
"Nata Ibell benar benar tuh anak, ini uda empat hari lho, masih belum keluar kamar juga. Mas.. Dobrak aja gih pintu nya, takut di dalam sudah pada lewat." Omel Yola memandang tajam pintu kamar Nata.
Di lantai sudah banyak barang barang kotor, Teko, gelas, piring, sampah dan seprai kotor pun ada berserakan.
"Duh, Tuan, Nyonya, Tadi pagi buta barang barang kotor ini tidak ada lho, Maaf..Bibi akan bereskan." Bi Tina tidak enak hati, segera beranjak mengambil kantong plastik hitam besar dan memasukkan kardus pizza serta sampah lainnya, Juga membawa kebelakang piring kotor dan seprai kotor.
"Biaran aja sih, Dek. Anak mantu kita masih bernyawa kok, bukti nya tuh barang barang kotor ada di luar kamar, jangan di ganggu."
Kemakluman Kemal hanya di beri tatapan datar oleh Yola.
" Nama nya aja pengantin baru ya..gitu deh. Apa kamu lupa Dek, Kita aja dulu sering lupa waktu dan lupa tempat melakukan nya seperti di kantor, di dalam mobil, untung kamu tidak merayu mas di dalam Mall, kalau itu...beeehh..Malu dek. hehehe."
Kemal terkikik geli melihat wajah rona Yola yang di ingat kan masa lalu kemesuman nya.
" Tapi Mas tebak nih ya, Bukan Nata deh yang mengkarantina Ibell, tapi sebaliknya.. Secara kamu pun sama, Sudah tahu rasanya ehem ehem ehem eh..Nambah lagi lagi dan lagi.. Hehehe piss Wild, Mas hanya bercanda."
Kemal segera mengangkat dua jari nya saat tatapan tajam Yola menoleh horor ke Netra pekat Kemal.
Ceklek..
Pintu kamar Nata terbuka, tiga pasang menoleh kompak ke penampakan Nata yang hanya terlihat Kepalanya saja dengan rambut acak acakan yang tadi lurus kini terlihat ikal nggak karuan, macam singa. Hardik Yola dalam hati.
" Bi Tina, Tolong ambil kan kompor camping dan___"
" Hey, anak gendeng, Kamu sebenarnya lagi apa di dalam kamar sampai pesan kompor segala hah ?"
Belum lagi Nata menjawab Mama nya, Suara Ibell terdengar.
" Bang Nata, jangan lama lama, Ibell nanti bisa masuk angin nih, AC nya di matiin aja dulu."
Braakk..
Glek..
Yola, Kemal dan Bi Tina, saling pandang sejenak dengan Nata yang main tutup pintu, sejurus mereka hahahaha tertawa geli bersama seraya kepala mereka kompak menggeleng geleng ya salam.
__ADS_1
" Benar kamu Mas, Seperti nya Ibell lah yang mengkarantina Nata, Ketagihan seperti nya Mas mantu kita itu." Yola membetulkan juga ucapan Kemal. Kemal hanya mengangguk seraya memeluk bahu Yola turun ke punggung mengelus sabar.
" Sabar ya wild, Nanti hasil nya dapat cucu kok." Ujar Kemal. Yola yang di ingat kan cucu jadi semberinga.
"Nyonya, maaf menyela, itu__pesanan kompor camping Tuan Muda bagaimana, saya siapkan atau__"
" Jangan Bi, Jangan di beri." Sahut Yola cepat.
Ting tong..
"Paket."
Bi Tina pamit untuk menyambut suara di luaran sana. Kemal dan Yola kembali bersantai di hari libur di ruang keluarga mereka.
" Tunggu sebentar ya Mas, Nanti saya masuk minta uang nya dulu ke majikan saya" Ujar Bi Tina ke tukang paket dan beranjak masuk membawa kotak pesanan majikan nya.
" Nyonya, Tuan, paket nya sudah sampai."
Kemal meraih nya, ia dan Yola menebak kalau kotak rapih ini adalah pesanan Nata.
"Entahlah..Mas bacain ya...Toko herbal Prita Tata 'Permen kuat 6 hari 6 malam sehat laki laki terbuat dari herbal berkualitas rahasia punya' ."
"Huapa ? 6 hari 6 malam ?"
Yola dan Bi Tina tercengang hah seraya menelan ludah kompak mendengar bacaan Kemal di kotak itu. Sementara Kemal segera saja memfoto alamat toko tersebut sebelum nanti kotak kembali ke empu pesan.
"Sabar Dek, jangan shock begitu, ayo kita ke kamar saja dari pada pingsan gara gara Kelakuan Nata yang di luar nalar mu."
Kemal tertahan menuntun Yola akan suara Bi Tina.
" Maaf Tuan, Kurir di depan lagi menunggu bayarannya, soalnya Tuan muda menggunakan metode COD." Bi Tina hampir lupa akan pembayaran.
" Berapa Bi ?"
" Di kotak tertera deh Tuan, Bibi belum lihat."
__ADS_1
Kemal kembali melirik kotak tersebut.
" Anak kamu wild benar benar deh ya meresahkan, pesan beginian tapi yang bayar Mas." Kemal menarik dompet nya dan mengeluarkan sembilan lembar uang bergambar pak presiden pertama republik RI kebanggaan kita. Sejurus kepergian Bi Tina, Kemal menyeringai lebar memandang Yola dan kotak rapi itu bergantian dengan tatapan ambigu nya. ia akan mencoba khasiat obat tersebut sebelum memberikan nya ke Nata, pan ia yang bayar, jadi tuan kotak pun berpindah ke padanya. iya kan ?
"Wild, kita ke kamar yuk." Kemal langsung menuntun Yola untuk ikut, tangan satunya membawa riang kotak pesanan Nata dengan seringai lebar nya nan hati yang teramat riang.
Masuk ke dalam kamar pengantin baru..Nata segera menyusul istrinya di atas kasur yang aduhai membahana badai eksotis tanpa busana.
Penampakan kulit putih Ibell sudah di penuhi tanda cinta dari ujung dahi ke ujung mata kaki ulah kebuasan Nata, Eni pun tak luput dari serangan menggairahkan dari Beno.
Begitu pun sebaliknya, Nata juga di penuhi tanda laknat cinta di sekujur tubuh nya dari kebuasan Ibell yang tadi nya malu malu meong eh.. sekarang berubah ganas ganas macan atas ajaran demi ajaran ranjang dari mantan sang Cassanova.
Lihat lah ulah Ibell, Penampakan warna kulit Nata yang asli hanya tersisa kedua bola mata dan kedua lubang hidung nya saja yang tak mempunyai tanda merah cinta. Nata kini berubah kulit dari putih bersih menjadi kulit merah ke maron maronan, Beno pun sama tak luput dari serangan Eni. ( Ayo bayang kan tubuh maron Nata.. Hahaha )
" Ibell nggak capek ? Kalau capek kita istirahat saja dulu seraya menunggu pesanan permen kuat Abang datang." Nata memegangi kedua lututnya yang sudah bergetar.
" Ibell mah nggak capek, enak ini.. hehehe. Yang capek itu Abang ya.. Lihatlah lutut nya bergetar dugem dugem gitu."
Nata tersenyum geli akan ledekan Ibell, enak saja mau kalah sama Ibell, malu dong selama ini mempunyai predikat sebagai cassanova tapi kalah sama mantan perawan.
Sebenarnya sih ia ingin mengakhiri karantina mereka, Tapi jujur...Semua di tubuh Ibell menjadi candu bagi nya... lutut memang gemetaran, tapi Beno selalu saja mengajak tawuran bersama Eni.
"Kalau uda capek, kita keluar kamar saja yuk, udahan karantina nya, Ibell juga lagi butuh sinar matahari, takut kena penyakit kuning." Ibell melirik soulmate Eni yang baru mengacung lagi padahal ia baru memutar telunjuk di dada bidang Nata yang merah marun sekarang ini. " Ibell mandi ya." Lanjutnya menjauh. Nata tersenyum penuh arti.
" Ok, kita mandi bersama, janji...Beno tidak akan nakal." Nata segera meraup tubuh Ibell yang tidak bisa berjalan ulah kebuasan Beno.
Di dalam kamar mandi, Mereka di bawah shower berdua seakan akan sedang hujan hujanan.
" Bell, Eni lagi apa ?" Tangan Nata sudah bergelayut manja manja mesra di dada Ibell.
"Lagi bobo !" Singkat Ibell
"Kata Beno, main yuk.."
Ha ha ha.. Kompak mereka cekikikan geli, beberapa detik kemudian suara cekikikan geli itu berubah menjadi desaha* yang sekian kali nya dalam karantina mereka.
__ADS_1