Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 235


__ADS_3

Obrolan virtual telah berlangsung, empat sambungan di tempat berbeda telah menyatu di layar lebar Vay yang lebarnya separuh dinding di hadapannya. Five kembar, Petir-Lautan, serta Ama-Guruh nampak jelas wajah itu di hadapan mata Vay.


" Bagaimana caranya, kita di pingit kan ?" Vay bingung, Para Kurcil lainnya mengajak nya untuk ketempat rahasia, di mana projects mereka telah tertunda.


" Alasan saja, seperti ada tugas sekolah gitu ?" Saran Ama di buat sepele.


" Kita kan harus punya surat sekolah kalau alasannya yang itu, Para orang tua kita kan sudah mewanti-wanti nya tentang itu." Petir yang menyahut.


" Bikin palsu aja, bagaimana ?"


Ide bagus ! Semua menyetujui saran Angkasa kecuali Topan yang masih diam saja.


" Kalian bodoh semua !"


Huuu ! Kompak dengusan kesal meneriaki Topan yang tiba-tiba menghardik.


" Kenapa ku katakan bodoh ? itu karena kalian tidak mikir, Para orang tua kita tidak akan percaya dengan surat abal abal. apa kalian lupa ? basis kita itu punya cap khusus dalam surat menyurat !"


iya juga ! Sadar mereka kompak.


" Terus ?" Badai bertanya.


"' Cap basis kita ya ? Serahkan ke Vay, soal mudah itu mah !" Vay mengingat kemampuan nya dalam hal meretas.


" Gimana caranya ?" Pelangi penasaran. Posisi Five kembar saat ini terlihat lucu lucu di mata Vay di buat iri... yang saat ini Pelangi duduk di kursi belajar, di sisi kepala kiri kanan nya ada empat kepala saudaranya masing-masing mengapit kepala Pelangi begitu dekat. Vay jadi ingin punya saudara kandung juga, biar tidak kesepian di saat para orang tua sibuk akan kerjaan sendiri.


"Mereka semua punya saudara kandung, Vay kok nggak ya ?" Vay melamun bibir itu komat kamit lirih.


" Vay, Caranya gimana ?"


Suara nyaring Ama mengagetkan Vay.

__ADS_1


" Bisa pelan nggak, Ma ?" Kaget Vay. Semuanya menatap aneh Vay lewat layar masing-masing.


Vay tidak menjawab lagi rasa kepenasaran teman teman nya. Tangan itu bermain di keyboard lain nya untuk meretas sistem keamanan sekolah nya tentang perdokumentasi, Vay hanya mengambil cap logo sekolah nya saja, tidak aneh aneh dan tidak mau curang mengecoh nilai nilai para siswa yang tertulis daftar apik di satu dokumen ke dokumen PDF sana.


Berhasil...wajah jelita itu berbinar seperti anak kecil pada umumnya yang senang walau di kasih jajan goceng doang.


" Coba lihat penyimpanan dokumen kalian, Aku sudah mengirim PDF penting di sana, kalau sudah di setujui oleh kalian, aku tinggal sebarkan ke email para orang tua kita. Tentu saja email sekolah kita yang akan mengirim nya, bukan email ku, itu sama saja gantung diri, Ayah ku akan langsung kek leher ku, Kalau email ku yang menyebarkan nya."


Vay segera menjelaskan rencana di saat menyangkut email, ia sudah di tatap tanya oleh Guruh dan Topan di tempat berbeda.


" Vay, Jangan PDF aku tidak bisa melihat nya, Kirim ulang pakai doc./dock." Petir dan Lautan gagal membuka file, PDF nya eror. Jadi lampiran kosong saja yang adik kakak ini terima.


" Ok, aku kirim lewat word doc aja ya." Send. cuma semenit Vay sudah mengerim ulang untuk Lautan dan Petir pelajari.


" Bagaimana, Tidak ada kecacatan dokumen yang aku curi dari sekolah, 'kan ?"


Suara sempurna telah terucap kompak akan pertanyaan Vay.


Send...


Setelah dapat persetujuan, Vay segera mengirim surat ijin melalui email sekolah yang masih di retas nya dan di kirim nya ke empat email berbeda, jelas ke email para orang tuanya yang memang sudah terdaftar apik di list sekolah nya, beginilah cara kerja basis internasional, pihak sekolah langsung tersambung oleh orang tua dalam surat menyurat, tidak lewat titip titipan ke para siswa nya.


" Ok, Sudah beres." Ujar Vay Tersenyum polos padahal sudah melakukan hal kejahatan karena mencuri dan memalsukan data, plus sudah menipu orang tuanya juga.


" Jangan tinggalkan jejak di email sekolahan Vay, segera cadangkan delete otomatis di sana kalau para orang tua kita sudah membaca nya."


Petir mengingat kan. di angguki Vay yang memang sudah mensetting nya.


" Aman terkendali ! Saat nya kita bertemu!" pekik Vay. di girangi Ama yang sudah akur lagi bersama Guruh-kakaknya.


" Dan Kamu Guh, Bilangin Ama untuk tidak keceplosan membongkar rahasia kita, aku sempat di tanya tanya Ayah ku tentang projects kita, dan info itu dari kalian saat bertengkar."

__ADS_1


" Iya, Maaf deh !" Ama langsung mengakui kesalahannya, Topan sangat ketus di seberang sana, kasihan Pelangi yang telinga nya di buat budek karena berbicara di dekat telinga Pelangi.


Percakapan Virtual, usai ! Mereka kompak bubar untuk siap siap bertemu.


Beberapa menit, Vay sudah rapi, siap berangkat dengan tas laptop kesayangan nya di tangan.


Yola dan Kemal yang masih di ruang keluarga, menghentikan Vay yang ingin mendekati kamar Nata yang masih tertutup rapat, Karantina masih berlangsung di dalam sana.


" Kenapa tidak boleh lagi, Opa Oma ?'


" Kamu mau ke mana, Vay ?" Yola balik bertanya.


" Mau keluar__"


" Tapi kan Ayah mu melarang keluar, sayang !" Kemal segera menyela dengan nada lembut nya agar Vay tidak kecewa.


" iih, dengarin dulu Opa, Oma ! Vay ada tugas sekolah, lupa ngasih tau Ayah kalau ada surat yang masuk ke Email Ayah, Pasti Ayah tidak membuka nya deh..Ayah kan lagi ngurusin Bunda terus. Vay aja hampir lupa kalau tidak di ingat kan Ama."


Dalam hati Vay, ia juga tidak enak untuk membohongi orang tua serta Oma Opa kece nya. Tapi bagaimana lagi, mereka semua telah merantai kaki nya secara tak kasat mata dengan kata di pingit. Anak aktif ini kan bosan di rumah terus, terus menerus di depan layar bisa bisa mata nya minus dini, Vay ogah ya makai kaca mata tebal dengan lensa minus.


" Ya sudah, Opa antar ya !" Tawar Kemal, ia tidak mau di salah kan nanti oleh Nata karena membiarkan Vay keluar.


" Tidak usah Opa, Ama lagi otw jemput Vay. Vay mau ijin dulu ke Ayah."


Tangan mungil Vay langsung di tarik Yola, Nata sudah melarang keras ada yang mendekati kamar nya, tiga meter dari pintu. Alamak yang di salahkan nanti diri nya dan Kemal karena membuat nanggung Karantina jungkit jungkitan nya di dalam sana.


" Oma ijinin, kamu berangkat aja, biar nanti Oma yang memberi tahukan Ayah Bunda mu."


" Terimakasih." Cup cup.


Itu lebih bagus, Batin Vay tidak mau di curigai Ayah nya kalau repot repot ijin terlebih dahulu, Senyum itu mengembang jumawa setelah mengecup pipi Yola dan Kemal.

__ADS_1


Di luar pekarangan rumah Vay, Nyata nya....Bukan Ama lah yang menjemput nya yang notabene nya adalah teman kelasnya, melainkan mobil si Kembar dengan sopir pribadinya.


__ADS_2