Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 130


__ADS_3

Mobil Nata berhenti di pelataran rumah sederhana milik Ibell, Ibell sudah menemani nya ke pesta, Dengan itu...ia harus mengantar anak orang sampai tujuan tanpa kurang apa pun.


" Bye Bell..Benar nih, kagak mau tidur sama saya, Dada saya pelukable lho." Godanya


Praaang... Ibell langsung membanting pintu mobil mendengar ajakan vulga* Nata, beranjak cepat masuk ke rumah.


Sang empu mobil tergelak akan wajah penolakan mentah mentah Ibell dan ingin menginjak pedal gas namun terurungkan ketika mendengar samar ribut ribut di dalam rumah Ibell. Nata turun, ingin mengecek keributan itu.


" Ini tuh salah kamu, Bell. Kamu sudah menolak Alvin yang akan memberikan kita uang, dan lihat lah akibat nya, Papa mu di hajar rentenir karena kita tidak bisa membayar hutang." Hardik Mita prustasi melihat suaminya di hajar.


Ibell tak menjawab, ia pun kasihan sama Papa nya yang masih di hajar oleh dua pria yang memegang dan satu pria yang meninju ninju papa nya seperti samsak saja.


Seruan pilu Ibell sudah sudah hanya kentut lewat saja, walau pun bapak nya tidak memperhatikan nya, tapi darah tetap lah darah. ia menyayangi papa nya.


" Sebagai jaminan, Anak gadis mu kami bawa pak." Bos rentenir menyeringai miring, ikan empuknya sudah di depan mata, ia akan mendapat bonus lebih kalau Ibell masuk ke dalam jebakan nya, Yakni menyerahkan gadis itu ke Alvin. Yap..Otak di balik semua ini adalah Alvin sendiri, memanfaatkan hutang piutang Papa Ibell adalah cara nya saat ini, siapa suruh Ibell menolaknya terus, beginilah akibatnya.


Ibell mundur mundur lagi menuju pintu, mendengar dirinya akan di bawa pergi sebagai jaminan. ia tidak mau.


" Pak, jangan pak, jangan bawa anak saya, beri saya waktu, kumohon jangan bawa anak gadis saya." Papa Ibell merangkak tak berdaya untuk memohon, ia tidak tega juga anak nya jadi tumbal. Sementara Mita tersenyum miring, ia ikut andil rencana Alvin demi uang, Suami payah nya tidak bisa memberikan uang banyak, kebangkrutan suaminya menjadi kan nya haus harta.


" Aaargh." Ibell menjerit menabrak tubuh Nata yang masih mundur mundur ketakutan, ia kira orang yang di tengah tengah gawang pintu adalah anak buah pak rentenir itu. " Ibell tidak mau ikut, ku mohon." Ibell berucap tanpa berbalik.


" Terus, kamu mau di bawa oleh orang jelek itu dari pada ikut sama orang tampan ini, sayang." Nata masih saja sempat menggoda Ibell, berucap bisik di telinga Ibell dan meniup pelan telinga itu dari belakang. Ibell menegang, sejurus bernafas lega. kedatangan Nata membuat ada rasa plong di hatinya. Pasti pak mesum akan menolongnya. ia yakin itu.


Ibell pun bersembunyi di belakang tubuh tinggi Nata di kala ketiga anak buah rentenir itu mendekat.


" Hai semua, ada acara apa ini ? ramai benar." Nata menyapa santai, bahu kiri ia senderkan di sisi pintu. di belakang, bajunya di cekal cekal oleh Ibell yang minta perlindungan nya. Merasa lucu melihat Ibell ketakutan seperti anak ayam yang bersembunyi di sayap induk nya.

__ADS_1


Semua mata jatuh ke arah Nata, Mita sampai memicing tajam, siapa kira kira pemuda gagah berjas mahal itu. Wajah setengah bule pria itu mengingat kan pada Yola.


" Maaf, serahkan gadis itu, dia akan kami bawa." ketiga anak buah rentenir berhenti di hadapan Nata. Bos nya pun ikut berdiri dari sofa mendekat ke arah Nata yang masih ongkang pundak di pintu.


" Oh, begitu. bawa lah."


Ibell melongo di belakang tubuh Nata, ia segera melepas kasar baju Nata yang di pegang nya sedari tadi, ia kira pak mesum nya mau membantu, Dasar ya... banci amat jadi laki. Ibell dongkol jadi nya ke Nata. "eh..bawa saja kalau bisa melewati saya, maksudnya." Sambung Nata. Ibell bernafas lega lagi. Kembali berpegangan di baju bos nya. Nata yang menyadari tarik ulur tangan Ibell di baju nya, tersenyum geli dalam hati. ia bisa menebak ekspresi ubah ubah sekretaris anti banting ranjang nya.


" Siapa kamu, jangan ikut campur dan malah berujung memperkeruh keadaan." Mita tidak mau rencana nya gagal, bonus uang dari Alvin akan raup Kalau ia sampai gagal malam ini, Pekerjaan Andra sebagai kepercayaan Alvin pun akan hilang di depan mata kalau gagal lagi melempar Ibell. ah... kenapa sih harus Ibell yang di inginkan oleh laki laki hidung belang Alvin itu, Kenapa bukan Dian saja yang rela sedia kala buka paha. Hidup di dunia kudu bisa memanfaatkan segala nya demi uang. itulah pikiran sempit seorang Mita.


"Ibell, kamu masuk ke dalam mobil dulu." Nata tak menjawab Mita, ia malah mentitah lembut Ibell. Identitas nya memang selalu ia rahasia kan. tak banyak orang yang mengenalinya kalau ia adalah anak dari ABRAHAM.


" Hati hati pak." Ibell menurut, ia tahu apa yang akan di lakukan bos gagah nya itu.


" Eits, mau kemana ?" Kaki Nata menghadang ketiga orang untuk lewat di penjagaan pintunya yang mungkin berniat mengejar Ibell. " Pak Ren !" Nata berseru... tidak ada yang bernama pak Ren. Tapi mata nya ke bos rentenir itu.


" Saya ? saya bukan pak Ren, Tapi Pak Roni." Tukas nya memperkenalkan.


" Pantas saja bangkrut, orang tak berpendirian beginilah jadinya, selalu mau di setir pergerakan oleh istri matrenya." Batin Nata tersenyum miring memindai wajah Mita dan Pandji. Seraya mendengar Jabaran pak Ren eh Pak Ron.


" Oke, saya hanya akan membayar tunggakan nya saja plus bulan ini, jadi kedepannya siap kan uang sendiri ya pak Pandji sebelum mereka datang lagi, Sesekali kasihan sama anak kandung." Sindir Nata, tangan itu mengetik gawai nya. " Pak Ren eh Ron.. sebutkan no rekening mu." Seraya menekan M-banking Nata melirik santai ke wajah tunduk malu Pandji yang tak bisa berkutik apa apa, ia juga melirik Mita yang melengos terus. ia bisa saja melunasinya dengan mudah, Tapi ah... keluarga Ibell juga harus di beri sedikit pelajaran, nanti keenakan, ngutang bisa..bayar kudu bisa pun.


Ah..Sial. siapa sih pemuda songong ini, gagal lagi kan..kacau sudah semua nya.. Andra, maafkan mama, pekerjaan mu di ambang jurang. Mita menahan geram, Ibell selalu tertolong. hoki benar tuh anak, di kelilingi pria mapan.


Ting...


Suara bunyi gawai pemberitahuan masuk ke notif pak Rentenir. Orang ini juga mendengus dalam hati kehadiran Nata, ia gagal mendarat bonus dari Alvin.

__ADS_1


" Sudah kan ya ?" Nata berucap dengan nada sombong nya, orang mereka mereka lah yang harus di perlakukan angkuh.


" Terima kasih, Nak ! Siapa pun diri mu kamu pasti orang baik, tolong lindungi Ibell."


Entah kenapa, Seruan pak Pandji ngena di hati Nata... Lindungi Ibell ? ia baru sadar juga sudah melindungi Ibell. ah.. tidak ding...ia cuma kasihan bukan perduli yang aneh aneh.


" Ok, kalau sudah beres sampai di sini saja.."


Nata kembali berbalik dan malah beranjak masuk dua langkah dari pintu. " Ibell mulai saat ini tidak tinggal di sini lagi, pak ! Tapi tenang aja, ia aman kok, Lebih aman lagi dari pada di rumah sendiri yang di penuhi domba tapi aslinya serigala." Bisik nya ke Pandji.


" Tapi Ibell akan kemana ?"


Nata tak menjawab, ia sesuka hati berlalu. Namun lagi lagi berbalik dan kini ke salah satu anak buah pak rentenir.


" Kamu tadi bertindak kekerasan ya..Coba, coba pukul pipi saya ?" Suruh Nata bersungguh sungguh.


Mulut orang orang di ruangan itu pada melongo, Heran dan membingungkan sikap Nata yang ingin di pukul.


" Maksud anda ?"


" Maksud saya, pukul pipi saya, atau saya yang akan men jab kamu kalau tidak menurut."


Bugh..


Satu jab gerakan cepat dari anak buah rentenir ke wajah Nata, dari pada ia yang di pukul, mending ia menurut menonjok pipi Nata, toh sang empu yang menginginkan.


" Ah... pukulan mu terlalu sakit bung, Tapi terima kasih ya !" Pipi kiri Nata berdenyut.

__ADS_1


Orang orang semakin aneh melihat Nata yang berlalu tersenyum santai padahal pipi itu dapat bogeman. Sinting kah ? Batin serempak mereka.


Ibell, I am coming...mudus dikit, boleh dong.


__ADS_2