Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 182


__ADS_3

Jam 2 dini hari, Seperti biasa, Ibell terbangun untuk bersiap siap mencari nafkah.


Hoamm.. Jujur sih, masih ngantuk dan tubuh nya serasa habis di gebukin karena kecapean, Tapi tanggung jawab harus di tunaikan, Bukan sekedar dapat uang saja yang di perdulikannya, Kalau sehari ia tidak mengantar sayuran nya ke pasar maka ia kasihan kepada pelanggan nya, pasti mereka tidak akan berjualan, kan ia sebagai pemasok sayuran, kalau sayuran tidak di hantarkan, apa yang mau di jual oleh pelanggan nya ? Batu ? Tidak mungkin kan.


Hari ini Vay libur sekolah, Sengaja tidak menggangu anak nya, Maka mau nggak mau, ia akan berangkat sendiri.


Lho, Mobil nya ke mana ?


Ibell terkejut, pasal nya mobil pick up berikut sayuran nya sudah tidak ada di pelataran rumah, Kemana ? Dengan itu, ia berlari cepat masuk ke dalam rumah untuk melaporkan mobil telah raup entah kemana ?


" Abaaah, Ambuuu." Gedor Ibell ke pintu kamar orang tua angkatnya.


Ceklek..


" Apa sih Issa, baru juga__"


"'Mobil hilang, Ambu."


Tuk..


Ambu tidak terkejut akan laporan Ibell, Justru mensentil gemas kening Ibell karena menggangu tidur nya yang baru akan terpejam.


" Mobil tidak hilang, Neng. Sudah berangkat nguli barusan."


" Kok Ambu biarin Abah nyetir sih ? Kan Ambu tahu kalau Abah sering keram, Kalau kumat di jal__"


Tuk lagi...


Ibell kali ini mengelus kening nya karena Ambunya ini terlalu keras mensentil nya. Bibir nya cemberut.


" Noh, Lihat di dalam sana, ada siapa ?"


Ibell mencodongkan kepala nya, mengikuti titah Ambu.


Lah, Abah tidur, Terus si Putih pick up nguli nya di setir siapa ? Apa jangan jangan ?


Ibell bergegas menuju ke ruang tengah, untuk meyakinkan pikirannya kalau ini ulah Nata, aih...Nata tidak ada, itu artinya...Nata yang menggantikan pekerjaan nya.


" Seharusnya memang tugas suami kan yang bekerja, sudah__ hoaamm__ tidur aja lagi, Percayakan saja sama suami mu, itu sayuran sayuran pasti akan sampai deh ke langganan mu." Ujar Ambu yang ternyata membuntuti Ibell, mulutnya berkali kali menguap, ngantuk.


" Ambu nanti__"


" Ambu ngantuk, Neng. sudah ya."

__ADS_1


Ambu beranjak ke arah kamar nya, tidak mempedulikan rengekan Ibell, entah anak angkatnya ini cemas ke Nata atau cemas ke sayuran nya yang takut tidak sampai ke langgannya, Ambu tidak perduli, Tidur lebih indah saat ini. Toh Nata ini sudah besar, tidak mungkin nyasar kan ?


...*****...


Dua jam Nata berkemudi di jalan, kini telah sampai ke pasar, Berdiri bak mandor seraya memperhatikan sayuran nya di angkut oleh langganan Ibell.


" Ayo habis kan, habis kan, habiskan..Hari ini diskon lima puluh persen, khusus kalau saya yang mengantar nya pasti akan diskon terus, Tapi syaratnya... Pembayaran nya di awal bin sekarang, ya ?"


Nata berteriak teriak menjajakan sayurannya, seenak jidat memberi diskon dengan niat tertentu, yakni...ingin cepat cepat pulang, malas amat ia harus menunggu siang untuk menagih pembayaran mereka mereka ini. Tak apa lah tombok banyak, yang penting tidak lama lama berjauhan dengan Ibell, my darling nya, Tentu saja tadi Ibell bisa ikut dengan nya, Tapi ia tidak mungkin tega melihat Ibell terus banting tulang di depan matanya sendiri, Masa istri seorang Dinata terus bekerja keras, Percuma tajir dong, Bagaimana pun caranya, ia harus membuat Ibell untuk berhenti banting tulang dan mau di ajak tinggal di kota lagi bersama keluarganya.


" ora opo lah bayar awal, yang penting untung banyak, sering sering ya kasep. kalau bisa sih gratis aja."


Salah satu pelanggan menggoda Nata dengan genit, si Ibu gemoy yang pernah meraba rahangnya kemarin, kini kembali ingin mengelus pipi Nata.


Iiih, Sebelum di sentuh genit lagi, Nata cepat cepat menarik uang Si Ibu dan menjauh ke pelanggan lain nya untuk segera di minta uang.


Ok, Hari ini selesai ! Riang nya kembali tancap gas.


Di desa, Ibell duduk melamun di tengah tengah kebun sayuran nya. tak perduli dengan matahari pagi namun sudah terik layak nya siang bolong.


" Bang Nata becus nggak ya ?"


Ehemmm..


Aih ding, Ibell kaget ada suara Nata yang menyahut, Bukan nya ke kota ?


" Kok sudah sampai jam berapa ini ?" Ibell mengangkat tangan Nata, spontan. guna melihat jam berapa ? Nata hanya tersenyum manis melihat air muka Ibell yang keheranan.


" Jam setengah delapan ? Lho... pasti sayuran nya di buang ya ? Atau main taruh di pasar begitu saja tanpa menagihnya, iihh..Bang Nataaa !!!" Ibell gemes sendiri jadinya, wajahnya kesal ke Nata yang malah di beri senyuman santai oleh suaminya ini.


Terus saja ngoceh, aku suka, tapi jangan salah kan aku bila suami mu ini khilaf mencuri bibir cerewet mu.


" Ah...Bang Nata bikin abah rugi tahu ng__"


Ibell terdiam akan Nata yang langsung mengeluarkan uang hasil penjualan sayuran di hadapan wajah nya dengan gerakan sombong, Nata mengibas Ibas uang tersebut.


" Ini hasilnya, Kamu lupa..Abang kan pebisnis, jadi tambah tambahan dan perkalian adalah teman pebisnis, kalau pengurangan dan pembagian adalah musuh pebisnis, masalah jual menjual cepat adalah kerjaan mudah."


Dalam hati, Nata tersenyum geli akan ulah nya sendiri yang main memberi diskon ke langganan Ibell, dan uang tunai lembaran halus halus tanpa lecek sedikit pun di tangan nya adalah hasil tarik di ATM.


" Hebat kan suami mu, Hasil ada tapi pulang nya cepat, boleh dapat cium sebagai hadiah ?" Nata segara memasang wajah di hadapan wajah Ibell dengan bibir itu sudah monyong minta di kecup istri nya.


Abang pikir, Ibell bodoh. Uang pasar itu tidak serapi rapi ini kayak habis di setrika begini ngaku ngaku hasil sayuran. cih..

__ADS_1


" Mau di cium, eum ? Sini, Ibell cium tapi Abang tutup mata dulu."


Asyik... Nata menurut manis tanpa curiga, Mata sudah terpejam dengan bibir semakin di monyongin. Dan Ibell dengan ising, memetik satu buah terong ungu untuk Nata cium.


" Nih, cium..Niiih." Hahahha.. Ibell menggebu-gebu memberi ciuman ke Nata tapi bibir rasa terong ungu.


" Ibellll." Rengek Nata cemberut seraya membersihkan bibir nya sekali usap, Mata nya menatap dongkol ke Ibell yang terbahak bahak menertawakan nya. Tapi Ding, tak apa lah di kerjain Ibell, yang penting ia melihat tawa riang Ibell yang sudah lama tidak di lihat nya.


" Hahaha, rasain. Lagian Abang tuh tukang bohong tau nggak, Ibell tahu ini bukan hasil sayuran tapi hasil gesek di kartu. Ambil kembali uang nya."


Nata menolak keras, Mengelak kan tangan nya ke atas kepalanya agar Ibell tidak sampai untuk menaruh uang itu ke tangannya secara paksa.


" Abang, Ambil !"


" Itu hasil nya Ibell, tadi uang sayuran nya Abang sedekahkan ke orang kampung di sepanjang jalan balik ke sini, percaya deh, dan ganti nya itu, kasih ke Abah gih."


" Tapi, Ibell tidak percaya deh, sayuran nya di buang ke mana ayo ngaku !"


Ibell meronta pelan, ia kecolongan..Nata sudah memeluk erat pinggang nya untuk mendekat.


" Ini bukti nya." Satu tangan Nata menahan pinggang Ibell, kesempatan. dan satu tangan memamerkan video berisi orang-orang langgan Ibell yang menurunkan sayuran dari mobil, bukti yang sengaja untuk memperlihatkan ke Ibell. Ia sudah menebak kalau Ibell tidak akan percaya dengan kerjaannya, secara ia pulang cepat, tidak seperti Ibell yang harus menunggu siang hari untuk menagih uang pembayaran sayuran.


" Percaya kan ?"


Ibell mengangguk.


" So.." Cup.. Nata main sosor bibir Ibell dan berbalik cepat sebelum terong kembali mencium nya akan ke wild-lan Ibell yang sudah berekspresi busuk siap mengoceh.


" Baaang__" Ibell segera menelan kembali ucapannya ada sosok mungil yang entah kapan berdiri di antara mereka.


" Cieeee, Bunda."


Vay melihat tidak sengaja Kelakuan orang tuanya. " Vay juga mau di sayang Ayah__ ah lupa." Vay tetiba menepuk jidatnya konyol. ia kan ke kebun mau memberitahu kan sesuatu.


" Bun, Yah, ada tamu...dua mobil bagus bagus tapi Vay belum lihat siapa orang nya, Karena Ambu gegas mentitah Vay ke sini."


Ibell menatap selidik ke Nata setelah mendengar laporan anak nya.


" Siapa ?" Tanya nya.


" Mana Abang tahu ?" Jawab Nata santai karena benar ia pun tidak tahu. " Ayo princess, kita temui tamu itu siapa ?" Nata meraup tubuh mungil anak jelita nya, berjalan seraya bercanda ria, membuat Vay tertawa gembira di atas gendongan Ayah nya.


Vay sangat senang berada di dekat Ayah nya. Apa aku harus mengalah dengan ego ini ? Ibell tersenyum teduh melihat raut senang Putri nya.

__ADS_1


__ADS_2