
Sementara di Apartemen, Dinata Kedward Abraham, Sedang tersenyum mesum dengan kaki menempuh satu duduk di atas sofa, Vodka di tangan kanan dan mata jelalatan memindai wanita Ons nya yang sedang menari stereaptease di hadapannya yang saat ini onsnya membuka helai demi helai kainnya sendiri.
"Menari lebih hot lagi !" Titah Nata seraya menelan ludahnya sendiri melihat pemandangan indah tapi murahan, inilah yang di inginkan wanita...di hargai dengan uang.
Sang Ons menurut, menari lebih hot lagi tanpa satu busana pun, Musik jedag jedug mengiringi langkah pelan nya menuju tempat duduk santai Nata. Duduk menyamping di pangkuan Nata, Merayu tuan nya dengan tangan meraba dada pindah kebelakang leher.
Nata tersenyum miring, ia belum siap bermain cepat, waktunya masih panjang... memanjakan matanya terlebih dahulu lebih menarik dari pada memanjakan Beno. Beno ? Kenapa ia tiba-tiba mengingat Ibell. Batin nya. Mood nya kembali jelek jadinya, kalau sudah terarah ke penolakan Ibell.
" Kenapa diam saja tuan ?" Sang Ons menuntun tangan Nata ke buah kembarnya. mengalunkan tangannya di leher Nata seraya pinggulnya bergerak agresif guna untuk merayu senjata sang Tuan tampan yang masih datar.
"Menari lagi, saya masih ingin melihat lekukan itu bergerak menggoda terlebih dahulu." Nata mengelak dari serangan bibir wanita bayarannya. Entah... Tubuhnya ada di tempat tapi otak nya tertuju ke Ibell.
Ibell Ibell Ibell terus, Sial... Inner beauty nya sangat bermagnet. Batinnya kesal.
Sedangkan sang Ons menurut turun dari pangkuan Nata, Kembali menari merayu menggoda. Titah sang Tuan adalah mutlak, ia mau tips banyak dengan itu menurut adalah salah satu nya, padahal jiwa kewanitaan nya sudah meronta-ronta ingin lebih.
Ada apa dengan nya ? Tidak nafs* kah ? Heran sang Ons.
Sementara di luar koridor lantai, Yola terlihat baru keluar dari lift, langkah nya semakin panjang mendekati pintu unit kamar Nata.
Yola menyeringai lebar seraya menekan tombol pin unit. " Awas saja laporan Ibell benar adanya, Mama beri pelajaran kamu anak gendeng." Gumam Yola, sejurus ia berhasil membuka pintu, Inderanya langsung berdengung mendengar ada suara musik kencang berasal dari ruang tengah. Langkah pun semakin di percepat ke arah suara musik.
Tak...
__ADS_1
" Anak gendeeeeeeng !" Gelegar Yola setelah kabel musik ia cabut secara kasar. tangan berdecak pinggang dengan tatapan membunuh nya ke dua sejoli kurang ajar di hadapannya.
Sontak sang Ons dan Nata terkesiap hebat, Nata berdiri namun masih memperlihatkan wajah datar nya.
" Kamu pakai baju mu dan cepat pergi dari sini." Tukas Yola ke Ons anak nya. Yola sampai meringis dengan kalakuan anak nya, Nata mengingatkan nya akan kelakuan bejat mas suaminya.
"Nataaaaa, sini kamu." Yola langsung berteriak kesal setelah sang Ons beranjak pergi, ia menjewer telinga kanan Nata tanpa ampun.
Wajah Nata yang tadinya datar datar saja, kini meringis sakit aduh duh duh.
" Ma ! Sakit !" Nata meringis tapi gigi nya terlihat akan cengiran bodoh nya, menampakan wajah polos nya untuk merayu sang ratu nya.
" Biarin, nih..mama tambahin lagi." Telinga kiri pun jadi korbannya. Yola semakin menikmati ringisan sakit Nata. Tak perduli akan wajah sok polos Nata yang selalu menipunya. cih..kali ini kudu di beri tindakan tegas. Rencana Yola dalam hati.
"Nikah nya kapan kapan, Ma." Sahut santai Nata, merangkul pinggang Yola posesif layak nya pacar, merayu agar sang Mama tidak berlebihan, Ia pan tahu otak wild mama nya seperti apa.
" Tidak ada kapan kapan, secepatnya Mama akan menyuruh Ibell mengatur jadwal mu untuk temu janji sama calon mantu pilihan mama, mau tidak mau kamu harus nurut, dan ah... sebagai penjagaan ketat dari Mama, mulai saat ini kamu tidak boleh tinggal di sini lagi tapi di rumah bersama Mama Papa..No penolakan, malam ini harus tidur di rumah. Titik." Yola menyingkirkan tangan Nata di pinggangnya, ia tidak bisa di tipu oleh keturunan Kemal si Cassanova Tobat itu. Bapak nya sudah tobat, pitik nya pun harus tobat dengan cara apapun.
"Ma, Tap__"
" Tidak ada penolakan !" Yola beranjak pergi dengan wajah masam nya, sejurus setelah berada di pintu, ia tersenyum licik dengan ide nya yang sudah ada di otaknya.
...*****...
__ADS_1
Nata mengemudi kan mobil nya malas malasan menuju arah pulang ke rumah orang tuanya, ia tiba tiba me-rem pedal nya saat mobil di hadapannya berhenti tiba-tiba.
Sialan, woy ! Maki teriak Nata ke pengguna mobil di hadapannya, Ia turun secara kasar, Ingin melihat body mobil nya yang sepertinya lecet karena mencium body mobil yang berhenti tak tahu aturan.
Pemilik mobil di depan pun turun dapat makian dari Nata.
" Lo !" Tunjuk kasar Nata ke pria di hadapannya tak lain adalah Alvin-mantan dari Lyn yang sama sama Penghianat seperti Mutia.
" Wow, Lama tak jumpa, bro !" Alvin tersenyum sinis, inilah salah satu ia bertekad sukses seperti saat ini yang ingin menyombongkan diri di hadapan Nata. " Bilang saja, berapa kerugian yang harus gue bayar ?" Sombong nya mengeluarkan dompetnya, ia terlihat buru buru karena melihat Ibell di penjual kaki lima di seberang jalan sana.
" Kagak usah, ambil saja buat beli bensin." Nata melengos ke arah seberang jalan, tidak sudi melihat wajah sombong Alvin. Sejurus tatapan nya menangkap sosok Ibell yang duduk di bangku penjualan nasi pinggir jalan." Ibell ?" ucapnya timbul senyum manis nya.
Alvin yang mendengar itu mengikuti arah pandang Nata. Nata kenal ibell ? Batinnya bertanya tanya, sejurus menyeringai jahat melihat Nata menghampiri Ibell.
Mutia udah basih buat gue, Nat. Pilihan Lo akan gadis benar benar menarik, kejadian Mutia akan terulang lagi sebentar lagi, Lo hanya akan dapat bekas gue aja, bro.
Alvin memutuskan pergi, ia tidak jadi menghampiri Ibell karena jujur, bersaing secara terang-terangan dengan Nata, ia pasti akan kalah, Alvin suka bermain belakang.
" Pak, Nasi goreng spesial nya satu ya !" Nata modus, pura pura tidak melihat Ibell yang saat ini Ibell sudah mengetahui keberadaan nya karena suaranya yang memesan makanan sengaja di naikkan oktafnya.
Ibell yang malas berhadapan dengan siapapun, memilih beranjak, Tidak niat menghabiskan makanan nya.
" Wah, Ada Ibell !" Nata menghadang langkah Ibell dengan tubuh tinggi nya, ia tersenyum manis di depan wajah Ibell. Sejurus menautkan alisnya mendapati pipi Ibell yang sedikit merah seperti habis di tampar, Mata itu pun sembab.
__ADS_1
" Maaf pak, Permisi."