
Ibell mengeluarkan kepala nya di sela sela daun pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, mengintip dengan tubuh nya masih tersembunyi apik yang saat ini selesai mandi.
Dengan ceroboh tanpa sengaja karena di kejar ancaman Nata sebelum nya, tadi ia main mandi saja tanpa membawa salin maupun handuk, alhasil... tubuh nya yang biasanya di balut hijab, polos sudah. Mau pakai baju kotor yang tadi ia kenakan, eh sudah basah. Bagaimana ini ? masa ia harus keluar tanpa busana, apa kata Nata nanti.
Tapi se...rasa nya sepi deh, tidak ada tanda-tanda kehidupan saat ini di dalam kamar kecuali dirinya sendiri. Ah pasti Nata keluar menemui Vay atau entah ?
" Bang Nata !!!" Panggil Ibell memastikan. " Bang !!!" Panggil nya lagi dengan suara naik oktaf.
Aman ! Tidak ada sahutan pertanda Nata tidak ada di ruangan, Ibell pun membuka pintu kamar mandi lebar lebar, siap ngajir ke arah lemari... Ceklek ! Hais baru juga satu langkah, Suara pintu kamar terbuka oleh orang dan pasti itu Nata, Ibell buru buru kembali menutup pintu kamar mandi, Nanti bisa bisa di bilang dirinya lagi menggoda hormon testosteron Nata karena main keluar tanpa sehelai benang pun.
" Ibell, belum selesai kah ? Semua orang menunggu makan bersama."
Nata menggedor pintu kamar mandi, pelan.
" Su_sudah, Tapi..." Ragu Ibell, mengurungkan niat nya untuk meminta bantuan.
Mendengar suara aneh Ibell, Nata cemas ! takut takut istri nya di dalam terjerembab bin kepleset lantai licin, 'kan bahaya, iya kan ? banyak kejadian, kata nya orang yang jatuh di kamar mandi bisa bisa terkena stroke, Ih..Amit amit ! Jauh kan dari istri nya.
Dengan itu, ia main terobos masuk tak berpikir dua kali kalau ia masuk ke teritori pribadi. ia tidak menyadari itu. Di otaknya hanya keselamatan istrinya.
Sensor... Tidak ding, Mata Nata tak mau berkedip dengan apa yang ada di hadapannya, Sayang banget untuk di lewatkan pemandangan lekuk tubuh indah Ibell, ini jakung jadi naik turun, Beno pun seketika tring slalala memberontak di balik kain Nata, ingin sekali memangsa Eni saat ini juga tapi menyadari ekspresi Ibell yang memerah marah, tahan dulu !
Mau tahu ekspresi di wajah Nata saat ini ? Tak kasih tahu... Mata itu tak berkedip plus mulut Nata terbuka sedikit mupeng, Tes ! air liur setetes pun main netes saja tanpa permisi, ihhh joyok. Terkam "tuan-eninya" bisikan Beno terdengar halu. Ah....boleh pegang nggak sih buah boba itu, tak boleh megang di sesap sedikit pun tak apa, mau pakai bingits malahan. Nata berfantasi liar, bayangkan saja...tujuh tahun berpuasa setia menunggu Ibell, Oli mesin Beno pasti warnanya kehitaman karena tidak pernah ganti oli. motor saja kudu ganti oli tiga bulan sekali, eh...Oli Beno tujuh tahun ? Tujuh tahun ck., kadaluwarsa !
Tapi se...Tahu kan kalian penampakan indah polos Ibell ? Bayangkan saja sendiri, hehehe.
" ABANG !!!" Jerit Ibell yang melotot, sadar akan penampakan tubuh nya yang naked, Ibell berlari masuk ke bathub. Nata masih terpaku dengan ekspresi mupeng nya.
__ADS_1
" YAAK, KELUAR ABANG !" Ibell malu memuncak coeg, wajah merah itu antara malu dan kesal sekaligus, Bisa bisa nya tadi lupa mengunci pintu, alhasil si mesum suaminya mendapat pemandangan naked nya yang selama tujuh tahun ini sudah karatan tak tersentuh.
" ABANG !!!"
" Ehh, iya iya. Abang keluarin Beno eh maksudnya, keluar__Abang yang kelu__"
" KELUAR !!!"
Ibell berteriak kembali, Lagian suaminya gagap tidak jelas, iya iya nya saja di mulut tapi malah maju mendekati nya.
" Berhenti di tempat dan Keluar ambilkan handuk, Bang !"
Ciht.. Rem. Nata tersadar akan pinta Ibell tentang handuk, Pintu 'kan di belakangnya, eh..malah berjalan beda arah ingin mencari pintu Eni.
" Iya, Maaf ! Tapi hmm__ apa boleh itu_ mi-minta sedikit aja, Abang__abang Ng_nggak kuat." Jujur Nata tergagap seperti anak kecil mengeja dalam berucap, to the point seraya menunjuk ke arah bawah perut nya. Mata Nata terus membidik lekuk tubuh indah Ibell, sayang di lewat kan segmen ok.
Mampus ! inilah yang di takut kan oleh Ibell, Nata meminta hak nya ! Dosa bila menolak, Tapi...dosa juga kalau melayani suami tanpa ikhlas ridho, Ibell tahu kewajiban nya sebagai istri tetapi ia belum siap saat ini, boleh nolak nggak sih. aduh.. bagaimana cara nolak nya. malah semakin mendekat lagi.
" Ayah ! Bunda !"
Ibell bersyukur dalam hati, setidaknya mulut nya tidak jadi penghuni neraka karena belum sempat mengelak. Nata ? Ayah Vay ini mendadak lemas, Gagal maning gagal maning ! Tak apa lah.. Nanti malam masih ada waktu, kalau gagal lagi..malam malam berikutnya atau jam jam berikutnya masih panjang. Sabar ya Beno !
" Ayah ! Bunda !" Panggil Vay lagi. Nata akhirnya berbalik, tidak mungkin juga menerkam tuan nya Eni sementara ada anak nya di luar sana, Nanti Vay cilukba lagi.
" Iya Nak ! Ayah di sini." Sahut Nata trun off.
Ibell di dalam bathtub tersenyum geli melihat pundak Nata merosot lemas berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
" Abang, sebelum keluar kamar lempar handuk masuk ya."
" Iya." Sahut Nata tidak semangat tanpa berbalik ke arah Ibell lagi, bisa bisa Beno ngamuk membobol kain sampai sobek lagi kalau melihat tubuh polos Ibell kembali.
Ibell lagi lagi tersenyum jumawa, tapi kasihan juga. Batin nya.
" Aya__ " Vay tidak jadi Berteriak lagi saat Nata sudah nampak di depan mata. " Kata Oma, Buruan ! Sudah pada lapar, Bunda mana ?" Vay mana tahu wajah muram durjam Ayah nya yang gagal terbang ke awang-awang, mengikuti langkah Ayah nya ke arah lemari.
" Ayah, kok diam saja ?" Tanya nya Cerewet.
" Ayah lagi nyari handuk sayang buat Bunda ! Ayah diam karena Kebelet pipi* tapi Vay keburu datang, nggak jadi deh." Pipi* Nata di sini lain cerita.
" Oh, kok nggak jadi sih ? menurut pelajaran sains yang Vay pelajarin, tidak bagus lho nahan kotoran tubuh, Nanti jadi penyakit. Pipi* gih."
Sok pintar lagi nih Bocah, Ayah tahu...Makanya Kepala bawa berdenyut-denyut ingin keluar.
" Pipi* nya nggak jadi sayang, Nanti malu sama Vay, udah sana keluar dulu, bilang ke Oma dan semuanya, Ayah Bunda tidak usah di tungguin, makan duluan tidak apa apa !" Nata masih berupaya untuk mengusir anak nya secara halus, Ibell sekarang tuh lagi tidak berkutik, jadi sangat di sayangkan kalau di lepas begitu saja.
" Nggak ah, Vay mau nya lengkap, tidak sopan tahu ayah, Kalau Vay makan duluan tanpa adanya Ayah sama Bunda, Nanti Vay keselek, seperti ini uhuk uhuk uhuk." Vay dengan polos meniru gaya batuk batuk dengan mimik wajah melotot, lidah menjulur koid.
" Aih, Menyebalkan, tidak bisa melihat ayahnya ingin bersenang-senang." Gerutu Nata lirih seraya berjalan ke arah kamar mandi dengan handuk di tangan.
" Ayah tadi bilang apa ? mau senang senang, Vay ikut ya, ke mana Ayah tempat nya yang di maksud senang senang itu, pasti banyak game nya, ah..di mall aja Yah, seru tahu naik bom bom car."
Hais ding, Indera pendengaran anaknya sangat bagus ternyata, ah.. pantas dengar, Vay setia selalu membuntuti nya seperti ekor saja. Masak iya mau bilang ayo ikut, tempat nya di tubuh Bunda mu ! Pan tidak mungkin mengajak Vay untuk melihat tawuran Beno dan Eni. sedeng ah !!!
" Nanti ya Nak, ada waktu nya kita berlibur bersama saat nanti Vay libur panjang sekolah." Ayo kita keluar dulu, nunggu Bunda nya di luar aja karena pasti Bunda mu mau rapi rapi sehabis mandi."
__ADS_1
Setelah membuka pintu kamar mandi hanya separuh terbuka, Nata main taruh handuk tersebut di knop pintu. Beranjak pergi dengan tangan merangkul pundak Vay.
" Anak pintar kamu Vay." Puji Ibell di dalam sana dengan senyum jumawa nya.