CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 215


__ADS_3

" Bundaaaaaaa huhuhuhu.....,bundaaaaa...."


Pintu kamar rawatan Zahra terbuka, baby sitter masuk sambil menggendong Fauzan yang terus menangis memanggil - manggil bunda nya.


" Maaf pak, saya bawa si adek ke sini, dari tadi adek nangis terus manggil - manggil ibu pak " ujar suster itu menatap aziz takut - takut, baby sister itu takut aziz, pak Widodo dan bu Susan marah karena sudah lancang membawa Fauzan kesana.


" Gak apa - apa sus " Bu Susan meraih Fauzan yang masih menangis tersedu - sedu dari dalam gendongan baby sitter nya. kondisi Fauzan sungguh sangat menyedihkan, wajahnya sembab dan matanya bengkak karena terus menangis.


" Sudah lama Fauzan menangis sus ?" tanya aziz mendekati Bu Susan yang sedang menggendong Fauzan dan membelai kepala Fauzan lembut dan iba.


" Lumayan lama pak, dari adek bangun tadi, adek langsung menangis memanggil - manggil ibu, saya sudah telpon bapak, tapi ponsel bapak tidak bisa di hubungi " jawab baby sitter itu menjelaskan.


" Oya maaf sus, saya lupa, ponsel saya habis baterai, " ujar aziz meraih ponsel yang berada di kantong celananya, saking sedih dan paniknya dengan kondisi sang istri Aziz sampai melupakan ponselnya yang sudah ke habisan daya.


" Tapi kenapa kamu tidak menghubungi ponsel saya saja sus ? " tanya Bu Susan menatap baby sitter Fauzan meminta penjelasan, Bu Susan bingung jika ponsel Aziz tidak bisa di hubungi, baby sitter itu kan bisa menghubungi ponselnya, karena tadi Bu Susan sudah bilang akan ke ruangan zahra pada baby sitter itu.


" Maaf Bu, saya sudah hubungi ibu juga, ternyata ponsel dan tas ibu tertinggal di kamar pribadi pak aziz Bu, dan ketika saya mau hubungi no tuan, ternyata ponsel tuan juga ada dalam tas ibu yang tertinggal " jawab suster itu lagi menjelaskan.


" Astaghfirullah Pi, iya maaf sus, saya baru ingat, ternyata saya tidak membawa tas saya ke sini, dan meninggalkannya di kamar pribadi aziz, begitu juga dengan ponsel papi yang papi titipin Ke mami tadi " sahut Bu Susan menatap baby sitter Fauzan merasa bersalah.


" Ya udah, biar papi ambil dulu mi, takutnya ada yang menghubungi kita nanti " ujar pak Widodo pada Bu Susan


" Iya Pi, " jawab Bu Susan menganggukkan kepalanya, dan pak Widodo pun berlalu meninggalkan kamar rawatan Zahra menuju kamar pribadi aziz dimana Fauzan tadi tidur untuk mengambil tas Bu Susan yang tertinggal.

__ADS_1


" Sus kamu pasti capek, kamu.istriahat aja di sana dulu, Fauzan biar saya yang jaga " perintah bu Susan pada baby sitter Fauzan, bukan tanpa alasan Bu Susan meminta baby sitter Fauzan untuk istirahat, Bu Susan melihat wajah kelelahan dari wajah baby sitter Fauzan itu.


" Tapi Bu si adek gimana ?"


" Kamu gak usah khawatir, Fauzan biar saya yang jaga, sana istirahat, nanti kamu sakit, kalau kamu sakit siapa yang jaga Fauzan?, untuk sementara kita harus bergantian menjaga anak - anak sus, karena zahra tidak bisa merawat mereka untuk sementara " ujar Bu Susan menatap Zahra sedih.


" Baik lah Bu, saya izin pamit istirahat dulu ya Bu, nanti kalau adek rewel lagi ibu bangunkan kan saja saya Bu " jawab baby sitter Fauzan nurut ucapan bu susan.


Setelah mendapat anggukkan kepala dari Bu Susan, Baby sitter Fauzan pun berlalu ke kamar yang di tunjuk bu Susan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang memang terasa lelah.


Sementara Fauzan yang tadi nya menangis mencari - cari Zahra sudah mulai tenang ketika Bu Susan berinisiatif mendekatkan Fauzan pada Zahra.


Tangan kecil Fauzan meraih tangan Zahra yang tidak terpasang infus dan mencium tangan itu berkali - kali, aziz dan Bu Susan hanya bisa menatap sedih dan pilu ketika Fauzan mencium tangan Zahra berkali - kali sambil memanggil bunda.


Aziz mendekati Zahra dan membelai kepala zahra lembu, " Bangun lah sayang, lihat lah putra kesayangan mu begitu sangat merindukan kamu sayang, tidka hanya Fauzan, Abang dan anak - anak kita yang lain juga merindukan kamu " bisik aziz menahan sesak di dadanya. Aziz mengecup kening Zahra dalam dan lama, air mata yang dari tadi berusaha di tahan nya akhirnya tumpah juga.


Tanpa aziz sadari, setetes air mata mengalir dari kedua mata Zahra yang terpejam, baik Bu Susan mau pun aziz tidak ada yang menyadari hal itu, tanpa merkea ketahui ternyata Zahra dapat mendengar semua apa yang di katakan aziz, tapi Zahra tidak bisa membuka matanya, tubuh nya terasa kaku, hanya air mata yang bisa keluar dari matanya yang terpejam.


" Bunda ...." Melihat Aziz mencium kening bundanya, Fauzan merasa cemburu dan juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan aziz, Fauzan menarik - narik baju aziz meminta sang ayah untuk menggendongnya supaya ia bisa mencium bundanya seperti yang Aziz lakukan.


Merasa ada yang menarik - narik bajunya, Aziz memalingkan wajahnya pada arah baju yang tertarik, ternyata Fauzan berdiri di sampingnya dan menatapnya dengan tatapan sedih dan memohon.


" Kenapa sayang ?" tanya aziz pada putra keduanya itu

__ADS_1


" Kakak mau cium bunda " jawab Fauzan memohon.


" Kakak mau cium bunda?" tanya aziz ingin memastikan lagi permintaan putranya itu, Fauzan menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan aziz


" Sini ayah gendong " sahut aziz sambil meraih tubuh putranya itu dan membawanya ke dalam gendongannya, lalu aziz dengan perlahan - lahan mendekatkan Fauzan kearah Zahra agar Fauzan bisa mencium Zahra tanpa menyakiti Zahra.


Fauzan mencium Zahra berkali - kali, mulai dari kening sampai kedua pipi Zahra tidak luput dari ciuman putranya itu.


Masih dalam gendongan aziz, Fauzan menatap Zahra dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Aziz, karena penasaran aziz pun bertanya pada Fauzan.


" Kenapa sayang ?"


" Ayah, kenapa bunda tidak mau bangun ?" tanya Fauzan bingung menatap sang ibu, " Biasanya kalau Fauzan cium bunda lagi tidur, bunda pasti bangun " tanya fauzan lagi.


Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir mungil Fauzan, Aziz merasa hati nya sakit bagai teriris sambil, pedih yang tak bisa di ucapkan dengan kata - kata, Aziz memeluk tubuh Fauzan erat sambil mencium kepala putranya lama, sekuat tenaga aziz berusaha untuk tidak menangis, karena aziz tidak mau terlihat lemah di mata putranya itu.


" Fauzan sabar ya nak, bunda lagi capek, dan bunda butuh istirahat, nanti kalau bunda sudah tidak capek lagi, bunda pasti bangun dan main bersama kita lagi " jawab aziz menahan sesak di dadanya menghibur putranya agar tidak bersedih lagi.


" Fauzan nakal ya yah, sehingga bunda merasa capek dan gak mau main sama Fauzan lagi " tanya Fauzan polos


" Tidak nak, bang akhdan, Fauzan dan dek Rasyid anak yang baik, anak Sholeh ayah dan bunda, dan bunda tidur bukan karena capek merawat dan menjaga kalian, tapi bunda memang lelah karena banyak pekerjaan, jadi kita biarkan bunda istirahat dulu ya, nanti kalau bunda sudah baikkan,.kita main sama bunda lagi ya " jawab Aziz bertugas memberi pemberian pada Fauzan, agar putranya itu tidak salah paham pada zahra dan menyalahkan dirinya sendiri.


" Baik lah ayah, Fauzan gak ganggu bunda lagi, biar bunda istirahat dan cepat bangun "

__ADS_1


" Pintar anak ayah " Aziz kembali mengusap dan mencium puncak kepala Fauzan penuh sayang.


__ADS_2