Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 227


__ADS_3

Bhumi masih berlarian menuju pintu keluar gudang, ia kesusahan mencari jalan nya karena suasana nya remang cahaya. Jendela yang reok ia hancurkan ! Bukan apa apa, bom yang ada di tangan nya itu tinggal satu menit lebih beberapa detik ngitung mundur.


Braaak.


Lantas mata semua orang yang d luar gudang tertuju ke arah suara kaca jendela yang di hantam oleh Bhumi.


Biru Cs sampai melongo melihat Bhumi pelaku nya, mata Biru sampai ia kucek sendiri, takut takut hanya halusinasi doang melihat salah satu anak kembarnya ada di netra nya.


" Ayaaaah, Bom ! Lari !!!"


Apa ? Bom katanya ?


Semuanya terkejut, apalagi Bhumi melempar bom itu ke arah kumpulan Biru yang masih di sandera dengan todongan senjata oleh para anak buah Alvin. Jelas mereka kocar-kacir.


Anak sialan ! Umpat para anak buah Alvin, Bahkan orang tuanya sendiri mau di bom, Pikir mereka. Tapi Biru serta anak buah nya paham akan maksud Bhumi yang melempar bom itu ke arah nya, Intinya.... Bhumi ingin mengecoh anak buah Alvin agar mereka bebas dari todongan senjata.


Dan berhasil, Mereka terkecoh dengan ulah Bhumi, Setelah letusan dahsyat terjadi, Biru dan para sahabat nya serta para anak buah nya kini dengan sigap menyerang musuh yang masih melongo, apa yang terjadi di dalam sana ? bukan nya bos nya itu yang memegang kendali saat ini ? Tapi kenapa ada bocah yang beranjak remaja itu main lempar bom dari dalam ?


Dor.. Dor...Dor..Dor.


Biru serta anak buah nya main tembak musuh tanpa ampun, anak buah Alvin tinggal beberapa orang yang membelah diri menggunakan senjata pun, Tapi itu pun pada sembunyi.


Biru mempercayakan sisa anak buah Alvin ke Dito yang mengurus nya. ia dan ketiga sahabat nya berjalan cepat masuk ke gudang di mana Bhumi sudah tidak ada di depan mata mereka, entah kemana anak bungsu Biru itu bersembunyi. Yang jelas Biru ingin menjewer telinga anak nya yang Badung-badung susah di beri tahu.


Pasti bocah bocah lainnya pun ada di dalam sana. Tebak mereka prustasi sendiri akan kenakalan para anak anaknya. kalau terjadi sesuatu bagaimana coba ? Para papa papa macho ini sangat takut dengan amukan para istri mereka.


" Tadi benar Bhumi kan ?" Langit pun yakin tidak yakin dengan mata nya.


" Seperti itulah !" Dirgan menyahut seraya mata itu ke sana kemari menggerlya di setiap langkah nya mencari keberadaan Nata dan lainnya.


" Itu tandanya anak anak kita ada di dalam sana ?" Gema mempercepat langkahnya.


" Tadi sudah ku beri peringatan anak itu, tapi__ ah !" Biru speechless sendiri, tak habis pikir dengan keberanian para kurcil itu.


Mereka terus mengobrol dengan langkah cepat tapi penuh kewaspadaan dengan senjata api di tangan masing masing.


Di sisi Nata, Ayah Vay ini belum mendapati keberadaan Alvin, semua ruangan sudah di telusuri, tinggal lantai atas. Pasti di atas guman nya.


Kaki terpincang itu pun melangkah pelan menaiki tangga besi menuju ke gudang atas.


Ibell dan para Kurcil melihat itu, semuanya melangkah ke arah Nata yang masih jauh di tempat nya.


Sementara Alvin, Benar adanya di lantai dua sedang bersembunyi, senjata ada di tangan nya dengan badan terluka terkena ledakan bom yang entah kenapa bom sialan itu berada di ruang kontrol nya.


" Gue kira anak anak itu cuma upil sampah. Ternyata pembawa masalah !" Alvin menggerutu kesal dalam hati, mengumpati bocah bocah itu. Pemicu masalah nya adalah si Kurcil hingga semua rencana nya berantakan yang sudah di setting dengan apik untuk Nata. Ekspektasi nya di luar dugaan. Damn !

__ADS_1


" ALVIN ! GUE TAHU LO DI SINI, KELUAR LAH KALAU LO BUKAN PECUNDANG !!!"


Alvin mendengar suara penuh amarah Nata, tubuh nya yang terluka terkena ledakan bom itu membuat tangan nya cedera hingga harus mempunyai siasat untuk menghadapi Nata yang walaupun sudah tertembak tapi amarah itu memberi kekuatan tersendiri.


" Untung bomnya sudah berfrekuensi rendah, kalau tidak, Sudah mati Gue !" Alvin menarik nafas sejenak. Sejurus mendongakkan kepalanya di balik kardus kardus dan doorr.


Shiiit..


Nata terloncat kaget dapat serangan tembakan tiba tiba, Tubuh itu pun reflek bersembunyi di balik rak penuh kardus debu entah apa isinya.


Door !


Suara tembakan saling membeli antara Alvin dan Nata membuat Biru dan lainnya menyadari titik suara ribut itu.


" Dari lantai atas." Dirgan berlari duluan di susul Biru, Langit dan Gema. Tapi Gema dan Biru menyadari ada suara dari arah lain menuju ke titik berdiri nya.


" Kalian duluan saja naik nya, bantu Nata. Biar kami di sini menghadapi suara ramai langkah itu." Gema memberi titah ke Dirgan dan Langit. ke-dua nya pun berlari kecil menaiki tangga menuju lantai atas.


Sisa Biru dan Gema bersembunyi untuk menyambut suara langkah langkah berisik itu yang rasa rasanya bergerombolan, grasa grusu.


Biru dan Gema saling mengkode angguk dengan senjata sudah siap menarik pelatuk nya.


Huawaaa..


" Ayah !"


Bukan hanya si kembar dan Guruh-Ama yang kaget karena di todong senjata yang hampir di lepas pelatuk nya, Biru dan Gema pun terkaget parah. Hampir saja membunuh anak sendiri ! Batin Biru dan Gema.


" Nakal ! Nanti papi akan mengkultum kalian." Gema menunjuk Ama dan Guruh. Biru pun melirik anak kembarnya dengan tatapan peringatan nya.


Si Kembar kompak tercengir piss kecuali Topan yang miskin ekspresi. Ama sudah bergelayut manja di lengan Papi nya, merayu agar tidak di marahi.


" Jangan di marahin, Mereka sudah menyelamatkan nyawa ku dan Vay dari bom ganas tadi." Ibell membela. Para Kurcil melambung tinggi, kecuali Dibi, Topan dan Guruh yang masih datar saja.


Kuping Biru dan Gema masih berfungsi kan ? kedua Papa ini seperti tidak percaya dengan ucapan Ibell perihal bom. Ke dua Papa ini tidak tahu keahlian khusus yang masih tersembunyi di diri para anak-anak nya. Bagaimana kalau para orang tua mereka tiba tiba tahu akan project yang di bilang bahaya itu sedang dalam pengerjaan si Kurcil dengan Topan yang memimpin nya ? Pasti projects mereka akan gagal karena dapat larangan dari para orang tuanya.


Dan sejurus kaki Ibell itu pun ingin naik ke anak tangga, di mana di lantai sana senjata masih saling bersahutan.


" Jangan naik !" Biru menghadang Ibell dengan cara merentangkan tangannya di tangga itu. Biru tidak berani menyentuh kulit istri orang.


" Bi, Aku harus melihat keadaan Nata, Dia terluka." Paksa Ibell ingin naik.


" Ayolah Ibell, mengerti situasi, kami tidak mau membahayakan nyawa mu dan kalian anak anak, kenapa ingin ikut naik juga" Biru berdecak pinggang, menatap galak para Kurcil yang ingin mengikuti Ibell yang masih di hadang nya.


" Kami hanya mengawal Tante Ibell !" Celetuk Pelangi. di beri tatapan mematikan oleh Biru. Topan tidak terima, dengan sigap menarik adik perempuan nya untuk berdiri di belakang nya, Padahal itu ayah nya sendiri, Overprotektif nya sangat di luar batas.

__ADS_1


" Topan, Ayah kan__"


" Sudah lah Bi, Masalah mengkultum mereka nanti saja, kita harus naik membantu Nata dulu." Gema menyela...Menarik tangan nya yang di gelayuti Ama. " Kalian jangan__"


" Ama ikut ya Pi ?" Ama merengek dapat sentilan kesal dari Gema yang ingin memperingati.


" Nyawa mu ada berapa, eum ? Apa perut lemak kamu mau kempes ?"


" Ish !" Ama cemberut di elus perut nya oleh Papi nya.


" Gema, Aku ikut !" Ibell memaksa. Biru dan Gema saling melirik meminta persetujuan bersama.


" Ayo !" Biru terpaksa mengiyakan karena Ibell terus memaksa. " Tapi kamu harus setia di belakang kami, tidak boleh gegabah atau Nata akan membunuh kami karena tidak bisa menjaga mu." Warning Biru, kepala Ibell reflek mengangguk setuju.


" Dan kamu Dibi, Sebagai orang tertua dari umur mereka maka harus menjaga mereka agar tidak naik, Uncle tidak mau dari kalian ada yang terluka." Biru menatap wajah Dibi dalam dalam memberikan peringatan keras nya.


" Baik Uncle." Angguk patuh Dibi


Biru, Ibell dan Gema pun melangkah naik dengan Biru paling depan di susul Ibell di tengah. Para bocah bocah yang di larang ikut melihat pertunjukan seru tapi menegangkan hanya duduk asal asalan di lantai berdebu dengan nafas tak semangat.


Dibi yang berada di anak tangga itu menghadang, berjaga jaga. Mana tau ada yang main nyelonong naik tangga. Ia tidak mau di hukum oleh Biru kalau melanggar perintah Uncle nya.


" Kak Dibi, ngintip yuk !" Vay membujuk halus. Dibi menggeleng.


" Seru tahu kak, kita bikin konten !" Ama tercengir di plototin Dibi. Lo pikir di atas sana hiburan ? Mata Dibi memutar malas. Dan kini mata Dibi tertuju ke Pelangi.


" Jangan ikut ikutan merengek Pe, Kakak tidak suka mendengar nya."


Pelangi yang benar adanya mau membujuk jadi menelan ucapannya kembali, Duduk bersender bosan di bahu Topan yang anteng layaknya patung tak bergerak demi kenyamanan Pelangi.


" Topan ! Kita kelabui kak Dibi yuk !" Rayu Pelangi berbisik di sandaran nya itu ke bahu Topan.


" Kali ini kak Dibi benar." Datar Topan satu pengertian oleh Dibi.


" Ck, tumben banget kompak, biasa juga seperti tikus dan kucing." Gerutu Pelangi. Di atas sana masih heboh terdengar seru sayang sekali di lewatkan.


" Malam ini panjang banget ya waktu nya, kapan besok pagi nya ? Ama sudah nggak tahan ingin makan coklat sepuluh tokoh sesuai janji kalian."


Ama mengubah topik percakapan, dari pada bosan mending membayangkan cokelat yang manis enak itu kan.


" Jangan ngarep kita besok bisa keluar rumah dengan bebas, kita pasti akan kena hukuman tahu nggak, Ndut" Cibik Angkasa.


Door !


Aarg !

__ADS_1


Baru Ama ingin bersuara menyahuti Angkasa, ada tembakan nyasar dari atas mengenai salah satu dari mereka ulah Alvin yang tersudut di atas sana oleh Nata dan rekan nya. Niat Alvin ingin menembak Vay, tapi salah sasaran mengenai.....?


Gantung lagi ah...!


__ADS_2