
Chiiit..
Mobil iring iringan masuk ke dalam pelataran rumah mewah Kemal dari para sanak saudara, mobil pengantin pun ada di antara enam mobil tersebut.
Yap... tidak ada acara nginap nginapan di hotel atas keinginan Nata, lebih tepatnya desakan Ibell.
Keluarga sudah pada masuk ke dalam rumah, Sang pengantin paling belakang.
" Bajunya ribet amat sih." Ibell mendumel, baju berpeyet nya seakan akan membuat nya sesak, turun dari mobil pun rasanya susah menjulurkan kakinya ke bawah.
Nata yang sudah membuka kan pintu, menggeleng kecil, Istri nya sedari perjalanan uring uringan melulu.
" Bagaimana kalau aku gendong saja ?" Tawar Nata. Ibell mendongak ke wajah rupawan mempesona tapi mata mesum itu.
" OGAH." tolak nya menekan jelas menyebalkan di kuping Nata, tapi bibir itu tersenyum geli memperhatikan Punggung Ibell berjalan mendahului nya. Ingin mengekor tapi tertahan akan gawai nya yang berbunyi, Nata membiarkan Ibell melangkah sendiri dan memilih mengangkat gawai nya yang menurut penting.
Di ruang tamu, keluarga inti Nata sudah berkumpul memenuhi sofa, Ibell duduk canggung di dekat Bintang dan Mentari.
" Lho, kok di sini, Nata mana ? Kamu pasti capek sayang, langsung ke kamar pengantin aja gih." Yola yang baru bergabung menginstruksi Ibell yang terlihat canggung.
"Nah, itu Nata." Sambung Yola. " Kamu bawa masuk Ibell gih, kasihan pasti capek !"
" Langsung tempur aja, Bell." Bintang menggoda, mengedipkan matanya ke Nata.
" Lho ? Kok tempur sih ? mau berperang ? jangan dong, masa pengantin baru di suruh perang, Mending malam pertama langsung enak, iya nggak hulk ?" Kepolosan lempeng Mentari tiada tara, Ipar sepupu Nata yang satu ini memang ajaib.. pintar dan bodoh terlihat tipis menyertai nya.
Nata, Dirgan, serta Biru...saling pandang, seulas senyum mereka bertabrakan. Para orang tua saja pada tertawa geli menertawakan kepolosan Mentari.
"Malam pertama__ Hmpppt" Biru langsung saja membekap mulut Mentari-istrinya, jangan sampai aib ranjang mereka di jabarkan.
" Sudah Nat, Bawa Ibell masuk !" Kemal bersuara dengan kedipan goda nya ke Nata, bisa di bilang... Belah terus sampai pagi.
__ADS_1
" Ayo Bell."
Ibell yang tahu kode kode laknat dari para keluarga sebenarnya sudah memerah malu. Mereka pikir ia polos, cih... Tidak ada malam pertama malam ini, ia pastikan itu..ia sudah bersumpah untuk pak mesum nya yang kagak di sangka kagak terduga, ia lah yang menjadi istri Nata yang artinya ia pula yang akan membuktikan sumpah serapah nya untuk membuat Nata tidak mendapatkan hak dari celup halal nya, siapa suruh bersikap mesum terus menggoda nya naik ke ranjang haram, rasakan pembalasan ku malam ini. Batin nya tersenyum manis penuh arti seraya berpamitan santai ke hadapan keluarga besar suami dadakan nya.
" Mas, tadi kedip kedip arti nya apa ?" Yola menghampiri duduk Kemal dan duduk santai di dekatnya.
" Biasa, urusan laki laki, kayak nggak tahu aja."
" Urusan laki laki mah..kagak jauh dari ranjang, iya nggak para sista cantik."
Mata sipit Fifi memindai wajah satu persatu para istri istri di hadapannya. Sejurus mata sipit itu memandang Eldath yang sedari tadi datar dingin kulkas saja, tapi kalau di ranjang..cuih, ngemis coeg.
" Kalian pada ngomongin ranjang, ingat...ada Lyn dan Gilang yang masih polos." Meca bersuara untuk mengganti topik, nama yang di sebut saling adu pandang, Lyn bergidik dapat kedipan genit dari Gilang.
" Sudah sudah, pada istirahat gih..pilih kamar yang kalian suka asal jangan masuk ke kamar pengantin dan juga kamar pribadi ku." Seru Kemal membubarkan Keluarga nya.
Aduh..
Serentak, mereka menajamkan telinga masing-masing mendengar ringisan aduh dari kamar pengantin. Pasti Ibell sedang di bobol, Nata kesusahan sehingga...aduh aduhan. Pikir mereka pada mesum, Lyn dan Mentari lah yang nggak kepo. Mentari malah sibuk menarik tangan Hulknya untuk mencari kamar nyaman mereka.
" Nggak di rumah besar ini, nggak di rumah besar Abang, eh..kagak ada kedap suara nya, cih..gusur saja." Ledek Fifi ke Kemal sekaligus ke Eldath.
" Berarti kedengaran dong Fi, ah uh ah nya?" Meca menggoda, hahaha tawa mereka serentak terdengar akan anggukan jujur Fifi. Meca dapat cubitan lembut dari Vero sebagai peringatan untuk tidak ikut ikutan mesum.
" Hust, diam ." Yola menaruh telunjuk nya di bibir agar terdengar suara apa lagi di balik pintu kamar pengantin. kalau suara yes ah..pelan pelan.. maka fix.... sebentar lagi ia akan dapat cucu. asyikk.. momong Dedek betulan, bukan dede dedean mas suami di bawah perut itu. batin Yola.
" Kok tidak ada suara lagi di dalam sana, apa. sudahan...masa berlangsung sedetik doang." Heran Yola. Dan kali ini mereka benar-benar bubar akan suara Eldath untuk jangan mengganggu aktivitas pengantin baru.
Didalam kamar saat ada suara aduh... Nyata nya Ibell terjerembab dengan bokong nya menyium lantai akan ulah baju sempit ketat berpeyet nya yang susah bergerak.
" Duh, sakit nggak ? sini aku bantu..eh eh eh.. Aku belum siap bebersih lho, kamu main naik naik kan tuh baju." Nata menelan ludahnya susah payah akan pergerakan Ibell yang ingin bangun dari lantai namun susah maka nya baju yang menjuntai itu di angkat sampai atas lutut membuat mata mesum nya silau.
__ADS_1
"'Pikiran kok ngeres wae. Sana buruan bebersih, atau saya duluan nih ?" Ibell kesal, di mana sertifikat S2 Nata saat ini. orang jatuh di tanya sakit apa nggak ? Ya sakit lah.. Ibell jadi meragukan S2 itu.
" Suit, Cielah..kagak sabar ya, baby ? Tenang saja, dapat kok dari akang jatah ehem ehem malam ini, pan saya sudah lama menunggu ranjang saya ada kamu di atas nya." Goda Nata menunduk kan wajah nya untuk mensejajarkan wajah cemberut istri nya. Walaupun belum cinta, kalau masalah ranjang yaaak..hayuuu aja baginya mah.
" Ngimpi kamu, Pak ! Saya tidak mau ada ritual layak nya pengantin baru." Tolak santai Ibell. Kini Nata lah yang cemberut, sial... walau sudah sah.. masih di tolak nya saja.
" Kenapa nggak mau ? Ini ini semuanya halal lho bagi saya, Kamu Istri aku sekarang, jadi wajib bagimu untuk memberikan nafkah batin, begitu pun aku sebaliknya.". Cup...Satu ciuman godaan Pipi dari Nata, saat ini ini.. Nata menaruh telunjuk nya di bibir sensual Ibell. Pupil mata Ibell melebar.
Jangan sebut gue Ibell kalau sumpah gue kagak terlaksana, Batin nya tersenyum cerdik.
" Bukan menolak pak suami ku tersayang, Lebih tepat nya menunda karena dua hal... First thing, Saya pernah menyumpahi anda karena sikap Anda yang selalu sewenang-wenang mesum terhadap saya dengan terpaksa saya pernah mengatakan kalau mudah mudahan anda tidak mendapatkan jatah anu anuan di malam pertama. Dan itu harus saya kudu laksana." Santai Ibell jujur.
Nata menatap intens ke Ibell... sejurus.." Ok, tak Masalah, karena saya orang nya baik nan tampan juga pengertian, saya akan kabulkan itu, malam pertama tidak ada, besok ada malam pertama lain nya." Nata tersenyum jumawa.
" Terima kasih akan pengertian nya, my husband. Tapi ada lagi Second thing nya.. Boleh ?"
Nata mengangguk tak masalah.
" Anda kan katanya pernah bilang anda itu orang nya tidak pernah memaksa kan kehendak, kalau di tolak maka dengan pasrah, fine fine saja. Betul ?"
Dengan polos nan cepat, Nata mengangguk membetulkan, ia memang tak pernah memaksa kehendak wanita untuk bercinta dengan nya, tapi kesuka relaan lah yang ia junjung selama ini agar permainan panas itu terasa nikmat tanpa ada pihak yang di rugikan di ujung cerita, Lo puas gue pun puas, begitulah pandangan nya.
" Bagus masih mengingat nya, karena saya di posisi itu sekarang, saya lagi nggak mau melakukan nya, Malam pertama malam apalah artinya.. sampai saya siap."
Glek, kali ini Nata kurang setuju, enak saja istri dadakan nya itu mau menyiksa Beno, Masa punya istri malah puasa lama sih. Ogah ya !
" Ogah." Tolak nya mengangkat dagu Ibell dengan satu jarinya. Mata itu pun saling beradu. " Maksud saya, sampai kapan ? Aku akan menunggu ?" Nata mengalah untuk saat ini, melihat mata indah itu tidak tega juga ada ketakutan di dalam sana. Ibell sebenarnya dalam gugup saat ini, Nata tahu itu akan melihat sorot mata itu saja.
Ibell perlahan tenang, menepis tangan Nata agar melepaskan dagu nya. " Ah, begini saja..saya siap melakukan nya malam ini dengan suka rela, asal kan.. Adik bapak cuci dulu dengan air panas agar steril dari kuman kuman, pan Bapak kan sering celup celup tuh, kemungkinan ada bakteri yang nempel." Ibell tersenyum jumawa melihat wajah pias Nata akan nasib adik nya yang akan di cuci air panas. Syarat apa itu ? Batinnya ngeri.
" Nanti bisa berari-ari dong punya saya." Tunjuk naas Nata kebawah sana. Ibell tersenyum geli beranjak ke arah kamar mandi.
__ADS_1
" Bukan urusan saya itu sih, sebelum di steril kan...saya mah ogah di ajak." seru Ibell sebelum tertelan pintu kamar mandi. di dalam sana ia terkikik tertahan geli akan syarat nya sendiri.
Itu pelajaran dari ku karena selama ini kamu sudah banyak melakukan zina, rasain.