Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 152


__ADS_3

Cepat cepat Nata bersembunyi di belakang tubuh Ibell yang tersenyum geli menertawakan nya karena Mama nya benar benar percaya bualan ceplos Ibell. Mamanya main tarik pisau buah dan mengacungkan pisau itu ke diri nya.


" Ma, itu_it, Ibell bohong, Mutia memang tetiba hadir dan mengajak Nata berpoligami, Tapi kan anak mu ini menolaknya, Kalau tidak percaya, tanya Ibell saja." Nata gelagapan, ratunya ini anti poligami,eh..mantu laknat nya menyenggol sisi wild mama nya. Beginilah...anak sendiri di acungi pisau, seram amat deh ah..ogah lah diri ini macam macam kalau mama nya saja seperti ini kelakuan nya.


Ibell mengangguk ke Yola sebagai jawabannya. ia pun tidak menyangka kalau mertua nya bisa segalak itu akan bualan nya.


" Kirain kamu mau mau saja, Mama kebiri juga tuh pusaka kamu sampai tinggal separuh." Seru Yola kembali duduk di sofa secara kasar. Nata menelan ludahnya kasar.


"Jangan di kebiri ma, Beri dalaman anti pelakor aja yang punya gembok, biar gembok nya Ibell yang pegang, mau pipis.. pipis di celana aja dari pada nyeleneh khilaf." Ibell terkikik dalam hati akan ide konyol nya. Yola pun menyeringai lebar, ternyata mantu nya somplak tegas juga sebagai istri siaga yang ogah ada bau bau pelakor di antara mereka.


" Ih, Kalian me__" Nata tidak jadi mengumpat karena langsung dapat dua pasang mata yang mendelik tajam. " Abang mau ke kamar dulu, Eni jangan lama-lama ya, nanti Beno kangen lagi" Nata pergi dari pada berbicara salah di antara ke dua wanita istimewa nya, Habis lagi di marahin atau ide konyol Ibell yang akan memberi nya sempa* gembok baja tersampaikan, kan tidak lucu, bagaimana Coba nanti cara jalannya kalau kurungan Beno dapat CD baja. ia bagaikan pria bodoh kalau di rumah, wanita selalu menang.


" kok bisa Mutia bertemu kalian ? terus di mana ?" Tanya Yola menatap lekat lekat wajah lelah Ibell.


Ibell pun menceritakan kejadian di kantor tanpa tak terkecuali ke Yola.


"Tapi ma, perasaan Ibell justru tidak nyaman melihat seringai Dian_Kaka Tiri Ibell, entah kenapa Ibell takut melihat nya, padahal walaupun dulu kak Dian sering ngebully Ibell tapi biasa aja, namun kali ini hawa nya sangat buruk yang Ibell rasakan, apa dia ada niat jahat kah ke Ibell ?"


Ibell curhat manja ke Yola, ia nyaman dengan mertuanya ini, merasa kalau Yola adalah Mama kandung nya sendiri yang mungkin bisa saja memberi nya solusi.


"Sudah jangan di ambil pusing, yang penting kamu sedia kala aja berada di dekat suami mu, dan bikin Nata semakin klepek-klepek lagi sama kamu, ada mama yang selalu mendukung mu."


" Terima kasih Ma." Ibell tersenyum hangat, Mertuanya sangat baik.


" Eum, Bell...Kita jalan jalan yuk, kebutik atau ngafe gitu."


Sebelum menjawab, Ibell memperhatikan jam tangan nya. Mau magrib batin nya tidak setuju. " Maaf ma, Ibell seperti nya tidak bisa, mau mandi hadas selesai dapet, Ibell rindu berjamaah sama Bang Nata, satu pekan ini sudah terlewat."


Yola tersenyum bangga, ah...ia dapat mantu Soleha walaupun belum berhijab tapi setidaknya mantu nya tidak lalai akan tugasnya.


Di tempat lain, Mita dan Dian punya niat buruk ke Ibell yang mengambil jalan pintas untuk membuat Ibell menderita.


Anak Ibu ini memasuki pelataran rumah yang terlihat seram mencekam...Ya, mereka menemui orang pintar atau hal tabu yang melanggar agama.


" Ma, Ini benar rumah Ki Sumo, kok seram amat ya ?" Dian bergidik ngeri yang baru turun dari mobil cicilan hasil sana sini jual tubuh nya.


" Yakin, Mama masih ingat kok, dulu kan mama pernah ke sini untuk melet papa tiri mu, tau mau bangkrut jadi nyesal, mau cari yang lain, eh Mama juga sebenarnya cinta ke papa tiri mu itu, Tapi ah.. bagaimana kalau kamu melet Nata juga sekalian mumpung kita di sini, manjur lho."


Dian mengangguk setuju, Nata jual mahal dukun bertindak. Batin nya tersenyum licik.

__ADS_1


" Ayo ma, kita beri pelajaran ke Ibell dari jampe jampe Ki Sumo, Tapi ia tidak minta tumbal seperti harus tidur satu malam kan, Dian takut syarat nya seperti itu yang sama seperti di tivi tivi itu."


"Tidak kok, Mama aja dulu nggak ada begituannya."


Dian akhirnya bernapas lega, ogah lah diri nya melayani syahwat pria bau tanah, iiih.. gidik nya jijik. Kedua nya pun semakin melangkah masuk ke teras.


Tok..Tok..Tok.


" Ki Somu, Ini Mita sudah datang."


Tidak ada sahutan dari dalam, Dian di samping Mama nya merinding bulu kuduk nya. suasana di waktu magrib ini sangatlah mencekam.


Tok...Tok..Tok..


" Masuk !"


Akhirnya ada suara dari dalam Namun terdengar dingin.


Mita pun menekan kenop pintu yang sedikit reot. Masuk sedikit was was karena suasana nya benar benar sunyi senyap. Lah...Mana orang yang menyahut itu ?


Aaargh...


" Kenapa ? Apa saya seperti hantu ?" Seru Ki Sumo sangat dingin suara itu yang mendominasi menyeramkan.


Bukan hantu lagi, Tapi moyang nya hantu. Batin Dian.


" Silahkan duduk dan jangan membatin atau moyang nya hantu akan mengikuti mu sampai tujuh turunan."


Glek..


Dian mengangguk takut, ia pun dapat tatapan mematikan dari Mita yang artinya... Apa Mama bilang, Ki Sumo ini hebat kan.


Ke-dua nya duduk bersisian, seumur umur Dian tidak pernah bermimpi akan melakukan hal nekat ini, Tapi demi menjatuhkan Ibell, ia rela melakukan apapun.


" Apa niat kalian datang ke sini ?" Tanya Pria tua renta yang berkulit coklat buncit pendek punya.


" Saya mau memberi pelajaran ke wanita yang sudah merebut cinta saya, Ki. Padahal wanita itu adalah adik saya sendiri, tapi dengan tega menikung kakaknya sendiri, mentang mentang kami hanya saudara tiri hingga adik saya itu menghianati saya." Dian mendrama layak nya wanita yang di dzolimi, wajah itu tertunduk sedih.


" Baik lah, ada foto nya ?"

__ADS_1


" Ada, Ki. ini !" Mita lah yang menjawab seraya mengeluarkan foto Ibell dari tas nya dan memberikannya ke Ki Sumo.


" Coba ya saya terawang langsung, Kalian cukup diam."


Ruangan Ki Sumo pun kini berasap dengan bau menyan perdukungan pada umumnya membuat Mita dan Dian bergejolak eneg menyerang perutnya.


" Hmm, Seperti nya saat ini tidak bisa !" Ujar Ki Sumo dengan keringat segede ketumbar keluar dari pori-pori dahi nya.


" Kenapa memang nya, Ki. Kok tidak bisa ?" Seru Mita penasaran, Dian pun sangat penasaran.


" Tunggu sebentar lagi, orang nya lagi sholat mungkin, jadi susah. Wanita di foto itu aura nya tidak bisa di sepelekan, terlihat penurut tapi punya sisi lain."


Mita dan Dian mengangguk reflek membenarkan ujaran Ki Sumo. Ibell memang penurut tapi menyebalkan kadang kala.


" Coba lagi Ki, mungkin bisa." Dian tak sabaran.


Ki Sumo pun kembali mencoba namun masih nihil, kini keringat dingin segede biji jagung menetes dari pelipisnya.


" Masih belum bisa, Orang nya lagi mengaji anti bala. Mungkin malam Jum'at ini belum bisa, datang lah malam Jum'at lain lagi." Ki Sumo angkat tangan, biasa nya sangat mudah memberi kiriman ke orang tapi kalau orang nya mempunyai tameng agama kuat, ia juga tidak mau kenapa kenapa yang mungkin bisa berbalik menyerang nya.


Belum juga Dian dan Mita bersuara, ada seorang pemuda buncit yang Dian sangat kenali.


" Nih Bah, air teh untuk ke-dua tamu abah, saya sudah buatin__Loh loh..Mbak ini kan mbak yang pernah membuat kancing celana saya rusak itu kan ? Iya betul ! Masih ingat saya kan mbak, kita kan pernah Ons barang." Pemuda buncit duda ini terpekik senang, ia ternyata dapat tamu dari wanita yang pernah membuat nya puas yang sudah lama berpuasa.


" Tunggu dulu, kalian pernah Ons ?" Mita yang tercengang prustasi, bisa bisanya anak nya itu memilih pria buncit butek kagak punya modal lagi. Tapi kenapa Dian mau mau saja, di pelet kah..secara kurir ini adalah anaknya dukun.


" Ayo Ma, kita pergi dari sini, jangan sampai Dian yang di pelet klepek-klepek oleh pria kurir buncit ini." Dian berbisik sangat pelan ke Mita. Ia tidak mengira malam Jum'at ini dapat sial nya.


" Maaf Ki, kami Permisi dan seperti nya kami tidak akan ke sini lagi." Dian secepatnya menarik Mita untuk pergi, Ogah benar meminum teh dari hasil racikan mas kurir kalau ada jampe jampe nya kan bahaya, bisa saja ia tergila-gila akan orang buncit ini. Bigg No No pokoke. Kabuuur !


" Apa itu Ons ? Ons itu anak timbangan kan yang satu ons dua ons, begitu kan ?" Ki Sumo yang tidak paham akan singkatan itu jadi kepo.


" Hehehe, Bukan Bah.. Ons itu singkatan dari One night stand atau bercinta satu malam sama orang yang kita tidak kenal sebelumnya, jadi anak mu ini Duda tak perjaka lagi. Mengerti kan Bah ?"


Ki Sumo menggeleng, ia cuma mengerti perdukunan.


" Ya sudah kalau begitu, tapi abah mau tidak punya mantu cantik seperti klien abah tadi ?" Goda sang anak.


" Tidak mau, calon mantu durhaka."

__ADS_1


Hahaha.. Sang kurir terbahak-bahak mendengar kan penolakan telak Abah nya.


__ADS_2