
" Masuk !"
Ceklek
Satu staff laki laki pemberkasan datang menghadap ke ruangan Nata, Bukan hanya mengantar berkas yang butuh di tanda tangani, Melainkan membawa surat keterangan dari cap rumah sakit.
" Permisi pak, Sekalian saya membawa surat ini, baru sampai di antar oleh pak pos"
Nata melirik ke amplop panjang berwarna putih tersebut, Mengerti surat lab yang ia sudah di tunggu nya sedari tadi.
" Terima kasih, Ah..apa kamu tahu di mana Istr__maksud saya Ibu Ibell ? Apa sudah balik dari tugasnya ?"
"'Maaf Pak, tadi waktu saya lewat, Meja sekretaris lagi kosong, tapi di pelataran parkir sopir perusahaan sudah ada, berati Ibu Ibell mungkin sudah sampai namun saya belum melihatnya di luar."
Nata hanya mengangguk, mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh staff nya keluar.
Niat hati ingin menunggu Ibell untuk membuka bersama hasil lab kesuburannya, Namun apa boleh buat, rasa tak sabaran menerpanya, di buka nya amplop itu perlahan dan membacanya seksama.
Pasti subur lah ! Batin nya belum selesai ke bawah membacanya. Namun juadeerr. Jantung nya memompa darah lebih cepat melihat hasil yang jauh dari kata harapan.
Tidak ! Ini mungkin salah, aku tidak mungkin Mandul.
Surat itu jatuh begitu saja masuk ke kolong meja, Serasa tangan Nata lemas tidak bertulang. Wajah nya pias kecewa. Bagaimana reaksi Istri nya nanti ? Ibell nya akan kecewa berat kepadanya, apalagi Istri nya sangat mendambakan sosok malaikat mungil untuk tumbuh di rahimnya, Sementara diri nya ? Lihatlah... Sangat payah, Ia di vonis Mandul, Istri nya tidak akan hamil dengan keadaannya yang payah.
Ya Tuhan, Cobaan mu dalam rumah tangga ku begitu berat, Pria cacat batin ini sungguh tidak pantas untuk istri yang begitu sempurna macam pribadi seorang Ibell.
Nata gegana, berkecil hati, Antara menyembunyikan kenyataan ini dari Ibell atau terang terangan membuka aib kekurangan nya sebagai laki laki, ini sih ia sama persis dengan Lady Man bin banci yang tidak berguna.
Kalau ia menyembunyikan nya, pasti suatu saat Ibell akan berkeluh kesah yang tidak kunjung di beri momongan, Tapi kalau ia membuka rahasia kekurangan nya, Ibell akan kecewa sedih. Bagaimana lah solusinya ?
Aaargh.. Ini mungkin salah. Tak terima, Nata menarik gawai nya dan segera menghubungi pihak rumah sakit.
" Halo Dokter Nelo, Maksud Nata..Om Nelo."
" Ada apa Nat ?" Suara Dokter Nelo sekaligus kerabat Kemal di sebrang sana menarik nafas dalam-dalam, menebak kalau anak sepupunya itu mau mempertanyakan hasil lab yang mengecewakan. Ia pun sebagai kerabat Kemal menjadi sedih mengetahui ponakannya itu ternyata Mandul.
" Om, bilang ke Nata kalau hasil lab salah total, atau ada kekeliruan gitu, i_ini salah Om." Dada Nata naik turun berombak menahan kecewa sesak nya.
__ADS_1
" Sabar ya Nak, Om hanya bisa berkata itu. Dan kalau masih kurang yakin dengan hasilnya, Kamu boleh kesini untuk melakukan step by step ulangan tes prodia kembali."
Tut..
Nata mematikan sepihak gawai nya, menaruh kasar dan mengusap wajah nya kasar, Percuma melakukan tes kembali, hasil nya pasti sama saja memalukan nya, Tampan tajir tidak lah berguna bila mana Mandul menyerang nya, cih... tidak berguna. Dasar. Hardik nya sendiri mencaci maki nasib nya.
Ceklek.
" Bang, Maaf baru sampai, Lihat lah... Ibell bawah banyak makanan kesukaan Abang, ayo kita makan, Ibell rasanya sangat bergairah ingin menghabiskan makanan ini."
Ibell tidak menyadari air muka Nata yang saat ini Nata tetiba menunduk ke bawah meja dan melihat tangan suami nya itu melempar gumpalan kertas masuk ke dalam tempat sampah. Ia tidak curiga surat apa itu, Ibell hanya mengira itu kertas biasa.
" Bang ayo sini makan siang sama Ibell." Dua plastik makanan di taruh di atas meja oleh Ibell, sibuk mengeluarkan isi nya yang terdapat empat jenis makanan sederhana olahan Padang namun menggiurkan di lidah Ibell.
" Duluan saja, Abang butuh kamar mandi !"
Deg.. Ibell serasa ada yang aneh dengan suara datar itu. Tidak biasa nya.
" Apa Abang sakit__ ?"
Ibell terhenti kaget, Nata menutup pintu secara kasar, hampir saja wajah nya mencium daun pintu itu.
" Kenapa tetiba kasar begitu ? Apa karena Bang Nata kebelet buru buru ? Ah...ini cuma perasaan ku saja." Gumam Ibell menepis rasa aneh yang tetiba singgah dengan perubahan sikap Nata, Rasa lapar nya yang tadi mengubun menguap sudah.
...*****...
Di tempat lain, Alvin menyunggingkan senyum puas nya akan hasil kerja dari petugas lab yang di bayar nya secara paksa menggunakan tekanan yang membawa nama kehancuran keluarga suster tersebut bila mana tidak menuruti perintah licik nya.
" Ini bayaran mu, Tutup mulut sampai mati pun maka kamu dan keluarga mu akan selamat."
Wanita yang dapat tekanan ini hanya sanggup mengangguk dengan hati merasa tidak enak akan bantuan kecurangan nya yang pasti membuat korban nya menjadi berkecil hati atau mungkin bisa saja menimbulkan keretakan bagi keluarga sang korban kecurangan nya.
" Turun lah." Usir Alvin dari atas mobil nya, mereka memang berinteraksi di dalam mobil saat ini.
" Ba-baik pak." Anjak nya cepat membawa rasa dosa nya.
Rasakan pembalasan ku Nata, Nikmati lah rasa ketidak percayaan diri mu sendiri, Kutunggu aksi bodoh mu dengan percikan api ku sampai berkobar besar membakar mu.
__ADS_1
Alvin tersenyum jahat.
...****...
Bi Tina memperhatikan Ibell di ruang tamu di jam sepuluh malam, Majikan nya ini seperti nya dalam hati gelisah, istimewa karena Tuan mudanya belum balik kali ya.
" Teh jahe nya, Nyonya !"
Bi Tina menaruh cangkir tersebut di meja dengan hati hati, Nyonya nya tumben sekali tidak merespon nya, Malah melamun. Ingin sekali ia bertanya... Apa ada masalah, Nyonya ? Tapi sebagai pembantu ia masih ingat batasan nya.
" Kalau butuh sesuatu, panggil saja ya Nyonya, saya ada di kamar."
Lagi, Ibell tidak merespon, Matanya hanya lurus lurus ke daun pintu utama rumah menunggu kepulangan suami nya.
Bell, Kamu pulang duluan saja ya, Abang ada urusan lain dulu.
Kembali mengingat ijin suaminya tadi sore dengan wajah terlihat mencurigakan bagi Ibell.
Ada apa dengan nya ? Perasaan pekerjaan rampung lancar semua, Hasil lab kata nya juga tidak masalah. Tapi kenapa Bang Nata sikap nya berubah datar.
Ibell berpikir keras, sebagai seorang isteri ia menemukan keganjalan sikap Nata
Ceklek.
Akhirnya suami nya pulang juga.
Ibell segara menyambut nya dengan senyum manis nya. Dan itu membuat Nata semakin bersalah akan diri nya yang tidak sempurna.
" Sudah pulang Bang ?" Salim Ibell di tangan suami nya dan mencium takzim punggung tangan itu.
" Sudah makan belum ? Kita makan yuk !" Lanjutnya, sebisa mungkin ia menepis rasa ganjil di hati nya.
"'Makan lah, Abang tidak lapar ! Capek mau tidur !"
Deg..
Apa Ibell punya salah ?
__ADS_1