
Suasana kantor terasa tenang bagi Ibell hari ini karena pak bos Mesum nya tidak ada di tempat yang artinya, ia terbebas dari rayuan gombal Nata yang selalu vulga*, ujung ujungnya ranjang terus yang di bicarakan.
Ibell balik ke rumahnya dengan perasaan sedikit tenang, Tapi...baru sampai di pelataran rumah minimalis itu, ia berhenti dari langkah nya melihat ada mobil mewah orang asing terparkir di halaman rumah nya.
Mobil siapa ? Batinnya celingukan. Penasaran..ia pun menginjak teras dan seketika mendengar suara dari dalam rumah menyebut nyebut nama nya, dan itu suara Andra-kaka tiri nya yang sama saja selalu memalaknya kalau bertemu.
Kaki Ibell bergetar, ia ingin pergi lagi yang tidak mau bertemu dengan kaka tirinya itu yang jarang pulang ke rumah, tapi giliran pulang, maka pasti saja ada masalah yang akan ia hadapi.
" Ibell, mau kemana kamu ?"
Shiiit, kedatangan nya ternyata sudah di ketahui oleh ibu tiri dan kaka tiri nya. ia pun kembali berbalik dan menampilkan wajah datarnya.
" Mau ke mini market depan, Ibell lupa harus beli keperluan wanita." Bohong Ibell.
Cantik !
Ibell dengar suara pria asing di dekat Andra yang berbisik ke Kaka tiri nya. Perasaannya mendapat firasat tidak baik melihat pria asing di hadapan nya yang saat ini menatap nya tak berkedip.
" Ayo masuk dulu, Ke mini market nya bisa nanti." Mita-Ibu tiri Ibell menarik sedikit paksa Ibell untuk masuk ke dalam dan menyuruh nya duduk di sofa secara paksa, ia mendapat tekanan keras dari tangan Mita sampai pergelangan nya sedikit sakit.
Andra dan temannya pun kembali duduk, ingin sekali rasanya Ibell menaburi mata pria asing itu pakai bon cabe, ia risih di tatap intens seperti itu.
" Bell, perkenalkan...Ini bos ku, Nama nya Pak Alvin."
Andra menatap Ibell dengan tatapan tajam nya untuk mau bersikap baik ke bos nya, Sementara Ibell hanya datar datar siap membangkang.
" Alvin, Kamu ?"
" Saya Ibell, sudah dengar kan sedari tadi nama ku." Ibell tidak merespon jabatan tangan orang yang bernama Alvin itu. Ia tidak suka melihat dari tatapan nya saja, kurang ajar. sebelas dua belas dengan tatapan kurang ajar Nata, Batinnya jengah ingin kabur dari tengah tengah orang ini.
__ADS_1
"Ibell, bersikap manis !" Bisik geram Mita. " Ayo di jabat, ini peluang kamu untuk balas budi ke mama, dia menyukai mu hanya melihat foto kamu saja dari tadi, dia ingin mengajak mu keluar malam ini juga." Mita mencubit geram pinggang Ibell.
"Maaf Ma, Kalau bagi mama pria ini baik untuk mama, maka lempar Dian saja ke orang kaya ini, Ibell tidak suka, dan Ibell bukan wanita murahan." Pinggang Ibell memang sakit, Tapi hati nya lebih sakit yang akan di jual oleh Mama tiri nya.
Ibell beranjak ke kamar nya tidak sopan.
"Ibell !" Panggil Mita, Andra sampai mengepal kan tangan nya akan sikap dingin Ibell yang tidak merespon dan tidak ada takut takutnya.
awas kamu, Ibell ! Batin Mita dan Andra.
" Maaf pak Alvin, adik saya yang satu itu memang pembangkang, bagaimana kalau Adik saya-Dian saja yang akan menemani anda malam ini." Andra memamerkan foto seksi Dian ke Alvin.
" Tapi saya tertarik kepada Ibell, saya suka wanita tipe pembangkang." Tolak Alvin. Mita dan Andra saling pandang, kode matanya seakan akan mereka harus bisa menyenangkan hati orang kaya ini.
" Saya akan menunggu beberapa hari untuk kalian membujuk Ibell. Ini sekedar jajan penyemangat untuk Ibu, sisa nya akan lebih banyak lagi kalau Ibell mau menemani saya."
Dengan songong, Alvin melempar pelan amplop coklat berisi uang dari dalam jas nya ke atas meja, Ia tersinggung dengan penolakan wanita cantik tadi. Ia selalu mendapatkan apa yang ia mau, kesuksesan usaha nya yang dulu bukanlah siapa siapa menjadikan nya orang sombong saat ini.
" Eum." Dingin Alvin beranjak pergi dengan kacamata hitam sudah bertengger.
" Ma, Pokok nya... Ibell harus mau bagaimana pun cara Mama, ini kesempatan untuk kita mendapatkan uang tanpa bersusah payah." Ucap cepat Andra, setelah nya ia pun bergegas cepat menyusul bos nya yang saat ini sebagai asisten Alvin.
Kepergian Alvin dan Andra. Mita bergegas menuju kamar Ibell yang di kunci rapat rapat oleh Ibell saat ini.
" IBELL." tok tok tok. " Buka pintunya, Mama mau ngomong serius." Teriak Mita di luar pintu.
Ibell tak merespon, ia bukan anak kecil yang mau terus di tindas sesuka hati mereka, cukup sabar ia sampai saat ini, ia menerima perlakuan semena-mena orang tua sambung dan kakak kakak tirinya yang lalu lalu, Tapi kalau soal harga diri, Ibell akan memberontak bagaimana pun caranya.
"IBELL, keluar atau tidak sama sekali ?" Ancam Mita.
__ADS_1
Tidak ada jawaban.
" Ibell dengar ya, Kamu harus balas budi ke Mama, dari delapan tahun, Mama mengurus mu, cepat buka." Satu tendangan kuat melayang dari kaki Mita ke pintu kamar kokoh Ibell.
Selama itu pun aku di anak tirikan di sini, Ma. Dan itu memang kenyataannya, Tapi tidak kah kalian berpikir, Anak tiri pun Perlu di beri kasih sayang tulus, maka tak perlu di tagih pun, anak tiri ini akan membahagiakan mu di jalan Ibell yang menurut Tuhan benar.
" Ibell, Keluar atau rumah ini saya jual, kenangan kamu ke Mama kandung mu akan hilang di depan mata kamu sendiri." Ancam Mita.
Ceklek... Ibell terpaksa keluar, ia tidak ingin kehilangan peninggalan orang tuanya.
"Takut juga rupanya kamu ya kehilangan rumah ini." Mita tersenyum remeh. " Mama akan mengadu kan kamu ke Papa mu yang bodoh itu kalau sudah pulang dari kerja nya, Kalau kamu bersikap tidak sopan ke Mama...Sini kamu."
Ibell menepis langsung tangan mama tirinya yang mau menggeretnya ke kamar mandi. Ia bukan lah anak kecil lagi seperti dulu yang selalu di hukum dengan cara di guyur air dingin dan di kurung seharian di dalam kamar mandi.
" Oh, kamu sudah berani ke mama hah ?" Plakk.. satu tamparan bercap di pipi mulus Ibell, Gadis ini hanya tersenyum kecut. Ia sudah kebal dengan pukulan kecil.
" Ibell di sini karena Ibell masih ada rasa hormat kepada Mama dan Papa yang katanya orang tua baik sedunia, Ibell juga selama ini diam saja di perlakukan kasar oleh Mama dan memfitnah Ibell ke Papa, karena rasa sopan Ibell ke Mama masih ada, tapi maaf... Untuk menuruti perintah mama untuk satu ini tentang pria brengsek tadi, maka Ibell mending mati saja menyusul Mama kandung Ibell dari pada harus di injak-injak harga diri nya cuma soal materi saja. dan ya...sana, sana ngaduh ke Papa Kalau beliau sudah pulang, Ibell tidak takut di pukuli. Dan ingat juga ma, Ini rumah atas nama Ibell, harta Mama kandung Ibell, jadi tanpa persetujuan tanda tangan Ibell maka Mama tidak bisa menjual sesuka hati Mama, mengusir Ibell pun mama tidak berhak, karena Ibell lah yang patut mengusir kalian di sini."
Ibell... Plakk.. plakk..
Pandji-Papa Ibell yang baru tiba dari kerjanya mendengar separuh ucapan tidak sopan Ibell tentang patut mengusir kalian. Ia langsung terpancing emosi dan memukul Ibell dua kali pipi Ibell.
Mita yang melihat itu, Tersenyum jumawa dalam hati, Suami bodoh nya lebih percaya kepada nya dari pada anaknya sendiri.
" Terima kasih atas oleh oleh Papa." Air mata Ibell yang ia tahan, tidak bisa di kendalikan, hatinya sakit..lagi lagi papa nya bertindak gegabah tanpa mau mendengarkan pembelaan nya. Ibell tersenyum paksa dalam air mata yang semakin menetes.
"'Ibell, Pa___"
Ibell beranjak tanpa ingin juga mendengar kata-kata papa nya yang entah mau berucap apa lagi kepadanya. ia menutup pintu kamar nya dengan geprakan keras. Ibell menangis tergugu di pojokan kamar nya, ia sepi...hampa, tak ada tempat untuk mencurahkan kesedihan nya, ia tidak punya sandaran satu orang pun. Saat ini...ia hanya bisa menangis seorang diri tanpa ada yang tahu kalau ia tersiksa tertekan luar biasa akan sikap keluarganya sendiri.
__ADS_1
Hiks hiks hiks...Kenapa Mama dan Nenek tega meninggalkan Ibell seorang diri di tengah tengah mereka. Ibell butuh kalian.