Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 206


__ADS_3

Setelah Vay dan Petir di usir dari pelataran museum Fauna, Kedua nya tidak lah menjauh dari sana, Karena dua penjahat yang mengejar mereka telah terlihat, sekonyong-konyong nya mereka naik ke bagasi mobil mini bus berfasilitas keluarga, bermerk Renault tribel yang baru terparkir asal asalan, bersembunyi.


Tanpa Vay dan Petir sadari, Guntur dan Pelangi pun, juga di masukkan ke mobil bagian kabin penumpang.


Mobil pun melesat membawa bocah bocah itu tanpa tiga pria ketimuran itu ketahui ada dua orang yang bersembunyi di bagasi tepat di belakang di mana Pelangi dan Guntur Masih pingsan terbius obat.


" Kita ke apartemen dulu sebelum pesawat pribadi tuan besar tiba di negara ini."


" Gadis remaja ini bagaimana ? Apa yang kita akan lakukan kepada nya ?"


" Bawah bersama, Nanti juga akan mati kita bunuh setelah mendapat persetujuan tuan Besar."


Percakapan itu berbentuk berbahasa Inggris.


Vay dan Petir yang mendengar kata bunuh dari orang orang asing di depan sana, jadi menegang, Kasihan sekali korban nya. Pikir mereka. Vay jadi parno...Kalau mereka ketahuan bersembunyi di bagasi, bagaimana dong, bisa bisa ia dan Petir juga ikutan di bunuh.


Hiks... Vay masih ingin sama Ayah Bunda ! Batinnya, tapi air mata dalam diam nya lolos.


" Diam ya, ada kak Petir, Selama kita bersama, maka kamu akan aman." Bisik Petir menenangkan dengan air mata itu ia hapus, padahal di dalam hatinya berkata.... Selamat dari jurang, masuk lagi ke mulut buaya yang siap melahap mereka. Masalah nya lebih sadis lagi... Pembunuh ! Ihh.. seram amat. Petir berkecamuk.


" Jangan bersuara ya ? Kalau mobil sudah berhenti kita turun segera."


Vay mengangguk angguk, kepalanya ia rebah kan ke pundak Petir, ia ketakutan mendengar kata di bunuh keringat dingin sebesar ketumbar keluar dari inci pori pori nya.


" Engg.." Guntur melenguh, tersadar dari pingsannya. Mata nya melotot seketika melihat siapa yang bersama nya dengan keadaan tangan mereka terikat. Pelangi. Gumamnya merasa bersalah karena gadis ini ikutan terseret masalah nya yang tidak tahu apa-apa.


" Halo Tuan muda, Anda sudah sadar !" Suara itu terdengar mengejek Guntur.


" Kenapa dia di bawah juga, dia tidak tahu apa apa, lepas kan dia. Atau aku akan kabur lagi dan bos kalian akan membunuh mu."


Mata Vay berkedip kedip, itulah ciri khas nya kalau sedang berpikir keras, Suara itu ia kenali, Tapi siapa ?


" Hahahaha." Mereka tertawa mengejek Guntur yang katanya mau kabur lagi.


" Pelangi ! Pelangi ! Bangun !"

__ADS_1


Pelangi ? Gumam Petir dan Vay terkesiap, apakah Pelangi kerabat nya ? Vay dan Petir saling adu pandang seakan akan pikirannya sama.


" Kak Petir, Suara itu suara kak Guntur." Vay baru sadar suara di kabin penumpang adalah Guntur.


" Pelangi ? Apa itu Pelangi kita ?" Bisik Petir pun.


" Entah__"


Chiiit...


Mobil berhenti di lampu merah, Vay dan Petir mengurung kan niatnya untuk keluar, mereka akan menyelamatkan dua orang itu, insting mereka... Pelangi yang di maksud Guntur adalah Pelangi mereka.


Mobil kembali jalan, sekitar lima belas menit, mobil itu berhenti lagi, Vay dan Petir mengintip keluar, Sebuah apartemen di luar sana. Suara suara terdengar di depan, Untuk memindahkan Pelangi dan Guntur yang kembali di bius sedari tadi.


Pintar sekali ! Puji Petir saat ketiga orang itu mengelabui petugas apartemen, Mereka memasukkan Guntur dan Pelangi di sebuah kotak barang yang berukuran besar, Tapi Petir yakin, walau pun kotak nya besar, Tubuh orang yang ada di dalam sana tersiksa karena kesempitan.


Pelangi ! Petir dan Vay sudah yakin, kalau Pelangi mereka lah yang menjadi salah satu korban dari ke-tiga Pria ketimuran itu, karena ia melihat wajah kerabat nya di masukin ke kotak. Tidak bisa di biarkan, mereka harus menyelamatkan Pelangi. Ketakutan Vay hilang tergantikan oleh keberanian demi melindungi sesama.


Kembali ke Jam sekarang !


" Apa sudah ketemu ?"


" Belum pak ! Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi yang berkeliaran di sekitaran sini, Mungkin mereka keluar dari area taman."


Kemal memijit pelipisnya, bagaimana ini. Bingung nya. Ia belum mengabarkan ke Yola tentang kehilangan Vay, ia takut tekanan darah Yola kumat lagi.


" Jangan ada yang pergi." Lerai Titan saat Si Kembar berikut Guntur dan Lautan terlihat ingin mengendap endap pergi dari rombongan.


" Kita mau mencari mereka Opa !" Topan keras kepala. Ia tidak bisa terus saja diam di tempat sementara adik kembarnya dalam keadaan tidak baik baik. Separuh hati Topan dan Badai saat ini seakan hilang, Mereka kembar...Bisa merasakan dari jauh rasa denyut sakit tersendiri.


" Jangan memperkeruh suasana, Kalian pulang, biar urusan ini di urus kami saja." Titan tidak mau mengambil resiko besar, Anak anak di hadapan nya sudah di ketahui sifat luar dalam nya, mereka itu nekat melakukan apa pun, apalagi menyangkut saudara nya.


Topan dan yang lainnya di iring masuk ke dalam mobil oleh Titan sendiri, ia sendiri yang akan mengantar cucu nya sampai selamat dari rumah, ia takut kalau sopir yang mengantar nya, yang ada Topan dan lainnya bisa beralibi di jalan dan berbuat nekad, bisa bertambah besar urusan nya kalau cucu cucu mereka hilang semuanya.


Di ruangan tertutup...

__ADS_1


Plak.. Plak...


Dua pria yang tadinya mengejar ngejar Vay dan Petir, Dapat tamparan dari sang Bos yang mentitah nya menculik Vay.


" Kalian itu bodoh sekali, di suruh menangkap anak kecil saja tidak becus menyelesaikan nya." Marah nya.


" Mereka sangat licin bos, Nakal nakal." Sang Botak membela diri dengan mata tertunduk tak berani menatap sang lawan bicara.


Tuk..


Kepala nya jadi sasaran sekarang, di kemplak keras. Sialan ! Batinnya mengumpati sang Bos.


" Pokok nya kalian harus menangkap anak Dinata itu, saya tidak mau tahu, satu Minggu ini kalian sudah harus membawa nya ke hadapan ku. sudah lama aku mencari keberadaan kelemahan Dinata, dan kelemahannya ada di istri juga anak nya.


" Laksanakan !"


Keduanya kompak menjawab, Kompak pula memundurkan pamit, jangan sampai kembali di hajar atau pun di omelin.


Di atas kapal pesiar, Nata masuk ke dalam kamar nya di mana ada Ibell yang baru selesai mandi, wajah nya terlihat tegang. ia tidak bisa menceritakan tentang masalah yang menimpa anaknya. Tadi ia sudah menelpon Papanya yang berjanji akan menemukan Vay. Semoga saja.


" Kenapa Bang ? Ada masalah ?"


" Eum, eh... Tidak, Hanya masalah kerjaan di kantor, Tadi habis meeting virtual dengan asisten ku." Kilah nya. Nata segera masuk ke kamar mandi, tatapan Mata Ibell menyiratkan tidak percaya.


Aneh... Gumam Ibell.


Lima belas menit, Nata keluar dari kamar mandi, Ibell sudah rebahan di kasur. Andai perasaannya lagi tidak kacau, mungkin malam ini akan terasa malam panas indah bagi nya. Hasrat nya untuk bercinta hilang saat ini, Otak nya di kuasai keselamatan Vay. Sementara ia tidak bisa melakukan apa apa.


" Ibell, tiga hari lagi kapal akan singgah di pelabuhan, bagaimana kalau kita menyudahi saja pelayaran kita, kita balik menggunakan pesawat ?"


" Apa ada masalah ?" Ibell curiga....Jujur sih, lubuk hati nya paling dalam terasa ada yang ganjal.


" Tidak, Hanya masalah kantor." Nata ikut berbaring, sejurus menutup matanya, ia tidak mau Ibell bertanya tanya lebih banyak lagi. ia takut keceplosan dan berujung tidak baik untuk Ibell.


Aneh, di deck tadi ngajak ngamar, Ibell pikir mau___?

__ADS_1


Cup...


" Selamat malam ! Tidur lah...Eni dan Beno masih harus puasa !" Setelah mengecup dahi Ibell. Mata Nata yang sempat terbuka, kembali tertutup. Ia menyadari gelagat curiga Ibell dengan itu ia sebisa mungkin menekan perasaan tegang nya.


__ADS_2