Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 187


__ADS_3

Bugh..


Vay terkesiap mendengar suara gedubrak dari.....


" Hahaha, Kak Petir jatuh." Tawa Vay pecah, ternyata bunyi gedubrak itu adalah Petir dari atas pohon jambu.


" Sialan !" Dengus Petir seraya mengelus elus bagian belakangnya, untung ia jatuh nya sudah dekat dari tanah jadi aman, korban panta* doang yang ngilu berdenyut denyut , ini itu gara gara ada semut yang menggigit nya di bagian punggung, jadi ia tidak fokus ke ranting melainkan reflek garuk-garuk jadi jatuh deh.


Bukan nya di tolongin, Vay semakin melebarkan bibir nya, terbahak. Sampai golongan Purnama, Lautan serta Twins menghampiri mereka, penasaran. Topan dan Pelangi pun baru sampai bergabung namun beda arah.


" Vay, shut up. Kalian juga jangan ada yang tertawa."


Ha-ha-ha.


Tidak ada yang takut dengan ancaman Petir, Mereka kompak tertawa membully Petir. Tapi terhenti kompak saat empat kepala orang tua berada di hadapannya yang baru tiba. Vay segera menghampiri Ambu dan Abah nya. Namun mata nya tertuju ke arah dua orang tua yang tadi memeluk rindu Bunda nya, meneliti kira kira siapa ke dua orang tua itu ?


" Kalian ya, main pergi saja tanpa ijin ke Oma !" Telunjuk Yola memutar menunjuk ke arah delapan bocah cucu cucu kerabat nya. Terhenti tepat ke arah cucu nya yang air muka itu bermimik lucu menatap nya intens.


Warna rambut sama, Netra sama ! Itulah yang di perhatikan Vay ke wanita anggun di hadapannya dengan mata saling beradu dengan netra Amber Yola.


" Vay, itu kan nama mu ?"


Vay mengangguk polos akan pertanyaan Kemal. " Anevay Adelle Abraham." Lengkap Vay memperkenalkan diri ke Kemal. Yola gemas sendiri, Tak kuat menahan diri, Yola langsung menarik Vay masuk ke dalam pelukannya dengan mata sudah berkaca-kaca, Cucu nya sudah besar seperti ini tapi di sayangkan ia baru bisa memeluk nya, cita cita nya menggendong bayi Ibell Nata raup sudah, bukan bayi lagi, melainkan gadis kecil yang cantik jelita. Ah.. mungkin cucu ke-dua nya nanti baru akan beruntung, Ia akan meminta Ibell dan Nata segera punya anak ke dua. Harus !


Kemal tanpa suara lagi pun ikut berjongkok dengan tangan mengelus sayang rambut indah cucu nya, lihat lah... Anaknya mendominasi Nata dan Yola secara bersama, genetika nya tak jauh dari bule yang lebih terlihat, lah...Ia dan Ibell di kemanain ? Ibell lebih beruntung, hidung kecil bangir itu ciplakan Bunda nya. ia ? Tak ada... curang mereka bertiga.


Vay yang merasa bingung, mata nya mendongak ke arah Abah Ambu nya yang tersenyum angguk, tanda tak apa.

__ADS_1


" Kalian siapa ? Kenapa meluk Vay ?" Jujur, Vay sedikit risih, ia sedikit sesak karena di peluk oleh dua orang sekaligus. Apalagi pipi nya di cium gemas oleh Kemal, geli geli karena buluh kecil di rahang Itu.


" Kami adalah nenek dan kakek mu, Sayang !" Ujar Kemal, suaranya bergetar haru.


" Panggil kami Oma dan Opa seperti teman-teman Vay." Sambung Yola.


Abah-Ambu dan bocah-bocah lainnya tidak ada yang ikut bersuara, cukup jadi penonton haru Yola dan Kemal.


Lantas, Vay meronta kecil, lepas dari jangkauan Kemal dan Yola, anak Ibell ini malah berdiri di tengah-tengah Abah Ambu nya.


" Nenek Kakek Vay, Abah Ambu." Tangan lembut kecil itu menggenggam tangan orang tua angkat Bunda nya, mencoba menegaskan kalau orang tua yang di pegang nya inilah kakek neneknya, Bukan dua orang tua itu yang saat ini bermimik kecewa. lagian siapa mereka itu ? datang datang kok ngaku ngaku. Batin nya bertanya tanya.


Nyes... Siapa yang tidak sedih ? Bila darah sendiri tidak mengakui keberadaan nya, Tapi Yola dan Kemal memaklumi penolakan Vay sekarang ini, Vay baru pertama kali melihatnya dan mengetahui kenyataannya pun baru detik ini.


" Sayang, Jangan begitu, Mereka lah kakek nenek mu yang asli, Bukan kami, Nak." Terang Ambu lembut dengan berjongkok menyamai tinggi Vay. Ambu tidak sadar cara penjelasan nya salah untuk di konsumsi pengertian versi anak anak.


" Kenapa Ambu mengatakan bukan kami ? Abah-Ambu tidak sayang Vay lagi ya ? dan itu pasti karena mereka ?"


Tanpa menunggu pembelaan Abah-Ambu nya, Vay berlari pergi menuju arah pulang rumah nya. Ia bersedih, Abah-Ambu nya tidak mau lagi menjadi kakek nenek nya.


" Vay !"


" Vay !"


Kompak mereka memanggil, tanpa terkecuali, para bocah ikutan berlari mengejar laju Vay.


Ambu yang salah pengarahan jadi serba salah, Meminta maaf ke Yola dan Kemal dengan rasa tidak enak hati.

__ADS_1


" Tidak apa apa Ambu, bukan salah kalian." Ujar Yola di angguki Kemal. Nafas Yola berhembus sedih.


" Ayo kita pulang, ini hanya masalah waktu, Nak. Setelah mendapat penjelasan dari Iss_Ibell, Vay akan paham." Abah berjalan duluan.


Lama berlari, Vay sudah sampai di rumah, di susul satu persatu teman nya dengan nafas saling memberu. Tapi bocah bocah ini tidak ada yang masuk ke rumah, Tidak sopan. Mereka hanya duduk di teras menetralkan nafas masing masing.


" Vay, kamu kenapa nak ?"


Braaak..


Ibell dan Nata yang baru selesai memasak, terkesiap dengan ulah Vay yang membanting pintu kamar.


Tok tok tok


" Vay, buka pintu nya ! Ini tidak sopan lho, Teman teman Vay ada di luar, temani mereka sayang." Bujuk Ibell gedor gedor pintu yang di kunci Vay, Nata ada di sampingnya dengan raut bingung, apa yang sudah terjadi.


" Vay, ini Ayah nak, buka pintu ya !"


" Abah-Ambu tidak sayang Vay lagi, Abah-Ambu tidak mau jadi kakek nenek Vay lagi, Abah-Ambu hiks hiks__ Itu karena gara gara orang asing yang tadi meluk Bunda." Seru Vay di balik pintu, duduk asal asalan menyender di daun pintu tersebut dengan air mata sedihnya, merasa Abah-Ambu nya ingin mundur jadi orang tersayang nya. Coba dua orang asing itu tidak hadir, Kan Abah-Ambu nya tidak akan menghapus nya menjadi cucu nya. Bukan kami ? Vay terngiang kalimat yang mengecewakan itu.


" Apa maksudmu, Vay. Buka pintu nya, Bunda tidak suka sikap kamu ini, Nak. Kita bicara baik baik ya." Bujuk Ibell. Tidak ada respon dari Vay di dalam sana, Hanya suara isakan tangis kecil, lebih tepatnya nya Vay menutup wajahnya dengan bantal agar tangis sedih yang tidak di akui Abah-Ambu nya tidak terdengar keluar oleh Bunda nya, sebenarnya Vay itu paling takut kalau Bunda nya hilang ke sabaran akan sikap nya yang kadang kadang batu.


" Vay, Dengerin Ayah__"


" Vay tidak mau dengar Ayah atau pun Bunda, Usir dua orang asing tadi dulu, baru Vay mau keluar."


" VAY, KELUAR SEKARANG ATAU BUNDA AKAN MARAH." Dua oktaf Ibell bersuara lantang, Ibell tahu yang di maksud Vay akan dua orang asing itu. Mertuanya ! Tapi ia ingin tahu apa penyebabnya Vay ngambek seperti itu, ini ke-dua kali nya Vay bertingkah keras, di kala itu, Vay menanyakan terus menerus keberadaan Ayah nya, dan tanpa sengaja, Ibell membentak Vay karena bosan mendengar pertanyaan Vay itu itu terus, Lebih tepat nya Ibell di waktu itu tidak punya jawaban tertentu. Istimewa pertanyaan Vay membuat luka hatinya menganga.

__ADS_1


" Bunda dan Ayah juga membela mereka ya__ Hiks hiks, Huawaaa." Vay semakin kejer mendengar bentakan Bunda nya yang terdengar marah sekali kepada nya, dan itu gara gara dua orang asing tadi. Lagi...Vay menyalahkan orang asing itu.


__ADS_2