
Zahra menarik nafas lega setelah kurang lebih satu jam di dalam ruang sidang mempresentasikan tesis nya.
Namun Zahra masih belum bisa senang sepenuhnya, karena ia harus menunggu lagi untuk hasil presentasi nya apakan lulus atau tidak.
sementara itu Aziz memilih pergi ke kantin untuk membelikan Zahra minuman, Aziz berfikir Zahra pasti akan memerlukan minum setelah keluar dari ruang sidang tersebut ,.Aziz tidak hanya membelikan minuman untuk Zahra tapi juga coklat, menurut yang ia ketahui coklat dapat mengurangi stress.
" Sukses Ra " Nia dan Rico menghampiri Zahra yang sedang duduk di depan ruangan yang di pakai untuk ujian tadi .
" Alhamdulillah, tinggal nunggu hasil " jawab Zahra tersenyum pada dua sahabatnya itu.
" kalian kapan nyusul sidangnya " tanya Zahra pada Nia dan Rico
" Jangan pacaran terus , cepat lah selesaikan tesis kalian " ujar Zahra lagi sambil mengejek temannya itu, ya semenjak kejadian nia dan Rico yang pergi jalan bareng dahulu , mereka jadi semakin dekat, Rico yang memang menyukai Nia akhirnya memberanikan dirinya untuk menembak Nia, dan ternyata cinta Rico terhadap Nia bersambut, Nia menerima Rico menjadi kekasihnya.
" Aku rencananya ujian besok, kalau Rico tergantung hasil jumpa dosennya nanti." jawab Nia yang juga akan ujian tapi di jadwalkan besok
" jadi belum di ACC juga ric ?" tanya Zahra pada Rico yang di jawab Riko dengan wajah memelas.
" Capek gue Ra, revisi terus " sahut Rico dengan wajah lesu
" Semangat ya, semoga kamu juga bisa nyusul kita segera " ujar Zahra memberi Rico semangat
" Sayang ..." Zahra menoleh pada suara yang memanggil nya, Zahra menyunggingkan senyum bahagia melihat aziz datang menghampirinya
" Abang .." Zahra berdiri dan menghampiri Aziz.
" Abang kemana aja, tadi Zahra keluar Abang sudah gak ada " Tanya Zahra , tadi Zahra saat keluar dari ruang sidang Zahra tidak menemukan aziz di sana , padahal Aziz tadi bilangnya akan menunggu di luar saja, walaupun Aziz di izinkan masuk kedalam , tapi aziz lebih memilih tatap menunggu di luar ruangan saja agar tidak menganggu konsentrasi Zahra saat presentasi nanti.
" Abang habis dari kantin membelikan kamu ini, kamu pasti pingin minum kan ?" jawab Aziz sambil memberikan botol minuman yang sudah di bukakan Aziz terlebih dahulu kepada Zahra.
" Bagai mana dengan ujiannya, apa sukses " tanya Aziz lagi menanyakan hasil ujian Zahra.
Zahra mengambil minuman itu lalu kembali duduk dan langsung meminum minuman yang di berikan Aziz tadi
" Presentasi nya sukses bang, tapi Zahra belum tahu hasilnya " jawab Zahra lesu
" Kamu tenang ya, Abang yakin kamu pasti lulus " sahut Aziz meyakinkan Zahra
__ADS_1
" Amin, semoga ya bang " jawab Zahra mengaminkan dia Aziz.
" Abang kok tahu kalau Zahra butuh minum ?" tanya Zahra lagi setelah mengahabiskan setengah minumannya.
" Kalau berkaitan dengan istri Abang, pasti lah Abang tahu sayang " sahut Aziz membelai kepala Zahra.
".Makasih ya bang " ujar Zahra sambil tersenyum.
" iya sama - sama sayang " jawab Aziz juga tersenyum pada istri nya itu .
" Oya, Abang juga belikan ini buat kamu, katanya coklat mampu mengatasi stres dan rasa khawatir seseorang " aziz pun memberikan coklat yang di belinya tadi kepada Zahra.
Zahra menatap coklat itu dengan mata berbinar, Zahra sangat senang di belikan coklat oleh Aziz karena ia memang sedang mebutuhkan sebatang coklat untuk mengatasi gugupnya menunggu hasil ijiannya dan tanpa sungkan Zahra langsung mengambil coklat tersebut dari tangan aziz.
" Duh ..Abang tahu aja kalau Zahra lagi stres nunggu hasil ujian , makasih lagi ya bang " ujar Zahra dan langsung membuka coklat itu lalu memakan nya. Zahra dan Aziz saling senyum , Zahra melupakan jika di sana tidak hanya mereka berdua, tapi masih ada dua orang lagi yang dari tadi terus memperhatikan kemesraan mereka .
" Ekhm " Nia dan Rico mendehem berbarengan. Mereka yang dari tadi menyaksikan ke uwuan pasangan itu, merasa tidak dianggap kehadiran nya di sana.
Zahra baru ingat di sana bukan hanya dirinya dan Aziz saja , tapi juga ada dua orang sahbat nya juga. Zahra menatap Nia dan Rico merasa bersalah.
" APA , suami ?!! " tanya Nia dan Rico kaget, karena setahu mereka Zahra belum menikah, dan mereka juga belum pernah mendapat kan undangan pernikahan Zahra.
" Iya , kenalkan ini bang Aziz suami aku " Zahra masih belum sadar jika kedua teman nya itu belum mengetahui pernikahannya dengan santai Zahra mengenalkan Aziz pada kedua teman nya itu.
Nia dan Rico pun berkenalan dengan Aziz namun mereka masih terlihat sangat syok mendengar bahwa pria yang berada di depan mereka saat ini adalah suami Zahra.
Nia dan Rico masih menatap Zahra bingung, Zahra yang melihat nia dan Rico menatapnya dengan pandangan bingung bertanya
" Ada apa" tanya Zahra heran.
" Kamu bilang ada apa?" sahut Nia kesal,
" harusnya yang bertanya itu kami Ra , ada apa dengan kamu, kapan kamu menikah " tanya Nia kesal pada Zahra yang terlihat biasa - biasa saja
" Iya Ra, sementara kami tidak pernah mendengar kamu telah menikah, apa lagi undangan pernikahan kamu, kami merasa tidak pernah menerimanya. " sahut Rico menimpali.
Zahra menepuk keningnya, Zahra baru sadar jika kedua sahabatnya itu belum tahu tentang pernikahannya, wajar aja jika mereka kesal padanya .
__ADS_1
Sementara aziz hanya diam saja sambil menahan senyum melihat interaksi Zahra dan teman - teman nya itu, Aziz sebenarnya merasa tidak tega melihat istrinya bingung bagaiman cara menjelaskan semua ini pada temannya itu. aziz, awalnya Aziz ingin membantu untuk menjelaskan, tapi di urungkannya, Aziz ingin lihat dulu bagai mana Zahra mengatasi amukkan teman nya itu.
" Maaf ya Nia Rico, semuanya terjadi mendadak, dan aku tidak sempat mengabari kalian tapi aku janji akan menceritakannya nanti ya, yang pasti saat ini aku sudah menikah, dan ini suami aku Aziz." sahut Zahra menatap Aziz yang juga sedang menatap dirinya.
" Sepenting apa sih hingga kamu tidak sempat mengabari kami. "kata nia yang masih kesal pada Zahra.
" Emangnya kamu tidak menganggap kita berdua sahabat kamu lagi ya ?!" ujar nia agi
" Bukan begitu Nia, sebenarnya pernikahan kami bisa terjadi karena ..." Zahra mau tak mau akhirnya menceritakan secara singkat bagaiman ia dan Aziz bisa menikah, Aziz dari tadi hanya diam saja memperhatikan istrinya dan dua sahabatnya itu, Aziz merasa senang dan bangga terhadap Zahra yang tidak malu mengakui dirinya dan bahkan mau menceritakan bagai mana mereka bisa menikah pada sahabatnya.
" Oya perihal undangan, ini undangan pernikahan kami, kalian jangan sampai tidak datang ya " ujar Zahra sambil menyerahkan sebuah undangan untuk Nia dan Riko.
Nia dan Riko mengambil undangan yang di berikan Zahra. Nia menatap Zahra sambil tersenyum " Baik lah aku pastikan kami akan datang " sahut Nia sambil memeluk Zahra erat.
Nia dan Rico yang sudah mengetahui alasan Zahra menikah pun tidak menyalahkan zahra lagi, malahan mereka mengucapkan dan ikut mendoakan pernikahan Zahra dan Aziz baik - baik saja .
Pintu ruang ujian terbuka, Zahra di panggil untuk masuk ke ruang sidang, dan untuk menerima hasil ujiannya. Zahra terlihat sangat gugup, Zahra takut hasil ujiannya menyatakan ia tidak lulus.
Aziz mendekati Zahra dan menggenggam tangan Zahra yang sedang gemetar karena gugup .
" Masuk lah sayang, jangan gugup, Abang yakin kamu pasti lulus " ujar Aziz memberikan semangat pada istrinya itu, agar Zahra tidak gugup lagi. Zahra pun menganggukkan kepalanya .
" Abang ada perlu sebenar setengah jam lagi Abang jemput ya " ujar Aziz meminta Zahra untuk masuk sekalian Aziz juga minta izin untuk pergi sebentar.
" Abang ke mana " tanya Zahra khawatir
" Jangan khawatir sayang, Abang cuma sebentar kok, kalau sudah selesai, langsung saja jumpai Abang di mobil ya, Abang akan tunggu kamu di sana " ujar aziz lagi sambil membelai pipi Zahra lembut
" Jangan cemas, apa pun hasil nya kamu harus ikhlas ya, Abang yakin kamu pasti lulus." Zahra mengamin kan doa Aziz, dan menganggukkan kepalanya untuk mengizinkan Aziz mengurus urusannya.
Sebelum pergi Aziz menyempatkan dulu mencium puncak kepala Zahra sebentar , dan sikap manis Aziz itu tak luput dari perhatian Nia dan Rico.
" Ciiieeee .... sosweet nya, sayang aku juga mau dong ..." sahut Nia pada Rico , Rico pun mengembangkan tangannya pada Nia dan memberi isyarat supaya Nia mendekat dan memeluk dirinya
Zahra tahu maksud mereka berdua hanyalah untuk mengejek dirinya, Zahra hanya bisa geleng - geleng kepalanya melihat ke usilan sahabat - sahabatnya itu.
" Udah ah, aku masuk dulu , ingat belum mahram " sahut Zahra sebelum masuk ke ruang sidang yang di jawab dengan tawa ngakak oleh Rico dan Nia.
__ADS_1