentangkan kedua tangannya yang berdiri di sisi Vay, menghirup udara segar yang bebas dari polusi kendaraan. Si Triplets dan si Twins plus Ama, langsung berfoto bersama menggunakan kamera Lautan yang tergantung di leher. Lautan kembali memotret Petir-kakaknya yang merentang kan tangan dengan mata itu terpejam menghirup udara segar, Vay pun tidak sengaja tertangkap kamera dengan pose tersenyum manis ke arah Petir yang tidak melihatnya karena terpejam.
" Di sanaaaa..." Vay menunjuk jauh. " Ada aliran sungai yang masih jernih." Seru nya memberi tahukan, Kompak teman teman nya berseru ingin main ke sana.
" Jangan ya, bahaya. Vay selalu di larang sama Bunda untuk main ke sana, alir nya sangat deras." Lerai Vay. Ke delapan bocah ini pun menurut.
" Vay, ini kebun teh milik siapa ? Abah mu ?" Ama mulai mengeluarkan jurus wawancara nya.
" Bukan " Geleng Vay. " Ini itu milik siapa ya... lupa namanya, nah.. Kak Guntuuur." Vay yang lupa nama pemilik kebun teh, tiba tiba berpekik memanggil bocah seumuran kira kira Si Triplets yang sedang sibuk memetik daun teh. anak laki teman Vay ini mendekat dengan keranjang teh di punggung.
" Apa Vay, kakak Guntur buru buru nih. Mau__" Terhenti, suara Guntur kembali tertelan melihat Triplets berikut Petir yang tak asing, Namun mata itu menelisik dalam mencoba mengingat wajah Pelangi.
Apa itu Pelangi ? Anak kembar yang dulu pernah ngebantu ngamen ?
" Mata !" Sarkas dingin Topan ke Guntur. Selalu.. setiap bersuara maka ketajaman lah yang ke luar, Topan tidak suka saudara satu satu perempuan nya di lihat oleh seseorang dengan niat tertentu.
" Napa Lo lihat kembaran gue sedalam itu ?" Badai pun mengeluarkan taring nya.
" Sini kak !" Bhumi dan Angkasa ikut ikutan, menarik Pelangi yang biasa biasa aja air muka itu, seakan-akan topiknya bukan diri nya, tapi setelah di tarik Kompak oleh adik Twins nya. Wajah manis itu berubah masam, Ok... punya saudara banyak itu asyik, tapi jangan di lihat sebelah mata saja... sisi overprotektif ke empat saudara nya ini yang tidak di sukai oleh Pelangi, jangan sampai nanti masuk ke Pase remaja-dewasa pun akan di kekang pertemanan nya. No !
" Kalian itu kenapa sih ? Dia itu punya mata lho, berhak lihat siapa aja, Aneh kalian tahu nggak." Pelangi tidak enak hati ke teman Vay yang wajahnya seperti keturunan milik negara unta itu akan sikap tidak sopan ke empat saudara laki-laki nya. Vay melayangkan senyum sopan nya ke arah teman Vay yang bernama Guntur.
Dia tidak mengenali ku lagi. Batin Guntur masih menatap Pelangi, Topan segera berdiri di hadapan tubuh Pelangi.
" Duh, jangan ribut dong, Kak kembar...ini itu teman Vay, baik kok orang nya, suka nolong Vay__"
" Vay, Kak Guntur pergi dulu." Potong Guntur pergi begitu saja.
" Ya pergi, padahal kan Vay belum bertanya nama pemilik kebun teh ini." Vay baru ingat awal niat nya.
" Sudah, Pe, kita foto foto lagi yuk, sayang pemandangan nya kalau di lewatkan." Lautan mencairkan suasana.
" Pe Pe Pe..Kakak nya mana, dasar!" Mood Pelangi tetiba jelek, berjalan sendiri di antara teh hijau, ia akan menikmati desa ini dengan membantu ibu ibu yang jauh di sana terlihat sedang metik daun teh.
__ADS_1
" Kak, Pe, jangan jauh-jauh ya, nanti tersesat !" Vay berteriak memperingati, di balas jempol oleh Pelangi tanda oke. Satu pun tidak ada yang mengikuti Pelangi karena si kembar tahu sifat Pelangi yang bila mana sedang bad mood maka argumentasi lah ujung ujungnya.
Topan pun berpisah jalan sendiri, dan sisanya kembali bermain dengan Vay yang berceloteh menceritakan tentang desa nya. Petir tak henti nya melirik wajah riang Vay.
" Kak Utan, Foto Ama ya." Pinta Ama ingin berpose cantik seorang diri.
" Duh, Ama. Nanti kamera kak Utan tidak muat, Ama kan gendut." Goda Lautan. di iringi tawa lainnya.
" Huuu" Ama cemberut. " Awas ya...Nanti kalau Ama sudah besar pasti akan langsing seperti Mami Ama, Dan kalau cita cita Utan benar jadi fotografer, Ama ogah jadi model untuk Utan, Tak tolaaaaak." Ama membuat pergerakan sombong dengan mengibas kan rambut nya mengenai wajah Lautan, karena kesal di ledek, embel-embel kakak sudah hilang tak tersisa untuk Lautan.
" Jangan marah dong adik Ndut, sini Kak Utan Foto deh." Bujuk Lautan. " Nanti mau ya jadi model kakak, Model baju yang big size itu lho." Imbuh Lautan kembali meledek adik sepupunya.
Hahha, tawa kembali untuk di peroleh Ama dari temannya.
" Vay, ada ulat di pundak mu." Petir bergidik jijik tetiba. Bukan hanya Petir, semua mengambil jarak jauh dari Vay.
Vay yang di singgahi ulat, tetiba otak jahil nya menyala ke Petir, pan si kakak satu ini kadang-kadang menjahili nya. di ambil nya ulat itu tanpa rasa jijik sedikitpun.
" Kak Petir." Vay beranjak cepat memasukkan ulat tersebut masuk ke dalam saku Hoodie Petir.
" Vaaayyy, Aaargh.... ambil lagi nggak."
Tawa riang kompak menertawakan Petir yang jingkrak jingkrak seperti monyet karena merasa jijik ada ulat di dalam saku Hoodie nya. Tidak ada yang mau menolong, Vay aja sampai sakit perut melihat Petir lompat lompat.
" Vay, awas kamu nanti ya, kakak balas." Ancam Petir. masih bergidik jijik seraya mencoba pelan pelan meloloskan Hoodie black nya melalui Kepala. dan berhasil. Petir melempar begitu saja kain tersebut, meninggal kan baju kaos putih polos yang tersisa di tubuhnya, melirik Vay sengit yang mepet mepet seketika ke arah Badai, Badai kan sering membela nya dari kejahilan Petir.
" Sini nggak."
" Maju selangkah lagi, Vay beri ulat lagi nih, Lagian anak cowok penakut sih, Cemen." Ledek Vay. Tawa kembali kompak meledek Petir yang tidak jadi mendekati Vay karena anak Indo ini kembali mengancam membawa nama ulat, ia tidak takut kok...cuma jijik..bedakan !
Di sisi Abah Ambu di dalam dapur, ke-dua orang tua ini mendengar perkataan Yola untuk segera membawa Ibell dan Vay hari ini juga untuk tinggal di kota.
" Bah, kita nanti kesepian lagi." Ambu bersedih, dapat rangkulan perhatian dari Suaminya.
" Sabar ya,Mbu. Mungkin tugas kita menjaga Issa dan Vay sampai di sini saja, Mereka kan punya keluarga sesungguhnya, Kita tidak patut untuk melarang mereka membawa Issa pergi, Jangan bersedih ya. Nanti cantiknya hilang." Bujuk Abah dengan nada menggoda di akhir kalimat nya. tapi jujur, di dalam hati Abah pun ada rasa kehilangan, padahal Issa dan Vay masih ada.
Tentu saja berat bagi mereka berdua, berpisah. Apalagi ke Vay...anak Issa itu sudah di anggap cucu sendiri, dari bayi... mereka yang membantu Issa bergantian momong nya, malam malam bayi Vay menangis, Ambu juga yang turun tangan untuk bergantian begadang, Belajar berjalan... Abah yang sigap siaga menangkap Vay agar tidak terjatuh. hati mereka sudah melekat sayang ke Issa dan Vay.
__ADS_1
" Issa tidak lah setega itu ke kalian, Abah-Ambu. Issa masih ingin di sini kok."
Sekonyong-konyong nya, ada tangan Issa dari belakang merangkul pundak Abah-Ambu. Ke-dua orang tua itu berbalik dan segera berpelukkan bertiga. Ambu menangis di pelukan Ibell.
Abah dan Ambu penolong Ibell di saat Ibell terpuruk, Mana tega Ibell pergi begitu saja, tujuh tahun lebih kalian lah super Hero Ibell. Ibell pasti tidak akan tenang di kota bila mana mengingat Abah yang akan turun tangan lagi untuk berkebun.
Kemal, Yola dan Nata melihat pelukan sayang Ibell ke Abah-Ambu, mereka saling pandang dengan nafas berat, Ibell tidak mau di ajak pulang karena berat ke orang tua itu.
Ok... Jangan sebut Yola si ex wild flower bila mana ia tidak punya jalan tengahnya.
" Punten atuh, Saya ganggu !" Ujar Yola dengan nada di buat buat orang desa pribumi si Abah.
Kemal dan Nata kompak menatap tajam punggung Yola yang main menerobos masuk ke dalam dapur. Entah si ratu nya mau ngapain, pasti ada udang di balik batu.
Ibell dan ke-dua orang tua ini reflek mengambil jarak.
" Mama butuh sesuatu ?" Ibell bertanya, sebenarnya ia juga tidak enak hati ke Mertuanya, karena penolakan nya yang tidak mau ikut hari ini ke kota. Tadi Ibell memberi jawaban halus nya dengan meminta waktu dan juga beralasan akan tanggung jawabnya di kebun sayuran nya.
" Iya, Mama lapar !"
Kemal dan Nata kompak menepuk jidatnya, bohong aja tuh si ratu, Batin mereka tahu benar ada udang di balik batu.
Si Ambu dan Ibell saling pandang tidak enak hati, mereka belum masak.
" Adu, Maaf ya ibu, Ambu teh belum masak. tapi sebentar, Ambu akan masak hasil sayur di kebun sendiri tak apa sederhana ya, kami tidak memiliki daging."
Yola manggut manggut. " Santai saja Ambu, tapi kalau bisa yang masakin Ibell ya, aku kangen ingin makan masakan mantu saya, Tapi jangan di bantuin ya.. biar Nata saja yang bantu istri nya agar tahu masak itu tidak mudah layak nya orang makan tinggal hap. Nah...dari pada nungguin orang masak seraya berpacaran mungkin, bagaimana kalau kita juga pacaran bersama pasangan masing masing sambil memperlihatkan kebun Abah Ambu yang kata Ibell adalah tanggung jawab nya sekarang, ah... sekalian saya juga tidak sabar memeluk Anevay, kita susul anak anak nakal yang saya bawa tadi."
Panjang lebar Yola berceloteh dengan Ambigunya, ia ingin berbicara serius ke Abah Ambu tanpa sela dari Ibell atau pun Nata, sekalian juga ingin membuat dekat kembali hubungan anak mantu nya yang terlihat canggung di mata. ah... anak nya rupa rupanya kurang rayuan maut deh...Maka nya Ibell masih uring uringan. Berguru kek ke Mama sendiri cara menaklukkan hati. cih... lagak nya Cassanova, masa rayu merayu istri sendiri tidak becus sih.
" Silahkan Ma, pulang pulang pasti masakan sudah jadi." Ujar Ibell tanpa curiga. Yola dan tiga pasang kaki pun berlalu. Namun langkah Yola berhenti sesaat di dekat Nata.
" Pakai jurus termehek-mehek dong, biar Ibell kembali luluh, Lo jadi anak lelet, dua hari belum ada kemajuan, Payah." Bisik Yola seraya mencubit gemas pinggang Nata.
" Ish Ma, sakit. Mama sih belum tahu musibah Ibell yang di alami nya, jadi mudah mengejek Nata, Ibell sangat terpuruk, Ma. Nata tidak mau grasa grusu dan berakhir melukai Ibell lagi karena terpaksa, biarkan Ibell menerima Nata lagi tanpa rasa paksa, pelan pelan tapi hasil nya maksimal 'kan bagus"
Terpuruk ? Musibah ? Yola menautkan alisnya.
__ADS_1
" Nanti kita bicara soal ketidak tahuan Mama tentang kata terpuruk dan musibah itu."
Yola segera berlalu menyusul Kemal dan kedua orang tua angkat Ibell yang sudah di teras. Dan Nata segera menyusul membantu Ibell di dapur, bagus juga ide mama nya, dengan begitu kan...ia berduaan lama bersama istrinya yang masih tak tergapai hati nya .