CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 148


__ADS_3

Di kamar rawatan Zahra, setelah Aziz memutuskan untuk istirahat, tinggal lah Adam dan sandi di ruangan itu, setelah melihat dan menanyakan kondisi Zahra pada perawat yang sedang merawat Zahra saat ini, sandi dan Adam memutus kan untuk duduk di sofa yang ada ruangan itu, sandi dan Adam mulai nampak serius menatap laptop mereka masing - masing.


Walau pun mereka tidak datang ke kantor beberapa hari ini, bukan berarti mereka tidak bekerja, sandi dan Adam tetap mengerjakan pekerjaan kantor mereka walau pun sedang berada di rumah sakit menjaga Zahra.


Adam dan sandi tetap memantau pekerjaan mereka dari jauh, sehingga sejauh ini tidak ada kendala dengan perkejaan Mereka walau pun mereka tidak datang ke kantor


Keheningan ruangan itu terganggu dengan adanya nada panggil dari ponsel Adam, Adam dan sandi sama - sama melirik ke arah ponsel yang berada di atas meja, sandi sempat membaca nama cindi di layar ponsel Adam tersebut, sandi dan Adam saling berpandangan sejenak sebelum Adam mengambil ponsel itu, Adam menggeser tombol hijau di layar ponselnya untuk mengangkat panggilan yang di lakukan istrinya.


" Assalammualaikum, sayang " sapa adam


" Waalaikumsalam bang, Abang sibuk gak bang " sapa cindi dari seberang telpon


" Gak juga, ada apa sayang ?? "


" Gimana keadaan zahra bang ??" bukannya menjawab, cindi kembali menanyakan kondisi keponakan ke sayangannya pada Adam


" Zahra masih seperti itu cin, sampai sekarang Zahra masih belum sadar " jawab Adam, sementara itu sandi yang dari tadi ikut mendengarkan obrolan Adam dan cindi mengerutkan keningnya, Adam menangkap dari suara cindi seperti orang yang sedang panik.


" Kamu telpon Abang ada apa sayang?, apa di rumah baik - baik saja ?" Adam sama halnya dengan sandi, ia juga merasa curiga dengan cara bicara cindi yang terdengar seperti tidak baik - baik saja.


" Aku baik bang, tapi mama bang...." sahut cindi tidak dapat melanjutkan ucapannya,.air mata nya sudah mulai tergenang dan jatuh, saat ini cindi kebingungan sendiri di rumah sakit, suami dan kakaknya sandi tidak ada bersama nya, cindi takut kejadian saat papanya pergi terulang lagi.


Dahulu saat papa nya pergi, Zahra tidak ada di antara mereka, dan sekarang mama nya kritis tidak hanya Zahra yang tidak ada bersama mereka saat ini, sang kakak sandi dan suaminya Adam tempatnya berkeluh kesah juga tidak ada bersama nya, dan satu orang lagi yang di lupakan cindi, putra pertama Alif yang jauh di pulau Jawa juga tidak ada bersamanya, saat ini ia hanya sendiri menghadapi ini semua, cindi merasa bingung dan takut apa yang akan ia lakukan, sementara mama nya sedang tidak baik - baik saja saat ini di dalam sana sendiri.

__ADS_1


" Cindi .....???, apa kamu masih di sana sayang " karena tidak mendengar suara istrinya, Adam kembali memanggil istrinya yang masih online di seberang sana tapi tidak bersuara , Adam dan sandi saling berpandangan , apa kah yang mereka pikirkan sama saat ini,.itu lah arti dari tatapan mereka masing - masing.


" I...iya bang, aku masih di sini " jawab cindi terbata - bata menahan suara tangisnya agar sandi dan Adam tidak khawatir.


Tapi cindi salah, kedua pria itu tidak dapat di bohongi, walau pun mereka tidak melihat langsung, tapi mereka tahu bahwa saat ini cindi tidak baik - baik saja di sana


" Coba kamu tarik nafas, kalau sudah tenang, kata kan sama abang, apa yang sudah terjadi di sana" ujar Adam lagi berusaha menenangkan cindi.


Cindi mencoba melakukan apa yang di perintahkan oleh Adam padanya, setelah di coba beberapa kali, cindi yang tadi gelisah dan cemas, merasa sedikit tenang.


" Bang, m..ma..mama bang " ujar cindi terbata - bata


" Ada apa dengan mama dek " sandi yang sudah tidak sabar ikut bertanya, sandi bisa mendengar obrolan Adam dan cindi karena Adam mengaktifkan speaker di ponselnya.


" Mama masuk rumah sakit bang, akibat darah tinggi nya kambuh mama di serang stroke dan sekarang belum sadar di ruangan ICU " cindi tidak bisa lagi menahan tangisnya, Adam dapat mendengar jelas suara tangis dan ketakutan dari perempuan yang mereka sayangi itu.


Adam menatap sandi meminta persetujuan, sandi pun menganggukkan kepalanya, tapi saat ini sandi bingung, di sana ibunya yang kritis, sedang kan di sini putrinya yang belum menunjukkan tanda - tanda kemajuan.


Sandi sangat pusing, kemaren di saat Naira dan Zahra sama - sama kritis, ia tidak se panik dan se pusing ini, tapi di saat ia mendapat kabar ibunya sakit dan juga tengah di rawat di rumah sakit , ia pusing harus memilih menemani yang mana.


" Semenjak kapan mama masuk rumah sakit sayang ? dan kenapa mama bisa drop seperti itu ?" sandi menatap Adam yang tengah menanyakan kapan sang mama mulai masuk rumah sakit.


Padahal mereka, sandi dan Adam sudah berpesan pada cindi untuk tidak memberi tahu mama nya tentang musibah kecelakaan yang menimpa Zahra pada mama nya mengingat kondisi mama mereka yang sudah mulai sakit - sakitan semenjak kehilangan suaminya.

__ADS_1


" Sejak kemaren bang, mama tidak sengaja mendengar pembicaraan aku bersama Alif di telpon " jawab cindi di antara Isak tangisnya.


Sandi menarik nafas dalam dan membuangnya kasar sambil mengusap wajah nya, ia kesal mengapa cindi sampai bisa kecolongan seperti itu dan tidak bersikap hati - hati, Adam hanya bisa menarik nafas dalam, bagai mana pun Adam tidak bisa menyalahkan istrinya itu.


" Ya udah sekarang kamu tenang ya, jangan nangis lagi, Abang pulang sekarang ya, kamu jaga mama baik - baik, tunggu Abang datang ya sayang " sahut Adam kembali mencoba menenangkan istrinya itu


" Baik lah Abang, cindi bingung mau melakukan apa, abang cepat pulang ya " bukannya ingin egois, saat ini cindi memang sangat membutuhkan suaminya itu ada di sisinya mendampingi dirinya di saat - saat seperti ini


" Iya, Abang tutup panggilan telponnya ya, Abang mau siap - siap untuk pulang sekarang "


" iya bang "


" Assalammualaikum sayang "


" Waalaikumsalam bang "


panggilan telpon itu pun terputus, Adam memandang sandi yang terlihat memejamkan matanya, sambil bersandar di sandaran sofa dengan satu tangan memijit keningnya.


" Biar aku saja yang pulang san, kamu tetap di sini temani Zahra, lagi luka aku yakin mulai besok sepertinya Aziz akan di sibukkan dengan kasus hukum Zahra dan Naira, karena aku dengar Naira sudah siuman dan sudah di pindahkan ke rawatan ruangan biasa." Adam paham, saat ini sandi pasti sedang bimbang, satu sisi sandi pasti ingin mendampingi putrinya, tapi satu sisi lainnya juga cemas dengan kondisi mama nya yang juga sedang di rawat di rumah sakit.


Dan tadi Adam dan sandi sudah mendapat kabar jika Naira sudah siuman, dan kondisinya sudah membaik, sesuai kesepakatan kasus Naira yang sudah mencelakakan Zahra akan mulai di proses besok, dan Adam yakin beberapa hari kedepan Aziz pastikan akan di sibukkan dengan kasus tersebut, dan Adam yakin sebagai ayah sandi pasti tidak mau melewati semua proses itu, apa lagi kasus ini berhubungan dengan Naira putri tiri sandi yang sudah di asuhnya dari bayi.


Sandi membuka matanya dan menatap Adam sedih dan bingung, apa yang di katakan Adam memang benar adanya, saat ini sandi sangat bingung memilih tetap di sini merawat putrinya atau pulang menemui mamanya, dua perempuan beda usia itu merupakan wanita yang sangat penting dalam hidupnya saat ini, dan sekarang sandi di hadapkan dua pilihan yang sama rumitnya untuk ia pilih.

__ADS_1


" Kalau aku disini, bagai mana dengan mama dam " Tanya sandi bingung


" Kamu tenang saja, di sana sudah ada cindi, dan aku yang akan mendampingi cindi nantinya di sana, nanti aku akan selalu kabari kamu setiap perkembangan kondisi mama "


__ADS_2