
Aziz melangkahkan kakinya menuju taman belakang di mana sandi, Adam dan papinya berada saat ini, tadi sebelum mengantar Zahra ke kamar untuk istirahat, pak Widodo sudah memberi tahu Aziz mereka akan menunggu Aziz di taman belakang, mereka sepakat untuk berkumpul di sana atas permintaan Aziz karena ada satu hal yang perlu di bahas dan Aziz ingin membicarakan hal itu pada mereka terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
" Pi, ayah ,om " Aziz menyapa satu - satu pria yang sedang bersantai di gazebo dekat kolam ikan di taman belakang.
Pak Widodo sengaja mengajak berkumpul di sana karena di sana suana nya lebih santai dan adem jika siang - siang begini.
" Eh ziz, duduk nak " sandi menyuruh Aziz duduk di bangku yang kosong di sampingnya, di atas meja kecil sudah tertata rapi kopi dan beberapa cemilan untuk mereka.
" Zahra dan si kembar sudah istirahat ?" tanya sandi lagi.
" Anak - anak sudah tidur yah setelah di beri asi tadi, Zahra juga sedang istirahat tapi minta di temani nenek " jawab Aziz tersenyum
" Anak itu, selalu tidak bisa jauh dari nenek nya dan selalu manja jika sudah dindekat neneknya. " ujar Adam geleng - geleng kepala , pak Widodo dan Aziz hanya senyum - senyum saja sementara sandi menunduk sendu dan senyum tipis terukir dari bibirnya.
Perkataan Adam membuat sandi kembali mengingat kisah pilu masa lalu, dimana ia yang sebagai orang tua Zahra yang seharusnya bisa menyayangi putrinya tapi malah mengabaikan putrinya tersebut, dan tidak pernah menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, dua puluh tiga tahun ia telah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, ia yang seharusnya menjadi cinta pertama putrinya malah menyakiti hati putrinya, tidak di sesali mengapa Zahra lebih dekat dengan neneknya, cindi, dan Adam Karena bersama mereka lah Zahra tumbuh dan di besarkan.
Menyesal sudah pasti sandi rasakan saat ini, dalam hati sandi sudah bertekad akan mengganti semua waktu yang terbuang dengan waktu yang ada saat ini untuk mencintai dan menyayangi Zahra.
Tapi kesedihan itu tidak berlangsung lama, sandi cepat dapat menguasai suasana dan keadaan hatinya Kembali, bagai mana pun sandi tidak ingin merusak suasana bahagia putrinya saat ini.
" Ada apa kamu mengajak kami berkumpul di sini ziz ?" pak Widodo yang penasaran dengan ajakan anak nya untuk berkumpul bersama mereka langsung mengajukan pertanyaan.
" Ini masalah permintaan pak Anton kemaren Pi " Aziz mengeluarkan ponselnya dan melihatkan foto, vidio dan rekam medis Naira yang dikirim Aldo kepada papi nya ,sandi dan Adam.
__ADS_1
" Ternyata apa yang di katakan pak Anton tentang Naira tidak bohong Pi,yah om. Naira tiga bulan belakangan kondisi sangat memprihatinkan, apa lagi satu bulan belakangan ini, kondisi nya benar - benar sangat buruk " Aziz mulai menjelaskan kondisi naira pada sandi, Adam dan papinya.
" Jadi apa keputusan kamu setelah mengetahui ini semua nak ?" tanya Adam menatap Aziz yang juga sedang menatap kearah mereka bertiga.
Aziz menarik nafas seolah - olah ingin membuang beban pikirannya yang terasa berat.
" Menurut ayah bagai mana?" bukannya menjawab pertanyaan Adam, aziz malah mengajukan pertanyaan balik pada sandi dan meminta pendapat sandi, bagai mana pun Aziz mencoba menghargai sandi yang sudah merawat Naira dari kecil.
Sandi berpikir sejenak, walau pun Mirna sudah menipunya, sebenarnya sandi masih menyayangi Naira, meskipun rasa sayangnya kepala Naira tidak sebesar dahulu, apa lagi begitu sandi tahu Naira bukan anak kandungnya dan Naira juga yang mengakibatkan Zahra celaka akibat tabrak lari yang di lakukannya pada Zahra.
Melihat foto, vidio dan rekam medis Naira yang di tunjukkan oleh aziz tadi, ada rasa iba tidak tega di hati sandi, putri yang di besarkan nya dengan lebih kasih sayang dahulunya menderita seperti itu.
Siapa sangka gadis kecil yang ia sayangi dan ia manja tumbuh menjadi pribadi yang keras dan kejam seperti itu, sandi tahu, sebenarnya Naira gadis yang baik, tapi karena pengaruh dan hasutan Mirna, Naira tumbuh jadi gadis yang keras kepala dan brutal.
" Apa pun keputusan kamu ayah mengikuti nya nak, ayah yakin kamu tidak mungkin mengambil tindakan yang salah " jawab sandi menepuk pundak Aziz lembut.
" Betul apa yang di katakan ayah mertua mu ziz, ambil lah langkah yang tepat, yang tidak akan merugikan ke dua belah pihak. Bagai mana pun Zahra dan Naira pernah menjadi saudara dan sudah seharusnya Zahra tahu kejadian yang sebenarnya." pak Widodo angkat bicara.
" Om yakin, Zahra tahu apa yang akan di lakukannya, kamu tidak perlu meragukan istrimu itu nak, saran om, apa pun keputusan Zahra nantinya kita terutama kamu walau pun berat harus bisa menerima dan menghargainya" saran Adam pada Aziz.
" Baik lah, yah, om dan papi, kalau seperti itu, aziz akan coba membicarakan masalah ini pada zahra, sebagai dokter Aziz juga tidak tega melihat Naira seperti ini, tapi sebagai suami Zahra Aziz juga berharap Naira bisa mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatannya."
" Percaya lah nak, Zahra tidak akan mengecewakan mu " sahut adam yakin.
__ADS_1
" Semoga saja om " jawab Aziz berharap.
" Oya, ayah dan yang lain berencana akan kembali dua hari lagi, kapan rencananya kalian akan mengadakan akikahan untuk si kembar ?"
" Aduh Aziz lupa, untung ayah ingatkan Aziz, kapan baik nya ya yah,Pi, om " Aziz hampir saja melupakan akikahan untuk si kembar, untung sandi menanyakan perihal itu pada nya, Aziz menatap sandi, Adam dan papinya meminta pendapat.
" Bagai mana kalau sebelum keluarga mertua mu pulang ziz, kita - kira tiga hari lagi, pas di hati Jum'at " saran pak Widodo menatap ke dua besannya meminta pendapat.
" Aziz setuju yah, Ayah dan om gimana ?" tanya Aziz pada kedua mertuanya itu.
Sandi dan Adam saling berpandangan, Adam menganggukkan kepalanya setuju, " Baik lah, kalau begitu berarti kami akan menunda kepulangan kami tiga hari lagi sampai si kembar selesai akikahan nanti." ujar sandi setuju.
" Tapi untuk persiapannya gimana Pi ?" tanya Aziz bingung, karena tiga hari menyiapkan itu semua tergolong waktu yang singkat, sementara persiapan belum ada dilakuan satu pun.
" Kamu tenang aja, biar mami dan Tante cindi nanti yang akan mengurusnya " tiba - tiba Bu Susan dan cindi sudah berdiri di belakang mereka, entah kapan sampainya. spontan ke empat pria itu memalingkan wajahnya ke arah Bu Susan dan cindi.
Bu Susan dan cindi tadinya memang berniat ingin bergabung dengan ke empat pria itu, tadi saat mereka berkumpul di ruang keluarga mereka sempat membahas acara akikah untuk si kembar, untuk itu Bu Susan dan cindi berniat ingin menanyakan langsung pada Aziz yang tengah berada di taman belakang bersama suami mereka, dan siapa sangka ke empat pria itu juga membahas hal yang sama, jadi Bu Susan dan cindi pun tidak perlu lagi capek - capek menanyakan hal itu lagi karena sudah tahu jawaban nya.
" Tuh ziz, kalau ada mami kamu semua beres , jadi kamu dan Zahra tidak perlu pusing - pusing lagi " ujar pak Widodo pada Aziz.
" Iya pi, makasih ya mi " jawab Aziz senang akhirnya.
" Ya udah, kalau begitu mami dan Tante cindi akan meyiapkan semua nya mulai sekarang, kamu Jagan lupa nanti kasih tahu Zahra ya ziz " ujar Bu Susan mengingat kan aziz untuk memberi tahu Zahra.
__ADS_1
" Baik mi " jawab Aziz akhirnya.