
Hati hati !
Yola dan Kemal berpisah arah dengan motor masing masing dalam pacuan nya, Dingin malam yang menerpa tubuh Yola bukan penghambat dalam pencarian nya, Hanya mata Amber itu lah yang terlihat dari balik helm, ujung kaki, kepala sampai punggung tangan pun terbungkus rapi dengan sarung tangan berwarna hitam.
Chiiit...
Yola hampir menabrak orang yang main nyebrang lari ketengah jalan, Hampir saja ! Lirih Yola kesal menatap tajam tiga pria yang rupa rupa nya bukan orang Pratiwi nya.
" Sorry sir !" Ucap orang itu ke Yola, Yola di anggap seorang laki laki, ya jelas....Yola dalam pacuan kuda besinya di tengah malam seperti ini, mana ada wanita yang main motor racing di tengah malam, tidak mungkin wanita kan ? Tebak mereka itu adalah laki laki.
" eum !" Yola hanya bergumam dan kembali melajukan motornya dengan kecepatan pelan, Mata amber itu memperhatikan tiga pria yang terlihat buru-buru dari kaca spion nya, apalagi salah satu dari mereka tertatih tatih dengan luka di paha serta di tangan itu pun ada. Mencurigakan.
Entah kenapa batin nya berucap ikuti mereka, Sekonyong-konyong nya motor itu berbalik arah masuk ke jalan tikus mengikuti tiga pria tersebut. Sorot lampu motor Yola pun sengaja di matikan.
Di Pos ronda, Vay dan Pelangi masih tertidur. Guntur dan Petir duduk terjaga, mengawasi nyamuk yang siap menghisap darah orang yang lagi tertidur. Mereka berdua sebagai obat nyamuk plak plak plak...
Guntur dan Petir sesekali mengobrol. Petir sangat penasaran siapa sebenarnya laki laki remaja di hadapannya.
" Gue sebenernya ingat Lo, Anak pengamen yang di bantu Pelangi waktu di taman kota lain di saat umur gue___? Siapa sebenarnya Lo ? nggak mungkin anak jalanan, Gue nggak percaya kalau Lo mengelak dengan kata itu."
Petir berucap seraya melepaskan jaket nya dan menyelimuti tubuh mungil Vay yang meringkuk kedinginan.
" Gue bukan siapa siapa, Benar adanya gue anak jalanan."
"Terserah Lo bung !" Malas Petir tidak percaya, anak Senja itu kembali rebahan asal asalan di sisi Vay, sempat sempat nya tangan nakal nya memencet ujung hidung Vay, iseng.
" Uhh !" Lenguh Vay dengan mata masih terpejam. " Bunda !" Racau nya kemudian, Bunda nya kebiasaan.... jam tiga dini hari selalu mengganggunya untuk ngirim sayur seraya bersekolah.
" Jangan di ganggu, kasihan !" Lerai Guntur, Petir menurut yang tadi nya keasyikan menjahili Vay. Mata itu pun mencoba untuk di pejamkan.
__ADS_1
" GPS khusus itu berada di titik sini ! berpencar lah, Tuan muda pasti bersembunyi di daerah sini."
Guntur yang baru rebahan sejenak, dan Petir yang baru memejamkan matanya, mendengar suara tidak asing itu.
Sial ! Mereka menemukan titik keberadaan nya ! umpat Guntur baru menyadari pasti ia sudah di beri alat khusus di saat pingsan, di cari nya alat Gps itu di...Benar ada nya, ada di dalam saku jaket Hoodie nya. Guntur melempar jauh alat kecil itu.
" Pe, Bangun !"
" Vay, Bangun"
Guntur dan Petir main seret tangan anak orang yang baru melek linglung.
" Ada apa lagi kak ?" Lemas Vay ngucek ngucek mata nya dengan tangan satu nya di seret Petir. Sementara Pelangi yang kesusahan jalan di suruh naik ke punggung Guntur.
" Ayo Pe, naik ! suara langkah kaki mereka semakin terdengar__"
" Mau Kemana ?" Hahaha. Mereka tertawa remeh, dengan pistol di kepala Vay dan Pelangi yang baru mau naik kegendongan Guntur.
" Jangan sakiti mereka, Saya siap ikut dengan kalian asal kan Mereka di lepas kan !" Guntur bernegosiasi dengan bahasa negara Daddy nya, tak apa nanti nasib nya akan merenggang, yang penting ke tiga orang yang sedari tadi membantu nya bisa selamat.
" Saya janji !" Bujuk Guntur lagi. Petir dan Vay berikut Pelangi melihat wajah Guntur, Iba. Tapi dalam hati mereka juga tentu saja takut.
" Hahaha, Maaf tuan muda, Tidak bisa, mereka harus mati karena sudah memperlambat kerjaan kami, Bos kami saat ini sangat marah besar karena anda selalu kabur."
Pistol yang di kepala Vay dan Pelangi siap di tarik pelatuk nya, mata indah dua pasang itu terpejam pasrah, Vay bergetar ketakutan, ia menahan pipis.
Petir dan Guntur yang ingin maju menolong, tertahan akan ada sorot lampu motor yang menyilaukan mata.
Door, Door !
__ADS_1
Door !
Tiga kali tembakan terlepas dari dua berlawanan bersahutan.
Dan pelaku nya jelas dari satu penjahat tersebut yang tidak terima ke-dua rekan nya tertembak mati seketika. karena peluru itu di sasar kan tepat menembus masuk ke jantung dan rekan satu nya lagi tepat di dahi nya, siapa penembak yang masih di atas pemotor itu ? Yang sial nya tembakan nya tidak mengenai sasaran nya karena si pemotor itu pintar sekali mengelak.
Dan dua kali tembakan dari senjata lain adalah milik Yolanda Aditama Perkasa. Si Oma Wild ini langsung di rasuki emosi melihat kepala cucu semata wayangnya di todong senjata. Tidak akan ada ampun bagi mereka. Nyawa Yola siap di pertaruhkan demi cucu nya.
Vay dan Pelangi yang tersadar bebas dari todongan, seketika menjauh. Begitu pun Guntur dan Petir.
Mereka penasaran siapa kira kira pemotor itu yang menolong mereka.
" Jangan ikut campur ! Atau Kepala mu akan bocor." Ancam nya ke Yola yang sudah marah mengubun. Senjata itu pun tertodong ke Yola yang si wild ini tidak merasakan gentar sedikitpun, Yola malah turun dari motor dan berjalan santai seraya melepaskan helm itu dan melempar nya cepat ke arah tangan Penjahat itu yang menodong kepada nya. Meleset...Kali ini helm itu di tangkis tendangan dari kaki si penjahat Onta.
" Oma !" Pekik Vay senang baru mengetahui ternyata Oma nya yang pengguna motor itu, begitu pun Pelangi dan Petir. Oma mereka sangat lah keren. Puji nya baru pertama kali ini melihat penampilan wild Yola. Guntur ikut merasakan lega, tapi sedikit ! ia belum yakin, Oma Vay bisa mengalahkan seorang laki-laki. Guntur semakin bersalah, ada orang asing lagi yang ikut terseret ke dalam masalah nya.
" Anda mencari mati." Dingin Yola memancarkan kilatan mata marah nya. " Bisa nya menakuti anak___ !"
Door...
Aaargh, Oma !
Ketiga bocah-bocah ini menjerit cemas ketakutan, Oma mereka tertembak di bagian ujung lengan nya. Sementara Guntur sigap menendang tangan penjahat itu yang kembali ingin menembak Yola, membuat senjata penjahat itu terpental jauh.
" Tidak apa apa sayang, Ini hanya perkenalan saja" Sudut mata Yola melirik jaket kulit nya yang bolong dengan darah segar terlihat. Untung ! Peluru itu hanya menyerempet nya tidak sampai tembus.
" Kamu hanya seorang wanita, bisa apa ?"
Yola di remehkan, senyum evil nya mengembang.
__ADS_1
" Ok, Mari kita lihat, Onta !!! Tanpa senjata dan one by one !"
Yola tertantang, Senjata api nya ia lempar ke Guntur asal asalan, ia ingin melatih kembali otot otot nya yang sudah lama tidak berolahraga berat. Luka di pinggir lengannya tak di hiraukan nya.