Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 179


__ADS_3

Empat mobil tiba di Mall hanya berselang menit, para orang tua bocil bocil nakal yang mainnya kabur kaburan ini sejenak saling pandang, dengan ekspresi susah di tebak.


Sementara para bocil bocil yang melihat orang tuanya masing masing kompak bersembunyi di belakang Dibi. kecuali Topan yang masih datar berdiri tegak siap dapat sanksi nya.


" Eh, eh,eh. Kalian ?"


" Lindungi Pe dari marah nya Ayah." Seru Pelangi di belakang.


Siap gerak !


Dalam ketakutan masing-masing, Delapan bocah ini berbaris rapi di belakang Dibi dengan Pe tepat di belakang tubuh Dibi di susul Vay dan lain nya. Kalian tahu truk gandeng, nah.. posisi mereka seperti itu dengan Dibi sebagai sopir nya, kecuali Topan yang ogah ogahan berbuat konyol bersembunyi dari masalah. Paling cuma di kultum panjang lebar. Batin Topan, Bunda nya kan tidak pernah tega mencubit bin kasar ke anak anak nya. Lagian bersembunyi seperti itu tetap saja kelihatan.


Astaga, Mereka !


Langit dan Senja siap menyemprot ke dua jagoan nya.


" Kalian percuma bersembunyi, Keluar lah ? Utan, Petir !" Seru Langit memanggil anaknya. Keduanya pun Keluar dari barisan ala truk gandeng, Tapi masih enggan untuk mendekati orang tuanya, takut takut telinga mereka jadi korban Mama tegasnya.


"Ama !" Lembut Gema bersuara, Jum melengos mendengar suara lembut suaminya, tadi aja marah kepadanya dan bilang tidak becus mengurus anak, awas saja.. pokoknya puasa malam ini.


Ama keluar dari barisan, menghampiri Jum-Maminya dan bersembunyi di belakang, ia tahu Papi nya itu lagi marah. ia paling takut dengan Papi nya, Lebih baik di cerewetin Mami nya dari pada di plototin Papi nya.


" Kembar !" Seru Biru dengan nada dua oktaf nya. Mentari menggeleng ke suami nya agar nada bicara nya di perlembut, cara Mentari sebagai orang tua memarahi anaknya bukan dengan nada muncrat muncrat tapi menasehati dengan perlahan tapi tegas. itu cara nya selama ini dalam mendidik anaknya.


Si Kembar pun keluar barisan dan berjejer di dekat Topan yang sedari tadi datar datar wae.


Giliran Nata dan Ibell yang memanggil anaknya kompak, tapi Vay masih setia bersembunyi di belakang Dibi,ini salah nya..jadi teman teman nya ikut di marahin oleh masing-masing orang tua nya. Vay tidak enak hati, dua tetes air matanya lolos dan dengan cepat di hapus nya. Dibi yang di dekat Vay, menoleh ke belakang dan menarik Vay untuk berdiri di sisinya, di rangkul nya pundak kecil itu, perhatian.


" Ada yang bisa menjelaskan di sini ? Kenapa semua pada nakal ? Kami bagai cacing kepanasan mencari keberadaan kalian semua ? Kami ketakutan panik tahu nggak ?!"


Hening, Pertanyaan Langit tidak ada yang menyahuti... Tapi detik berikutnya... Petir, Lautan, Pelangi, Bhumi, Angkasa, Badai bahkan Ama kompak menunjuk Dibi, seakan-akan Dibi lah yang harus bertanggung jawab. kan kakak remaja ini yang mentraktir nya permainan ini itu sampai lupa waktu, coba tidak di traktir, mereka kan tidak lama di Mall karena kere tidak bisa bermain. Pikir mereka kompak.

__ADS_1


Vay dan Topan tidak ikut ikutan menunjuk Dibi. Dan Mata para orang tua bocah bocah jahil ini tertuju ke Dibi semua, yang mulut anak Dirgan-Bintang ini melongo kaget karena di kambing hitam kan oleh bocah ingusan.


Sialan ! Sudah ngabisin duit tapi di suruh tangguh jawab pula.


" Kok Kak Di--bi sih ?! wah__"


" Dirgan cilik, Jelas kan ? Kamu itu sudah besar, kenapa masih bertingkah bocah dengan cara membuat mereka bolos sekolah dan malah berakhir di sini tanpa izin, buat panik saja." Semprot Gema dingin mewakili Kepala orang tua ini untuk bertanya, seenggaknya sebelum menghukum anak anak kan, orang tua juga wajib mendengar alasan mereka terlebih dahulu, walaupun sudah tahu bocah bocah ini sudah salah.


Vay semakin menunduk bersalah, tanpa sadar ia menagis lagi, Ibell melihat itu. tapi enggan untuk menghampiri anak nya, anak nya perlu di hukum. Batin nya agar suatu saat bila ingin melangkah harus berpikir dua kali dulu sebelum bertindak apa pun.


Dibi garuk tengkuk, mimpi apa semalam ? Perasaan mimpinya itu bertemu dengan sosok gadis cantik deh, Tapi kenapa dapat sial begini, mana mata orang tua bocah bocah ini seakan akan siap mengulitinya lagi.


" Dibi !" Seru Mentari masih dengan cara lembut nya. Dibi itu pun sudah di anggap nya anak, semasa berpecaran dengan Biru, Dibi sudah lengket dengan nya.


" Aunty, Dibi ber__"


" Bukan salah kak Dibi !" Vay bersuara lirih memotong pembelaan Dibi. Semua ini ulahnya bukan ? Jadi kalau ada yang di hukum, berati diri nya seorang lah yang patut di omelin atau di hukum...Vay bukan pecundang yang akan melimpahkan kesalahan nya ke orang.


Semua pasang mata tertuju ke wajah jelita itu yang menunduk dalam, sepatu nya lebih indah ketimbang orang orang garang di hadapannya.


" Misi ?" Lirih Nata dan Ibell saling pandang sejenak.


" Misi apa sayang ?"


Vay mendongak ke asal suara lembut milik Bunda si kembar. Ah...ia kembali menunduk tidak enak hati.


Semua menunggu jawaban Vay dengan mulut rapat-rapat, penasaran akan misi itu ?


Sebelum menjawab, Vay menarik nafas panjang, mendongak menatap ke-dua orang tuanya dengan tatapan sendu nya.


" Misi menyatu kan Ayah Bunda Vay, Kata Ambu Abah di Desa, Mereka itu lagi musuhan, pikir Vay.. Musuhan itu kan tidak baik. Vay ingin Ayah, ingin Bunda juga. Vay tidak mau mereka marahan, Nanti Ayah pergi lagi dan berakhir Vay tidak punya Ayah." Mata Vay sepat menahan air nya.

__ADS_1


"Kata Ambu lagi..Vay harus membuat Ayah Bunda tidur bersama lagi, Vay juga mau di peluk Ayah Bunda secara bersamaan di kasur bersama seperti cerita Ama yang selalu di keloni Mami Papi nya sebelum tidur, Vay Ingin merasakan itu, Vay_ Vay hiks hiks "


Belum habis isi hatinya di jabarkan, Vay sudah tercekat dengan air matanya sendiri yang susah di tahan nya. Dibi yang di dekat Vay berjongkok dan menghapus air mata sedih Vay.


Nata dan Ibell ? Jangan di tanya, Hati nya menjerit pilu di dalam sana, gara gara ego masing-masing...semua dampaknya jatuh ke psikis anak satu satunya, sungguh.. andai Nata bisa mengulang waktu, ia tidak akan bertindak bodoh hingga menempatkan ke-dua wanita tersayangnya di posisi sedih di tujuh tahun terakhir ini. Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi...ia hanya ingin satu saat ini, melulu kan hati Ibell lagi agar anaknya auto merasakan kelengkapan keluarga yang iri ingin seperti teman teman nya. ia juga mendambakan ke hangatan itu.


Semua Kepala orang tua saat ini menunduk dalam, mereka memetik pelajaran berharga di dalam jerit pilu keinginan Vay mempersatukan orang tuanya kembali rujuk.


Orang tua berpisah dengan ego tinggi masing masing, maka korban yang terdalam adalah sesungguh nya anak yang pasti merasakan dampak negatif nya. Jadi.. sebelum melakukan sesuatu yang berdampak merusak kerukunan rumah tangga sendiri, maka berpikir lah sejuta otak agar tidak ada korban sakit hati dan jauh dari kata perpisahan di antaranya.


" Vay sayang, maafkan Bunda ya... beri waktu untuk Bunda, Vay masih kecil, suatu saat Vay akan mengerti, apa itu rasa kecewa teramat dalam, sayang. Jangan menangis ya..Hari ini, Vay boleh sama Ayah di kota, kan besok tanggal merah jadi libur, gunakan waktu Vay untuk Ayah, Ayah akan mengajak Vay bertemu Oma Opa Vay, Bunda akan pulang ke Desa dulu, Ambu Abah juga membutuhkan Bunda, kasihan mereka."


Ibell tidak lah egois, Vay ingin Ayah nya...maka silahkan, ia akan memberi kebebasan untuk Vay dan Nata, Untuk bersama seperti cita cita Vay... sungguh, itu sangat berat untuk hati kecewanya. Biarkan ia berpikir tenang dulu..Semoga anak nya mengerti dirinya.


Hiks hiks hiks Bunda.. Vay mengejar langkah cepat Ibell yang ingin pergi meninggalkan nya, Nata pun ikut, tak mau menyerah begitu saja, anak nya saja sampai belai belain mempersatukan mereka, jadi ia harus bersemangat.


Ibell berhenti, sejenak menghapus air matanya, berbalik dengan menampilkan senyum manis rasa keterpaksaan nya.


" Hiks hiks, Apa Bunda marah ke Vay ?"


" Tidak sayang." Ibell menggeleng menghapus air mata anaknya.


" Tapi kenapa Vay di tinggal ?"


" Karena Vay kan ingin sama Ayah." Ibell melirik tampan Nata yang nampak teduh dengan mata merah sedih. Ibell tahu... Nata mungkin juga dalam penderitaan, tapi tolong beri ia waktu untuk memperbaiki hati nya, Tujuh tahun ia menderita berjuang sendiri untuk anak nya, bagaimana rasanya ? Hanya Ibell dan Tuhan nya lah yang tahu kepedihan hatinya. Setiap malam di atas sajadahnya, ia menangis dengan apa yang di alami oleh kebodohan Nata. Siapa sih yang tidak sakit hati, lagi dalam keadaan hamil muda tapi ingin di gugat cerai, walaupun tidak terjadi... tapi__ah, sudah lah.


" Vay ingin sama Bunda, Vay ingin ikut pulang ke desa, Ayah...maaf kan Vay ya !" Mata amber itu melirik Ayah nya dengan rasa salah karena lebih memilih ikut pulang ke Desa, Misi nya gagal untuk mempersatukan mereka. malah membuat kekecaun terhadap teman teman nya yang pasti sampai rumah di marahin deh.


Vay bingung, ia seakan-akan makan buah si malakama.


" Tidak sayang, Ayo !" Nata tidak mungkin melepaskan istri dan anaknya di perjalanan malam malam begini menuju Desa. Berbalik ke belakang sejenak melirik sahabat sahabat nya yang di balas kompak kepalan tangan nya tanda ia di beri semangat untuk meraih hati istri nya lagi.

__ADS_1


Tentu sob..Gue akan berjaya.. Terima kasih semangat nya.


" Ayo anak anak, hukuman menanti kalian di rumah." Biru berlalu pergi terlebih dahulu, dan di susul lainnya.


__ADS_2