
Rio duduk termenung di depan ruang tunggu ICU , dengan mata terpejam Rio menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi serta tangan yang di lipat di depan dadanya, saat ini Rio begitu sangat pusing dan bingung memikirkan nasib istri dan bayinya, wajahnya terlihat sangat lelah, penampilannya kusut, begitu banyak pertanyaan yang belum bisa di pecahkan nya muncul berputar silih berganti di kepalanya.
Bunyi derap langkah kaki beberapa orang yang sedang menuju ke arahnya tidak membuat Rio membuka matanya seketika. Rio masih larut dengan rumitnya permasalahannya saat ini.
" Ehmmm"
Rio membuka matanya pelan ketika mendengar suara deheman seseorang yang di perkirakan berada sedang berada di hadapannya.
" Ayah !! "
Rio tertegun dan kaget saat melihat di hadapannya sudah berdiri empat orang pria yang berbeda usia, dan orang itu adalah sandi, Adam, Aziz dan pak Widodo.
Rio Langsung berdiri dan bersalaman dengan sandi, Adam, pak Widodo dan aziz bergantian.
Rio tidak menyangka dengan kehadiran ayah mertuanya di sana , Rio merasa mendapat angin surga dengan kehadiran ayah mertuanya di tengah - tengah keterpurukannya saat ini,Rio berharap dengan adanya kehadiran keluarga di dekatnya saat ini akan sedikit meringankan beban pikirannya, Rio berharap bisa berbagi dukanya dengan sang ayah mertua, Rio mengenal sandi sebagai ayah mertuanya yang bijak sana dan selalu menenangkan dan selalu memberi solusi yang baik Jika ia dan Naira mengeluhkan masalah mereka, berbeda dengan orang tuanya yang selalu menyalahkan dirinya bila Naira menceritakan keributan yang terjadi di dalam rumah tangga mereka.
Saat ini dengan kondisi yang berat seperti ini, Rio benar - benar sangat membutuhkan seseorang berada di sampingnya dan bisa berbagi duka nya bersama nya dan mendukungnya atas musibah yang sudah menimpa istri dan anaknya, menghadapi kenyataan pahit dalam waktu yang bersamaan di mana istri dan anak yang sama - sama kritis saat ini merupakan beban yang sangat berat yang Rio rasakan.
Sementara itu, Walau kesal dan marah pada Naira, sandi mencoba bersikap tenang dan biasa saja terhadap Rio, sandi masih bisa berpikiran positif, jika Naira yang berniat jahat, belum tentu Rio terlibat di dalam nya. sandi tidak mau melampiaskan kemarahannya pada Rio yang belum tentu tahu apa - apa, tapi jika terbukti Rio terlibat dalam mencelakakan putrinya, maka sandi akan bertindak tegas untuk itu.
Sandi sudah lama mengenal Rio, mulai sejak Rio dekat dengan Zahra, sandi mengenal Rio merupakan pribadi yang baik, jika bukan karena paksaan dari orang tuanya dan fitnahan dari Mirna pada zahra, mungkin sekarang hubungan Rio dan Zahra akan baik - baik saja.
Tapi sandi bersyukur, lepas dari Rio Zahra putrinya berjodoh dengan Aziz yang tidak kalah baiknya dari Rio dan yang terpenting sangat meragukan putrinya.
Terbukti dengan cara Aziz dan keluarganya memperlakuan Zahra di saat putrinya tidak berdaya seperti saat ini.
Hal itu berbeda dengan aziz, Aziz menatap Rio dengan tatapan dingin dan tajam, entah mengapa ia begitu tidak suka pada pria yang berada di depannya saat ini.
__ADS_1
" Ayah dan om Adam kapan sampai di sini ?? " Rio menatap sandi dan Aziz bergantian.
" Kami sampai sudah dari beberapa jam yang lalu, setelah Aziz mengabari bahwa Zahra mendapat musibah tabrak lari siang tadi" jawab sandi
" Kami ke sini karena Ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin kami bicarakan sama kamu Rio " sahut sandi lagi, dari nada dan cara nya berbicara, sandi sangat terlihat tidak ingin ber basa basi lagi
" Tentang hal apa ayah " tanya Rio bingung menatap ke empat pria yang berdiri di depannya dan menatap dengan raut wajah serius
Rio merasa heran dan bingung, mengapa sandi sejak datang tadi tidak ada bertanya tentang keadaan Naira dan cucu nya, tapi ayah mertuanya langsung ingin mengajaknya bicara serius dengan nya.
Dan satu hal lagi yang membuat Rio bingung, jika memang ayah mertua nya sudah berada di sini dari siang tadi, tapi mengapa baru sekarang datang menemui di nya dan itu pun tanpa bertanya tentang keadaan Naira dan bayinya, tidak ada wajah kecemasan dari sandi tersirat untuk Naira dan cucunya.
" Sepertinya kita bisa bicara di ruangan saya saja pak sandi, supaya lebih tenang dan menghindari fitnah." ujar pak Widodo yang menawarkan untuk bicara serius di ruangannya saja, bukan tanpa alasan pak Widodo menawari berbicara di rumahannya, pak Widodo menyadari Rio adalah karyawannya, demi menjaga nama baik karyawannya pak Widodo mengajak semua orang untuk berbicara di ruangannya saja, memang musibah yang menimpa Zahra merupakan masalah kriminal, tapi Karan ini melibatkan dua keluarga besar dua belah pihak, maka pak Widodo tidak ingin Masalah ini akan menjadi konsumsi Bulik, tahu sendiri jika di kantor apa saja bisa berbicara.
Setalah berpikir sejenak, sandi, Adam dan Aziz pun menyetujui saran pak Widodo,mereka pun berjalan bersama - sama menuju di mana ruangan pak Widodo berada, tidak ada percakapan dari mereka yang terjadi, semua nya hanya diam sibuk dengan pemikirannya masing - masing.
ceklek
pak Widodo membuka pintu ruangan kerjanya, dan mempersilakan semua orang masuk dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
" Pak Rio, bagai mana ke adaan istri dan bayi mu " setelah sekian detik saling diam tidak ada yang berbicara, akhirnya Pak Widodo memulai pembicaraan dengan menanyakan kabar Naira dan bayinya.
" Mereka, ibu dan anak sama - sama saling berjuang pak, mereka masih kritis sampai saat ini " jawab Rio sendu dan menundukkan kepalanya.rio menatap sandi, respon sandi sama seperti tad,datar dan biasa saja, seolah - olah Naira bukanlah putrinya.
" Saya turut prihatin pak Rio, saya harap bapak bisa lebih bersabar dalam menghadapi musibah ini " jawab pak Widodo
" Mungkin bapak bingung, mengapa pak Rio kami bawa bertemu di sini, karena ada sesuatu yang akan kami tanyakan, dan ingin kami pastikan kebenaranya " ujar pak Widodo lagi dan menatap Rio tajam.
__ADS_1
Rio menatap semua orang bergantian, Rio semakin bingung dan tidak paham dengan situasi yang ia hadapi saat ini. sebenarnya ada apa ini, kenapa semua orang terlihat sangat dingin dan serius.
" Sebelum Naira di bawa kerumah sakit, dimana ia sebelumnya " Rio mengalihkan tatapannya pada orang yang bertanya pada dirinya saat ini, Rio menatap sandi bingung
" Maksud ayah apa ??" tanya Rio bingung.
Sandi menghela nafas berat dan menghembuskan nya sebelum ia memulai melanjutkan bicaranya, sandi ingin mengontrol emosinya sebelum melanjutkan ucapannya,
" Kecelakaan yang menimpa Zahra ada hubungannya dengan Naira Rio " sahut sandi pelan dan menatap Rio tajam
" APA?!!" Rio kaget dengan pernyataan sandi, Rio menatap semua orang meminta jawaban.
Semua orang menganggukkan kepalanya.
" Ini tidak mungkin ayah, bagai mana mungkin Naira mencelakakan Zahra, sedangkan Zahra saudaranya sendiri" Ujar Rio berusaha untuk menolak pernyataan ayah mertuanya.
Rio masih tidak percaya Naira akan melakukan hal sekejam itu pada zahra, setelah pesta pernikahan Zahra dan aziz, Rio mengajak Naira untuk berbicara serius, Mereka membahas tentang rumah tangganya, dan mereka juga sudah sepakat untuk memperbaiki rumah tangganya dan memulai hubungan itu dari awal lagi, tidak hanya itu, Naira dan Rio sudah sepakat tidak akan lagi menggangu Zahra dan kehidupan Zahra.
Tapi kabar yang ia terima hari ini sangat mengagetkan dirinya.Rio menolak tuduhan tersebut .
" Kami tidak asal bicara, kami bicara berdasar bukti dari rekaman cctv yang ada di sekitar kampus dimana ke celakaan itu terjadi " sahut Aziz sambil mengambil ponselnya dan mengotak Atik ponselnya
Ting
Ponsel Rio berbunyi menandakan ada kesan masuk di sana, Rio meraih ponselnya,dan melihat siapa yang sudah mengirim pesan pada nya.
Di sana tertulis nama dokter Aziz, Rio menatap Aziz bingung, mengapa Aziz mengirimkan pesan gambar pada dirinya.
__ADS_1
" Itu rekaman cctv yang sudah kami dapat kan, kamu dapat melihat sendiri " ujar Aziz