Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 220


__ADS_3

Nata sampai di lokasi kejadian, Garis polisi yang terbentang main di terobos nya, ia tidak peduli teriakan polisi yang sedang bertugas di TKP tersebut.


Mobil istri nya hanya tinggal bangkai nya saja, Hati itu bagai di remas remas sakit.


" Maaf pak, kami sedang bertugas, Anda siapa ?"


" Saya suami dari korban !" Air mata Nata ia hapus.


Sang polisi yang melihat itu menjadi iba, Membiarkan Nata ada di lokasi.


" Kami turut berduka pak, korban sudah menjadi abu seperti nya, karena kemungkinan kecil untuk selamat dari kecelakaan terjun bebas dan terbakar."


Lantas Nata mendongak ke arah polisi itu dengan mata marah nya.


" Istri dan anak saya tidak meninggal, jaga ucapan anda." Marah nya menunjuk wajah pak polisi dengan kasar, sang polisi paham dengan keadaan orang yang Sedang kehilangan, emosi nya pasti tidak bisa di jaga nya. jadi pak polisi terima saja di tunjuk.


" Mana yang kalian bilang abu itu, hah ? Setidaknya mana tulang manusia di sini, apa kalian menemukan nya ?" Nata menendang kesal bangkai mobil Itu. Sejurus menonjok perut polisi itu karena tidak terima anak istri nya di kabarkan meninggal dan menjadi abu kata nya, jelas Nata naik pitam.


Polisi lain nya yang melihat keributan itu, segera menahan Nata.


" Selidiki dengan benar, Istri saya tidak mungkin terjun bebas begitu saja, pasti ada pemicunya, Dan cari istri juga anak saya di sekitaran sini, saya yakin, istri saya masih hidup." Entah kenapa Nata merasa yakin kalau Vay dan Ibell masih bernafas, hati nya berkata itu. Nata menatap tajam polisi lainnya yang memegangi bahu nya, sang polisi yang mengerti tatapan kode itu, melepaskan Nata.


Sang polisi hanya mengangguk takzim, Tapi dalam hati nya ia sedikit susah menyelidiki pemicunya apa, karena mobil sudah tidak terbentuk.


Mata Nata memicing jeli memperhatikan mobil bangkai itu dengan decakan tangannya di pinggang, Ia menemukan sisi kanan body dan bagian kiri body sangat berbeda, di bagian kanan itu terdapat bekas gesekan kuat hingga meninggal kan lecet parah, di bagian kiri hanya lecet biasa. Fix...Nata langsung menyimpulkan bahwa mobil Ibell sempat berserempetan dengan mobil lainnya. Mata itu pun mendongak ke atas di mana posisi mobil sebelum terjun bebas.


" Abang yakin Ibell, kamu masih hidup, kamu dan anak kita masih hidup." Gumam nya tidak percaya kalau istri nya sudah menjadi abu.


Seraya berjalan pergi dengan telpon di telinga nya, Nata berbicara serius kepada ante antenya untuk menyelidiki kasus ini, Nata tidak mau hanya mengendalikan hasil polisi saja yang menurut nya lelet.


Kabar buruk itu pun telah tersebar, Semua keluarga dan kerabat Nata, datang berbondong-bondong ke rumah Kemal kecuali Eldath, Fifi dan Lyn yang tinggal di luar Negeri. Para sahabat Vay pun hadir dengan hati kehilangan masing-masing, apalagi Petir yang hobi mengusili Vay, Petir merasa kehilangan terdalam, Ama pun yang sebagai sahabat satu kelas nya menjadi kehilangan, maut begitu kejam kata nya yang baru tadi siang di sekolahan ia dan Vay bercanda dan di tegur oleh guru di kelas.


Petir berjanji ke diri nya sendiri akan berhenti menjahili Vay kalau Neng Bule itu kembali di antara mereka lagi.


Suasana pengajian berduka di rumah Abraham kini menggema menyambut kepulangan Nata yang berantakan terlihat, wajah Nata nampak dingin datar, ia kesal dan marah dalam hati mendengar ada pengajian kematian anak istri nya.


" APA YANG KALIAN LAKUKAN ?" Marah nya, orang orang di hadapannya menganggap ke-dua wanita nya telah meninggal, cih !

__ADS_1


Lantas suara pengajian itu terhenti, Yola menangis terus di dalam sandaran Kemal, Yola dan Kemal juga yang lain nya pun terpukul, tapi mau tak mau harus menerima kenyataan pahit ini.


" Bro !" Biru menepuk bahu itu, menguatkan. di tepis oleh Nata dengan kasar.


" Kalian mengaji untuk kematian anak istri ku atau mengaji keselamatan mereka ? Kalau kalian mengaji untuk kematian, maka bubar kan ! Ibell dan anak ku masih hidup, paham kalian ?"


Tidak ada yang menjawab, Hening.. Hanya suara sesunggukan tangis kecil Yola, Ambu juga Pandji yang terdengar. Mata kerabat Nata kini terlihat merah karena habis menangis kehilangan sosok Ibell dan Vay. Mita pun ada di antara mereka turut berduka, di dalam hati sedih Mita bergumam, Ibell ! sampai kan salam mama ke Dian, Semoga kalian berdamai di alam sana.


" Ma ! Mama kenapa menangis ? Apa mama juga percaya kalau mantu dan cucu mama meninggalkan kita untuk selamanya ?"


Nata menghampiri Yola yang terduduk sedih di senderan Kemal. Yola tidak mampu menjawab satu kata pun, ingin rasanya Yola berkata mantu cucu nya masih hidup demi menghibur hatinya, Tapi kenyataan harus di hadapi.


" Kamu yang sabar, Nak ! Terimalah kenyataan ini."


Busst..


Telinga Nata seakan berasap, Andai bukan Kemal yang berkata itu, maka sudah dapat bogeman nya seperti polisi itu.


Nata hanya melengos, mata itu kini tertuju ke Pandji, di hampiri nya Pandji yang duduk di kursi roda.


" Apa papa juga percaya kalau anak papa meninggal ?"


" Tapi kenapa menangis eum ?"


Pandji bungkam.


" KALIAN ! Jangan ada yang menangisi istri dan anak ku !" Mata Nata menatap satu persatu kerabat nya, berhenti di Yola yang masih saja menangis pilu.


" MAMA !" Sentak Nata tidak sadar, Mata Nata memancarkan kekesalan. Yola bukan nya berhenti menangis semakin sedih saja, Bukan karena sentakan Nata, tapi ia sedih dengan kenyataan ini. Anaknya sangat terpukul hingga tidak mau menerima kenyataan, Yola tidak mau anaknya gila nanti karena tidak mau menerima kenyataan.


Biru yang tidak mau ada keributan di hari berduka itu, Menarik paksa Nata untuk meninggalkan ruangan.


" Kalau ada yang mengaji asas kematian istri ku, Awas saja !" Nata masih sempat mengancam semua orang di dalam tarikan paksa Biru.


" Diam lah, tenangkan diri mu, biarkan mereka mengaji untuk keselamatan Ibell dan Vay bila mana memang benar kata hati mu kalau mereka masih hidup, kami pun menginginkan nya itu."


Biru sekuat tenaga menarik kekuatan gajah Nata yang ogah ogahan menurut. Biru paham akan kata kehilangan, tapi bisa kah Nata bersikap dewasa.

__ADS_1


" Lo sama aja sialan !" Nata menarik kasar tangan nya yang di geret Biru. Nata masuk ke kamar Vay, di ikuti Biru.


Sebenarnya, tujuannya bukan ke kamar Vay melainkan ke ruangan rahasia yang pintu nya ada di kamar anaknya, dan pintu lainnya tembus ke gudang.


" Ngapain Lo ikut ?" Nata melarang Biru, ia ingin sendiri saat ini, tapi sepupu nya ini tuli di bilangin.


" Gue mau nemenin Lo, gue takut Lo bunuh diri secara tidak sadar." Biru tersenyum bodoh dapat tatapan tajam Nata


Nata baru sadar, kalau sepupu nya ini banyak anak buah nya yang di gadang gadang ketua gangster tapi bersembunyi di belakang Dito-sang tangan kanan Biru.


" Bi, anak buah Lo ada yang punya herder nggak ?"


Biru menaikkan satu alisnya, bingung. Jangan jangan Nata menyimpulkan kecelakaan Ibell tidak sewajarnya. Kaki itu pun mengikuti langkah Nata yang sudah membuka pintu rahasia. ke-dua orang dewasa ini tidak ada yang mengetahui kalau ada bocah bocah yang mengikuti nya.


Wah keren ! Ternyata kamar Vay ada ruangan rahasia yang isinya banyak monitor canggih khusus teknologi.


Bocah-bocah ini menyelinap masuk keruangan rahasia milik Nata sebelum pintu itu tertutup otomatis.


" Ada sih, Dito punya banyak ! Tapi buat apa anjin* pelacak itu ? Jangan jangan Ibell dan Vay__!"


Biru terdiam atas kode tangan Nata, Sensor monitor Nata berkedip merah tanda ada penyusup masuk.


" Siapa pun di ruangan ini yang tidak ijin masuk maka keluar lah sebelum sensor tembak otomatis aku aktif kan !" Nata siap menakan tombol start.


Sembilan bocah seketika muncul satu persatu dari rak rak tinggi dengan wajah polos mereka tapi menyebalkan bagi Nata. Mau apa anak anak nakal ini mengikuti nya ? Batin nya kesal yang saat ini Nata tidak dalam waktu banyak untuk sekadar bertanya tanya. Otak Nata lagi di bolak balik ingin mencari dalang siapa kah yang membuat mobil istrinya masuk jurang.


" Sialan benar Lo mau nembak otomatis anak anak gue." Biru memutar bola matanya, si kembar kan ada di antara sembilan bocah itu.


" Suruh mereka keluar !"


" Om, kami mau di sini, Aku yakin kayak pikiran Om, Kalau Neng Bule masih hidup, kayak nya sih ya, preman yang mengejar aku dan Vay waktu di TMII ada sangkut pautnya deh sama kejadian ini !" Petir bersuara.


Nata dan Biru saling lirik dengan senyum evil nya.


" Oke, kamu boleh di sini, tapi si Kembar dan lainnya keluar dari teritori Om, atau robot robot itu akan Om aktif kan dan menghajar kalian, mau ?" Ancam Nata.


Delapan bocah-bocah yang di usir seketika melirik dua robot manusia di sisi kanan. Mereka terpaksa keluar dengan masing-masing mencibik kan bibir nya. jangan sampai sensor di mata robot itu aktif dan berujung membuat tembakan.

__ADS_1


" Om Nata tidak adil, Petir boleh tapi kami tidak boleh, Huu." Si cerewet Ama yang mempunyai mulut ceplos seperti Jum-Maminya terang terangan protes seraya paling cepat ngebirit.


__ADS_2