Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 196


__ADS_3

Di rumah, Vay sudah rapi dengan seragam sekolah nya, mogok sarapan karena kehilangan kedua orang tuanya, Yola Kemal serta Abah-Ambu berikut Bi Tina lagi sibuk membujuk.


" Vay mau nya Ayah Bunda !" Rengek nya keras kepala. Biasanya ia tidak manjah begitu, tapi berubah.. emosi anak kecil beginilah. Naik turun.


" Ayah Bunda Vay lagi joging sayang, Nanti kamu telat sekolah lho." Bujuk Yola. Kemal sudah siap untuk mengantar cucu nya berangkat sekolah dengan style kantor membalut nya.


" Duh, ini tangan Ambu kok sesemutan ya, gara gara beban sendok kayak nya nih." Wajah Ambu memelas, Berambigu dengan satu sendok berisi nasi goreng ke arah mulut Vay.


Hap...Anak itu menyambut, tak tega melihat Ambu nya memelas. Yola mengikuti cara Ambu.


" Oma jangan ikut ikutan berbohong, dosa lho kalau kata guru ngaji Vay di desa, berbohong ladang nya dosa."


Aih ding, Yola menarik sendok di tangan nya, Hap.. masuk ke dalam mulut sendiri satu sendok makan nasi goreng itu. malu di ceramahin cucu sendiri. Boleh di jitak nggak sih tuh bocah, ah... jangan ding, cucu satu satunya. Sayang !


Pfuu.. Kemal dan Abah tercengir tahan.


" Ambu juga dosa !"


Nah...Ambu nya juga kena sasaran.


" Vay ingin makan sendiri aja, kata Bunda semalam harus mandiri, Vay juga semalam di ceramahin, kalau Vay masuk ke ruangan siapa pun harus ketuk atau salam dulu." Vay menceritakan tentang kejadian semalam di kamar Orang tua nya. Ayah nya juga sering nahan pipi* kata nya karena gara gara Vay, padahal Vay nggak ngerasa nyuruh ayah nahan pipi*. Cerita nya berceloteh.


Yola beserta kepala lainnya terkikik geli mendengar cerita Vay. Cucu mereka pengganggu ulung batin nya bagi orang tua Vay yang sudah lama tidak bertempur.


" Kata Bunda itu benar, Vay harus mandiri, jadi tidak boleh lagi ngambek nyariin Bunda atau Ayah ya...apalagi Ayah sama Bunda akan pergi beberapa hari. tidak apa-apa kan ?"


Vay mengangguk ke Kemal. " Opa, ayo kita berangkat, Vay sudah selesai."


Tangan mungil itu menyalimi satu persatu tangan keluarga nya, mencium satu persatu pipi dua pasang kakek neneknya, Bi Tina pun dapat cium punggung tangan dari Vay, Membuat ART itu bangga, meski anak majikan, Vay sopan. kesan Bi Tina bangga.


" Mau di gendong atau jalan sendiri, eum ?" Kemal menggoda cucu nya di sela jalan mereka menuju mobil, dapat picingan mata dari Vay. Membuat Kemal pura pura memasang wajah takut nya.


" Opa hanya bercanda !"

__ADS_1


"Bagus." Dengus Vay mengerjapkan mata nya malas. Kemal mencubit gemas pipi cucu nya dan mengambil langkah panjang masuk ke dalam mobil. Vay mengikuti Kemal dengan hentakan kakinya.


" Opa !" Dengus nya merengek. Kemal hanya tersenyum senang sudah menggoda cucu nya, baru dua hari bersama Vay, hari nya semangat lagi penuh canda. rumah mewah mereka seakan bernyawa.


Di pelataran rumah orang tua Ibell. Nata dan Ibell masih berdiri di depan rumah. Nata melirik Ibell yang tiba-tiba pancaran sinar mata itu sendu.


" Apa kabar mereka ?" Gumam Ibell bertanya sendiri, tapi Nata tentu saja mendengar nya. " Ibell sudah lama tidak memberi nafkah ke mereka, Mama pasti memarahi Papa." Lirih nya. sedih mengingat watak Mita.


" Tenang lah." Nata tersenyum, Pertanda baik baik saja soal itu.


" Maksud nya ?"


"Ayo masuk !" Nata menautkan kembali tangan mereka, menarik pelan Ibell agar melangkah.


Mereka pun berjalan ke teras dengan Nata sedikit terpincang karena jatuh tadi saat menggendong Ibell, ini itu gara gara sepatu nya menginjak lubang tak terlihat Sebelum nya, untung Ibell yang di gendong nya tidak ikut terjatuh karena ia sigap mengimbang kan tubuh nya. Hanya saja ya itu...Kaki nya jadi keseleo sedikit. Beno ? masih ok kok !


" Ibell pasti baik baik saja, Pa ! Ayo minum obat mu, Biar suatu saat Ibell pulang, Mama tidak akan di marahin, Nanti Ibell menuduh Mama menyia nyiakan Papa. Mama aja tidak suka melihat Papa sakit, apalagi Ibell nanti !"


Ibell mendengar pembicaraan itu dari teras, Milirik selidik Nata penuh tanya seraya menahan langkah nya, sontak Nata pun berhenti.


" Abang memang tampan, baru sadar ?" Nata bercanda menggoda, Ambigu.


" Terima kasih !" Candaan Nata di respon peluk haru oleh Ibell. Mendengar sekilas pembicaraan orang tuanya di dalam sana, Ibell sudah tahu, kalau Nata menggantikan dirinya sebagai posisi anak di sini, penuh tanggung jawab. Ibell bangga ke Nata.


" Orang tua mu adalah orang tua ku juga, itu kan yang kamu sering bilang tentang Mama dan Papa ku, sudah...ayo ucap kan salam. Papa sudah sangat rindu, seperti nya."


Ibell mengangguk, tak tahan, ia meluapkan emosi haru nya dengan cara mengecup pipi suami nya. Nata tercengang. sejurus tersenyum manis seraya mengelus sayang pipi nya. padahal ini ciuman pipi doang lho, dulu selebar tubuh nya di cium wanita Ons biasa aja, tapi untuk Ibell, luar biasa !


Assalamualaikum !


Waalaikum sa__lbell.


Ibell tersentak di tengah tengah gawang pintu, terpaku. Papa nya duduk di kursi roda ?! Dan Mama nya terlihat tidak terawat.

__ADS_1


" Papa !"


" Ib__sini, Nak !" Mata Pandji meluap kan air matanya, Benar kah ini anak nya ? atau hanya halusinasi semata ? Anak nya berubah drastis, hijab itu membuat nya semakin anggun. Ini bukan halusinasi, Ibell nya sekarang memeluk nya, mencium pipinya penuh rindu dengan air mata nya.


" Maafkan Ibell, Pa ! Ibell anak durhaka, Ibell tidak ada untuk Papa di saat papa sakit."


Ibell menangis di simpuhan Papa nya yang duduk di kursi roda, Papa nya stroke.


" Ibell, Tidak nak. Peluk papa lagi, Papa merindukan mu, sangat ! Papa bersyukur masih bisa melihat mu." Panji mencium kepala anaknya yang terbungkus hijab, ada rasa legah di hati nya. Ada semangat lagi di diri nya untuk sehat kembali.


Pandji masih saja belum puas melampiaskan rasa rindu nya, begitu pun Ibell. Mereka saling berpelukan dengan cerita masing-masing. Nata dan Mita ikut terharu, tak ingin bersuara untuk mengganggu anak ayah itu.


" Suami mu yang membiayai perawatan Papa, Kamu beruntung, Nak."


Ibell mengangguk seraya menatap penuh rasa terima kasih ke Nata, Benar kata Papa nya, ia beruntung mempunyai suami baik seperti imam nya ini.


" Oya Ma, Kak Andra dan Kak Dian, apa kabar ? Anak kak Dian pasti sudah besar seperti Vay, cucu kalian dari Ibell." Mata Ibell menelisik ruangan tengah. Sepi !


Mita memalingkan wajahnya, Mata nya panas di ingat kan Dian dan calon cucu nya yang sudah meninggal.


" Andra sudah beristri, Di_Dian sudah tenang di alam sana bersama calon anak nya."


Terkesiap, Ibell yang ingin melangkah ke arah kamar Dian, terpaku. pundak itu merosot sedih. sejurus ada tangan Nata yang merangkul pundak nya seraya mengelus nya, kuat.


" Atas nama Dian, Mama meminta maaf Ibell, Kamu boleh menghukum Mama yang penting Dian dapat kata maaf dari mu."


Ibell reflek mundur di saat Mita ingin bersimpuh di kaki nya, Sejurus ia ikut berjongkok di lantai dan menarik pundak itu untuk di dudukan ke sofa.


" Ibell sudah maafkan kak Dian dari jauuuhh hari, Ma. Ibell justru ingin berterima kasih kepada Mama karena sudah menjaga papa selama Ibell tidak ada, terima kasih !"


Tak sanggup berkata apapun, Mita memeluk Ibell dengan perasaan sesal nya, sekelebat... Bayangan tiap bayangan berseliweran, memukul anak kecil itu, menghabiskan makanan hingga anak kecil berponi miring itu kelaparan, mengadu yang tidak tidak ke Panji akan kenakalan Ibell kecil yang aslinya penutur dan akhirnya kena hukuman dan Omelan Pandji karena mempercayai karangan suka suka nya, bahkan kilatan kekejaman nya teringat di saat ia memukul Ibell kecil dengan sapu hingga memerah cuma gara gara boneka Dian tidak sengaja di rusak oleh Ibell.


Maaf ! Hanya itu yang Mita ucap kan di telinga Ibell yang sekarang memeluk nya.

__ADS_1


__ADS_2