Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 148


__ADS_3

Nata bangun dari tidurnya sudah tidak menemukan Ibell di sisinya, Ia pun beranjak keluar setelah memindai jam sudah di angka tujuh pagi.


"Bi Tina, Ibell ada di mana ?"


"Di taman belakang seperti nya tuan muda ? apa Tuan butuh sesuatu ?"


Nata menggeleng, sejenak melirik pintu kamar orang tuanya yang masih karantina.


" Bi, Mama Papa masih bernafas kan, Bi ?"


" Masih Tuan, tadi sudah minta bekal piknik." Bi Tina tersenyum geli melihat kepala Nata menggeleng geleng kepala dan beranjak keluar, mungkin hendak ke Istri nya, Pengantin mah bebas, Mata baru melek eh.. Langsung nyari pasangan nya. Batin Bi Tina.


Sementara Ibell, Wanita baik hati itu dalam riang berjemur di pagi hari seraya menyiram tanaman bunga macam jenis milik Yola dengan bibir berdendang kecil.


Terimalah lagu ini dari orang biasa


Tapi cinta ku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga Aku tak punya harta


Yang ku punya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu...


Nata menghampiri Ibell, dari belakang, ia memeluk langsung perut istri nya dan melanjutkan senandung Ibell tepat di sisi telinga Ibell dengan merdu. istrinya melirik kaget sejurus tersenyum manis.


Hari hari berlalu kini cinta pun hadir


Melihatmu memandangmu bagaikan bidadari


Lentik indah mata mu manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat.


Rasa ini tak tertahan


Hati ini slalu untukmu.


Mereka saling tersenyum manis, Nata mengecup pipi kanan Ibell tanpa melepaskan pelukannya dari belakang.


" Mau sarapan sekarang ?"


Nata menggeleng. " Lanjut kan saja menyemprot bunga nya, aku suka melihat mu seperti ini, cantik." Rayu Nata.


" Gombal." Ibell memukul pelan tangan Nata, menaruh botol spray bunga nya dan berbalik. " Bangun tidur tuh mandi, Bang !" Ledek nya memencet hidung, padahal ia tahu suami nya sudah mandi hadas besar sebelum berjamaah subuh, Namun Nata tadinya lanjut tidur.


" Haah." Nata malah menghembuskan nafas nya tepat di wajah Ibell.


"Hahaha, sudah yuk, kita sarapan."


Nata mengangguk dan merangkul pinggang Ibell seraya berjalan masuk.


"Hari ini Abang mau ke kantor, ada laporan yang harus di tanda tangani langsung, Tapi cuma beberapa jam kok, siang juga pulang, kan masih cuti pengantin baru." Nata selalu menggoda di akhir kata nya, mengedipkan matanya genit di saat berucap pengantin baru.


"Kamu sih nggak mau di ajak honeymoon nya, jadi cuti nya di rumah saja." Lanjutnya.

__ADS_1


Ibell tersenyum kecil, ia memang menolak kemana mana, ia tipe orang penyendiri, menyukai ketenangan bin jauh dari keramaian, berbanding terbalik dengan sifat mama mertua nya yang heboh, katanya yang secara garis besar, Ibell mendengar cerita Nata akan sifat ke-dua mertuanya.


" Percuma honeymoon, Bang."


" Kok percuma ?"


" Ya iyalah percuma, Karena nanti juga nggak keluar dari kamar hotel, ujung ujungnya karantina saja, mending di rumah aja karantina nya, sama sama kamar ini." Jelas Ibell dengan pemikiran simpel nya, Nata manggut-manggut membetulkan, wong lebih asyik di kamar terus kok tawuran ala ala Beno dan Eni.


Di tempat lain, Alvin tidak sengaja bertemu dengan Dian, senyum licik Alvin terlukis tajam, ia punya rencana bagus untuk Nata dan Ibell konsumsi, ia tidak suka dengan penolakan mentah mentah Ibell dan berujung ia kalah telak dari Nata, mungkin memberi mereka sedikit hadiah pernikahan yang baru seujung kuku itu adalah hiburan menguntungkan bagi nya.


"Apa saya punya masalah dengan anda, pak Alvin." Dian memandang kaki Alvin yang menjulur menghadang langkah nya.


"Tidak ada, saya hanya ingin berbisnis, ikut saya." Titah Alvin tidak menerima penolakan.


Dian mengekor memasuki lift apartemen.


" Kamu ada urusan di sini ?"


Dian terdiam, ia tidak mungkin berucap habis melayani hasrat orang semalaman penuh.


"Bukan urusan anda, dan katakan apa yang anda inginkan dari saya, Atau mau jasa saya ?"


Mata Alvin menatap Dian dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan, Namun tidak ada salahnya mencicipi tubuh itu untuk memuaskan hasrat nya.


"Boleh ! setelah nya kita akan membicarakan bisnis apa yang akan kamu kerjakan untuk saya."


Dian tersenyum manis, hari ini ia akan memperdaya orang kaya di hadapannya.


...*****...


Aww..


Shiit..


" Maaf mbak__Dian ?"


Nata yang ingin berkendara pulang sehabis ngantor tidak sengaja menyerempet Dian yang tiba tiba menyebrang memotong laju sedang nya.


" Aww, pak Nata. Maaf pak, ini salah saya yang buru buru ngejar jadwal bus di halte ini, awww sakit." Drama On dengan Dian berpura-pura kesakitan di bagian kaki nya.


Nata yang sebenarnya malas berhubungan lagi dengan mantan sekretaris nya sedikit terpaksa menawarkan diri untuk mengantarkan pulang. ia harus tanggung jawab.


" Terima kasih pak, saya terpaksa mau, karena kaki saya sakit."


Dian terpekik yes dalam hati. Lihat saja Ibell, kamu akan menangis adik ku sayang.


Sampai di sebuah apartemen, Nata mengerut kan dahi nya, Dian kok bisa tinggal di apartemen mewah seperti itu. Namun tak mau lama lama, Nata menuntun Dian ke unit, lebih cepat kelar lebih baik kan, agar ia bisa cepat pulang bertemu Ibell-istri yang selalu masuk ke dalam pikirannya.


" Duduk dulu ya pak, saya buatkan teh kesukaan Bapak."


" Tidak, saya buru buru, Terima__"


Penolakan Nata tak di hiraukan Dian, wanita itu kekeuh ingin membuat kan minuman khusus untuk Nata.


" Cuma sebentar kok, sebagai rasa tanda terima kasih saya, kan kita juga Keluarga sekarang pak."

__ADS_1


Lima menit menunggu, Dian datang membawa teh dua cangkir dengan serbuk perangsang khusus untuk Nata, menjebak adik iparnya dan sebenarnya ingin menggantikan posisi Ibell sebagai nyonya muda Abraham, Bukan embel-embel membantu Alvin saja. Tapi kalau dapat uang dari Alvin kenapa tidak. Sekali berlayar dua pulau terlampaui. Hebat kan dirinya.


" Ini pak, silahkan minum dulu setelah nya bapak boleh pulang kok, saya pamit ganti baju dulu."


Nata hanya mengangguk yang sekarang menerima telepon dari salah satu pekerja nya yang melaporkan hal penting, Sampai Dian selasai mengganti pakaian formal nya menjadi baju tipis seksi menempel di lekukan tubuh pun Nata masih setia berbicara serius, sempat melirik datar ke arah Dian.


Apa maksudnya ni orang, meresahkan.


Ting Tong..


" Tunggu pak, saya buka pintu dulu, itu pasti kurir makanan dan ah...minum dong teh nya." Dian sedikit was was, Takut takut Nata tak meminum teh khusus buatan nya, ia juga tidak mau terlalu terlihat memaksa, bisa bisa ia di curigai oleh Nata.


Kepergian Dian membuka pintu, Lantas Nata menarik teh asal asalan di meja dengan mata masih tertuju ke smartphone nya, menenggak air berwarna itu sampai habis.


Dian yang baru bergabung, melihat teh sudah tandas tersenyum licik dalam hati seraya menaruh sekotak pizza di atas meja. Dian pun meminum teh nya sampai tandas tanpa curiga akan rasa tehnya yang sedikit berbeda rasa, Dian tidak sabar apa yang akan terjadi setelahnya, ah... Ibell pasti menangis bombai mengetahui suami nya tidur bersama kakak tiri sendiri, ia akan merekam aksi mereka dan mengirim kan nya ke Ibell.


Saat ingin berpamitan, Gawai Nata kembali berbunyi.


" Hallo sayang, ada apa ?"


" Mama masuk ke rumah sakit, cepat datang."


Suara Ibell terdengar cemas di seberang sana.


" Kok bisa ?"


" Kata Papa gara gara permen pesanan bang Nata, Mama kualahan dan keletihan sepertinya."


Nata sempat tersenyum tipis, lucu aja mendengar nya. padahal ini ada korban nya. " Abang ke sana sekarang."


Tut


" Pak, sini dulu ya..saya mem__"


" Saya buru buru Dian, dan ah... Kalau ada yang bertamu tolong baju nya yang sopan, saya tidak tertarik melihat nya." Nata beranjak pergi.


Dian mengepal kan tangannya dapat penghinaan dari Nata secara halus namun membuat mental nya jatuh.


" Argh, sial... Kenapa tubuh saya yang merespon panas, apa jangan-jangan yang minum teh itu adalah__"


Ting Tong..


" Nata balik lagi kah ?"


Dian tersenyum jumawa, ia kira Nata berubah pikiran dan ingin lebih Lama bertamu spesial di unit nya yang dapat pinjam dari Alvin selama dalam misi.


Ceklek


" Maaf mbak, uang tadi yang anda berikan kurang." Kurir g***food buncit lah yang datang kembali.


" Iya, saya akan membayar nya, tapi tolong saya, saya membutuhkan orang untuk__" Dian segera menarik kurir buncit untuk masuk dan menutup pintu dengan cepat. Tak ada Nata kurir buncit pun jadi yang penting rasa panas di ************ nya terobati. padahal kurir ini sangat jelek bau keringat matahari lagi.


Bagai kucing yang di umpan ikan asin, sang kurir oke oke saja, melotot ngeces saat dengan santai wanita saiko di hadapannya main copot baju saja sampai naked di depan matanya. ah..hari ini dapat rejeki nomplok, Duda baik mah dapat rejeki saja.


Dan bisa di bayangkan apa yang terjadi ya pemirsa semuanya. (Hahaha, author cuma bisa menertawakan kesialan Dian, Nata berperut buncit plus berbau matahari yang Dian dapat.)

__ADS_1


__ADS_2