
Hari normal bekerja telah kembali, Ibell dan Nata mulai masuk kerja, Yola pun sudah pulang dari rumah sakit dari kemarin. Sebenarnya Ibell tidak di ijinkan lagi untuk bekerja oleh Nata, Tapi istri nya itu tetap memilih menjadi wanita karir, Namun dalam hati Ibell telah terselubung, ia ingin menjaga suami nya dari godaan wanita manapun terutama Dian yang Ibell yakini di sudut hati nya kalau kakak tiri nya itu punya niat tidak baik.
" Ruang meeting sudah siap, Pak !" Ibell melapor, layaknya seorang pegawai biasa yang menyamping kan pribadi kalau orang yang di panggil Pak adalah suami nya sendiri.
"Oh, ayolah Bell, kita cuma berdua, Kenapa harus panggil pak."
Nata beranjak dari kursinya dan menghampiri Ibell yang sibuk menyiapkan berkas berkas penting yang akan menjadi topik meeting kali ini bersama klien baru. Merebut berkas itu dan mengecup bibir Ibell bagai petir nyambar cepat.
" Ish, Nanti ada yang lihat." Protes Ibell.
"Terus masalah ? ini kantor Abang."
Ibell tak menjawab, beranjak keluar menuju ruangannya dengan hati berkecamuk, ia lagi bad mood, ya... Banyak bisik bisik dari para karyawan kalau ia telah melakukan hal rendah demi membuat Nata menjadi suaminya, Hamil duluan lah... Memasang tubuh nya lah... Bahkan ada juga yang mengatakan kalau ia main pelet. Ibell sakit hati, menjadi orang baik memang sulit, mau mengadu ke Nata, ia juga kasihan kepada karyawan karyawati yang menghinanya dari belakang. ia tidak tega juga kalau mereka pada di pecat. ah... mungkin bersabar kini lebih tepat, Nanti juga pada mingkem tuh mulut ember bila mana sudah capek, kalau masih bernyinyir ria, maka boom waktu siap meledak.
Nata mengejar langkah istri nya yang terlihat aneh saat ini.
" Kamu kenapa Bell ?" Nata membalikkan tubuh Ibell yang sibuk tidak jelas.
" Ibell tidak apa apa, cuma sedikit bad mood, biasa lagi dapet." kelit nya.
" Yakin ? tapi wajah mu berkata lain, kalau ada masalah ceritakan, aku adalah suami mu, berkeluh-kesah ke pasangan itu wajar-wajar saja."
Ibell berpikir sejenak menatap serius wajah Nata, benar kata suami nya, terbuka lebih baik.
" Bang, Bang Nata keberatan tidak kalau Ibell melarang mu untuk jaga jarak sama kak Dian ?"
Alis Nata terjungkit satu, sejurus tersenyum meledek istri nya, Ternyata Ibell masih cemburu gara gara ia pernah mengantar kaka tiri istri nya ke unit.
" Ada rasa tidak enak yang Ibell rasa kan, tapi entah apa ? " Lanjut Ibell dengan wajah serius nya.
" Ayolah sayang, jangan berpikir yang tidak tidak, dan tanpa di minta pun suami mu akan jaga jarak ke Dian dan wanita mana pun di luar sana."
Ibell tersenyum hangat menyentuh rahang Nata dan berkata. "Suami baik, ayo kita meeting sebelum dua klien kita pada kabur."
__ADS_1
Sebelum beranjak, Nata menundukkan wajahnya dan mengabsen mesra bibir istri nya, Shiit..yang di bawah malah On, ah... wanita kenapa sih kudu dapat tamu tiap bulan ?
Di ruang meeting, Ibell dan Nata baru bergabung di mana ke-dua klien baru nya juga baru tiba.
" Selamat siang semuanya." Ramah Nata menyambut empat orang dari dua perusahaan lain, Namun sempat nafas nya tertahan saat melihat wanita masa lalu nya ada di hadapannya yang sekian lama tidak pernah bertemu setelah Penghianatan itu. Mutia !
Ibell pun sama, sempat terperangah menyadari ada kakak tirinya di depan mata. Dan semakin terasa saja udara tetiba menipis saat wajah wanita cantik di hadapan suaminya adalah mantan pacar Nata, walaupun hanya melihat foto Mutia sekali dari Yola, Tapi Ibell masih mengingat wajah itu, dan semakin yakin lah diri nya ketika melirik suami nya yang tetiba berubah ekspresi wajah nya yang tadinya ramah kini menjadi datar. Ah... kenapa harus ada wanita itu tetiba.
" Pak Nata, Are you ok ? Anda seperti nya melihat setan, tapi ah...masa sekretaris saya anda anggap begitu ?" Canda dari bos Mutia. Mutia sendiri cuma tersenyum santai.
" Mutiara, Sekretaris pak Juan ?" Mutia mengulurkan tangannya ke Nata, Namun mantan nya itu sibuk melirik Ibell saat ini.
"Ah, iya...saya Dinata, silahkan duduk semuanya, kita mulai Meeting nya." Datar Nata.
Ibell tersenyum puas dalam hati, suaminya ternyata menghormati dirinya dengan mengabaikan jabatan Mutia.
Sial, Nata masih menaruh dendam rupanya ke gue, ah..jika gue tahu dari dulu Nata adalah anak dari pewaris KA Group yang tajir punya, mana mau gue berkhianat. Mutia hanya sibuk memandang Nata tanpa memperdulikan poin poin dari persentase meeting room mereka, Dian pun sama, otak nya bercabang busuk.
Langkahi dulu Isabelle Lovelia bila ingin macam macam. Batin Ibell dengan tatapan sinis nya ke Dian dan Mutia Mutia itu tapi kedua perempuan di hadapannya tidak ada yang perduli akan tatapan matanya, kalau Dian, Ibell yakin kakak tirinya itu sengaja menatap damba suami nya agar dirinya terbakar cemburu buta dan berakhir ia marah marah tak jelas ke Nata. dan berujung pula memancing perdebatan dengan tidak jelas bersama Nata.
Cih...Cara basi. Santai Ibell. Namun yang membuat nya was was adalah kehadiran Mutia, cinta pertama suami nya yang mungkin saja Nata dengan mudahnya kembali lagi kekasih pertama nya, ada pepatah cinta mengatakan.. Yang pertama itu sulit di lupakan. Ibell takut akan hal itu.
"Hmm, Pak Nata ! Saya boleh minjam toilet di kantor anda ?"
Setelah rapat selesai, Mutia langsung cari perhatian Nata dengan suara gemulai manja nya.
" Ah, sangat boleh Ibu Mutia, Kenapa tidak ?" Ibell yang menyela dengan suara di buat ramah., padahal ingin mencolok mata Mutia yang terang terangan menggoda Suaminya, Nata malah tersenyum tipis menyadari sikap aneh Ibell.
" Silahkan !" Lanjut Ibell beranjak menunjukkan toilet kantor yang ada di luar ruangan meeting.
Menyusahkan saja ! Nata sebenarnya sedari tadi ingin pergi dari hadapan Mutia, Tapi mengingat keprofesionalan nya sebagai pemimpin perusahaan nya, ia terpaksa betah betahin.
Di dalam kamar mandi, Mutia yang tidak tahu siapa itu Ibell di hidup Nata berceloteh antusias tentang Nata ke Ibell, Mutia sebenarnya tahu dari berita bisnis kalau Nata sudah menikah, Tapi tidak mengenali istri nya itu siapa, ya wajar sih.... Ibell sekarang hanya bermake up tipis bukan seperti pengantin yang berdandang cetar.
__ADS_1
" Ah, Mbak Ibell, Nata itu adalah mantan pacar saya lho."
Ibell diam, melirik malas ke wanita ini yang sedang membenarkan make up.
" Dulu kami adalah pasangan romantis yang saling mencintai, menyayangi dan saling melengkapi."
" Tapi kan itu cuma dulu mbak Mutia, sekarang kan pak Dinata sudah punya istri lho, tidak baik mendamba Seperti itu ke imam wanita lain." Sahut Ibell, diam juga kupingnya jadi panas.
Dian yang sebenarnya mengekori kedua wanita spesial Nata, tersenyum misterius baru mengetahui kalau wanita semampai bak model di hadapannya adalah wanita masa lalu Nata.
Ibell kebakaran jenggot. Batin Dian, perlahan ikut nimbrung namun Ibell tidak menyadari ada diri nya yang menyender di tembok.
" Ah itu saya sudah tau, Mbak Ibell. Saya penasaran, bagaimana pilihan Nata itu ? cantik biasa atau melebihi kecantikan saya, pasti masih cantik kan saya ! dan kalau benar itu...maka saya akan mudah masuk ke dalam hidup Nata."'
" Mm, Mbak Mutia coba teliti saya, Nilai saya, sebagai sesama wanita biasanya menilai kecantikan itu terdengar jujur, Tapi kalau laki laki yang memuji, biasanya cuma modus gombal doang." Ibell berambigu, ia masih santai menghadapi wanita yang terang terangan menabuh genderang.
Istri mana yang tidak kecacingan melihat mantan suami terang terangan menatap mupeng suaminya dan berkata maka saya akan mudah masuk ke dalam hidup Nata. Cemburu Coeg, walau pun Nata bertingkah cuek tapi tetap saja ada rasa tidak nyaman di hati Ibell.
" Mm, mbak cantik, sangat cantik malah padahal terlihat bermake up natural, duh..saya suka bentuk bibir Mbak Ibell, Cip*kable. Tapi...apa hubungan nya dengan anda tentang Istri Nata ?"
" Karena mbak Ibell ini adalah Istri nya, awas di makan lho." Dian yang menyambar menyahut di belakang Ibell dengan suara geli nya.
" Ap_ Mbak Ibell i__" Mutia kehilangan kata kata, ah...kok ia merasa bodoh yang tadinya begitu sombong berucap.
" Ya, saya adalah istri nya Nata, Mbak Mutia. Masa depannya bukan masa lalu. Dan ah...kata orang yang saling mencintai itu akan berakhir bahagia bukan berakhir ada Penghianatan, Betul tidak ?" Sindir Ibell yang tahu penghianatan wanita ini dari cerita Yola. " Dan tolong jangan pernah berpikir ingin masuk kedalam hidup suami saya lagi, jelas saya tidak akang tinggal diam, mbak Mutia."
Mutia kehilangan kata kata, Tahu maksud Ibell.
" Dan ah...Benar apa yang kamu katakan kak Dian, saya bisa makan orang kalau ada yang macam macam mengusik ketenangan saya, jadi jangan pernah ada niat ya kak, Kamu tahu sisi baik dan sisi liar saya."
Kali ini peringatan ambigu nya tertuju ke Dian tepat di telinga Dian berbisik dingin dan pergi begitu saja tanpa ada keramahan lagi untuk Mutia.
Saya tidak takut adik tiri ku sayang.. Demi hidup mewah apa pun jadi, Neraka bagimu dan surga untuk ku. Tunggu saja.
__ADS_1