
Ibell dan Vay berangkat dari Desa di Jam 3 subuh seraya sayuran di mobil losbak nya yang Ibell seorang yang mengemudi kan tanpa rekan, kecuali Vay di sisinya, sampai jam lima subuh, ia dan Vay tiba di pasar untuk menurunkan sayuran macam jenis hasil kebun Ambu dan Abah sendiri, Untung ia cuma sekedar mengantar, tidak repot menurunkan nya karena ia sudah punya langganan tetap di pasar tradisional besar di kota ini, Setelah sayuran rampung di turunkan, ia bergegas ke rumah kontrakan sepetak nya yang memang sengaja di sewa dua minggu lalu biar mempermudah mengurus anak nya yang bersekolah.
Beginilah sehari hari aktivitas perjuangan berat Ibell untuk mendapatkan pundi pundi rupiah agar bertahan hidup, menjadi hot mom memang tidak mudah... Tapi jika ikhlas menjalanankan nya, maka buktinya pasti bisa, bekerja seraya momong anak sudah makanan sehari hari nya dalam tujuh tahun ini.
"Vay, let's go, Nak ! Nanti kamu telat."
" Tidak akan, Bunda. Ini baru jam lima kan?, Lima menit lagi, Ok Wonder woman." Rayu tawar Vay, Mata nya sangat lengket untuk sekedar melek.
Ibell tersenyum miris, hati nya sebenarnya pilu, tapi bila ia cengeng, bagaimana nanti masa depan anak nya. Dengan itu ia sekuat tenaga tidak pernah mengeluh di hadapan anak nya apa lagi di hadapan Ambu Abah nya.
Tanpa menggangu tidur anak nya, Ibell turun dari mobil, berputar ke pintu sebelah untuk menggendong anak nya dan membawa nya masuk ke dalam rumah kontrakan sepetekak nya.
" Wah, Mba Issa udah tiba toh, Jagung manis pesanan saya ada kan, Mbak ?"
Ibell terhenti dari langkah nya dengan Vay tertidur di gendongannya, Ah.. Hampir lupa pesanan tetangga kontrakan nya.
" Ada kok mba Lisa, itu di losbak, ambil saja ya, Gratis buat mba Lisa."
"Owalah, jadi kagak enak nih, Jangan gitu atuh Mba Issa." Mba Lisa menaruh paksa uang ke kantong samping kecil tas sekolah Vay yang di sempang Ibell asal asalan. " Kalau mbak nolak, buat si Bule aja deh, lumayan jajan di sekolah nya. Ya udah mbak ambil jagung manis nya ya."
Ibell hanya tersenyum canggung dan masuk ke dalam kontrakan nya yang jauh dari kata mewah, hanya ada kasur lantai dan kardus yang isinya baju ganti nya dan Vay, tanpa ada perabotan lainnya, benar benar sepetak karena masuk kerumah langsung kasur lantai yang tersuguh di mata, Niat hati bersedakah hasil panen namun rejeki untuk Vay.
Jam enam pagi, Vay sudah rapi dengan seragam sekolah yang berbasis internasional, Bukan merah putih layaknya sekolah Dasar umumnya, Kadang tetangga pada heran dengan pemikiran si Ibu Vay yang culun miskin abis tapi lagak nya gedongan.
Di depan gedung sekolah, mobil losbak Ibell yang lebih mendominasi mobil rongsok tak layak, berhenti dengan sempurna. Ibell turun, berputar dan membukakan pintu untuk anak cantik jelita nya.
Pemandangan anak ibu itu yang jauh dari kata mirip tak luput dari mata siswa siswi anak orang tajir semua, Mereka memandang perangai buruk rupa tonggos berpagar kawat gigi dengan bergidik bahu jijik di kala Vay mencium takzim punggung tangan wanita jelek itu dan di balas cium pipi kiri kanan Ibell di pipi putrinya.
" Belajar giat ya sayang, nanti sepulang nagih uang sayuran di pasar, Bunda menjemput mu lagi."
"Wokeee, Wonder woman Vay." Vay menjawab jenaka dengan dua jempol nya untuk Ibell, pertanda ia anak mandiri, tanpa di tungguin oleh wali pun ia bisa sendiri.
" Dadah Bun." Lanjut nya berlari ke koridor, Ibell pun pergi tergesa-gesa lanjut kerja lagi sesuai izin nya ke Vay.
Di depan kelas, Vay di jegat satu siswa laki laki yang bernama Petir, Kakak kelas yang jahil gila yang pernah di ceritakan ke Bunda nya.
" Vay mau lewat !" Tukas Vay sedikit garang.
" Boleh, tapi sapa manis dulu, Seperti... Selamat pagi Petir tampan."
" Ogah ! Dari mana terlihat tampan nya, adanya ingusan iya."
__ADS_1
Anak Langit Senja ini mengusap hidung nya di katain ingusan. Baru juga mau membalas ledekan Vay, Tiga bocah Triplets dan dua anak Twins- Lima Anak Mentari-Biru tiba di hadapannya.
" Kamu jahil lagi ke adik kelas ya ?" Hardik anak Triplets berjenis perempuan ke Petir yang bernama Pelangi Sagara.
" Hehehe, sedikit ! Lebih tepatnya belum." Cengir Petir ke sepupunya seraya melirik Vay yang menampilkan wajah songong nya. Hanya adik kelas satu ini yang tidak ada takut nya ke kakak kakak kelas nya, maka nya Petir sering menjahilinya.
" Bubar !" Badai Sagara merangkul pundak Petir menuju ke kelas meninggalkan saudara kembar nya. Di mana mana ia dan Petir selalu bersama bila ada waktu senggang.
" Vay, itu kan nama mu ?" Tanya Pelangi ke adik kelas nya seraya membaca tag name di seragam sekolah itu.
" Iya kak, itu namanya, Anak ini yang Bhumi terang kan ke kalian yang jago main monitor nya." Bhumi Sagara kembaran Angkasa Sagara yang menyahut kakak perempuan satu satunya.
Lantas anak yang paling pendiam nan datar Topan Sagara melirik Vay dari atas sampai ke bawah menggunakan sudut matanya, Vay juga membalas lirikkan misterius itu dari atas sampai ke bawah memindai perangai datar Topan. Pan kata bunda nya kita jangan takut ke sama siapapun bila kita memang tidak salah.
" Wah, Nanti ajarin saya ya, Vay ?" Antusias Pelangi ramah.
Vay hanya mengangguk takzim membalas senyuman Pelangi tak kalah ramah nya. Andai murid seramah Pelangi semua, maka damai lah sekolahan. Batin Vay menyukai sikap ramah Pelangi.
" Kalau sistem mati eror parah karena virus, Langkah apa yang pertama kita Ambil ?" Si Datar irit bicara Topan bersuara mengetes Vay yang kata adik kembarnya pintar itu.
" Pertama__"
Kringg..
" Hahaha, Di cuekin." Angkasa meledek Topan-Kakak datar nya, bergegas pergi sebelum di beri plototan seram.
" Kabur ah." Bhumi pun mengejar langkah saudara Twins nya. Tinggal Topan dan Pelangi.
"Bola mata keluar pun, Pe mana takut, Tak colok nanti tuh mata." Pelangi malah tercengir kuda seraya menarik tangan kembarannya untuk masuk kelas. Ia dan Topan kembar tiga sama Badai pun, lah...Makan minum nendang bersama di dalam rahim Bunda Imut nya kenapa harus takut. iya kan ?
" Ish." Hanya itu respon dengus lirih Topan.
Di jam istrihat, Vay keluar kelas dengan bekal di tangan, Baru satu langkah, teman kelas nya sudah ada yang jahil dengan sengaja menabrak punggung nya sehingga bekal berisi roti sandwich buatan Bunda nya terjatuh mubasir.
Yah... Puasa lagi ! Batin nya sedih memandang nanar makanan nya. Teman nakal nya main pergi saja.
" Minta maaf dulu ke Vay." Petir yang tak sengaja melihat itu, Segera menahan bocah nakal laki laki yang mengerjai Vay. ia memang suka menjahili anak setengah bule itu, tapi kalau orang lain yang menjahili nya, ia tidak suka melihat nya, mendadak ia jadi penolong Vay.
" Vay tidak pantas di sini, apalagi aku harus minta maaf ke dia, apa kakak tau, Vay itu anak ibu tonggos, jelek pokok nya deh.. Pasti kak Petir pun akan jijik berdekatan dengan Vay kalau melihat Ibu nya Vay."
Vay naik pitam Bunda nya di hina, Tak apa ia di jahili tapi jangan bawa bawa kekurangan penampilan wonder woman nya.
__ADS_1
" Dika, Kamu nakal ! Bunda Vay itu cantik seperti Barbie, Bunda Vay hanya lagi berkedok dari orang jahat kata nya, kata Bunda, kami harus bersembunyi biar win sampai tujuan, paham kamu !" Vay mendorong teman sekelas nya sampai terbentur meja. Bocah itu terpekik sakit pinggulnya.
" Hiks hiks hiks, aku laporkan kamu ke guru, awas..hiks hiks."
Vay tak perduli ancaman teman sekelas nya, berlalu pergi menuju taman sekolah. Petir pun mengikuti langkah Vay yang rupa rupanya menangis.
" Caelah, Kamu tuh anak cengeng toh." Petir sengaja mengejek, agar Vay tidak menangis lagi. dan benar dugaan nya. anak setengah bule ini mengusap segera air matanya.
" Vay tidak cengeng, dan pergi dari sini, Vay anak mandiri, Vay tidak butuh di bela kak Petir yang sama saja julid nya."
Petir bukan nya pergi, Malah duduk di sisi Vay di bawah pohon.
" Ini tempat umum, Aku bisa duduk di sini sesuka ku." Degil Petir keras kepala, ia malah mengeluarkan bekal nya dan mengunyah santai di depan mata Vay. ia tahu Vay lagi lapar, melihat leher Vay yang tetiba bergerak menelan saliva nya sendiri, Tapi adik kelas nya ini kalau di tawarin cuma cuma pasti menolak. Dengan itu ia mengeluarkan taktiknya.
" Huhahuuu." Petir pura pura kepedesan. " Ah, pedas amat sih, Coba deh Vay, ah...kamu kan Cemen, mana ada bocah manja seperti mu suka makan pedas. Pasti tidak berani kan ?"
" Kata siapa Vay tidak berani, sambal goyang lidah bikinan Ambu saja, Vay doyan. Cabe plus gorengan Ambu pun cemen buat Vay." Vay main serobot makanan Petir yang tinggal satu di kotak itu yang katanya pedas punya. Tapi se.. Bukan pedas kok ? Malah manis rasanya, ah...ia di tipu Petir.
" Eeeh, habiskan, masa bekas kamu mau main taruh di kotak makanan ku sih, Aku ogah ya bekas gigitan ompong kamu." Petir tersenyum jahil, sudah berhasi membuat Vay memakan bekalnya.
Sayang juga kalau di buang, bekal Vay kan sudah raup jatuh tadi.
Saat asyik mengunyah, ada wali kelas Vay yang menghampiri mereka, dengan kabar...Ibu Vay di suruh menghadap persoalan insiden Vay mendorong Dika sampai pinggang anak itu membiru.
" Itu salah Dika, Bu ! Petir saksi nya." Petir membela Vay lagi di depan guru.
" Ah.. iya, Orang tua mu pun sudah Ibu kabari, kamu akan jadi saksi setelah pelajaran terakhir usai."
Vay mendadak tidak semangat makan lagi, ah..ia sudah mengecewakan Bunda nya. Pasti Bunda nya akan sedih kalau tahu anaknya membuat anak orang terluka.
Di sebuah Office, Langit yang dapat kabar di suruh menghadap ke sekolah Petir malah melimpah kan tugas nya ke Nata yang sibuk melamun saja.
" Kenapa harus gue, itu anak Lo !" Tolak Nata tak semangat, ini itu tidak ada yang penting baginya kecuali monitor memantau perkembangan pencarian Ibell.
" Ya sudah, Lo yang ngurus hotel, meeting gih sono, jangan makan gaji buta." Langit tersenyum tipis melihat tatapan tajam tak terima Nata.
" Senja mana ? Suruh Senja saja, Lo yang asyik bikin anak gue yang Lo repotin, nyuk." Nata masih menolak keras.
" Senja lagi sibuk ngurusin Lautan-anak bungsu gue lagi demam, Tolong lah Nat. Lo kan sohib gue." Langit memohon.
" Ck, ada maunya aja, sok ngaku sahabat." Walaupun mendengus, Nata tetap saja beranjak. Ah.. mungkin melihat bocah-bocah dasar kelas satu meringankan rasa rindu nya ke anaknya, pasti anaknya itu sebaya dengan mereka.
__ADS_1
Karya teman, Manau tau suka... Mampir bila berkenan🤗😘.