
Tiga belas tahun kemudian...
Seorang wanita berumur tapi masih terlihat fresh di mata, Issabelle Lovelia. Duduk bosan di taman belakang rumah besar suami nya.
Di ayunan sana, tidak ada yang memakai nya lagi semenjak Vay bersekolah di Belanda. Tidak ada suara rengekan anak kecil, tidak ada kenakalan, serba sunyi di hati Ibell bila mana di tinggal kerja oleh Nata.
Dari belakang, ada Nata yang baru pulang kerja dengan buket Bunga lili putih di tangan nya.
Hari ini, di mana hari spesial Ibell. Ulang tahun. Nata dan semua keluarga ingin membuat kejutan untuk istri tercinta nya.
" Happy birthday !"
Ibell meremang, Bisikan mesra dari belakang duduk nya di kursi taman itu, membuat nya tersenyum manis.
" Bunga favorit untuk mu." Lagi, Nata berbisik. Kini posisi tangan kirinya, merangkul leher Ibell dari belakang dengan tubuh itu sedikit membungkuk untuk menyatarai duduk Ibell. Tangan kanannya memberikan Bunga untuk Ibell.
" Terimakasih." Sambut Ibell, mencium aroma khas bunga favorit nya. Tapi... tetap saja ada yang kurang, biasanya.... Setiap hari ulang tahunnya, Ibell dan Nata selalu mengunjungi Vay di Belanda, tapi tahun ini tidak. Alasannya...Cuaca lagi buruk, itu alasan Vay dua hari yang lalu saat Ibell ingin ke Belanda.
" Kenapa kembali cemberut, eum ?" Di taman sunyi itu, Nata dan Ibell duduk bersisian dengan kepala Ibell menyender manja di bahu kekar Nata.
Nata mengelus bahu istri nya, penuh kasih sayang yang tiap hari bukan nya berkurang tapi semakin bertambah berat rasanya, ibarat kan Gunung selalu gagah kokoh berdiri, bukan lautan yang luas tak terkira tapi ada pasang surutnya. Definisi cinta Nata tidak mau di samakan dengan lautan, Tapi gunung yang selalu membukit subur.
" Ibell rindu Vay, Bang !" Adu nya sendu, seraya menatap penuh harap kewajah Nata.
" Tahun ini Ibell tidak bisa ke Belanda."
Nata hanya tersenyum misterius. " Tapikan ada bulan depan, mana tau cuaca buruk di sana sudah aman."
" Tapi tidak seru, Bukan hari spesial Ibell lagi." Rengek nya lagi. Nata bukan nya bosan dengan kemanjaan Ibell, Justru merasa gemas. Ya.... semenjak Vay pergi, Ibell layak nya anak kecil yang harus di utamakan segala sesuatunya, keinginan nya harus selalu di iya kan oleh Nata.
__ADS_1
" Terus Abang harus bagaimana, eum ? Andai sayap Abang tidak di tebas oleh Dewa Cinta, Mungkin Abang siap mengantar mu, Kemana pun dan kapan pun, tidak ada kata cuaca buruk, Semua akan Abang lawan rintangan itu demi senyum manis mu." Ke gombalan Nata tidak pernah luput dari usia.
" Dasar gombal, mulut manis ! Awas nanti deretan semut akan menghampiri bibir Abang." Balas Ibell, Senyum itu pun mengembang karena gombalan manis suami nya yang selalu menghibur hari nya.
" Bang, terima kasih untuk semuanya, Cinta dan kasih sayang mu tidak pernah berkurang, justru sebaliknya." Sambung nya cepat saat Nata ingin protes tentang manis mulut.
Nata akhir nya bungkam, di buat melambung dengan kata kata sederhana Ibell, tapi tersirat nada tulus di oktaf Istri nya hingga kata itu sampai ke hati.
" Kata terimakasih itu tidak terasa, bagaimana kalau kita karantina Beno Eni saja." Nata tersenyum mesum dengan kedipan mata genit nya.. Ibell yang memutar matanya malas. Nambah tua karantina Beno semakin mengerikan, dulu tiga-empat hari, tapi sekarang seminggu lebihan juga lanjut terus.
" Abang nggak bosan ?" dengus Ibell.
" Nggak ! Tapi khusus hari ini cuma satu jam, karena nanti malam, Abang ada kejutan untuk mu." Nata sudah meraup mesra tubuh Ibell, membawa nya masuk ke rumah. Ibell dengan senang hati mengalung kan tangan nya. Sejatinya seorang wanita memang mendambakan laki laki romantis dan penyayang seperti iman nya ini yang sudah di atas tubuh nya dengan peraduan empuk membuat penyatuan mereka semakin nyaman.
Keringat menggelora panas saling menetes, bibir mereka sesekali berpaduan suara khas kepedesan, Namun ah uh ah itu berhenti terdengar bila mana bibir saling mencecap madu nya, erangan gelora asmara cinta terdengar, Ibell dan Nata di buat melambung jauh akan rasa nikmat surga duniawi itu. Katanya sih cuma satu jam, tapi sudah dua jam pergulatan cinta itu masih banting sana banting sini.
( Jangan di halu, hanya untaian kata, tidak hot, di larang hot hot lagi... Hihihi )
Tap Tap Tap...
Suara langkah elegan itu terdengar dan terlihat di anak tangga pesawat yang baru landing.
Iris mata Amber, Alis berbentuk alami tanpa embel-embel di lukis, bibir cipo*able layaknya bibir sensual Ibell, rambut sweet caramel warna asli rambut itu tergerai gelombang panjang, menari indah di punggung itu mengikuti langkah elegan seorang Anevay.
Ya.... Anak jelita itu kini bermetamorfosis menjadi gadis jelita, sangat cantik. Keturunan pengganti Wild flower-Yolanda Aditama Perkasa telah kembali ke tanah airnya dengan membawa sejuta pesonanya.
" welcome back, Anevay ! I'm coming mom and everything." Ucap nya untuk diri sendiri, ia memang sengaja datang dengan diam diam hanya untuk memberi kejutan untuk Ibell di hari ulang tahun Bunda nya.
Tidak ada yang menjemput nya, Karena semua orang tidak mengetahui rencana nya, Hanya Nata lah yang tahu, tapi ia ingin jalan-jalan sebentar untuk membunuh rasa rindu nya untuk negara ini.
__ADS_1
" Aku rindu kalian para Kurcil, eh..para Kurcil ? itu sudah kuno." Vay melarat sendiri ucapannya, selama tiga belas tahun di negara Oma nya, Vay memang lepas contacts, itu pun larangan nya para orang tuanya agar tidak berbuat nakal bersama lagi katanya. Vay hanya tersenyum geli bila mengingat projects mereka yang berhasil tapi langsung gagal karena ledakan bom Ama sendiri.
" Kita berhenti di tokoh antik itu pak !" Titah Vay ke pak sopir.
Mobil itu pun berhenti.
" Tunggu sebentar ya."
" Baik non."
Aku kira bule yang tidak tahu BI. Batin sang sopir salah kaprah tertipu dengan wajah Indo-Belanda Vay.
Di dalam toko, Tak sengaja...Vay dan seorang laki laki tampan, saling memegang satu barang yang tidak ada lagi pasaran nya.
" Excuse me, I go first, then this is mine."
Dia adalah Petir, tidak mengenali wajah jelita di hadapannya, Petir kira wanita ini tidak bisa berbicara BI, Vay pun sama.... ke-dua nya tidak saling mengenal muka. Wajah kedua nya sangat terlihat berubah drastis, dan berujung saling mengasingkan.
Bugh..
Sengaja Vay membuat tipu daya dengan cara berpura pura pingsan, tapi Jatuh nya slow motion, ogah juga dirinya mencium keramik.
" Ehhh." Petir ingin menolong, hingga barang antik yang di pegang nya main taruh asal asalan. Vay yang dapat kesempatan, membuka matanya, dengan cepat mengambil barang yang di inginkan nya.
" Barang sudah di tangan ku, Tuan ! Jadi milik siapa ?" Hahahaha. Vay menaik turun kan alis nya, mengejek laki laki di hadapannya yang sudah memasang wajah asam. Bodo amat akan wajah kesal itu, Vay segera ngebirit ke kasir untuk membayar barang yang mereka perebutkan.
" Shiiit, Dasar bule jadi jadian, Gue kira Lo bule asli, ternyata penipuan publik, Awas saja kita jumpa lagi, Gue Cium Lo."
" Eh..kok cium sih, salah ding." Petir meralat umpatannya. Entah Vay mendengar nya atau tidak, Tapi Vay sempat berbalik ke arah Langit dengan jempol itu tertuju kebawah, kode Cemen.
__ADS_1
":Eh, Nantangin." Petir ingin mengejar nya, tapi baju nya tersangkut oleh barang antik di rak hingga. Gubrak.. Ganti rugi puluhan juta.
" Sial, gara gara tuh bule palsu, gue jadi ketiban sial. Mana kado untuk Tante Ibell yang gue bidik di bawah kabur oleh wanita bule tadi lagi, ah.." Petir mendumel didepan kasir yang tersenyum gaje menatap nya.