
Nata menyuruh Petir menceritakan ciri ciri orang yang katanya dua preman itu.
Ada Dirgan yang di perbolehkan masuk keruangan rahasia Nata, karena Dirgan sangat jago men-drawing sketsa.
Langit dan Gema serta Biru pun ada di dalam sana dengan diam memperhatikan Dirgan yang menggambar sketsa dari cerita Petir.
" Apa Lo yakin Nat, Kalau Ibell nggak murni kecelakaan ?" Langit bersuara.
Nata yang sibuk menari nari kan jari nya di atas keyboard, memutar kursinya menghadap penuh ke Langit.
" Kalau kalian menganggap gue udah gila yang main tuduh omong kosong doang, maka pergi dari sini, Gue bisa sendiri nyari pelakunya."
Langit memutar matanya malas, Si bule ini sangat sensitif saat ini, bawaan Nata ingin marah marah terus, ia pan cuma bertanya memastikan saja, Tentu ia siap membantu.
Dirgan dan Petir tetap konsen dengan tugas nya, mengabaikan Nata dan lainnya yang beragumen.
" Lo lagi apa ?" Gema penasaran apa yang sedang di cari oleh Nata di dalam layar nya .
" Retas !"
Ketiga orang yang di belakang Nata kompak saling lirik, Dirgan yang berada sedikit jauh dari Nata sempat melirik sejenak tapi tangan nya tetap saja mensketsa cerita Petir yang kata Petir preman itu berkepala botak.
" Retas apa ?" Biru menarik kursi dan duduk di dekat Nata yang sangat serius menghadap layar, Langit dan Gema berdiri di belakang duduk Nata. Nata tak menjawab, mulut nya sangat irit. Biarkan sahabat nya melihat sendiri ke layar, kan punya mata.
" Ini kan area sekolah anak anak !" Gumam Biru.
Mereka pun memperhatikan video pelataran sekolah hasil retas Nata dengan mudah.
Tangan Nata reflek menyentuh layar di saat video itu memperlihatkan Vay menyalami tangan Ibell dengan ceria. Mata Nata memerah menahan air matanya, Kalian tidak mungkin tega meninggalkan aku. Ujar nya dalam hati.
Langit di belakang Nata menepuk pelan pundak Nata, Sabar.
" Stop !" Biru menekan tombol pause di saat Nata ingin men-zoom wajah Ibell yang duduk di kursi panjang taman sekolah, Biru melihat orang berpakaian hitam di balik pohon besar sempat mengintip punggung Ibell berang sejenak.
__ADS_1
" Coba perlambat di detik ke tujuh, Nah..iya di situ, lihat baik baik di belakang pohon, orang bermasker itu kayak nya memperhatikan Ibell." Biru menjelaskan pendapatnya, mata itu sangat jeli melihat orang di balik pohon padahal hanya hitungan detik terlihat. Nata yang hanya fokus ke wajah Ibell sampai terlewat oleh nya.
" Eum, Gue juga mikir kesitu." Timpal Gema.
" Biar jelas terlihat, kamu coba retas cctv gedung sebelah sekolah anak anak." Ide Langit.
" Nggak usah, Itu terlalu lambat, Gue akan ngeretas cctv jalanan yang di lewati Ibell, menargetkan waktu jam pulang sekolah tadi."
Nata kembali berselancar di tombol itu, Dengan sedikit memeras otak nya karena cctv yang akan ia retas adalah milik pihak berwajib yang lumayan tinggi keamanan nya.
" Drawing sketsa gue uda jadi, Thanks anak ganteng. Kamu boleh keluar, Langit...Anter anak Lo keluar jangan sampai kaki nya nginjak perangkap ruangan rahasia Nata."
Petir cemberut dalam rangkulan Langit menuju keluar, kaki itu ogah ogahan beranjak dari obrolan misi para orang tua di hadapannya, ia pan ingin membantu, masa sudah kelar bikin sketsa wajah eh main di tendang saja. Nyebelin kan ? Ah...Tak apa, ia pan juga punya team kancil smart, Beda nya ia kurang anggota yang menempati posisi bagian hacker. Dan kayaknya posisi itu sangat di rekomendasikan nama Vay deh, Tapi entah lah, Neng Bule aja tidak tahu keberadaan nya yang entah masih bernafas atau benar adanya sudah menjadi abu.
Kalau ia dan kawan kawan nya tidak di perbolehkan membantu, Petir berencana bereaksi bersama teman teman nya dengan ide nya sendiri, ia cukup banyak mendengar informasi barusan yang di obrolkan para papa papa tadi. Sebelum beranjak pun, Petir sempat menempel kan alat penyadap suara di bawah meja, ia dan teman teman nya kan dengan mudah bisa mendengar obrolan para orang tua mereka.
Sketsa wajah yang sudah di buat Dirgan telah di foto oleh Biru, ia mengirim foto tersebut ke tangan kanannya-Dito yang di gadang gadang mempunyai anak buah banyak.
Sementara menunggu kabar tentang sketsa, Nata berusaha meretas cctv tiap cctv yang di lalui mobil Ibell, memang ada satu mobil yang mengikuti laju Ibell yang di prediksi nya mencurigakan.
Pause.
Zoom.
Saat Nata sudah mengcopy paste kode plat mobil yang menurut nya mencurigakan, Handphone Biru berdering berisik memecahkan keseriusan antara mereka.
" Halo Dito ! Bagaimana ? sudah tahu siapa pemilik sketsa wajah itu ?"
" Dari laporan anak buah saya, Dua sketsa wajah itu adalah anak buah dari orang yang bernama Alvin Albian, Bos !"
" Oke, tangkap kedua orang itu, jangan di beri ampun." Biru menyeringai di tatap selidik oleh Nata.
" Laksanakan, Bos !"
__ADS_1
Sambungan pun mati, Semua orang di hadapan Biru menatap tanya wajah Biru.
" Alvin Albian dalang nya !" Biru langsung saja menyimpulkan dengan yakin karena Nata dan Alvin selalu saja bertikai dari dulu.
Braakk..
Nata sampai menggebrak meja marah mendengar nama rivalnya.
" Dia lagi, selalu membuat ulah, dan kali ini sudah sangat melampaui batas, Harusnya dulu gue matiin sekalian." Darah Nata mendidih, kali ini tidak ada lagi ampun buat orang yang bernama Alvin itu karena sudah berani bermain main Nyawa anak istri nya.
" Dirgan, Bilang ke bokap lo agar menutup kasus kecelakaan Ibell, bilang saja kalau aku sudah mengakui itu kecelakaan tunggal. tak perlu di selidiki lagi."
Dirgan paham maksud Ambigu penuh Nata, Sahabat nya ingin bermain kejam saat ini dengan tidak membawa nama kepolisian, Dirgan menurut menelpon papa nya.
" Selanjutnya, bagaimana ? Gue siap bantu Lo, Dito bahkan di luar sana sudah berburu anak buah Alvin."
Nata belum menjawab pertanyaan Biru, tangan nya itu kembali sibuk di tombol layar, Nata ingin mencari titik keberadaan Alvin, tapi terlihat susah, Kening Nata beberapa kali berkerut karena susah mencari info tentang Alvin saat ini, Jelas... Mungkin Alvin mengganti segala identitas nya yang bekas kriminal itu.
" Mungkin saat ini kita harus mencari Alvin dengan manual terlebih dahulu." Nata menatap para sahabat nya yang mengangguk mengerti.
Pembicaraan itu berakhir, di seberang sana...di mana anak anak sedang menguping pembicaraan dengan bantuan alat sadap yang di pasang Petir diam diam, kompak tersenyum setan, Kancil Smart ini menyukai tantangan.
...****...
Di sebuah gudang terbengkalai, Dua wanita beda usia tergolek di lantai berdebu begitu saja.
Ya.... Kedua wanita itu adalah Ibell dan Vay yang belum bangun dari pingsannya.
" Uhh !" Ibell melenguh, nafas nya sesak terasa karena debu di sisi hidung nya menelisik masuk Indra pengendusan nya.
" Vay ! Vay !" Ibell langsung tersadar, mengingat kejadian tadi siang, Gelap gudang itu tidak bisa melihat anak nya yang sebenarnya ada di dekatnya tergeletak begitu saja.
Tak..
__ADS_1
" Sudah bangun cantik ?"